AYOBANDUNG.ID - Di tengah laju pembangunan dan perubahan wajah kota, ingatan warga terhadap Bandung perlahan mulai memudar. Nama-nama tempat yang dulu menyimpan jejak alam, sejarah, hingga cara hidup masyarakat kini semakin asing di telinga generasi muda.
Krisis ingatan kolektif itu menjadi sorotan dalam seminar interaktif bertajuk “Nama yang Bercerita: Membaca Bandung Raya dari Tanah, Bencana, dan Ingatan Kolektif” yang digelar ayobandung.id bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran di Aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya Unpad, Jatinangor, Selasa (13/5/2026).
Seminar tersebut menjadi bagian dari peringatan satu tahun perjalanan ayobandung.id sebagai media lokal di Bandung Raya. Puluhan mahasiswa dan masyarakat umum hadir untuk mendengarkan pemaparan T. Bachtiar (68), penulis sekaligus peneliti Cekungan Bandung yang selama bertahun-tahun menelusuri hubungan antara nama tempat, kondisi alam, dan sejarah kawasan Bandung Raya.
Pemimpin Redaksi ayobandung.id, Andres Fatubun, mengatakan seminar tersebut lahir dari obrolan santai bersama mahasiswa sejarah dan dosen Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Menurutnya, perayaan ulang tahun pertama ayobandung.id sengaja dibuat dalam bentuk seminar interaktif karena dianggap lebih sesuai dengan semangat media lokal yang ingin dekat dengan warga dan persoalan kotanya.
“Beginilah cara kami mencintai Kota Bandung,” kata Andres saat ditemui di sela kegiatan berlangsung (13/05).
Ia menambahkan, ayobandung.id ingin menjadi lebih dari sekadar media penyampai informasi. Media lokal, menurutnya, juga perlu hadir sebagai ruang diskusi, kolaborasi, dan pertukaran gagasan bagi masyarakat Bandung.
“Ayo Bandung ingin memberikan kontribusi yang berarti buat Kota Bandung, bukan sekadar lewat tulisan, tapi juga lewat aksi,” ucap Andres.
Andres berharap seminar tersebut menjadi titik awal kolaborasi berkelanjutan antara media, komunitas, dan mahasiswa. Ia juga menilai ruang seperti ini penting untuk mendorong generasi muda kembali aktif menulis dan menyampaikan perspektif mereka mengenai kota melalui media massa.
“Kami ingin ayobandung.id melalui kanal Ayo Netizen jadi ruang seluas-luasnya bagi warga untuk menyampaikan ide dan kritik sosial,” tutur Andres.

Dalam pemaparannya, T. Bachtiar menyoroti semakin renggangnya hubungan masyarakat Bandung dengan karakter geografis kotanya sendiri. Ia menilai perubahan nama wilayah dan pembangunan yang mengabaikan kondisi alam membuat warga perlahan kehilangan pemahaman terhadap identitas kotanya.
“Masyarakat mulai krisis ingatan terhadap kotanya sendiri,” ujar Bachtiar di depan puluhan mahasiswa.
Menurut Bachtiar, banyak warga kini melupakan bahwa Bandung berada di dasar cekungan dan merupakan bekas Danau Bandung Purba yang menyimpan berbagai risiko ekologis. Ia menjelaskan, nama-nama tempat di Bandung sebenarnya memuat informasi penting mengenai kondisi alam, sejarah kawasan, hingga potensi bencana di wilayah tersebut.
“Toponimi itu pintu gerbang untuk memahami kebudayaan,” ucap Bachtiar di sesi wawancara setelah acara berlangsung.
Selain membahas sejarah penamaan wilayah, Bachtiar juga mengkritik arah pembangunan kota yang dinilai semakin tidak selaras dengan kondisi ekologis Bandung. Ia mencontohkan berkurangnya ruang resapan air dan semakin hilangnya pepohonan di kawasan perkotaan.
“Sekarang banyak pembangunan yang tidak seirama dengan kondisi alam,” kata Bachtiar.
Ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat memicu berbagai persoalan lingkungan di masa depan, mulai dari banjir, peningkatan suhu kota, hingga ancaman krisis air bersih. Karena itu, ia mendorong generasi muda mulai membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui langkah sederhana di sekitar mereka.
“Minimum tanam pohonlah, di mana pun,” pungkas Bachtiar.
