Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)
Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)

Memutar ingatan ke masa lalu, transportasi becak cukup menjadi pilihan masyarakat untuk melakukan aktivitas untuk pergi ke sekolah, pergi ke pasar hingga mengantar banyak barang sebelum ada aplikasi bernama gojek. Terakhir yang saya ingat menggunakan becak saat belanja dari minimarket menjelang hari raya sebelum pandemi. Sudah enam tahun berlalu tapi tukang becak masih eksis hingga hari ini meski peminatnya semakin sedikit.

Dunia termasuk juga Bandung kian hari terus berjalan dengan dinamis. Banyak menyisakkan perubahan baru yang kadang tidak selalu bisa diterima semua orang dan tidak selamanya bisa dipahami. Perubahan pada umumnya memang memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Misalnya akses untuk memiliki kendaraan pribadi dengan mudah, akses jalan yang semakin terbuka antar daerah, infrastruktur yang dibangun untuk membuka akses pekerjaan bagi masyarakat. Namun tidak dipungkiri perubahan juga terkadang menyisakkan banyak dampak bagi sebuah kota atau masyarakatnya. Macet, banjir, gunungan sampah menjadi bukti perkembangan zaman. Masyarakat makin banyak mengeluhkan kesehatan mental karena tekanan gaya hidup di media sosial juga tekanan ekonomi yang kian hari makin mencekik.

Di tengah perubahan Kota Bandung yang masif tersisa beberapa profesi yang mulai hilang di masyarakat tapi hebatnya mereka masih tetap berjuang dan bertahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Perjuangannya sunyi tapi mereka tidak pernah berhenti. Sesekali terlihat membawa barang ibu-ibu yang habis belanja dari pasar tradisional. Membawa paket elektronik dan kadang kayu-kayu ke rumah konsumen yang menggunakan jasanya. Namun terkadang mereka juga melamun memikirkan banyak hal yang tentu tidak bisa dengan mudah dimengerti oleh orang sekitarnya. Wajahnya penuh harap menawarkan ke setiap orang yang melewati becak di depannya. Realitasnya tentu banyak dari mereka yang menolak karena memilih menggunakan angkot atau transportasi online.

Dilansir dari kompas.com bahwa pada tahun 2022 tukang becak hanya mendapatkan pendapatan kotor Rp.50.000/ hari. Bisa kita bayangkan ketika zaman terus maju-- pilihan transportasi makin beragam, bisa saja pendapatan mereka turun beradu dengan kebutuhan pokok yang semakin tinggi. Mereka adalah korban kemiskinan struktural negara ini. Bagaimana sistem ekonomi, hukum juga politik sangat mempengaruhi kehidupan mereka.

Menurut saya fenomena yang satu ini bisa dikatakan sebagai kemiskinan struktural. Pertama faktor yang menyebabkan mereka menjadi tukang becak bisa saja ketika mereka kecil akses pendidikan tidak merata sehingga sistem mengeluarkan mereka karena tidak adanya ijazah yang sesuai dengan klasifikasi perusahaan. Mirisnya juga sistem ekonomi kita memang belum merata. Ibaratnya ketimpangannya sangat tinggi, yang kaya makin kaya dan yang miskin juga sebaliknya. Lagi dan lagi hal ini karena sistem negara kita juga masih pandang bulu. Masyarakat yang merangkak menjadi pengusaha UMKM, ketika usahanya berangsur membaik seharusnya mereka bisa menaikan taraf hidup layak keluarganya dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Namun yang terjadi terkadang pajak justru merenggut mereka untuk naik ke kelas menengah atas dalam ruang lingkup sosial.

Saya paham mereka tidak pernah minta dikasihani oleh siapapun. Hal tersebut sangat tercermin dari mereka yang masih memilih menjadi tukang becak dibandingkan minta-minta di jalanan. Meski kadang dunia tidak selalu berjalan sesuai kehendak mereka. Kerennya mereka tetap bertahan demi harga diri mereka sebagai laki-laki, demi tanggung jawabnya untuk keluarga dan demi pelanggan setianya yang masih membutuhkan jasa mereka.

Diantara riuhnya manusia yang hidup, saling merebutkan oksigen untuk bernapas. Masih tersisa serpinahan nafas dari mereka yang lelah tapi tak pernah bersuara dan menyerah. Mereka yang selalu menjaga harga diri meski tak selalu dihargai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 17:06

Tubuh sebagai Prioritas: Kausalitas Pandemi Covid-19 dan Kebangkitan Tren Fitness di Kalangan Anak Muda

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. Kondisi ini mendorong kebangkitan tren fitness sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan investasi jangka panjang.

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. (Sumber: Pexels | Foto: Marta Nogueira)
Wisata & Kuliner 14 Jul 2026, 16:54

Kelezatan Coto Makassar, Empat Puluh Rempah dari Kerajaan Gowa untuk Semua Orang

Kenali sejarah Coto Makassar dari era Kerajaan Gowa, filosofi 40 rempah, kuah air tajin, hingga rekomendasi warung legendaris yang wajib dicoba.

Coto Makassar.
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:34

Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD, Birokrasi dan Pelayanan Publik Terancam?

Belanja pegawai sebesar 30% dari APBD sering dipandang sebagai indikator tingginya beban birokrasi terhadap kapasitas fiskal daerah.

Ilustrasi. (Sumber: Created by gpt)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:16

Semangat Intelektual Remy Sylado Bergema di UNISBA

Bagi Remy Sylado bahasa tidak pernah sekadar menjadi alat komunikasi.

Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 15:15

Pentingnya Merawat Imajinasi untuk Memahami Literasi

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis.

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 14:47

Mewujudkan MPLS yang Ramah dan Nyaman untuk Anak

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bertujuan mengajak siswa mengenal lingkungan sekolah sebelum akhirnya menjalani hari-hari dengan baik dan menyenangkan di sekolah.

Sejumlah siswa dari SMP-SMA Advent Cimindi memunguti sampah di Jalan Babakan Cianjur, Kota Bandung, saat para mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) 2023-2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 14 Jul 2026, 14:00

Malam Jalan Soekarno-Hatta Bandung yang Tak Tidur

Jalan Soekarno-Hatta Bandung tetap ramai hingga dini hari, dari lalu lintas, balap liar, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Suasana malam di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 10:54

Asyiknya Menggambar, Mewarnai, dan Merawat Imajinasi

Setiap gambar memiliki cerita, dan setiap kisah layak untuk didengarkan dan disuarakan. Terlebih di tengah-tengah derasnya arus media informasi dan kecanduan gawai.

Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 13:19

Merayakan Keragaman, Memupuk Kerukunan 

Keragaman, kerukunan, toleransi sejatinya tidak hanya lahir dari ruang-ruang dialog, seminar, regulasi negara.

Warga mengikuti Upacara Adat Tutup Taun 1956 Ngemban Taun 1 Sura 1957 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 11:48

Museum Kretek Kudus: Sejarah, Harga Tiket, Koleksi, dan Jam Buka

Museum Kretek Kudus merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia. Simak sejarah, koleksi, harga tiket, jam buka, dan daya tariknya di sini.

Museum Kretek Kudus. (Sumber: Pemprov Jateng)