Ketika Kemacetan Bisa Ditembus dengan Pengawalan

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)
Rombongan kendaraan menembus antrean keluar Gerbang Tol Pasteur dengan bantuan pengawalan polisi. (Sumber: Dok. Penulis)

Kemacetan pada akhir pekan dan musim libur telah menjadi bagian dari dinamika mobilitas di berbagai kawasan wisata di Indonesia. Gerbang Tol Pasteur merupakan contoh titik yang kerap mengalami lonjakan volume kendaraan secara ekstrem. Antrean panjang, waktu tempuh yang tidak menentu, serta kepadatan di jalur wisata menjadi pengalaman rutin masyarakat setiap musim liburan.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat sering melihat kendaraan dengan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) non-khusus melintas dengan pengawalan motor polisi. Sirene dibunyikan, kendaraan lain diminta membuka ruang, dan rombongan kendaraan dapat bergerak lebih cepat keluar dari gardu tol dibanding arus lalu lintas di sekitarnya yang harus mengantre. Fenomena ini kemudian memunculkan istilah populer “sewa patwal”, yakni persepsi publik bahwa pengawalan dapat digunakan untuk mempermudah perjalanan kendaraan tertentu di tengah kemacetan.

Secara hukum, pengawalan kendaraan memang memiliki dasar regulasi. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan memberikan hak prioritas kepada kendaraan tertentu seperti pemadam kebakaran, ambulans, kendaraan pimpinan negara, kendaraan tamu negara, iring-iringan pengantar jenazah, maupun kegiatan tertentu berdasarkan pertimbangan kepolisian. Dalam konteks darurat dan tugas negara, pengawalan tentu diperlukan demi keselamatan dan kelancaran perjalanan.

Pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan. (Sumber: https://dinhub.purworejokab.go.id/7-kendaraan-prioritas-yang-wajib-didahulukan)
Pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan sesuai dengan urutan. (Sumber: https://dinhub.purworejokab.go.id/7-kendaraan-prioritas-yang-wajib-didahulukan)

Namun demikian, tidak seluruh pengawalan kendaraan dapat disamakan sebagai bentuk penyalahgunaan kewenangan. Dalam banyak kondisi, pengawalan memang dilakukan untuk kepentingan keamanan, keselamatan, maupun tugas institusi tertentu. Persoalan muncul ketika masyarakat sulit membedakan antara pengawalan yang benar-benar bersifat kedaruratan dengan pengawalan yang dipersepsikan sebagai perlakuan khusus di ruang jalan.

Perdebatan mengenai hal tersebut semakin menguat setelah muncul kasus viral di kawasan Puncak Bogor pada 2025 yang melibatkan petugas patwal dan pengguna jalan. Kasus tersebut memicu kritik publik serta memperkuat diskusi mengenai batas penggunaan pengawalan kendaraan di tengah kepadatan lalu lintas. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengawalan kendaraan tidak lagi dipandang semata sebagai isu teknis lalu lintas, tetapi juga berkaitan dengan persepsi keadilan di ruang publik.

Jalan Raya dan Keadilan Mobilitas

Dalam perspektif transportasi, jalan raya merupakan ruang publik yang seharusnya memberikan akses relatif setara kepada seluruh pengguna. Memang terdapat kelompok kendaraan yang perlu diprioritaskan, terutama kendaraan darurat yang berkaitan langsung dengan keselamatan jiwa. Akan tetapi, ketika prioritas di jalan mulai diasosiasikan dengan status sosial atau akses tertentu, muncul ketimpangan dalam pengalaman mobilitas masyarakat.

Pengawalan kendaraan di area padat lalu lintas juga dapat memengaruhi stabilitas arus kendaraan. Ketika rombongan yang dikawal melintas, kendaraan lain perlu mengurangi kecepatan, berpindah posisi, atau berhenti sesaat untuk membuka ruang. Dalam rekayasa lalu lintas, kondisi ini dapat menimbulkan gelombang perlambatan kendaraan yang merambat ke belakang dan memperpanjang antrean di titik tertentu.

Selain itu, situasi seperti ini berpotensi meningkatkan risiko keselamatan. Pengendara yang terburu-buru memberi jalan dapat melakukan manuver mendadak tanpa memperhatikan kondisi sekitar. Pengguna sepeda motor menjadi kelompok yang paling rentan karena berada di ruang lalu lintas yang sempit dan padat. Pada kondisi tertentu, tekanan situasi di lapangan dapat memicu konflik antar pengguna jalan.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan bahwa kemacetan di Indonesia bukan hanya persoalan kapasitas jalan, tetapi berkaitan dengan budaya mobilitas. Di tengah sistem transportasi yang belum sepenuhnya nyaman dan terintegrasi, muncul kecenderungan mencari jalur prioritas untuk menghindari antrean. Akibatnya, kemacetan perlahan dipandang sebagai hambatan yang dapat diatasi melalui akses khusus, bukan sebagai persoalan bersama yang perlu diselesaikan melalui pembenahan sistem transportasi.

Menurut Litman (2021), kualitas sistem transportasi tidak hanya diukur dari kecepatan perjalanan, tetapi juga dari keadilan akses bagi seluruh pengguna jalan. Perspektif ini menunjukkan bahwa prioritas berlebihan terhadap kelompok tertentu dapat mengurangi rasa keadilan dalam penggunaan ruang jalan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Metz (2008) yang menjelaskan bahwa orientasi pada penghematan waktu perjalanan individual sering kali tidak sejalan dengan efisiensi mobilitas publik secara keseluruhan. Dalam konteks ini, pengawalan kendaraan tertentu mungkin mempercepat perjalanan sebagian kecil pengguna jalan, tetapi belum tentu meningkatkan kualitas sistem transportasi secara umum.

Padahal, banyak kota maju justru mengarahkan prioritas jalan untuk kepentingan publik yang lebih luas. Prioritas diberikan kepada kendaraan darurat, angkutan umum massal, pejalan kaki, dan pesepeda demi meningkatkan efisiensi serta keselamatan mobilitas secara keseluruhan.

Menjaga Kepercayaan Publik di Ruang Jalan

Fenomena pengawalan kendaraan di tengah kemacetan pada akhirnya berkaitan erat dengan kepercayaan publik terhadap tata kelola transportasi. Jalan raya bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan ruang sosial yang digunakan bersama oleh masyarakat dengan hak dan kewajiban yang sama. Karena itu, setiap bentuk prioritas di jalan perlu dijalankan secara transparan, proporsional, dan benar-benar berorientasi pada kepentingan publik.

Kepolisian sebagai otoritas lalu lintas memiliki posisi penting dalam menjaga keseimbangan tersebut. Pengawalan yang memang berkaitan dengan tugas negara, keselamatan, atau kondisi darurat tentu perlu dipahami masyarakat. Namun di sisi lain, pengawasan terhadap potensi penyalahgunaan kewenangan juga perlu diperkuat agar tidak muncul kesan bahwa akses jalan dapat dibedakan berdasarkan privilese tertentu.

Pemerintah juga perlu melihat fenomena ini sebagai tanda bahwa persoalan mobilitas di kawasan wisata belum tertangani secara optimal. Kepadatan ekstrem di kawasan seperti Puncak Bogor dan Bandung menunjukkan tingginya ketergantungan terhadap kendaraan pribadi serta belum kuatnya integrasi transportasi umum menuju kawasan wisata.

Karena itu, solusi utama tidak terletak pada semakin banyaknya pengawalan kendaraan, melainkan pada pembenahan sistem mobilitas secara menyeluruh. Penguatan transportasi publik, pengaturan lalu lintas berbasis data, pengembangan angkutan pengumpan kawasan wisata, serta pengendalian penggunaan kendaraan pribadi menjadi langkah yang lebih penting dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan transportasi bukanlah seberapa cepat kendaraan tertentu dapat melewati kemacetan, melainkan seberapa adil, aman, dan efisien sistem mobilitas mampu melayani seluruh pengguna jalan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)