Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Komunitas Baca di Bandung, Ruang Sunyi yang Menghidupkan Literasi di Nadi Kota Kembang

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 14 Apr 2026, 12:29 WIB
Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Siang akhir pekan pada Minggu, 12 April 2026, Taman Badak di Balai Kota Bandung tidak hanya dipenuhi warga yang berjalan santai dan berteduh. Di salah satu sudutnya, puluhan orang duduk berdekatan dengan buku di tangan—baik buku fisik maupun digital. Mereka larut dalam bacaan masing-masing tanpa percakapan. Tidak ada instruksi rumit atau rangkaian acara panjang, hanya satu aktivitas sederhana: membaca bersama dalam diam.

Inisiatif ini dicetuskan oleh Balebat Buana Puspa, atau yang akrab disapa Ebat, seorang perempuan berusia 30 tahun yang memulai gerakan ini dari keresahan pribadi sekaligus ketertarikannya pada kegiatan membaca.

Ia terinspirasi oleh gerakan serupa di Jakarta, lalu berupaya membawanya ke dalam konteks ruang publik di Kota Bandung.

“Sebetulnya awal mulanya itu karena aku punya teman yang sudah melakukan gerakan membaca senyap di Jakarta. Dari situ aku terinspirasi untuk menghadirkan hal yang sama di Bandung,” kata Ebat saat diwawancarai selepas kegiatan “Baca Bersama”.

Balebat Buana Puspa memulai gerakan membaca ini dari keresahan pribadi dan kini menjadi ruang literasi yang inklusif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Balebat Buana Puspa memulai gerakan membaca ini dari keresahan pribadi dan kini menjadi ruang literasi yang inklusif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sejak pertama kali dilaksanakan pada Februari 2024, Komunitas Baca di Bandung berkembang dari kegiatan kecil menjadi wadah kolektif yang semakin menarik perhatian. Dulu hanya dihadiri segelintir orang di sebuah kafe, kini kegiatan membaca bersama ini mampu mengumpulkan puluhan bahkan ratusan peserta dari berbagai latar belakang.

“Awalnya cuma sekitar 10 orang, tapi sekarang bisa sampai 90 sampai 100 orang yang ikut (baca senyap),” ujar Ebat.

Ruang Sunyi yang Inklusif

Berbeda dengan kebanyakan komunitas literasi yang menekankan diskusi, Baca di Bandung memilih membaca dalam keheningan. Bagi Ebat, kesunyian bukanlah sesuatu yang kosong, melainkan ruang yang memberi kenyamanan bagi setiap orang untuk menikmati bacaan tanpa tekanan sosial.

“Aku pengen kasih ruang untuk orang-orang yang sekadar ingin ditemani membaca, tanpa harus ngobrol. Ternyata itu punya magisnya sendiri,” ucap Ebat.

Konsep ini juga muncul dari kesadaran bahwa tidak semua orang merasa nyaman dengan interaksi intens dalam forum literasi. Ia memandang membaca sebagai kegiatan pribadi yang tetap dapat dirayakan dalam suasana kolektif tanpa menguras energi.

Reading for pleasure, not for pressure,” kata Ebat sambil tersenyum.

Pemilihan ruang publik menjadi elemen penting dari identitas komunitas ini. Taman kota dipilih bukan hanya karena suasananya yang sejuk, tetapi juga karena sifatnya yang terbuka dan ramah untuk semua orang.

“Aku pengen ngajak orang-orang bahwa ruang publik di Kota Bandung itu bisa dimanfaatkan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk membaca,” ujarnya.

Suasana hening namun hangat terasa ketika para peserta larut dalam buku masing-masing di ruang terbuka. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana hening namun hangat terasa ketika para peserta larut dalam buku masing-masing di ruang terbuka. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Datang, Duduk, Pulang

Perjalanan Komunitas Baca di Bandung tidak terlepas dari proses penjelajahan ruang yang panjang. Ebat sempat melakukan “safari taman” untuk menemukan lokasi terbaik bagi kegiatan membaca bersama, sebelum akhirnya menetap di Taman Balai Kota dan sesekali berpindah ke Taman Sejarah sebagai alternatif.

Seiring waktu, komunitas ini mengalami perkembangan signifikan, baik dari segi tempat maupun jumlah peserta. Jika pada awalnya didominasi perempuan, kini semakin terbuka dan menjangkau berbagai kalangan.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan dua kali dalam sebulan setiap akhir pekan ini tetap sederhana dan konsisten. Peserta datang tanpa perlu mendaftar, duduk bersama, lalu membaca selama satu jam.

“Kegiatannya sederhana, datang, duduk, lalu membaca bersama selama satu jam,” jelas Ebat.

“Setelah itu ada pembagian postcard dan stiker, lalu foto bersama. Habis itu bebas mau pulang atau lanjut baca,” tambahnya.

Baca Senyap, Opsi Tepat untuk Introvert-Friendly

Menariknya, keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan komunitas ini. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga keluarga dengan anak-anak, semua berkumpul dalam satu ruang tanpa batasan.

Ebat mengamati bahwa daya tarik utama dari aktivitas ini terletak pada kesederhanaannya. Tanpa keharusan berdiskusi atau berinteraksi, para peserta merasa lebih bebas menikmati suasana membaca bersama dalam senyap.

“Kegiatan ini aku bilang introvert-friendly, karena kita nggak perlu habis energi untuk banyak interaksi,” tambahnya.

Di balik kesederhanaan itu, terjalin hubungan emosional yang hangat di antara para partisipan. Dalam beberapa kesempatan, peserta dengan sukarela membawa makanan untuk dibagikan atau memberikan hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi terhadap komunitas ini.

“Ada banget momen-momen di mana ada yang bawain kue sus, donat, buat dibagiin ke teman-teman pembaca, dan itu dari inisiatif mereka sendiri,” kata Ebat.

“Bahkan ada yang ngasih aku makanan, bunga waktu ulang tahun Baca di Bandung. Hari ini juga ada yang ngasih aku gelang,” tambahnya riang sambil menunjukkan gelang yang baru ia pakai.

Namun, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Sebagai pengelola tunggal, Ebat harus membagi energinya antara pekerjaan profesional dan keberlangsungan komunitas yang ia bangun.

“Tantangan terbesarnya itu energi, karena aku menjalankan ini sendirian,” ujarnya.

Literasi, Akses, dan Harapan

Di balik gerakan ini, Ebat membawa kekhawatiran yang lebih besar terkait kondisi literasi. Ia menilai bahwa minat membaca di Kota Bandung sebenarnya sudah cukup tinggi, didorong oleh banyaknya komunitas literasi yang aktif.

“Menurutku di Bandung itu simpul-simpul literasi sudah ada melalui komunitas baca yang bermunculan dan aktif. Minatnya juga tinggi,” ucapnya.

Namun, menurutnya, persoalan utama bukan pada minat, melainkan akses terhadap bahan bacaan dan ruang literasi yang memadai.

“Tapi aksesnya masih jadi tantangan, terutama soal perpustakaan yang belum ramah untuk masyarakat yang bekerja atau sekolah,” tambahnya.

Keterbatasan fasilitas, terutama perpustakaan dengan jam operasional yang kurang fleksibel, menjadi kendala nyata.

Keyword-nya sebetulnya inklusif. Semua orang bisa datang tanpa perlu bayar,” ucap Ebat.

Ke depan, ia memiliki visi yang lebih luas untuk Baca di Bandung—menjadikannya bukan sekadar gerakan membaca, tetapi juga upaya membuka akses literasi yang lebih merata.

Bigger purpose dari Baca di Bandung adalah akses literasi,” kata Ebat.

“Aku berharap suatu saat kita bisa punya independent library,” lanjutnya.

Pada akhirnya, bagi Ebat, literasi bukan hanya soal kebiasaan membaca, melainkan bagaimana pengetahuan dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali.

“Literasi itu bukan cuma soal apa yang dibaca, tapi soal akses dan inklusivitas,” ujarnya.

“Aku berharap komunitas-komunitas kecil ini bisa jadi api yang membuka akses bagi mereka yang belum punya privilege,” tutupnya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 29 Mei 2026, 18:02

Terima Kasih untuk yang Berkurban

Adanya orang-orang yang bekurban adalah bukti masih ada yang mau memberi dan membuat bahagia masyarakat yang tidak mampu berkurban

Panitia bersiap melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan domba di halaman Masjid Lautze 2, Jalan Tamblong, Kota Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mei 2026, 17:57

Kafe ACD Taraju, Tempat Healing dengan Rumah Pohon di Tengah Kebun Teh

Kafe ACD di Taraju Tasikmalaya menawarkan suasana ngopi di tengah perkebunan teh dan rumah pohon estetik.

Kafe ACD Taraju. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 16:30

Tentang Makna Do'a Pernikahan

Pernikahan memang menjadi momen bahagia dan bersejarah bagi setiap orang.

Ilustrasi pernikahan. (Sumber: Pexels | Foto: fadhil wy_)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 15:34

KLCBS, Gelombang Jazz dari Bandung yang Tak Pernah Padam

Salah satu siaran yang tetap hidup dalam ingatan itu adalah Radio KLCBS Bandung.

Ruang siaran dan studio KLCBS yang asri dan nyaman. (Sumber: KLCBS Official | Foto: Yanti Rangkuti)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 13:28

Kweekschool Goenoeng Sarie dan Legenda Persib di Lembang

Beberapa legenda Persib lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.

Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 10:43

Hutan dalam Toponim, Indah, Damai, dan Menyejahterakan

Masyarakat Sunda, pada mulanya melebur dengan alam, dengan hutan.

Hutan yang terjaga memberikan kelimpahan sumberdaya alam. Masyarakat memanfaatkan tanpa merusak. (Foto: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 29 Mei 2026, 09:45

Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

Bandung terus berjalan cepat mengikuti arus perkembangan zaman.

Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)
Beranda 29 Mei 2026, 08:43

Pengendara Ojol di Kota Bandung Mulai Beralih ke Motor Listrik, Nyaman tapi Belum Sepenuhnya Praktis

Pengemudi ojol di Bandung mulai mencoba motor listrik karena lebih nyaman dan hemat. Namun, keterbatasan infrastruktur baterai masih jadi tantangan utama.

Yusuf dan motor listriknya yang digunakannya untuk mengantar penumpang di kawasan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 19:21

Takbir, Tahmid, dan Tahlil

Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.

Warga menggelar tradisi takbiran di Kampung Bunut, Margahurip, Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 15:10

Kurban dan Masakan Ibu Saat Tahun 1980-an

Suasana Hari Raya Iduladha tahun 1980-an tentang bagaimana seorang Ibu mengolah daging kurban diolah menjadi masakan yang digemari anak-anaknya

Ilustrasi salat Idul Adha. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 28 Mei 2026, 12:20

Laksa Bogor, Kuliner Peranakan Legendaris di Kota Hujan

Laksa Bogor dikenal dengan teknik penyajian unik “dikocok” yang membuat bihun dan tauge menyatu sempurna dengan kuah santan kuning berbumbu.

Laksa Bogor. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 12:03

Mengapa Nabi Mengajarkan 'Baarakallahu Laka' dan 'Baaraka Alaika' dalam Doa Pernikahan?

Mengapa Nabi menggunakan lafazh “laka” dan “‘alaika” dalam doa pernikahan? Ternyata tersimpan pesan mendalam tentang sakinah, cinta, ujian hidup, syukur, dan kesabaran rumah tangga.

Pasangan suami istri. (Sumber: Istimewa | Foto: Muhammad Mufti SN)
Beranda 28 Mei 2026, 09:45

Idul Adha 1447 H, PLN NP UP Cirata Tebar Kepedulian lewat Bantuan Hewan Kurban

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.

PT PLN Nusantara Power UP Cirata menyalurkan 5 sapi dan 21 kambing kurban kepada masyarakat dan stakeholder di Purwakarta pada Idul Adha 1447 H.
Ayo Netizen 28 Mei 2026, 09:34

Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa

Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 28 Mei 2026, 00:27

Kelola Belanja Keluarga lewat HP, Ibu Rumah Tangga Perlu Paham Ancaman Digital Perbankan

Era digital yang sudah serba canggih telah memberikan kemudahan untuk pelbagai sektor, termasuk perbankan.

Aplikasi BRImo dari Bank BRI. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 18:04

Wajah Ganda Kota Kembang: Ramah Wisatawan, Menantang bagi Pekerja

Bandung memikat jutaan wisatawan, tetapi pekerjanya menghadapi tekanan biaya hidup.

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 27 Mei 2026, 15:17

Ketika BUMDes dan BRILink Jadi Duet Andalan untuk Tingkatkan Ekonomi Desa Margamukti

BRILink di Margamukti adalah cermin dari cara berpikir BUMDes Marga Makmur secara keseluruhan.

Agen BRILink BUMDes Marga Makmur, di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 13:19

Ibadah Qurban atau Ibadah Udhiyyah? Yuk Kenali Istilah yang benar dalam Islam

Seringkali terdengar ibadah qurban pada momentum Idul Adha, apa arti sebenarnya?

Hewan udhiyyah di Indonesia adalah sapi, kambing, domba, kerbau (Sumber: Pixeabay | Foto: Paskvi)
Ayo Netizen 27 Mei 2026, 12:31

Menolak Lupa: Surat Samantha untuk Perdamaian Dunia

Kisah seorang anak yang memberi pesan bahwa perdamaian dunia adalah hak mutlak setiap umat manusia

Samantha Smith (Sumber: Kennebec Journal)
Beranda 27 Mei 2026, 10:59

Sambut Idul Adha, PLN Nusantara Power Pastikan PLTA Cirata Beroperasi Prima

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.