Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore yang cerah di pelataran Fakultas Syariah, tepat di samping pos satpam, muda-mudi berkumpul bak lautan manusia. Ada yang membawa karangan bunga, buket, balon warna-warni, selempang, kado kecil (mug aesthetic, bantal), hingga spanduk, banner, baliho bertuliskan nama dan ucapan selamat. 

Terlihat wajah-wajahnya memancarkan lega dan bahagia, seolah-olah perjalanan panjang baru saja menemukan muaranya. Semua momen perayaan itu rasanya tak afdol bila tak diabadikan, difoto bersama yang langsung dibagikan ke media sosial (Instagram, TikTok) sebagai bukti atas perjuangan yang berdarah-darah. 

Senja yang perlahan mendekati magrib itu rupanya bukan kerumunan demonstrasi yang menyuarakan aspirasi, menggugat kebijakan pemerintah yang dianggap tak berpihak pada rakyat. 

Menulis skripsi itu jatuh cinta atau patah hati dan saya memilih (Sumber: Instagram @iffahlatifah.13)
Menulis skripsi itu jatuh cinta atau patah hati dan saya memilih (Sumber: Instagram @iffahlatifah.13)

Selebrasi Basa-basi 

Ya, bukan pula hiruk-pikuk aksi demonstrasi yang penuh teriakan. Melainkan parade kelulusan sidang komprehensif, munaqosyah, lengkap dengan segala bentuk selebrasinya.

Di tengah-tengah keramaian itu, Kakang, anak ketiga (4 tahun), menunjuk balon dan bunga sambil bertanya polos, “Bah, mau balon dan bunga itu?”

Sebelum sempat kujawab, Aa Akil, anak kedua (11 tahun), lebih dulu menimpali, “Tidak boleh, itu punya orang lain, nanti beli ya Bah!”

Lalu bocah kelas lima itu bertanya dengan tatapan penasaran, “Memang ada acara apa, Bah? Kok rame begini?”

“Perayaan kelulusan,” jawabku singkat.

“Kaya ulang tahun, bukan? Memang boleh?” celotehnya.

Pertanyaan sederhana itu mendadak terasa dalam. Anak-anak sering kali memandang hidup tanpa lapisan formalitas. Bagi mereka, kebahagiaan adalah sesuatu yang dirayakan apa adanya. Berbeda dengan orang dewasa kerap sibuk menentukan mana yang pantas dirayakan dan mana yang dianggap berlebihan.

Seorang kawan yang sedari tadi mendengar percakapan ikut menimpali sambil menepuk pundakku, “Tidak berlebihan, memang beginilah cara mahasiswa sekarang merayakan kelulusan. Berbeda dengan zaman kita dulu.”

Zaman memang berubah, begitu pula cara manusia mengekspresikan rasa syukur. Dulu, kelulusan cukup dirayakan dengan saling berjabat tangan dan yang punya uang langsung makan sederhana di warung Ajat dekat kampus. 

Kini, bunga, balon, dan dokumentasi menjadi bagian dari penanda momen. Bukan semata tentang kemewahan, melainkan soal keinginan mengabadikan perjuangan dan mensyukuri pencapaian.

Hasil tangkap layar selebrasi sidang skripsi (Sumber: tiktok @syahrilsidiq14)
Hasil tangkap layar selebrasi sidang skripsi (Sumber: tiktok @syahrilsidiq14)

Paradoks Kelulusan, Gelar Mentereng 

Dalam tulisan Wiku Aji Sugiri, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, berjudul Hilangnya Sakralitas Ujian Skripsi: dari Ruang Sidang ke Lini Masa ditegaskan bila ujian skripsi dulunya dikenal sebagai momen sakral dalam perjalanan akademik buat mahasiswa. 

Pasalnya, sidang skripsi menjadi gerbang terakhir menuju gelar sarjana, dan ruang pengakuan atas kemampuan intelektual yang ditempa selama bertahun-tahun. 

Belakangan ini, kesakralan itu seakan memudar. Kini sidang munaqosah kerap tampil bukan sebagai panggung intelektual, melainkan ajang selebrasi, bahkan telah berubah menjadi “panggung pencitraan”.

Semakin terasa di era media sosial. Setiap periode sidang skripsi, lini masa kita mendadak dipenuhi dengan unggahan foto, video mahasiswa bersama keluarga dan sahabat. Tak jarang, nuansa yang tampak justru lebih mirip pesta pernikahan ketimbang ujian akademik. Selempang dengan nama lengkap dan gelar yang bahkan belum sah, buket bunga yang harganya tak main-main, hingga baliho mini yang menyerupai ucapan selamat untuk pejabat negara.

Pertanyaan mendasar, kapan sebenarnya gelar itu resmi disandang? Jawabannya jelas, setelah yudisium, ketika surat keputusan disahkan oleh pejabat berwenang di kampus. Mengenakan selempang bergelar sebelum momen itu sejatinya menjadi bentuk manipulasi simbolik. Parahnya, gelar yang belum sah ditampilkan seakan sudah final.

Ada paradoks menarik dalam tren ini. Di luar ruang sidang, melihat euforia berlebihan, saat di dalam justru sering terdengar keheningan. Tak sedikit mahasiswa yang tampil percaya diri di depan kamera, malahan gagap ketika ditanya mengenai substansi skripsinya. Bingung menjelaskan alasan pemilihan metode penelitian, bahkan tidak mampu menguraikan kerangka teori yang digunakan.

Suasana ujian sidang kelulusan kesarjanaan jalur non skripsi atas nama Roprop Latiefatul Millah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika yang berlangsung di Aula FTK, Senin (1/4/2024) (Sumber: Humas UIN SGD)

Di sinilah letak keprihatinannya. Ujian skripsi yang seharusnya menguji ketajaman berpikir, justru berubah menjadi formalitas administratif. Selebrasi pasca-sidang berkembang menjadi "ritual wajib", seakan-akan kelulusan tanpa pesta dianggap kurang sah.

Apakah selebrasi itu salah? Tentu tidak. Perayaan adalah bagian dari budaya manusia yang menjadi ekspresi rasa syukur setelah melalui proses panjang dan penuh tantangan. Namun, persoalannya terletak pada kadar dan orientasi. Ketika selebrasi lebih megah daripada kualitas akademik, kita patut bertanya, apa sebenarnya makna menjadi seorang sarjana?

Akibatnya, sarjana dipersepsikan bukan lagi sebagai sosok yang berilmu dan mampu memberi kontribusi, melainkan sekadar gelar yang bisa dipamerkan. Gelar menjadi komoditas simbolik, bukan tanda kompetensi.

Budaya selebrasi ini berpotensi mendorong hedonisme akademik. Mahasiswa terdorong untuk mengejar pengakuan sosial lewat kemewahan perayaan, alih-alih menekankan substansi intelektual. Bagi sebagian keluarga, muncul pula beban sosial, yang merasa harus mengikuti tren selebrasi agar tidak dianggap kurang mampu (kurang) berprestasi.

Ironisnya, di tengah gegap gempita ucapan selamat di media sosial, masih ada lulusan yang kesulitan menjawab wawancara kerja sederhana. Ada pula yang tak bisa menulis laporan portofolio (curriculum vitae) dengan baik, meski baru saja melewati proses penelitian. Ketimpangan ini mencerminkan adanya jurang antara gelar formal dan kompetensi riil.

Dalam tradisi akademik, sarjana bukan sekadar status sosial, melainkan amanah. Simbol bagi pemiliknya telah ditempa dalam disiplin ilmu tertentu, mampu berpikir kritis, dan memiliki tanggung jawab moral untuk memberi manfaat bagi masyarakat. 

Jika gelar hanya dipandang sebagai ornamen untuk foto dan perayaan, maka kita tengah mengikis makna luhur pendidikan tinggi. Kampus yang semestinya menjadi kawah candradimuka intelektual, berisiko berubah menjadi panggung seremonial belaka. (Kumparan 30 Oktober 2025 17:00 WIB)

Angka pengangguran di Indonesia pada 2025 (Sumber: BPS dan GoodStats)

Mengeja Pengangguran Terdidik

Saat ini tantangan sosial dan ekonomi semakin terasa, membuat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan kian meningkat. Berbagai sektor lapangan pekerjaan menetapkan kualifikasi minimal lulusan sarjana, mendorong orang tua untuk semakin memprioritaskan pendidikan anaknya sebagai bekal karier di masa depan.

Pendidikan tidak lagi dipandang cukup hingga jenjang SMA, melainkan diupayakan agar dapat berlanjut ke jenjang perguruan tinggi. Mengingat persentase penduduk RI yang menamatkan kuliah kian meningkat dalam satu dekade terakhir, tertinggi pada 2025 mencapai 11%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi peningkatan persentase penduduk Indonesia yang menamatkan pendidikan tinggi selama satu dekade terakhir. Pada tahun 2016, persentasenya masih berada di angka 7,92%, lalu meningkat secara bertahap setiap tahun menjadi 8,15% (2017), 8,76% (2018), dan 9,26% (2019).

Kenaikan ini berlanjut pada tahun 2020 dan 2021 dengan persentase masing-masing 9,49% dan 9,67%, yang mengindikasikan semakin besarnya akses dan partisipasi masyarakat dalam mengenyam pendidikan tinggi.

Memasuki periode 2022–2025, persentase penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi telah melampaui angka 10%. Pada tahun 2022 dan 2023, angkanya tercatat stabil di 10,15%, yang meningkat menjadi 10,2% pada 2024, dan mencapai puncaknya sebesar 11% pada tahun 2025. Secara keseluruhan, data ini menggambarkan perkembangan positif dalam capaian pendidikan tinggi di Indonesia. (goodstats.id, 16 Februari 2026 Pukul 09.00 WIB)

Jawa Barat menempati posisi teratas dengan 367 kampus (Sumber: Instagram @goodstats.id)

Pemerataan akses pendidikan, salah satunya dapat dilihat dari persebaran perguruan tinggi hingga ke tingkat desa. Bukan hanya sebatas jenjang SD/SMP/SMA saja, indikator pemerataan pendidikan tinggi menjadi ciri dalam melihat tingkat pendidikan akhir yang ditamatkan oleh masyarakat Indonesia.

Data terbaru tahun 2025 menunjukkan bahwa sejumlah provinsi telah memiliki desa yang di dalamnya berdiri ratusan perguruan tinggi. Keberadaan sepuluh provinsi dengan jumlah desa yang memiliki perguruan tinggi terbanyak pada tahun 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Jawa Barat menempati posisi pertama dengan 481 desa, disusul Jawa Timur sebanyak 465 desa dan Jawa Tengah sebanyak 294 desa.

Jabar menempati posisi teratas dengan 367 kampus, menunjukkan tingginya konsentrasi pendidikan tinggi di wilayah penyangga Ibu Kota. Menariknya, lebih dari 96% kampus di provinsi ini merupakan swasta, mencerminkan peran besar sektor nonpemerintah dalam memperluas akses pendidikan tinggi.

Dengan total 2.937 kampus di Indonesia, persaingan antarprovinsi semakin ketat dalam mencetak inovasi dan talenta sains-teknologi nasional. (goodstats.id, 22 Februari 2026 Pukul 10.00 WIB)

Tingkat Pengangguran Terbuka menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Jawa Barat (%), 2026 (Sumber: jabar.bps.go.id)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) berhasil mencapai kinerja yang tinggi dalam melaksanakan pembangunan daerah pada 2025 dengan skor 3,6672 berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri. Terdapat beberapa dampak positif dari kinerja tinggi tersebut yakni penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka di Jabar.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Jabar pada 2025 sebesar 6,78 persen atau 3,55 juta jiwa. Angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,08 persen.

Wakil Gubernur Jabar Erwan Setiawan mengatakan, upaya untuk mengurangi tingkat kemiskinan telah dilakukan Pemda Provinsi Jawa Barat, mulai dari pengurangan kantong kemiskinan, pengurangan beban pengeluaran dan peningkatan pendapatan masyarakat miskin.

Pengangguran terbuka di Tanah Pasundan berhasil diturunkan pada 2025 menjadi 6,66 persen. Jika dibandingkan dengan 2024 sebesar 6,75 persen, maka tingkat pengangguran terbuka pada 2025 turun 0,09 persen. Dari 100 orang angkatan kerja, terdapat enam hingga tujuh orang masih menganggur.

Realisasi penurunan tingkat pengangguran terbuka 2025 melebihi target yang ditetapkan sebesar 6,99 persen. Angka itu merujuk pada hasil survei angkatan kerja nasional per November 2025.

Erwan mengatakan, faktor pendorong penurunan tingkat pengangguran terbuka Jawa Barat pada 2025 yaitu penyerapan tenaga kerja pada seluruh lapangan usaha. Terjadi peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, kehutanan, perikanan (0,10 juta orang), sektor pendidikan (0,05 juta orang) dan penyediaan akomodasi dan makan minum (0,04 juta orang). Sebaliknya, lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja yaitu sektor pertambangan dan penggalian (0,04 juta orang).

Sektor yang berkontribusi menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu reparasi dan perawatan mobil serta motor (22,44 persen), industri pengolahan (18,61 persen), dan pertanian, kehutanan dan perikanan (15,43 persen). (Rilis Humas Jabar, 1 April 2026)

Persentase Penduduk yang Menamatkan Pendidikan Tinggi (Sumber: GoodStats)

Mari kita bandingkan dengan tingkat pengangguran di Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin, 5 Mei 2025 ini mengalami kenaikan dibanding periode yang sama pada 2024.

Jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT), merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja. Per Februari 2025, TPT di Indonesia mencapai 4,76 persen.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menuturkan persentase ini setara dengan 7,28 juta orang. Angka pengangguran per Februari 2025 meningkat 83,45 ribu orang, dibanding Februari 2024.

Untuk tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan, lulusan SMK menyumbang tingkat pengangguran terbanyak dengan 8 persen. Meski tertinggi di antara lulusan pendidikan lain, tapi angka ini menurun dibanding Februari 2024 yang sebesar 9,01 persen.

Lulusan SMA menyumbang tingkat pengangguran terbanyak kedua dengan 6,35 persen. Persentase pengangguran di tingkat SMA juga menurun dibanding Februari 2024 yang mencapai 7,05 persen.

Soal lulusan perguruan tinggi (D4, S1, S2, S3), menyumbang tingkat pengangguran sebanyak 6,23 persen. Pada jenjang ini, persentase pengangguran meningkat dibanding Februari 2024 yang hanya sebesar 5,25 persen. (detikEdu Selasa, 06 Mei 2025 19:30 WIB)

Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)
Mahasiswa sedang asyik membaca di Perpustakaan UIN Bandung (Sumber: www.uinsgd.ac.id | Foto: Humas)

Gali Potensi, Raih Prestasi 

Sejatinya kelulusan bukan sekadar seremoni berpakaian rapi, berfoto, lalu mengunggah ucapan selamat di media sosial. Segala kesuksesan menjadi penanda seseorang telah melewati proses belajar, berpikir, jatuh bangun, dan semestinya bertambah dewasa secara intelektual maupun moral.

Bukan sekadar menjadi ajang selebrasi lebih besar daripada proses pencarian ilmunya sendiri dengan menggali potensi untuk meraih prestasi yang membanggakan. Gelar bukan segalanya. Sebab di tengah-tengah masyarakat, yang lebih dibutuhkan bukan panjangnya titel, melainkan luasnya manfaat ilmu. Banyak orang bergelar tinggi tetapi minim kontribusi. Sebaliknya, tidak sedikit yang sederhana pendidikannya, justru kehadirannya dirasakan banyak orang.

Ingat, ilmu yang bermanfaat tidak lahir dari euforia sesaat, melainkan dari kesungguhan memahami dan mengamalkan pengetahuan. Tentunya, bersyukur atas capaian prestasi penting. Mengucap hamdalah, berbagi kebahagiaan dengan keluarga, dan merayakan secukupnya secara wajar. Namun syukur berbeda dengan berlebihan. Ketika perayaan berubah menjadi ajang pamer, gengsi, pemborosan, maka nilai syukur mulai kehilangan makna.

Dalam ajaran agama, perilaku menghambur-hamburkan harta sangat tidak dianjurkan. Alquran mengingatkan pemboros adalah saudara setan. Tentunya, pesan ini bukan larangan untuk bergembira, tetapi pengingat agar kebahagiaan tetap berada dalam batas kewajaran dan kesadaran.

Dengan demikian, hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial. Kelulusan seharusnya tercermin dari bagaimana ilmu yang diperoleh mampu menerangi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan agama.

Dunia tidak terlalu peduli pada meriahnya selebrasi dan yang lebih dibutuhkan itu kehadiran manusia berilmu, rendah hati, mampu memberi manfaat nyata bagi kehidupan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)