Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Selasa 12 Mei 2026, 08:51 WIB
Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)

Masih dalam suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026, pernyataan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengenai rendahnya gaji dosen karena dianggap kurang kompeten memunculkan perdebatan luas. Di tengah semangat memperbaiki kualitas pendidikan nasional, pernyataan tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: apakah rendahnya kesejahteraan dosen semata-mata disebabkan oleh kompetensi individu, atau justru mencerminkan persoalan struktural dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia?

Persoalan kesejahteraan dosen sebenarnya tidak sesederhana hubungan langsung antara “kompetensi” dan “gaji”. Masalah ini jauh lebih struktural: menyangkut bagaimana sistem pendidikan tinggi Indonesia dibangun, bagaimana negara memandang profesi akademik, dan bagaimana budaya pendidikan kita berkembang sejak lama.

Kompetensi dosen tidak hanya ditentukan oleh gelar akademik

Secara formal, syarat menjadi dosen di Indonesia tidak ringan. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan minimal lulusan magister (S2), bahkan untuk jenjang tertentu harus lulusan doktor (S3). Dalam praktiknya, dosen juga dituntut menjalankan tridarma perguruan tinggi: mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat.

Tetapi gelar akademik tidak otomatis menghasilkan kompetensi yang kuat. Kualitas dosen juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain: budaya riset kampus, kemampuan berpikir kritis, akses terhadap jurnal internasional, kemampuan bahasa asing, hingga kesempatan pengembangan diri. Banyak dosen bekerja di lingkungan yang minim dukungan riset dan fasilitas akademik, tetapi tetap dituntut menghasilkan publikasi dan inovasi.

Data menunjukkan bahwa masalah ini memang berkaitan erat dengan dukungan sistem pendidikan tinggi. Buku Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi Indonesia 2025–BRIN mencatat bahwa belanja riset nasional Indonesia pada 2024 hanya sekitar 0,23% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih jauh dari negara dengan ekosistem riset kuat yang umumnya berada di kisaran 1–2% PDB. Rendahnya investasi ini memengaruhi kapasitas perguruan tinggi dalam membangun budaya akademik dan penelitian yang sehat.

Gaji dosen Indonesia paling rendah di Asia Tenggara. (Sumber: Instagram/@kompascom)
Gaji dosen Indonesia paling rendah di Asia Tenggara. (Sumber: Instagram/@kompascom)

Ketika dosen lebih sibuk mengurus administrasi

Di sinilah masalah mulai terlihat. Kita sering membahas kompetensi dosen sebagai persoalan individu, padahal ekosistem akademiknya sendiri belum sepenuhnya mendukung lahirnya budaya ilmiah yang sehat.

Beban dosen di Indonesia juga sangat besar dan sering kali melampaui pekerjaan akademik. Selain mengajar dan meneliti, dosen harus mengurus administrasi kampus, akreditasi, laporan beban kerja, dokumen penjaminan mutu, kegiatan seremonial, hingga berbagai tugas birokratis lain. Di banyak perguruan tinggi, terutama kampus daerah dan kampus dengan sumber daya terbatas, dosen bahkan harus merangkap banyak pekerjaan sekaligus. Akibatnya, energi untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan penelitian justru terkuras oleh pekerjaan administratif.

Situasi ini berbeda dengan negara-negara yang memiliki budaya akademik kuat. OECD Research and Development Statistics menunjukkan bahwa investasi besar terhadap riset biasanya diikuti penguatan tenaga akademik, infrastruktur penelitian, dan dukungan profesional bagi peneliti serta dosen.

Tugas dosen segunung, sayangnya yang kelihatan cuma “ngajar”. (Sumber: Facebook/Publica Scientific Solution)
Tugas dosen segunung, sayangnya yang kelihatan cuma “ngajar”. (Sumber: Facebook/Publica Scientific Solution)

Kurikulum yang terlalu padat dan kurang mendalam

Persoalan lain yang jarang dibahas adalah bagaimana sistem pendidikan Indonesia sejak awal lebih menekankan keluasan materi dibanding kedalaman kompetensi. Kurikulum dari sekolah hingga perguruan tinggi dipenuhi berbagai mata pelajaran dan mata kuliah wajib umum. Pendidikan agama, Kewarganegaraan, Pancasila, dan berbagai muatan lain tentu memiliki tujuan penting dalam membentuk karakter dan identitas kebangsaan.

Namun persoalannya bukan pada keberadaan mata kuliah tersebut, melainkan pada kecenderungan sistem pendidikan Indonesia yang terlalu padat sehingga ruang untuk pendalaman disiplin ilmu menjadi terbatas. Mahasiswa akhirnya terbiasa mengejar penyelesaian banyak mata kuliah sekaligus, bukan benar-benar menguasai satu bidang secara mendalam.

Budaya akademik kemudian lebih berorientasi pada kelulusan administratif daripada eksplorasi intelektual. Dampaknya terasa ketika lulusan memasuki dunia akademik sebagai dosen. Banyak yang memiliki gelar, tetapi belum cukup terlatih dalam tradisi riset, penulisan ilmiah, ataupun diskusi akademik yang kritis.

Di sisi lain, tuntutan terhadap dosen terus meningkat. Dosen didorong menghasilkan publikasi internasional, membangun inovasi, hingga menjalin kolaborasi global. Namun keluasan dan kualitas riset yang diharapkan itu sering kali terbentur oleh keterbatasan pendanaan penelitian.

Banyak dosen harus menyesuaikan topik penelitian bukan berdasarkan urgensi ilmiah atau kebutuhan masyarakat, melainkan berdasarkan besarnya dana hibah yang tersedia. Penelitian lapangan, eksperimen laboratorium, pengumpulan data berskala besar, hingga publikasi pada jurnal bereputasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam beberapa kasus, dosen bahkan harus menggunakan dana pribadi untuk menutup kebutuhan riset atau publikasi.

Kondisi ini membuat produktivitas akademik sering berjalan tidak seimbang dengan dukungan yang diberikan negara dan institusi. Ironisnya, tekanan produktivitas akademik terus meningkat. Indonesia memang mengalami kenaikan publikasi internasional dalam beberapa tahun terakhir, tetapi peningkatan itu sering terjadi di tengah keterbatasan pendanaan riset dan dukungan institusi. Laporan DetikEdu tentang publikasi internasional Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan publikasi ilmiah belum sepenuhnya diikuti peningkatan kualitas ekosistem riset nasional.

Masalah sistemik, bukan sekadar individu

Karena itu, mengaitkan rendahnya gaji dosen semata-mata dengan kompetensi berisiko menyederhanakan masalah. Pertanyaan yang lebih penting justru: apakah sistem pendidikan tinggi Indonesia sudah benar-benar dirancang untuk menghasilkan dan menjaga kualitas akademik?

Di banyak negara dengan ekosistem pendidikan tinggi yang kuat, profesi dosen dipandang sebagai pekerjaan strategis untuk membangun pengetahuan dan inovasi nasional. Negara berinvestasi besar pada riset, laboratorium, pengembangan akademik, dan kesejahteraan tenaga pengajar. Dosen diberi ruang untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan ilmu.

Sebaliknya, di Indonesia, dosen sering kali dituntut menghasilkan kualitas global dengan dukungan yang terbatas. Tidak sedikit dosen yang masih harus mencari penghasilan tambahan di luar kampus karena pendapatan pokok belum mencukupi kebutuhan hidup.

Tentu saja kritik terhadap kualitas dosen tetap penting. Dunia akademik memang harus terus memperbaiki diri. Tetapi perbaikan kualitas tidak bisa hanya dibebankan kepada individu dosen tanpa memperbaiki sistem yang membentuk mereka.

Jika pemerintah benar-benar ingin meningkatkan kompetensi dosen Indonesia, maka yang perlu dibangun bukan hanya mekanisme evaluasi, melainkan juga ekosistem akademik yang sehat: pendanaan riset yang memadai, pengurangan beban birokrasi, akses pengembangan diri, serta kurikulum pendidikan yang memberi ruang lebih besar pada kedalaman berpikir.

Sebab pada akhirnya, kualitas dosen tidak lahir dari tuntutan semata, tetapi dari sistem pendidikan yang memungkinkan kompetensi itu tumbuh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)