Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)

Masih dalam suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026, pernyataan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengenai rendahnya gaji dosen karena dianggap kurang kompeten memunculkan perdebatan luas. Di tengah semangat memperbaiki kualitas pendidikan nasional, pernyataan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: apakah rendahnya kesejahteraan dosen semata-mata disebabkan oleh kompetensi individu, atau justru mencerminkan persoalan struktural dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia?

Persoalan kesejahteraan dosen sebenarnya tidak sesederhana hubungan langsung antara “kompetensi” dan “gaji”. Masalah ini jauh lebih struktural: menyangkut bagaimana sistem pendidikan tinggi Indonesia dibangun, bagaimana negara memandang profesi akademik, dan bagaimana budaya pendidikan kita berkembang sejak lama.

Kompetensi dosen tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik

Secara formal, syarat menjadi dosen di Indonesia tidak ringan. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan minimal lulusan magister (S2), bahkan untuk jenjang tertentu harus lulusan doktor (S3). Dalam praktiknya, dosen juga dituntut menjalankan tridarma perguruan tinggi: mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.

Tetapi gelar akademik tidak otomatis menghasilkan kompetensi yang kuat. Kualitas dosen juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain: budaya riset kampus, kemampuan berpikir kritis, akses terhadap jurnal internasional, kemampuan bahasa asing, hingga kesempatan pengembangan diri. Banyak dosen bekerja di lingkungan yang minim dukungan riset dan fasilitas akademik, tetapi tetap dituntut menghasilkan publikasi dan inovasi.

Data menunjukkan bahwa masalah ini memang berkaitan erat dengan dukungan sistem pendidikan tinggi. Buku Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi Indonesia 2025–BRIN mencatat bahwa belanja riset nasional Indonesia pada 2024 hanya sekitar 0,23% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih jauh dari negara dengan ekosistem riset kuat yang umumnya berada di kisaran 1–2% PDB. Rendahnya investasi ini memengaruhi kapasitas perguruan tinggi dalam membangun budaya akademik dan penelitian yang sehat.

Gaji dosen Indonesia paling rendah di Asia Tenggara. (Sumber: Instagram/@kompascom)
Gaji dosen Indonesia paling rendah di Asia Tenggara. (Sumber: Instagram/@kompascom)

Ketika dosen lebih sibuk mengurus administrasi

Di sinilah masalah mulai terlihat. Kita sering membahas kompetensi dosen sebagai persoalan individu, padahal ekosistem akademiknya sendiri belum sepenuhnya mendukung lahirnya budaya ilmiah yang sehat.

Beban dosen di Indonesia juga sangat besar dan sering kali melampaui pekerjaan akademik. Selain mengajar dan meneliti, dosen harus mengurus administrasi kampus, akreditasi, laporan beban kerja, dokumen penjaminan mutu, kegiatan seremonial, hingga berbagai tugas birokratis lain. Di banyak perguruan tinggi, terutama kampus daerah dan kampus dengan sumber daya terbatas, dosen bahkan harus merangkap banyak pekerjaan sekaligus. Akibatnya, energi untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan penelitian justru terkuras oleh pekerjaan administratif.

Situasi ini berbeda dengan negara-negara yang memiliki budaya akademik kuat. OECD Research and Development Statistics menunjukkan bahwa investasi besar terhadap riset biasanya diikuti penguatan tenaga akademik, infrastruktur penelitian, dan dukungan profesional bagi peneliti serta dosen.

Tugas dosen segunung, sayangnya yang kelihatan cuma “ngajar”. (Sumber: Facebook/Publica Scientific Solution)
Tugas dosen segunung, sayangnya yang kelihatan cuma “ngajar”. (Sumber: Facebook/Publica Scientific Solution)

Kurikulum yang terlalu padat dan kurang mendalam

Persoalan lain yang jarang dibahas adalah bagaimana sistem pendidikan Indonesia sejak awal lebih menekankan keluasan materi dibanding kedalaman kompetensi. Kurikulum dari sekolah hingga perguruan tinggi dipenuhi berbagai mata pelajaran dan mata kuliah wajib umum. Pendidikan agama, Kewarganegaraan, Pancasila, dan berbagai muatan lain tentu memiliki tujuan penting dalam membentuk karakter dan identitas kebangsaan.

Namun persoalannya bukan pada keberadaan mata kuliah tersebut, melainkan pada kecenderungan sistem pendidikan Indonesia yang terlalu padat sehingga ruang untuk pendalaman disiplin ilmu menjadi terbatas. Mahasiswa akhirnya terbiasa mengejar penyelesaian banyak mata kuliah sekaligus, bukan benar-benar menguasai satu bidang secara mendalam.

Budaya akademik kemudian lebih berorientasi pada kelulusan administratif daripada eksplorasi intelektual. Dampaknya terasa ketika lulusan memasuki dunia akademik sebagai dosen. Banyak yang memiliki gelar, tetapi belum cukup terlatih dalam tradisi riset, penulisan ilmiah, ataupun diskusi akademik yang kritis.

Di sisi lain, tuntutan terhadap dosen terus meningkat. Dosen didorong menghasilkan publikasi internasional, membangun inovasi, hingga menjalin kolaborasi global. Namun keluasan dan kualitas riset yang diharapkan itu sering kali terbentur oleh keterbatasan pendanaan penelitian.

Banyak dosen harus menyesuaikan topik penelitian bukan berdasarkan urgensi ilmiah atau kebutuhan masyarakat, melainkan berdasarkan besarnya dana hibah yang tersedia. Penelitian lapangan, eksperimen laboratorium, pengumpulan data berskala besar, hingga publikasi pada jurnal bereputasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam beberapa kasus, dosen bahkan harus menggunakan dana pribadi untuk menutup kebutuhan riset atau publikasi.

Kondisi ini membuat produktivitas akademik sering berjalan tidak seimbang dengan dukungan yang diberikan negara dan institusi. Ironisnya, tekanan produktivitas akademik terus meningkat. Indonesia memang mengalami kenaikan publikasi internasional dalam beberapa tahun terakhir, tetapi peningkatan itu sering terjadi di tengah keterbatasan pendanaan riset dan dukungan institusi. Laporan DetikEdu tentang publikasi internasional Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan publikasi ilmiah belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas ekosistem riset nasional.

Masalah sistemik, bukan sekadar individu

Karena itu, mengaitkan rendahnya gaji dosen semata-mata dengan kompetensi berisiko menyederhanakan masalah. Pertanyaan yang lebih penting justru: apakah sistem pendidikan tinggi Indonesia sudah benar-benar dirancang untuk menghasilkan dan menjaga kualitas akademik?

Di banyak negara dengan ekosistem pendidikan tinggi yang kuat, profesi dosen dipandang sebagai pekerjaan strategis untuk membangun pengetahuan dan inovasi nasional. Negara berinvestasi besar pada riset, laboratorium, pengembangan akademik, dan kesejahteraan tenaga pengajar. Dosen diberi ruang untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan ilmu.

Sebaliknya, di Indonesia, dosen sering kali dituntut menghasilkan kualitas global dengan dukungan yang terbatas. Tidak sedikit dosen yang masih harus mencari penghasilan tambahan di luar kampus karena pendapatan pokok belum mencukupi kebutuhan hidup.

Tentu saja kritik terhadap kualitas dosen tetap penting. Dunia akademik memang harus terus memperbaiki diri. Tetapi perbaikan kualitas tidak bisa hanya dibebankan kepada individu dosen tanpa memperbaiki sistem yang membentuk mereka.

Jika pemerintah benar-benar ingin meningkatkan kompetensi dosen Indonesia, maka yang perlu dibangun bukan hanya mekanisme evaluasi, melainkan juga ekosistem akademik yang sehat: pendanaan riset yang memadai, pengurangan beban birokrasi, akses pengembangan diri, serta kurikulum pendidikan yang memberi ruang lebih besar pada kedalaman berpikir.

Sebab pada akhirnya, kualitas dosen tidak lahir dari tuntutan semata, tetapi dari sistem pendidikan yang memungkinkan kompetensi itu tumbuh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)