Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 11 Mei 2026, 19:09 WIB
Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore yang cerah di pelataran Fakultas Syariah, tepat di samping pos satpam, muda-mudi berkumpul bak lautan manusia. Ada yang membawa karangan bunga, buket, balon warna-warni, selempang, kado kecil (mug aesthetic, bantal), hingga spanduk, banner, baliho bertuliskan nama dan ucapan selamat. 

Terlihat wajah-wajahnya memancarkan lega dan bahagia, seolah-olah perjalanan panjang baru saja menemukan muaranya. Semua momen perayaan itu rasanya tak afdol bila tak diabadikan, difoto bersama yang langsung dibagikan ke media sosial (Instagram, TikTok) sebagai bukti atas perjuangan yang berdarah-darah. 

Senja yang perlahan mendekati magrib itu rupanya bukan kerumunan demonstrasi yang menyuarakan aspirasi, menggugat kebijakan pemerintah yang dianggap tak berpihak pada rakyat. 

Menulis skripsi itu jatuh cinta atau patah hati dan saya memilih (Sumber: Instagram @iffahlatifah.13)
Menulis skripsi itu jatuh cinta atau patah hati dan saya memilih (Sumber: Instagram @iffahlatifah.13)

Selebrasi Basa-basi 

Ya, bukan pula hiruk-pikuk aksi demonstrasi yang penuh teriakan. Melainkan parade kelulusan sidang komprehensif, munaqosyah, lengkap dengan segala bentuk selebrasinya.

Di tengah-tengah keramaian itu, Kakang, anak ketiga (4 tahun), menunjuk balon dan bunga sambil bertanya polos, “Bah, mau balon dan bunga itu?”

Sebelum sempat kujawab, Aa Akil, anak kedua (11 tahun), lebih dulu menimpali, “Tidak boleh, itu punya orang lain, nanti beli ya Bah!”

Lalu bocah kelas lima itu bertanya dengan tatapan penasaran, “Memang ada acara apa, Bah? Kok rame begini?”

“Perayaan kelulusan,” jawabku singkat.

“Kaya ulang tahun, bukan? Memang boleh?” celotehnya.

Pertanyaan sederhana itu mendadak terasa dalam. Anak-anak sering kali memandang hidup tanpa lapisan formalitas. Bagi mereka, kebahagiaan adalah sesuatu yang dirayakan apa adanya. Berbeda dengan orang dewasa kerap sibuk menentukan mana yang pantas dirayakan dan mana yang dianggap berlebihan.

Seorang kawan yang sedari tadi mendengar percakapan ikut menimpali sambil menepuk pundakku, “Tidak berlebihan, memang beginilah cara mahasiswa sekarang merayakan kelulusan. Berbeda dengan zaman kita dulu.”

Zaman memang berubah, begitu pula cara manusia mengekspresikan rasa syukur. Dulu, kelulusan cukup dirayakan dengan saling berjabat tangan dan yang punya uang langsung makan sederhana di warung Ajat dekat kampus. 

Kini, bunga, balon, dan dokumentasi menjadi bagian dari penanda momen. Bukan semata tentang kemewahan, melainkan soal keinginan mengabadikan perjuangan dan mensyukuri pencapaian.

Hasil tangkap layar selebrasi sidang skripsi (Sumber: tiktok @syahrilsidiq14)
Hasil tangkap layar selebrasi sidang skripsi (Sumber: tiktok @syahrilsidiq14)

Paradoks Kelulusan, Gelar Mentereng 

Dalam tulisan Wiku Aji Sugiri, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, berjudul Hilangnya Sakralitas Ujian Skripsi: dari Ruang Sidang ke Lini Masa ditegaskan bila ujian skripsi dulunya dikenal sebagai momen sakral dalam perjalanan akademik buat mahasiswa. 

Pasalnya, sidang skripsi menjadi gerbang terakhir menuju gelar sarjana, dan ruang pengakuan atas kemampuan intelektual yang ditempa selama bertahun-tahun. 

Belakangan ini, kesakralan itu seakan memudar. Kini sidang munaqosah kerap tampil bukan sebagai panggung intelektual, melainkan ajang selebrasi, bahkan telah berubah menjadi “panggung pencitraan”.

Semakin terasa di era media sosial. Setiap periode sidang skripsi, lini masa kita mendadak dipenuhi dengan unggahan foto, video mahasiswa bersama keluarga dan sahabat. Tak jarang, nuansa yang tampak justru lebih mirip pesta pernikahan ketimbang ujian akademik. Selempang dengan nama lengkap dan gelar yang bahkan belum sah, buket bunga yang harganya tak main-main, hingga baliho mini yang menyerupai ucapan selamat untuk pejabat negara.

Pertanyaan mendasar, kapan sebenarnya gelar itu resmi disandang? Jawabannya jelas, setelah yudisium, ketika surat keputusan disahkan oleh pejabat berwenang di kampus. Mengenakan selempang bergelar sebelum momen itu sejatinya menjadi bentuk manipulasi simbolik. Parahnya, gelar yang belum sah ditampilkan seakan sudah final.

Ada paradoks menarik dalam tren ini. Di luar ruang sidang, melihat euforia berlebihan, saat di dalam justru sering terdengar keheningan. Tak sedikit mahasiswa yang tampil percaya diri di depan kamera, malahan gagap ketika ditanya mengenai substansi skripsinya. Bingung menjelaskan alasan pemilihan metode penelitian, bahkan tidak mampu menguraikan kerangka teori yang digunakan.

Suasana ujian sidang kelulusan kesarjanaan jalur non skripsi atas nama Roprop Latiefatul Millah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika yang berlangsung di Aula FTK, Senin (1/4/2024) (Sumber: Humas UIN SGD)

Di sinilah letak keprihatinannya. Ujian skripsi yang seharusnya menguji ketajaman berpikir, justru berubah menjadi formalitas administratif. Selebrasi pasca-sidang berkembang menjadi "ritual wajib", seakan-akan kelulusan tanpa pesta dianggap kurang sah.

Apakah selebrasi itu salah? Tentu tidak. Perayaan adalah bagian dari budaya manusia yang menjadi ekspresi rasa syukur setelah melalui proses panjang dan penuh tantangan. Namun, persoalannya terletak pada kadar dan orientasi. Ketika selebrasi lebih megah daripada kualitas akademik, kita patut bertanya, apa sebenarnya makna menjadi seorang sarjana?

Akibatnya, sarjana dipersepsikan bukan lagi sebagai sosok yang berilmu dan mampu memberi kontribusi, melainkan sekadar gelar yang bisa dipamerkan. Gelar menjadi komoditas simbolik, bukan tanda kompetensi.

Budaya selebrasi ini berpotensi mendorong hedonisme akademik. Mahasiswa terdorong untuk mengejar pengakuan sosial lewat kemewahan perayaan, alih-alih menekankan substansi intelektual. Bagi sebagian keluarga, muncul pula beban sosial, yang merasa harus mengikuti tren selebrasi agar tidak dianggap kurang mampu (kurang) berprestasi.

Ironisnya, di tengah gegap gempita ucapan selamat di media sosial, masih ada lulusan yang kesulitan menjawab wawancara kerja sederhana. Ada pula yang tak bisa menulis laporan portofolio (curriculum vitae) dengan baik, meski baru saja melewati proses penelitian. Ketimpangan ini mencerminkan adanya jurang antara gelar formal dan kompetensi riil.

Dalam tradisi akademik, sarjana bukan sekadar status sosial, melainkan amanah. Simbol bagi pemiliknya telah ditempa dalam disiplin ilmu tertentu, mampu berpikir kritis, dan memiliki tanggung jawab moral untuk memberi manfaat bagi masyarakat. 

Jika gelar hanya dipandang sebagai ornamen untuk foto dan perayaan, maka kita tengah mengikis makna luhur pendidikan tinggi. Kampus yang semestinya menjadi kawah candradimuka intelektual, berisiko berubah menjadi panggung seremonial belaka. (Kumparan 30 Oktober 2025 17:00 WIB)

Angka pengangguran di Indonesia pada 2025 (Sumber: BPS dan GoodStats)

Mengeja Pengangguran Terdidik

Saat ini tantangan sosial dan ekonomi semakin terasa, membuat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan kian meningkat. Berbagai sektor lapangan pekerjaan menetapkan kualifikasi minimal lulusan sarjana, mendorong orang tua untuk semakin memprioritaskan pendidikan anaknya sebagai bekal karier di masa depan.

Pendidikan tidak lagi dipandang cukup hingga jenjang SMA, melainkan diupayakan agar dapat berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Mengingat persentase penduduk RI yang menamatkan kuliah kian meningkat dalam satu dekade terakhir, tertinggi pada 2025 mencapai 11%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi peningkatan persentase penduduk Indonesia yang menamatkan pendidikan tinggi selama satu dekade terakhir. Pada tahun 2016, persentasenya masih berada di angka 7,92%, lalu meningkat secara bertahap setiap tahun menjadi 8,15% (2017), 8,76% (2018), dan 9,26% (2019).

Kenaikan ini berlanjut pada tahun 2020 dan 2021 dengan persentase masing-masing 9,49% dan 9,67%, yang mengindikasikan semakin besarnya akses dan partisipasi masyarakat dalam mengenyam pendidikan tinggi.

Memasuki periode 2022–2025, persentase penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi telah melampaui angka 10%. Pada tahun 2022 dan 2023, angkanya tercatat stabil di 10,15%, yang meningkat menjadi 10,2% pada 2024, dan mencapai puncaknya sebesar 11% pada tahun 2025. Secara keseluruhan, data ini menggambarkan perkembangan positif dalam capaian pendidikan tinggi di Indonesia. (goodstats.id, 16 Februari 2026 Pukul 09.00 WIB)

Jawa Barat menempati posisi teratas dengan 367 kampus (Sumber: Instagram @goodstats.id)

Pemerataan akses pendidikan, salah satunya dapat dilihat dari persebaran perguruan tinggi hingga ke tingkat desa. Bukan hanya sebatas jenjang SD/SMP/SMA saja, indikator pemerataan pendidikan tinggi menjadi ciri dalam melihat tingkat pendidikan akhir yang ditamatkan oleh masyarakat Indonesia.

Data terbaru tahun 2025 menunjukkan bahwa sejumlah provinsi telah memiliki desa yang di dalamnya berdiri ratusan perguruan tinggi. Keberadaan sepuluh provinsi dengan jumlah desa yang memiliki perguruan tinggi terbanyak pada tahun 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jawa Barat menempati posisi pertama dengan 481 desa, disusul Jawa Timur sebanyak 465 desa dan Jawa Tengah sebanyak 294 desa.

Jabar menempati posisi teratas dengan 367 kampus, menunjukkan tingginya konsentrasi pendidikan tinggi di wilayah penyangga Ibu Kota. Menariknya, lebih dari 96% kampus di provinsi ini merupakan swasta, mencerminkan peran besar sektor nonpemerintah dalam memperluas akses pendidikan tinggi.

Dengan total 2.937 kampus di Indonesia, persaingan antarprovinsi semakin ketat dalam mencetak inovasi dan talenta sains-teknologi nasional. (goodstats.id, 22 Februari 2026 Pukul 10.00 WIB)

Tingkat Pengangguran Terbuka menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Barat (%), 2026 (Sumber: jabar.bps.go.id)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) berhasil mencapai kinerja yang tinggi dalam melaksanakan pembangunan daerah pada 2025 dengan skor 3,6672 berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri. Terdapat beberapa dampak positif dari kinerja tinggi tersebut yakni penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka di Jabar.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Jabar pada 2025 sebesar 6,78 persen atau 3,55 juta jiwa. Angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,08 persen.

Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan mengatakan, upaya untuk mengurangi tingkat kemiskinan telah dilakukan Pemda Provinsi Jawa Barat, mulai dari pengurangan kantong kemiskinan, pengurangan beban pengeluaran dan peningkatan pendapatan masyarakat miskin.

Pengangguran terbuka di Tanah Pasundan berhasil diturunkan pada 2025 menjadi 6,66 persen. Jika dibandingkan dengan 2024 sebesar 6,75 persen, maka tingkat pengangguran terbuka pada 2025 turun 0,09 persen. Dari 100 orang angkatan kerja, terdapat enam hingga tujuh orang masih menganggur.

Realisasi penurunan tingkat pengangguran terbuka 2025 melebihi target yang ditetapkan sebesar 6,99 persen. Angka itu merujuk pada hasil survei angkatan kerja nasional per November 2025.

Erwan mengatakan, faktor pendorong penurunan tingkat pengangguran terbuka Jawa Barat pada 2025 yaitu penyerapan tenaga kerja pada seluruh lapangan usaha. Terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, kehutanan, perikanan (0,10 juta orang), sektor pendidikan (0,05 juta orang) dan penyediaan akomodasi dan makan minum (0,04 juta orang). Sebaliknya, lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja yaitu sektor pertambangan dan penggalian (0,04 juta orang).

Sektor yang berkontribusi menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu reparasi dan perawatan mobil serta motor (22,44 persen), industri pengolahan (18,61 persen), dan pertanian, kehutanan dan perikanan (15,43 persen). (Rilis Humas Jabar, 1 April 2026)

Persentase Penduduk yang Menamatkan Pendidikan Tinggi (Sumber: GoodStats)

Mari kita bandingkan dengan tingkat pengangguran di Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin, 5 Mei 2025 ini mengalami kenaikan dibanding periode yang sama pada 2024.

Jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT), merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja. Per Februari 2025, TPT di Indonesia mencapai 4,76 persen.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menuturkan persentase ini setara dengan 7,28 juta orang. Angka pengangguran per Februari 2025 meningkat 83,45 ribu orang, dibanding Februari 2024.

Untuk tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, lulusan SMK menyumbang tingkat pengangguran terbanyak dengan 8 persen. Meski tertinggi di antara lulusan pendidikan lain, tapi angka ini menurun dibanding Februari 2024 yang sebesar 9,01 persen.

Lulusan SMA menyumbang tingkat pengangguran terbanyak kedua dengan 6,35 persen. Persentase pengangguran di tingkat SMA juga menurun dibanding Februari 2024 yang mencapai 7,05 persen.

Soal lulusan perguruan tinggi (D4, S1, S2, S3), menyumbang tingkat pengangguran sebanyak 6,23 persen. Pada jenjang ini, persentase pengangguran meningkat dibanding Februari 2024 yang hanya sebesar 5,25 persen. (detikEdu Selasa, 06 Mei 2025 19:30 WIB)

Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)
Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Gali Potensi, Raih Prestasi 

Sejatinya kelulusan bukan sekadar seremoni berpakaian rapi, berfoto, lalu mengunggah ucapan selamat di media sosial. Segala kesuksesan menjadi penanda seseorang telah melewati proses belajar, berpikir, jatuh bangun, dan semestinya bertambah dewasa secara intelektual maupun moral.

Bukan sekadar menjadi ajang selebrasi lebih besar daripada proses pencarian ilmunya sendiri dengan menggali potensi untuk meraih prestasi yang membanggakan. Gelar bukan segalanya. Sebab di tengah-tengah masyarakat, yang lebih dibutuhkan bukan panjangnya titel, melainkan luasnya manfaat ilmu. Banyak orang bergelar tinggi tetapi minim kontribusi. Sebaliknya, tidak sedikit yang sederhana pendidikannya, justru kehadirannya dirasakan banyak orang.

Ingat, ilmu yang bermanfaat tidak lahir dari euforia sesaat, melainkan dari kesungguhan memahami dan mengamalkan pengetahuan. Tentunya, bersyukur atas capaian prestasi penting. Mengucap hamdalah, berbagi kebahagiaan dengan keluarga, dan merayakan secukupnya secara wajar. Namun syukur berbeda dengan berlebihan. Ketika perayaan berubah menjadi ajang pamer, gengsi, pemborosan, maka nilai syukur mulai kehilangan makna.

Dalam ajaran agama, perilaku menghambur-hamburkan harta sangat tidak dianjurkan. Alquran mengingatkan pemboros adalah saudara setan. Tentunya, pesan ini bukan larangan untuk bergembira, tetapi pengingat agar kebahagiaan tetap berada dalam batas kewajaran dan kesadaran.

Dengan demikian, hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial. Kelulusan seharusnya tercermin dari bagaimana ilmu yang diperoleh mampu menerangi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan agama.

Dunia tidak terlalu peduli pada meriahnya selebrasi dan yang lebih dibutuhkan itu kehadiran manusia berilmu, rendah hati, mampu memberi manfaat nyata bagi kehidupan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)