Satu Tahun ayobandung.id dan Krisis Ingatan Kota

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
T. Bachtiar berfoto bersama mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran usai seminar tentang toponimi, lingkungan, dan krisis ingatan Kota Bandung di Jatinangor, Selasa (13/5/2026). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Tepat tanggal 1 Mei 2026, ayobandung.id menginjakkan perjalanan satu tahun usianya sebagai media lokal di Bandung. Satu tahun yang tidak mudah di tengah kondisi industri media massa yang ngos-ngosan. Dalam merayakan satu tahun kiprahnya, kegiatan seminar interaktif dipilih. Mengundang Titi Bachtiar sebagai narasumbernya. Bachtiar adalah seorang ahli toponimi, peneliti cekungan Bandung, sekaligus penulis ahli di ayobandung.id.

PSBJ atau Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dipilih menjadi tempat kegiatan berlangsung. Puluhan mahasiswa memenuhi hampir seluruh kursi merah yang tersedia. Di bagian depan, seorang pria berusia 68 tahun berdiri sambil terkadang menunjuk layar presentasi yang menampilkan nama-nama lokasi di Bandung. 

Beberapa istilah geografi terdengar tidak begitu familiar, namun Bachtiar menyampaikannya dengan jelas tanpa bertele-tele. Ia pun sedikitnya terlihat sebagai orang yang kenal waktu. Tidak seperti beberapa tokoh yang saat diberi waktu untuk berbicara, mereka membahas kemana-mana sampai overtime. Tak peduli orang yang mendengarkan bagaimana dan sibuk dengan omongannya.

“Berapa menit lagi waktu saya?,” katanya di penghujung pemaparan. Ia pun bergegas menyelesaikan materinya.

Ia berbincang tentang asal-usul penamaan kawasan di Bandung. Terdengar sederhana, namun ternyata menyimpan begitu banyak pelajaran dalam bagaimana  seharusnya cara kita menyikapi kondisi ekologis tanah sendiri. Bandung yang selama ini terasa dikenal, tetapi secara bertahap menjadi asing bagi penduduknya. Terlihat dari penamaan jalan, area, dan permukiman yang sering dilalui setiap hari yang menggeser ingatan kolektif warga.

T. Bachtiar berfoto bersama panitia seminar dari Himse Unpad. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
T. Bachtiar berfoto bersama panitia seminar dari Himse Unpad. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bachtiar membuka pemaparan “Nama Yang Bercerita” dimulai dari menampilkan beberapa potongan headline berita. Salah satunya mengambil potongan dari artikel berita Tempo yang berjudul “Sejak Kapan Laut Cina Selatan Ganti Nama Laut Natuna Utara?”.

Dia menjelaskan bahwa pergantian nama rupabumi bisa menjadi alat geopolitik. Toponimi suatu wilayah secara psikologis bisa menunjukkan penguasaan atas wilayah tersebut. Toponimi adalah ilmu yang mempelajarari asal-usul dan sejarah penamaan suatu tempat.

“Kalau masih menempel dalam nama, karakter bumi pada masa lalu itu terarsipkan,” ujar Bachtiar di sesi wawancara selepas seminar berlangsung.

Beberapa mahasiswa yang memenuhi aula tampak beberapa kali menunduk untuk mencatat. Beberapa lainnya memegang ponsel untuk mengambil gambar slide penjelasan di depan. Banyak juga yang hanya fokus ke depan dan hanya mendengarkan.

Ingatan Kolektif Warga yang Memudar

Di hadapan mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, Bachtiar tidak hanya mendiskusikan nama-nama wilayah. Ia menjelaskan bagaimana nama-nama tempat bisa menjadi jejak tentang bentuk tanah, sumber air, dan ancaman lingkungan yang pernah ada di sebuah daerah. 

Menurutnya, Bandung bukan hanya sekadar kota modern yang dipenuhi gedung dan jalan besar. Kota ini merupakan ruang yang menyimpan jejak panjang alam dan budaya. Sayangnya, Bachtiar berpendapat, hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat tinggalnya semakin lenyap. 

“Bandung sekarang seperti kota yang lupa membaca tanahnya sendiri.” katanya di tengah sesi seminar berlangsung. 

“Begitu nama tempat berganti, ingatan kolektif bisa hilang seketika,” lanjutnya. 

Bachtiar menjelaskan asal-usul penamaan beberapa kawasan di Bandung seperti Pamoyanan yang dulunya tempat harimau berjemur, Ciharegem tempat orang mendengar suara geraman harimau, dan Pasirkaliki yang dulunya jadi jalur harimau melintas.

“Nama tempat lahir dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ucapnya sambil menunjuk layar slide di sisi kanan dan kiri sudut aula.

Ia juga memberikan contoh lain dari banyaknya pembangunan yang melewatkan karakter geografis Bandung sebagai daerah cekungan bekas danau purba. Ruang resapan semakin menyusut. Pohon-pohon semakin berkurang, sedangkan beton dan bangunan terus meningkat. 

Lutfiya Bella Nurmalawati Putri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Lutfiya Bella Nurmalawati Putri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Di kursi peserta, Lutfiya Bella Nurmalawati Putri (19) mendengarkan dengan seksama. Mahasiswa Ilmu Sejarah angkatan 2025 itu mengaku sebelumnya hanya mengetahui sejarah Bandung sebatas informasi umum yang diajarkan di sekolah. 

“Orang-orang lebih kenal Bandung sebagai tempat wisata modern. Yang dicari toko makanan, tempat foto, ujung-ujungnya itu lagi itu lagi,” ucap Bella saat ditanya di sela-sela istirahat.

Bella berpendapat bahwa Bandung secara bertahap kehilangan keterikatan dengan sejarahnya sendiri. Banyak orang datang untuk mencari tempat yang viral dan sebatas berfoto dan update di sosial media memenuhi rasa FOMO nya, tetapi sedikit yang benar-benar memahami kisah di balik kotanya. 

Menurutnya, seminar ini memberikan perspektif baru tentang nama-nama tempat yang selama ini dianggap biasa. Ia baru menyadari bahwa toponimi lebih dari sekadar aspek administratif, tetapi juga berhubungan dengan sejarah, geografis, dan kehidupan masyarakat masa lalu. 

“Aku awalnya ngelihat toponimi tuh kayak ya udah, sekadar ilmu tentang nama daerah. Tapi setelah dengar Pak Bachtiar, ternyata di balik itu ada geografisnya, masa lalunya, sampai latar historisnya,” ungkap Bella mengenai toponimi. 

Generasi Muda dan Kota yang Kehilangan Memori

Di sisi lain ruang, Muhammad Zikri Fadillah (19) juga terlihat sibuk menulis penjelasan Bachtiar. Zikri adalah salah satu mahasiswa yang mendapat hadiah buku Toponimi karya Bachtiar berkat jawabannya menjawab pertanyaan dari moderator. Mahasiswa semester dua ini menyatakan baru sadar bahwa banyak nama wilayah di Bandung memiliki makna sejarah yang kuat. 

Zikri berpendapat bahwa perubahan nama lokasi merupakan salah satu tanda lenanya identitas kota. Ia melihat semakin banyak area yang menggunakan istilah asing yang jauh dari sejarah Bandung itu sendiri. 

Muhammad Zikri Fadillah, (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Muhammad Zikri Fadillah, (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

“Hari ini Bandung lebih kebarat-baratan. Banyak yang memakai bahasa asing,” kata Zikri saat ditemui setelah acara berlangsung.

Hal ini terlihat dari beberapa penamaan kawasan perumahan yang ada di Bandung. Dalam penjelasannya T. Bachtiar menyebutkan beberapa contoh seperti Sky Residence Buah Batu, Bandung Commercial Residence, Holis Regency, dan G Land Ciwastra Residence. Tampaknya terminologi asing lebih menjual di mata marketer untuk menekan harga yang semakin menguntungkan.

Selnjutnya, Bachtiar menjelaskan bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya memberikan izin untuk pembangunan, tetapi juga seharusnya peduli terhadap penamaan wilayah baru. Karena, menurutnya, nama suatu tempat bukan hanya sekadar label, tetapi bagian dari ingatan kota. 

Ia mengungkapkan bahwa masyarakat mulai melupakan kenyataan bahwa Bandung terletak di daerah cekungan yang rawan masalah lingkungan. 

Ia menjelaskan bahwa ketidaktahuan tentang kondisi tempat tinggal bisa membawa dampak jangka panjang. Di mana masalah tersebut dapat berujung pada banjir, kekurangan air, hingga proyek pembangunan yang tidak sesuai dengan karakter tanah di Bandung. 

Dari Ruang Seminar ke Ruang Menulis

Seminar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berdiskusi mengenai sejarah kota. Acara ini juga menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk mulai bersikap proaktif dalam menulis dan mendokumentasikan cerita tentang lingkungan mereka. 

Pemimpin Redaksi ayobandung. id, Andres Fatubun, menyatakan bahwa kebiasaan menulis sebaiknya dimulai sejak masa perkuliahan. Dalam sambutannya, ia menyinggung bagaimana perjalanan Bachtiar yang sudah aktif menulis sejak mahasiswa di tahun 1977 yang bisa menjadi contoh bagi mahasiswa untuk belajar menulis. 

“Beginilah cara kami mencintai Kota Bandung,” ucapnya saat ditemui di sela kegiatan seminar. 

Ayobandung.id dengan semangat menyampaikan isu-isu lokalitas, sejarah, budaya, pendidikan, dan komunitas melakui salah satu kanal Ayo Netizen memberikan ruang bagi siapapun untuk mengirimkan tulisannya. 

Andres juga menyampaikan bahwa tulisan-tulisan mengenai sejarah memiliki pembaca yang loyal. Dia berpendapat bahwa mahasiswa di bidang sejarah memiliki kesempatan besar untuk menciptakan karya yang berkualitas karena mereka dekat dengan data, arsip, dan sumber akademis. 

Di akhir seminar, Bachtiar kembali menekankan pentingnya menjaga hubungan antara manusia dan lingkungan hidup mereka. Bagi dia, mengerti kota berarti memahami cara bertahan hidup di dalamnya. 

“Nama tempat bukan sekadar administrasi, tapi cerminan bumi dan kebudayaan,” ujarnya di tengah sesi wawancara.

“Tolong jaga lereng gunungnya. Karena itu sumber kehidupan warga Bandung,” tutupnya saat ditanya mengenai jika Bandung bisa berbicara kepada warganya.

Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun, di tengah kondisi Bandung yang semakin panas dan padat, pesan tersebut seperti sebuah pengingat kecil tentang kota yang perlahan-lahan melupakan tanahnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)
Beranda 30 Sep 2026, 08:43

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 19:45

Street Spydrs: Merayakan Jejak Panjang Skateboard Bandung lewat Buku dan Pameran

Empat dekade perjalanan Street Spydrs kembali dikenang melalui buku, diskusi, dan pameran yang mempertemukan para pelaku sejarah, sahabat, keluarga, serta generasi lintas zaman dalam satu ruang penuh

Buku karya Reka Nugara, Street Spydrs Empat Dekade Berseluncur, yang merekam perjalanan, dinamika, serta jejak Street Spydrs dalam perkembangan budaya skateboard dari masa ke masa. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 18:18

Gastronomi Semarang: Menelusuri Jejak Rasa Tempo Dulu dan Pelestarian Warisan Kuliner

Semarang bukan sekadar titik geografis di pesisir utara Jawa; ia adalah sebuah bejana peleburan budaya yang tercermin secara nyata dalam setiap sajian kulinernya.

Seorang penjual minuman keliling di Semarang sekitar tahun 1926 - 1932. (Sumber: collectienederland.nl)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:36

Apa Dampak Lingkungan Data Center untuk AI yang Kita Pakai Setiap Hari?

Chat AI terasa gratis, padahal ada biaya tersembunyi di data center berupa listrik dan jutaan liter air. Cari tahu siapa yang menanggungnya di sini

Ilustrasi data center modern yang beroperasi 24 jam dan membutuhkan listrik serta air dalam jumlah besar untuk pendinginan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 17:01

Eksistensi KWK Bandung dan Potensi Ruang Kreatif di Stasiun Whoosh

Keberadaan delapan KWK menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Bandung dalam mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan daya tarik destinasi

Stand KWK Cibaduyut  di festiwal bertempat di Kiara Artha Park, Bandung (Foto: bandung.go.id)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 15:50

Kopi Torrefacto, Pilihan Menikmati Kopi ala Spanyol di Singapura, Malaysia dan Indonesia

Nikmati keunikan Kopi Torrefacto, racikan khas Spanyol dengan sentuhan karamel manis yang kini populer di Singapura, Malaysia, hingga Indonesia.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Beranda 29 Sep 2026, 15:27

Musim Hujan Segera Tiba, Drainase Kota Bandung Akan Menghadapi Ujian Sesungguhnya

Sanggupkah menelan limpahan air hujan atau wargi Kota Bandung seperti biasa akan mendorong kendaraannya yang mati mesin di tengah genangan?

Sejumlah pekerja melakukan perbaikan drainase di Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung, Selasa 29 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 14:17

Menelusuri Kelezatan Hidangan Nonya: Simfoni Cita Rasa Peranakan Cina Melayu

Kuliner Nonya merupakan salah satu warisan budaya paling dinamis dan elegan di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Laksa lemak sebagai salah satu hidangan Nyonya (peranakan). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Change C.C)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 10:30

Matur Suksma Mas Guruh...

Guruh Sukarno Putra atau Guruh SP adalah salah satu seniman bercita rasa Indonesia lewat karya-karyanya yang selalu diwarnai unsur-unsur etnis nusantara yang ikonik

Guruh Soekarnoputra, anak bungsu Soekarno, meninggal dunia di usia 73 tahun. Dikenal sebagai seniman dan politisi, ia meninggalkan warisan musik yang abadi. (Sumber: Instagram)
Ayo Netizen 29 Sep 2026, 08:44

Yang Masuk Kelas Bukan Cuma Anak, Melainkan Rumahnya

Membongkar fenomena anak yang masuk ke gerbang sekolah dengan seribu satu masalah dan beban, serta meng-highlight cara merespon pada masalah-masalah tersebut dan menawarkan solusi yang realistis.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:28

Pentingnya Perlindungan Hak-Hak Sosial bagi Anak Didik

Seyogianya anak didik tidak hanya menjadi objek pertanyaan. Anak didik bukan sekadar penerima pelajaran. Mereka harus tumbuh sebagai manusia. Dan hak-hak sosial anak didik harus dilindungi.

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 19:06

Kopi Tiam dari Semenanjung Malaya ke Nusantara hingga ke Kota Bandung

Jelajahi kisah kopitiam, kedai kopi legendaris yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya ke Nusantara, hingga kini menjadi tempat nongkrong favorit dan bagian dari gaya hidup kuliner Kota Bandung.

Menu sarapan pagi di Warung Kopi Purnama: roti kukus sarikaya, telur rebus setengah matang dan kopi hitam (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 18:53

Pos Indonesia dan Perjuangan Menjemput Masa Depan

Setiap tanggal 27 September, insan pos dan telekomunikasi Indonesia memperingati Hari Bhakti Postel.

PT Pos Indonesia memasuki usia 81 tahun pada 27 September 2026. Hingga kini, layanan pos tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk hingga pelosok negeri. (Foto: Agus Wahyudi)