Komunitas Baca di Bandung, Ruang Sunyi yang Menghidupkan Literasi di Nadi Kota Kembang

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Siang akhir pekan pada Minggu, 12 April 2026, Taman Badak di Balai Kota Bandung tidak hanya dipenuhi warga yang berjalan santai dan berteduh. Di salah satu sudutnya, puluhan orang duduk berdekatan dengan buku di tangan—baik buku fisik maupun digital. Mereka larut dalam bacaan masing-masing tanpa percakapan. Tidak ada instruksi rumit atau rangkaian acara panjang, hanya satu aktivitas sederhana: membaca bersama dalam diam.

Inisiatif ini dicetuskan oleh Balebat Buana Puspa, atau yang akrab disapa Ebat, seorang perempuan berusia 30 tahun yang memulai gerakan ini dari keresahan pribadi sekaligus ketertarikannya pada kegiatan membaca.

Ia terinspirasi oleh gerakan serupa di Jakarta, lalu berupaya membawanya ke dalam konteks ruang publik di Kota Bandung.

“Sebetulnya awal mulanya itu karena aku punya teman yang sudah melakukan gerakan membaca senyap di Jakarta. Dari situ aku terinspirasi untuk menghadirkan hal yang sama di Bandung,” kata Ebat saat diwawancarai selepas kegiatan “Baca Bersama”.

Balebat Buana Puspa memulai gerakan membaca ini dari keresahan pribadi dan kini menjadi ruang literasi yang inklusif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Balebat Buana Puspa memulai gerakan membaca ini dari keresahan pribadi dan kini menjadi ruang literasi yang inklusif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sejak pertama kali dilaksanakan pada Februari 2024, Komunitas Baca di Bandung berkembang dari kegiatan kecil menjadi wadah kolektif yang semakin menarik perhatian. Dulu hanya dihadiri segelintir orang di sebuah kafe, kini kegiatan membaca bersama ini mampu mengumpulkan puluhan bahkan ratusan peserta dari berbagai latar belakang.

“Awalnya cuma sekitar 10 orang, tapi sekarang bisa sampai 90 sampai 100 orang yang ikut (baca senyap),” ujar Ebat.

Ruang Sunyi yang Inklusif

Berbeda dengan kebanyakan komunitas literasi yang menekankan diskusi, Baca di Bandung memilih membaca dalam keheningan. Bagi Ebat, kesunyian bukanlah sesuatu yang kosong, melainkan ruang yang memberi kenyamanan bagi setiap orang untuk menikmati bacaan tanpa tekanan sosial.

“Aku pengen kasih ruang untuk orang-orang yang sekadar ingin ditemani membaca, tanpa harus ngobrol. Ternyata itu punya magisnya sendiri,” ucap Ebat.

Konsep ini juga muncul dari kesadaran bahwa tidak semua orang merasa nyaman dengan interaksi intens dalam forum literasi. Ia memandang membaca sebagai kegiatan pribadi yang tetap dapat dirayakan dalam suasana kolektif tanpa menguras energi.

“Reading for pleasure, not for pressure,” kata Ebat sambil tersenyum.

Pemilihan ruang publik menjadi elemen penting dari identitas komunitas ini. Taman kota dipilih bukan hanya karena suasananya yang sejuk, tetapi juga karena sifatnya yang terbuka dan ramah untuk semua orang.

“Aku pengen ngajak orang-orang bahwa ruang publik di Kota Bandung itu bisa dimanfaatkan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk membaca,” ujarnya.

Suasana hening namun hangat terasa ketika para peserta larut dalam buku masing-masing di ruang terbuka. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana hening namun hangat terasa ketika para peserta larut dalam buku masing-masing di ruang terbuka. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Datang, Duduk, Pulang

Perjalanan Komunitas Baca di Bandung tidak terlepas dari proses penjelajahan ruang yang panjang. Ebat sempat melakukan “safari taman” untuk menemukan lokasi terbaik bagi kegiatan membaca bersama, sebelum akhirnya menetap di Taman Balai Kota dan sesekali berpindah ke Taman Sejarah sebagai alternatif.

Seiring waktu, komunitas ini mengalami perkembangan signifikan, baik dari segi tempat maupun jumlah peserta. Jika pada awalnya didominasi perempuan, kini semakin terbuka dan menjangkau berbagai kalangan.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan dua kali dalam sebulan setiap akhir pekan ini tetap sederhana dan konsisten. Peserta datang tanpa perlu mendaftar, duduk bersama, lalu membaca selama satu jam.

“Kegiatannya sederhana, datang, duduk, lalu membaca bersama selama satu jam,” jelas Ebat.

“Setelah itu ada pembagian postcard dan stiker, lalu foto bersama. Habis itu bebas mau pulang atau lanjut baca,” tambahnya.

Baca Senyap, Opsi Tepat untuk Introvert-Friendly

Menariknya, keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan komunitas ini. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga keluarga dengan anak-anak, semua berkumpul dalam satu ruang tanpa batasan.

Ebat mengamati bahwa daya tarik utama dari aktivitas ini terletak pada kesederhanaannya. Tanpa keharusan berdiskusi atau berinteraksi, para peserta merasa lebih bebas menikmati suasana membaca bersama dalam senyap.

“Kegiatan ini aku bilang introvert-friendly, karena kita nggak perlu habis energi untuk banyak interaksi,” tambahnya.

Di balik kesederhanaan itu, terjalin hubungan emosional yang hangat di antara para partisipan. Dalam beberapa kesempatan, peserta dengan sukarela membawa makanan untuk dibagikan atau memberikan hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi terhadap komunitas ini.

“Ada banget momen-momen di mana ada yang bawain kue sus, donat, buat dibagiin ke teman-teman pembaca, dan itu dari inisiatif mereka sendiri,” kata Ebat.

“Bahkan ada yang ngasih aku makanan, bunga waktu ulang tahun Baca di Bandung. Hari ini juga ada yang ngasih aku gelang,” tambahnya riang sambil menunjukkan gelang yang baru ia pakai.

Namun, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Sebagai pengelola tunggal, Ebat harus membagi energinya antara pekerjaan profesional dan keberlangsungan komunitas yang ia bangun.

“Tantangan terbesarnya itu energi, karena aku menjalankan ini sendirian,” ujarnya.

Literasi, Akses, dan Harapan

Di balik gerakan ini, Ebat membawa kekhawatiran yang lebih besar terkait kondisi literasi. Ia menilai bahwa minat membaca di Kota Bandung sebenarnya sudah cukup tinggi, didorong oleh banyaknya komunitas literasi yang aktif.

“Menurutku di Bandung itu simpul-simpul literasi sudah ada melalui komunitas baca yang bermunculan dan aktif. Minatnya juga tinggi,” ucapnya.

Namun, menurutnya, persoalan utama bukan pada minat, melainkan akses terhadap bahan bacaan dan ruang literasi yang memadai.

“Tapi aksesnya masih jadi tantangan, terutama soal perpustakaan yang belum ramah untuk masyarakat yang bekerja atau sekolah,” tambahnya.

Keterbatasan fasilitas, terutama perpustakaan dengan jam operasional yang kurang fleksibel, menjadi kendala nyata.

“Keyword-nya sebetulnya inklusif. Semua orang bisa datang tanpa perlu bayar,” ucap Ebat.

Ke depan, ia memiliki visi yang lebih luas untuk Baca di Bandung—menjadikannya bukan sekadar gerakan membaca, tetapi juga upaya membuka akses literasi yang lebih merata.

“Bigger purpose dari Baca di Bandung adalah akses literasi,” kata Ebat.

“Aku berharap suatu saat kita bisa punya independent library,” lanjutnya.

Pada akhirnya, bagi Ebat, literasi bukan hanya soal kebiasaan membaca, melainkan bagaimana pengetahuan dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali.

“Literasi itu bukan cuma soal apa yang dibaca, tapi soal akses dan inklusivitas,” ujarnya.

“Aku berharap komunitas-komunitas kecil ini bisa jadi api yang membuka akses bagi mereka yang belum punya privilege,” tutupnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)