Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore yang cerah di pelataran Fakultas Syariah, tepat di samping pos satpam, muda-mudi berkumpul bak lautan manusia. Ada yang membawa karangan bunga, buket, balon warna-warni, selempang, kado kecil (mug aesthetic, bantal), hingga spanduk, banner, baliho bertuliskan nama dan ucapan selamat. 

Terlihat wajah-wajahnya memancarkan lega dan bahagia, seolah-olah perjalanan panjang baru saja menemukan muaranya. Semua momen perayaan itu rasanya tak afdol bila tak diabadikan, difoto bersama yang langsung dibagikan ke media sosial (Instagram, TikTok) sebagai bukti atas perjuangan yang berdarah-darah. 

Senja yang perlahan mendekati magrib itu rupanya bukan kerumunan demonstrasi yang menyuarakan aspirasi, menggugat kebijakan pemerintah yang dianggap tak berpihak pada rakyat. 

Menulis skripsi itu jatuh cinta atau patah hati dan saya memilih (Sumber: Instagram @iffahlatifah.13)
Menulis skripsi itu jatuh cinta atau patah hati dan saya memilih (Sumber: Instagram @iffahlatifah.13)

Selebrasi Basa-basi 

Ya, bukan pula hiruk-pikuk aksi demonstrasi yang penuh teriakan. Melainkan parade kelulusan sidang komprehensif, munaqosyah, lengkap dengan segala bentuk selebrasinya.

Di tengah-tengah keramaian itu, Kakang, anak ketiga (4 tahun), menunjuk balon dan bunga sambil bertanya polos, “Bah, mau balon dan bunga itu?”

Sebelum sempat kujawab, Aa Akil, anak kedua (11 tahun), lebih dulu menimpali, “Tidak boleh, itu punya orang lain, nanti beli ya Bah!”

Lalu bocah kelas lima itu bertanya dengan tatapan penasaran, “Memang ada acara apa, Bah? Kok rame begini?”

“Perayaan kelulusan,” jawabku singkat.

“Kaya ulang tahun, bukan? Memang boleh?” celotehnya.

Pertanyaan sederhana itu mendadak terasa dalam. Anak-anak sering kali memandang hidup tanpa lapisan formalitas. Bagi mereka, kebahagiaan adalah sesuatu yang dirayakan apa adanya. Berbeda dengan orang dewasa kerap sibuk menentukan mana yang pantas dirayakan dan mana yang dianggap berlebihan.

Seorang kawan yang sedari tadi mendengar percakapan ikut menimpali sambil menepuk pundakku, “Tidak berlebihan, memang beginilah cara mahasiswa sekarang merayakan kelulusan. Berbeda dengan zaman kita dulu.”

Zaman memang berubah, begitu pula cara manusia mengekspresikan rasa syukur. Dulu, kelulusan cukup dirayakan dengan saling berjabat tangan dan yang punya uang langsung makan sederhana di warung Ajat dekat kampus. 

Kini, bunga, balon, dan dokumentasi menjadi bagian dari penanda momen. Bukan semata tentang kemewahan, melainkan soal keinginan mengabadikan perjuangan dan mensyukuri pencapaian.

Hasil tangkap layar selebrasi sidang skripsi (Sumber: tiktok @syahrilsidiq14)
Hasil tangkap layar selebrasi sidang skripsi (Sumber: tiktok @syahrilsidiq14)

Paradoks Kelulusan, Gelar Mentereng 

Dalam tulisan Wiku Aji Sugiri, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, berjudul Hilangnya Sakralitas Ujian Skripsi: dari Ruang Sidang ke Lini Masa ditegaskan bila ujian skripsi dulunya dikenal sebagai momen sakral dalam perjalanan akademik buat mahasiswa. 

Pasalnya, sidang skripsi menjadi gerbang terakhir menuju gelar sarjana, dan ruang pengakuan atas kemampuan intelektual yang ditempa selama bertahun-tahun. 

Belakangan ini, kesakralan itu seakan memudar. Kini sidang munaqosah kerap tampil bukan sebagai panggung intelektual, melainkan ajang selebrasi, bahkan telah berubah menjadi “panggung pencitraan”.

Semakin terasa di era media sosial. Setiap periode sidang skripsi, lini masa kita mendadak dipenuhi dengan unggahan foto, video mahasiswa bersama keluarga dan sahabat. Tak jarang, nuansa yang tampak justru lebih mirip pesta pernikahan ketimbang ujian akademik. Selempang dengan nama lengkap dan gelar yang bahkan belum sah, buket bunga yang harganya tak main-main, hingga baliho mini yang menyerupai ucapan selamat untuk pejabat negara.

Pertanyaan mendasar, kapan sebenarnya gelar itu resmi disandang? Jawabannya jelas, setelah yudisium, ketika surat keputusan disahkan oleh pejabat berwenang di kampus. Mengenakan selempang bergelar sebelum momen itu sejatinya menjadi bentuk manipulasi simbolik. Parahnya, gelar yang belum sah ditampilkan seakan sudah final.

Ada paradoks menarik dalam tren ini. Di luar ruang sidang, melihat euforia berlebihan, saat di dalam justru sering terdengar keheningan. Tak sedikit mahasiswa yang tampil percaya diri di depan kamera, malahan gagap ketika ditanya mengenai substansi skripsinya. Bingung menjelaskan alasan pemilihan metode penelitian, bahkan tidak mampu menguraikan kerangka teori yang digunakan.

Suasana ujian sidang kelulusan kesarjanaan jalur non skripsi atas nama Roprop Latiefatul Millah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika yang berlangsung di Aula FTK, Senin (1/4/2024) (Sumber: Humas UIN SGD)

Di sinilah letak keprihatinannya. Ujian skripsi yang seharusnya menguji ketajaman berpikir, justru berubah menjadi formalitas administratif. Selebrasi pasca-sidang berkembang menjadi "ritual wajib", seakan-akan kelulusan tanpa pesta dianggap kurang sah.

Apakah selebrasi itu salah? Tentu tidak. Perayaan adalah bagian dari budaya manusia yang menjadi ekspresi rasa syukur setelah melalui proses panjang dan penuh tantangan. Namun, persoalannya terletak pada kadar dan orientasi. Ketika selebrasi lebih megah daripada kualitas akademik, kita patut bertanya, apa sebenarnya makna menjadi seorang sarjana?

Akibatnya, sarjana dipersepsikan bukan lagi sebagai sosok yang berilmu dan mampu memberi kontribusi, melainkan sekadar gelar yang bisa dipamerkan. Gelar menjadi komoditas simbolik, bukan tanda kompetensi.

Budaya selebrasi ini berpotensi mendorong hedonisme akademik. Mahasiswa terdorong untuk mengejar pengakuan sosial lewat kemewahan perayaan, alih-alih menekankan substansi intelektual. Bagi sebagian keluarga, muncul pula beban sosial, yang merasa harus mengikuti tren selebrasi agar tidak dianggap kurang mampu (kurang) berprestasi.

Ironisnya, di tengah gegap gempita ucapan selamat di media sosial, masih ada lulusan yang kesulitan menjawab wawancara kerja sederhana. Ada pula yang tak bisa menulis laporan portofolio (curriculum vitae) dengan baik, meski baru saja melewati proses penelitian. Ketimpangan ini mencerminkan adanya jurang antara gelar formal dan kompetensi riil.

Dalam tradisi akademik, sarjana bukan sekadar status sosial, melainkan amanah. Simbol bagi pemiliknya telah ditempa dalam disiplin ilmu tertentu, mampu berpikir kritis, dan memiliki tanggung jawab moral untuk memberi manfaat bagi masyarakat. 

Jika gelar hanya dipandang sebagai ornamen untuk foto dan perayaan, maka kita tengah mengikis makna luhur pendidikan tinggi. Kampus yang semestinya menjadi kawah candradimuka intelektual, berisiko berubah menjadi panggung seremonial belaka. (Kumparan 30 Oktober 2025 17:00 WIB)

Angka pengangguran di Indonesia pada 2025 (Sumber: BPS dan GoodStats)

Mengeja Pengangguran Terdidik

Saat ini tantangan sosial dan ekonomi semakin terasa, membuat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan kian meningkat. Berbagai sektor lapangan pekerjaan menetapkan kualifikasi minimal lulusan sarjana, mendorong orang tua untuk semakin memprioritaskan pendidikan anaknya sebagai bekal karier di masa depan.

Pendidikan tidak lagi dipandang cukup hingga jenjang SMA, melainkan diupayakan agar dapat berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Mengingat persentase penduduk RI yang menamatkan kuliah kian meningkat dalam satu dekade terakhir, tertinggi pada 2025 mencapai 11%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi peningkatan persentase penduduk Indonesia yang menamatkan pendidikan tinggi selama satu dekade terakhir. Pada tahun 2016, persentasenya masih berada di angka 7,92%, lalu meningkat secara bertahap setiap tahun menjadi 8,15% (2017), 8,76% (2018), dan 9,26% (2019).

Kenaikan ini berlanjut pada tahun 2020 dan 2021 dengan persentase masing-masing 9,49% dan 9,67%, yang mengindikasikan semakin besarnya akses dan partisipasi masyarakat dalam mengenyam pendidikan tinggi.

Memasuki periode 2022–2025, persentase penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi telah melampaui angka 10%. Pada tahun 2022 dan 2023, angkanya tercatat stabil di 10,15%, yang meningkat menjadi 10,2% pada 2024, dan mencapai puncaknya sebesar 11% pada tahun 2025. Secara keseluruhan, data ini menggambarkan perkembangan positif dalam capaian pendidikan tinggi di Indonesia. (goodstats.id, 16 Februari 2026 Pukul 09.00 WIB)

Jawa Barat menempati posisi teratas dengan 367 kampus (Sumber: Instagram @goodstats.id)

Pemerataan akses pendidikan, salah satunya dapat dilihat dari persebaran perguruan tinggi hingga ke tingkat desa. Bukan hanya sebatas jenjang SD/SMP/SMA saja, indikator pemerataan pendidikan tinggi menjadi ciri dalam melihat tingkat pendidikan akhir yang ditamatkan oleh masyarakat Indonesia.

Data terbaru tahun 2025 menunjukkan bahwa sejumlah provinsi telah memiliki desa yang di dalamnya berdiri ratusan perguruan tinggi. Keberadaan sepuluh provinsi dengan jumlah desa yang memiliki perguruan tinggi terbanyak pada tahun 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jawa Barat menempati posisi pertama dengan 481 desa, disusul Jawa Timur sebanyak 465 desa dan Jawa Tengah sebanyak 294 desa.

Jabar menempati posisi teratas dengan 367 kampus, menunjukkan tingginya konsentrasi pendidikan tinggi di wilayah penyangga Ibu Kota. Menariknya, lebih dari 96% kampus di provinsi ini merupakan swasta, mencerminkan peran besar sektor nonpemerintah dalam memperluas akses pendidikan tinggi.

Dengan total 2.937 kampus di Indonesia, persaingan antarprovinsi semakin ketat dalam mencetak inovasi dan talenta sains-teknologi nasional. (goodstats.id, 22 Februari 2026 Pukul 10.00 WIB)

Tingkat Pengangguran Terbuka menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Barat (%), 2026 (Sumber: jabar.bps.go.id)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) berhasil mencapai kinerja yang tinggi dalam melaksanakan pembangunan daerah pada 2025 dengan skor 3,6672 berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri. Terdapat beberapa dampak positif dari kinerja tinggi tersebut yakni penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka di Jabar.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Jabar pada 2025 sebesar 6,78 persen atau 3,55 juta jiwa. Angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,08 persen.

Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan mengatakan, upaya untuk mengurangi tingkat kemiskinan telah dilakukan Pemda Provinsi Jawa Barat, mulai dari pengurangan kantong kemiskinan, pengurangan beban pengeluaran dan peningkatan pendapatan masyarakat miskin.

Pengangguran terbuka di Tanah Pasundan berhasil diturunkan pada 2025 menjadi 6,66 persen. Jika dibandingkan dengan 2024 sebesar 6,75 persen, maka tingkat pengangguran terbuka pada 2025 turun 0,09 persen. Dari 100 orang angkatan kerja, terdapat enam hingga tujuh orang masih menganggur.

Realisasi penurunan tingkat pengangguran terbuka 2025 melebihi target yang ditetapkan sebesar 6,99 persen. Angka itu merujuk pada hasil survei angkatan kerja nasional per November 2025.

Erwan mengatakan, faktor pendorong penurunan tingkat pengangguran terbuka Jawa Barat pada 2025 yaitu penyerapan tenaga kerja pada seluruh lapangan usaha. Terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, kehutanan, perikanan (0,10 juta orang), sektor pendidikan (0,05 juta orang) dan penyediaan akomodasi dan makan minum (0,04 juta orang). Sebaliknya, lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja yaitu sektor pertambangan dan penggalian (0,04 juta orang).

Sektor yang berkontribusi menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu reparasi dan perawatan mobil serta motor (22,44 persen), industri pengolahan (18,61 persen), dan pertanian, kehutanan dan perikanan (15,43 persen). (Rilis Humas Jabar, 1 April 2026)

Persentase Penduduk yang Menamatkan Pendidikan Tinggi (Sumber: GoodStats)

Mari kita bandingkan dengan tingkat pengangguran di Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin, 5 Mei 2025 ini mengalami kenaikan dibanding periode yang sama pada 2024.

Jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT), merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja. Per Februari 2025, TPT di Indonesia mencapai 4,76 persen.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menuturkan persentase ini setara dengan 7,28 juta orang. Angka pengangguran per Februari 2025 meningkat 83,45 ribu orang, dibanding Februari 2024.

Untuk tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, lulusan SMK menyumbang tingkat pengangguran terbanyak dengan 8 persen. Meski tertinggi di antara lulusan pendidikan lain, tapi angka ini menurun dibanding Februari 2024 yang sebesar 9,01 persen.

Lulusan SMA menyumbang tingkat pengangguran terbanyak kedua dengan 6,35 persen. Persentase pengangguran di tingkat SMA juga menurun dibanding Februari 2024 yang mencapai 7,05 persen.

Soal lulusan perguruan tinggi (D4, S1, S2, S3), menyumbang tingkat pengangguran sebanyak 6,23 persen. Pada jenjang ini, persentase pengangguran meningkat dibanding Februari 2024 yang hanya sebesar 5,25 persen. (detikEdu Selasa, 06 Mei 2025 19:30 WIB)

Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)
Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Gali Potensi, Raih Prestasi 

Sejatinya kelulusan bukan sekadar seremoni berpakaian rapi, berfoto, lalu mengunggah ucapan selamat di media sosial. Segala kesuksesan menjadi penanda seseorang telah melewati proses belajar, berpikir, jatuh bangun, dan semestinya bertambah dewasa secara intelektual maupun moral.

Bukan sekadar menjadi ajang selebrasi lebih besar daripada proses pencarian ilmunya sendiri dengan menggali potensi untuk meraih prestasi yang membanggakan. Gelar bukan segalanya. Sebab di tengah-tengah masyarakat, yang lebih dibutuhkan bukan panjangnya titel, melainkan luasnya manfaat ilmu. Banyak orang bergelar tinggi tetapi minim kontribusi. Sebaliknya, tidak sedikit yang sederhana pendidikannya, justru kehadirannya dirasakan banyak orang.

Ingat, ilmu yang bermanfaat tidak lahir dari euforia sesaat, melainkan dari kesungguhan memahami dan mengamalkan pengetahuan. Tentunya, bersyukur atas capaian prestasi penting. Mengucap hamdalah, berbagi kebahagiaan dengan keluarga, dan merayakan secukupnya secara wajar. Namun syukur berbeda dengan berlebihan. Ketika perayaan berubah menjadi ajang pamer, gengsi, pemborosan, maka nilai syukur mulai kehilangan makna.

Dalam ajaran agama, perilaku menghambur-hamburkan harta sangat tidak dianjurkan. Alquran mengingatkan pemboros adalah saudara setan. Tentunya, pesan ini bukan larangan untuk bergembira, tetapi pengingat agar kebahagiaan tetap berada dalam batas kewajaran dan kesadaran.

Dengan demikian, hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial. Kelulusan seharusnya tercermin dari bagaimana ilmu yang diperoleh mampu menerangi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan agama.

Dunia tidak terlalu peduli pada meriahnya selebrasi dan yang lebih dibutuhkan itu kehadiran manusia berilmu, rendah hati, mampu memberi manfaat nyata bagi kehidupan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)