AYOBANDUNG.ID - Tepat tanggal 1 Mei 2026, ayobandung.id menginjakkan perjalanan satu tahun usianya sebagai media lokal di Bandung. Satu tahun yang tidak mudah di tengah kondisi industri media massa yang ngos-ngosan. Dalam merayakan satu tahun kiprahnya, kegiatan seminar interaktif dipilih. Mengundang Titi Bachtiar sebagai narasumbernya. Bachtiar adalah seorang ahli toponimi, peneliti cekungan Bandung, sekaligus penulis ahli di ayobandung.id.
PSBJ atau Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dipilih menjadi tempat kegiatan berlangsung. Puluhan mahasiswa memenuhi hampir seluruh kursi merah yang tersedia. Di bagian depan, seorang pria berusia 68 tahun berdiri sambil terkadang menunjuk layar presentasi yang menampilkan nama-nama lokasi di Bandung.
Beberapa istilah geografi terdengar tidak begitu familiar, namun Bachtiar menyampaikannya dengan jelas tanpa bertele-tele. Ia pun sedikitnya terlihat sebagai orang yang kenal waktu. Tidak seperti beberapa tokoh yang saat diberi waktu untuk berbicara, mereka membahas kemana-mana sampai overtime. Tak peduli orang yang mendengarkan bagaimana dan sibuk dengan omongannya.
“Berapa menit lagi waktu saya?,” katanya di penghujung pemaparan. Ia pun bergegas menyelesaikan materinya.
Ia berbincang tentang asal-usul penamaan kawasan di Bandung. Terdengar sederhana, namun ternyata menyimpan begitu banyak pelajaran dalam bagaimana seharusnya cara kita menyikapi kondisi ekologis tanah sendiri. Bandung yang selama ini terasa dikenal, tetapi secara bertahap menjadi asing bagi penduduknya. Terlihat dari penamaan jalan, area, dan permukiman yang sering dilalui setiap hari yang menggeser ingatan kolektif warga.

Bachtiar membuka pemaparan “Nama Yang Bercerita” dimulai dari menampilkan beberapa potongan headline berita. Salah satunya mengambil potongan dari artikel berita Tempo yang berjudul “Sejak Kapan Laut Cina Selatan Ganti Nama Laut Natuna Utara?”.
Dia menjelaskan bahwa pergantian nama rupabumi bisa menjadi alat geopolitik. Toponimi suatu wilayah secara psikologis bisa menunjukkan penguasaan atas wilayah tersebut. Toponimi adalah ilmu yang mempelajarari asal-usul dan sejarah penamaan suatu tempat.
“Kalau masih menempel dalam nama, karakter bumi pada masa lalu itu terarsipkan,” ujar Bachtiar di sesi wawancara selepas seminar berlangsung.
Beberapa mahasiswa yang memenuhi aula tampak beberapa kali menunduk untuk mencatat. Beberapa lainnya memegang ponsel untuk mengambil gambar slide penjelasan di depan. Banyak juga yang hanya fokus ke depan dan hanya mendengarkan.
Ingatan Kolektif Warga yang Memudar
Di hadapan mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, Bachtiar tidak hanya mendiskusikan nama-nama wilayah. Ia menjelaskan bagaimana nama-nama tempat bisa menjadi jejak tentang bentuk tanah, sumber air, dan ancaman lingkungan yang pernah ada di sebuah daerah.
Menurutnya, Bandung bukan hanya sekadar kota modern yang dipenuhi gedung dan jalan besar. Kota ini merupakan ruang yang menyimpan jejak panjang alam dan budaya. Sayangnya, Bachtiar berpendapat, hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat tinggalnya semakin lenyap.
“Bandung sekarang seperti kota yang lupa membaca tanahnya sendiri.” katanya di tengah sesi seminar berlangsung.
“Begitu nama tempat berganti, ingatan kolektif bisa hilang seketika,” lanjutnya.
Bachtiar menjelaskan asal-usul penamaan beberapa kawasan di Bandung seperti Pamoyanan yang dulunya tempat harimau berjemur, Ciharegem tempat orang mendengar suara geraman harimau, dan Pasirkaliki yang dulunya jadi jalur harimau melintas.
“Nama tempat lahir dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ucapnya sambil menunjuk layar slide di sisi kanan dan kiri sudut aula.
Ia juga memberikan contoh lain dari banyaknya pembangunan yang melewatkan karakter geografis Bandung sebagai daerah cekungan bekas danau purba. Ruang resapan semakin menyusut. Pohon-pohon semakin berkurang, sedangkan beton dan bangunan terus meningkat.

Di kursi peserta, Lutfiya Bella Nurmalawati Putri (19) mendengarkan dengan seksama. Mahasiswa Ilmu Sejarah angkatan 2025 itu mengaku sebelumnya hanya mengetahui sejarah Bandung sebatas informasi umum yang diajarkan di sekolah.
“Orang-orang lebih kenal Bandung sebagai tempat wisata modern. Yang dicari toko makanan, tempat foto, ujung-ujungnya itu lagi itu lagi,” ucap Bella saat ditanya di sela-sela istirahat.
Bella berpendapat bahwa Bandung secara bertahap kehilangan keterikatan dengan sejarahnya sendiri. Banyak orang datang untuk mencari tempat yang viral dan sebatas berfoto dan update di sosial media memenuhi rasa FOMO nya, tetapi sedikit yang benar-benar memahami kisah di balik kotanya.
Menurutnya, seminar ini memberikan perspektif baru tentang nama-nama tempat yang selama ini dianggap biasa. Ia baru menyadari bahwa toponimi lebih dari sekadar aspek administratif, tetapi juga berhubungan dengan sejarah, geografis, dan kehidupan masyarakat masa lalu.
“Aku awalnya ngelihat toponimi tuh kayak ya udah, sekadar ilmu tentang nama daerah. Tapi setelah dengar Pak Bachtiar, ternyata di balik itu ada geografisnya, masa lalunya, sampai latar historisnya,” ungkap Bella mengenai toponimi.
Generasi Muda dan Kota yang Kehilangan Memori
Di sisi lain ruang, Muhammad Zikri Fadillah (19) juga terlihat sibuk menulis penjelasan Bachtiar. Zikri adalah salah satu mahasiswa yang mendapat hadiah buku Toponimi karya Bachtiar berkat jawabannya menjawab pertanyaan dari moderator. Mahasiswa semester dua ini menyatakan baru sadar bahwa banyak nama wilayah di Bandung memiliki makna sejarah yang kuat.
Zikri berpendapat bahwa perubahan nama lokasi merupakan salah satu tanda lenanya identitas kota. Ia melihat semakin banyak area yang menggunakan istilah asing yang jauh dari sejarah Bandung itu sendiri.

“Hari ini Bandung lebih kebarat-baratan. Banyak yang memakai bahasa asing,” kata Zikri saat ditemui setelah acara berlangsung.
Hal ini terlihat dari beberapa penamaan kawasan perumahan yang ada di Bandung. Dalam penjelasannya T. Bachtiar menyebutkan beberapa contoh seperti Sky Residence Buah Batu, Bandung Commercial Residence, Holis Regency, dan G Land Ciwastra Residence. Tampaknya terminologi asing lebih menjual di mata marketer untuk menekan harga yang semakin menguntungkan.
Selnjutnya, Bachtiar menjelaskan bahwa pemerintah seharusnya tidak hanya memberikan izin untuk pembangunan, tetapi juga seharusnya peduli terhadap penamaan wilayah baru. Karena, menurutnya, nama suatu tempat bukan hanya sekadar label, tetapi bagian dari ingatan kota.
Ia mengungkapkan bahwa masyarakat mulai melupakan kenyataan bahwa Bandung terletak di daerah cekungan yang rawan masalah lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa ketidaktahuan tentang kondisi tempat tinggal bisa membawa dampak jangka panjang. Di mana masalah tersebut dapat berujung pada banjir, kekurangan air, hingga proyek pembangunan yang tidak sesuai dengan karakter tanah di Bandung.
Dari Ruang Seminar ke Ruang Menulis
Seminar ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berdiskusi mengenai sejarah kota. Acara ini juga menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk mulai bersikap proaktif dalam menulis dan mendokumentasikan cerita tentang lingkungan mereka.
Pemimpin Redaksi ayobandung. id, Andres Fatubun, menyatakan bahwa kebiasaan menulis sebaiknya dimulai sejak masa perkuliahan. Dalam sambutannya, ia menyinggung bagaimana perjalanan Bachtiar yang sudah aktif menulis sejak mahasiswa di tahun 1977 yang bisa menjadi contoh bagi mahasiswa untuk belajar menulis.
“Beginilah cara kami mencintai Kota Bandung,” ucapnya saat ditemui di sela kegiatan seminar.
Ayobandung.id dengan semangat menyampaikan isu-isu lokalitas, sejarah, budaya, pendidikan, dan komunitas melakui salah satu kanal Ayo Netizen memberikan ruang bagi siapapun untuk mengirimkan tulisannya.
Andres juga menyampaikan bahwa tulisan-tulisan mengenai sejarah memiliki pembaca yang loyal. Dia berpendapat bahwa mahasiswa di bidang sejarah memiliki kesempatan besar untuk menciptakan karya yang berkualitas karena mereka dekat dengan data, arsip, dan sumber akademis.
Di akhir seminar, Bachtiar kembali menekankan pentingnya menjaga hubungan antara manusia dan lingkungan hidup mereka. Bagi dia, mengerti kota berarti memahami cara bertahan hidup di dalamnya.
“Nama tempat bukan sekadar administrasi, tapi cerminan bumi dan kebudayaan,” ujarnya di tengah sesi wawancara.
“Tolong jaga lereng gunungnya. Karena itu sumber kehidupan warga Bandung,” tutupnya saat ditanya mengenai jika Bandung bisa berbicara kepada warganya.
Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun, di tengah kondisi Bandung yang semakin panas dan padat, pesan tersebut seperti sebuah pengingat kecil tentang kota yang perlahan-lahan melupakan tanahnya.
