Komunitas Baca di Bandung, Ruang Sunyi yang Menghidupkan Literasi di Nadi Kota Kembang

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 14 Apr 2026, 12:29 WIB
Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Siang akhir pekan pada Minggu, 12 April 2026, Taman Badak di Balai Kota Bandung tidak hanya dipenuhi warga yang berjalan santai dan berteduh. Di salah satu sudutnya, puluhan orang duduk berdekatan dengan buku di tangan—baik buku fisik maupun digital. Mereka larut dalam bacaan masing-masing tanpa percakapan. Tidak ada instruksi rumit atau rangkaian acara panjang, hanya satu aktivitas sederhana: membaca bersama dalam diam.

Inisiatif ini dicetuskan oleh Balebat Buana Puspa, atau yang akrab disapa Ebat, seorang perempuan berusia 30 tahun yang memulai gerakan ini dari keresahan pribadi sekaligus ketertarikannya pada kegiatan membaca.

Ia terinspirasi oleh gerakan serupa di Jakarta, lalu berupaya membawanya ke dalam konteks ruang publik di Kota Bandung.

“Sebetulnya awal mulanya itu karena aku punya teman yang sudah melakukan gerakan membaca senyap di Jakarta. Dari situ aku terinspirasi untuk menghadirkan hal yang sama di Bandung,” kata Ebat saat diwawancarai selepas kegiatan “Baca Bersama”.

Balebat Buana Puspa memulai gerakan membaca ini dari keresahan pribadi dan kini menjadi ruang literasi yang inklusif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Balebat Buana Puspa memulai gerakan membaca ini dari keresahan pribadi dan kini menjadi ruang literasi yang inklusif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sejak pertama kali dilaksanakan pada Februari 2024, Komunitas Baca di Bandung berkembang dari kegiatan kecil menjadi wadah kolektif yang semakin menarik perhatian. Dulu hanya dihadiri segelintir orang di sebuah kafe, kini kegiatan membaca bersama ini mampu mengumpulkan puluhan bahkan ratusan peserta dari berbagai latar belakang.

“Awalnya cuma sekitar 10 orang, tapi sekarang bisa sampai 90 sampai 100 orang yang ikut (baca senyap),” ujar Ebat.

Ruang Sunyi yang Inklusif

Berbeda dengan kebanyakan komunitas literasi yang menekankan diskusi, Baca di Bandung memilih membaca dalam keheningan. Bagi Ebat, kesunyian bukanlah sesuatu yang kosong, melainkan ruang yang memberi kenyamanan bagi setiap orang untuk menikmati bacaan tanpa tekanan sosial.

“Aku pengen kasih ruang untuk orang-orang yang sekadar ingin ditemani membaca, tanpa harus ngobrol. Ternyata itu punya magisnya sendiri,” ucap Ebat.

Konsep ini juga muncul dari kesadaran bahwa tidak semua orang merasa nyaman dengan interaksi intens dalam forum literasi. Ia memandang membaca sebagai kegiatan pribadi yang tetap dapat dirayakan dalam suasana kolektif tanpa menguras energi.

Reading for pleasure, not for pressure,” kata Ebat sambil tersenyum.

Pemilihan ruang publik menjadi elemen penting dari identitas komunitas ini. Taman kota dipilih bukan hanya karena suasananya yang sejuk, tetapi juga karena sifatnya yang terbuka dan ramah untuk semua orang.

“Aku pengen ngajak orang-orang bahwa ruang publik di Kota Bandung itu bisa dimanfaatkan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk membaca,” ujarnya.

Suasana hening namun hangat terasa ketika para peserta larut dalam buku masing-masing di ruang terbuka. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana hening namun hangat terasa ketika para peserta larut dalam buku masing-masing di ruang terbuka. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Datang, Duduk, Pulang

Perjalanan Komunitas Baca di Bandung tidak terlepas dari proses penjelajahan ruang yang panjang. Ebat sempat melakukan “safari taman” untuk menemukan lokasi terbaik bagi kegiatan membaca bersama, sebelum akhirnya menetap di Taman Balai Kota dan sesekali berpindah ke Taman Sejarah sebagai alternatif.

Seiring waktu, komunitas ini mengalami perkembangan signifikan, baik dari segi tempat maupun jumlah peserta. Jika pada awalnya didominasi perempuan, kini semakin terbuka dan menjangkau berbagai kalangan.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan dua kali dalam sebulan setiap akhir pekan ini tetap sederhana dan konsisten. Peserta datang tanpa perlu mendaftar, duduk bersama, lalu membaca selama satu jam.

“Kegiatannya sederhana, datang, duduk, lalu membaca bersama selama satu jam,” jelas Ebat.

“Setelah itu ada pembagian postcard dan stiker, lalu foto bersama. Habis itu bebas mau pulang atau lanjut baca,” tambahnya.

Baca Senyap, Opsi Tepat untuk Introvert-Friendly

Menariknya, keberagaman peserta menjadi salah satu kekuatan komunitas ini. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga keluarga dengan anak-anak, semua berkumpul dalam satu ruang tanpa batasan.

Ebat mengamati bahwa daya tarik utama dari aktivitas ini terletak pada kesederhanaannya. Tanpa keharusan berdiskusi atau berinteraksi, para peserta merasa lebih bebas menikmati suasana membaca bersama dalam senyap.

“Kegiatan ini aku bilang introvert-friendly, karena kita nggak perlu habis energi untuk banyak interaksi,” tambahnya.

Di balik kesederhanaan itu, terjalin hubungan emosional yang hangat di antara para partisipan. Dalam beberapa kesempatan, peserta dengan sukarela membawa makanan untuk dibagikan atau memberikan hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi terhadap komunitas ini.

“Ada banget momen-momen di mana ada yang bawain kue sus, donat, buat dibagiin ke teman-teman pembaca, dan itu dari inisiatif mereka sendiri,” kata Ebat.

“Bahkan ada yang ngasih aku makanan, bunga waktu ulang tahun Baca di Bandung. Hari ini juga ada yang ngasih aku gelang,” tambahnya riang sambil menunjukkan gelang yang baru ia pakai.

Namun, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Sebagai pengelola tunggal, Ebat harus membagi energinya antara pekerjaan profesional dan keberlangsungan komunitas yang ia bangun.

“Tantangan terbesarnya itu energi, karena aku menjalankan ini sendirian,” ujarnya.

Literasi, Akses, dan Harapan

Di balik gerakan ini, Ebat membawa kekhawatiran yang lebih besar terkait kondisi literasi. Ia menilai bahwa minat membaca di Kota Bandung sebenarnya sudah cukup tinggi, didorong oleh banyaknya komunitas literasi yang aktif.

“Menurutku di Bandung itu simpul-simpul literasi sudah ada melalui komunitas baca yang bermunculan dan aktif. Minatnya juga tinggi,” ucapnya.

Namun, menurutnya, persoalan utama bukan pada minat, melainkan akses terhadap bahan bacaan dan ruang literasi yang memadai.

“Tapi aksesnya masih jadi tantangan, terutama soal perpustakaan yang belum ramah untuk masyarakat yang bekerja atau sekolah,” tambahnya.

Keterbatasan fasilitas, terutama perpustakaan dengan jam operasional yang kurang fleksibel, menjadi kendala nyata.

Keyword-nya sebetulnya inklusif. Semua orang bisa datang tanpa perlu bayar,” ucap Ebat.

Ke depan, ia memiliki visi yang lebih luas untuk Baca di Bandung—menjadikannya bukan sekadar gerakan membaca, tetapi juga upaya membuka akses literasi yang lebih merata.

Bigger purpose dari Baca di Bandung adalah akses literasi,” kata Ebat.

“Aku berharap suatu saat kita bisa punya independent library,” lanjutnya.

Pada akhirnya, bagi Ebat, literasi bukan hanya soal kebiasaan membaca, melainkan bagaimana pengetahuan dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali.

“Literasi itu bukan cuma soal apa yang dibaca, tapi soal akses dan inklusivitas,” ujarnya.

“Aku berharap komunitas-komunitas kecil ini bisa jadi api yang membuka akses bagi mereka yang belum punya privilege,” tutupnya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)