Serpihan Napas Kehidupan bagi Penarik Becak di Bandung

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Jumat 29 Mei 2026, 09:45 WIB
Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)

Begitu banyak cerita tentang transportasi di Bandung salah satunya becak yang sudah mulai ditinggalkan penumpangnya (Sumber: Ilustrasi ubah foto asli menjadi AI | Foto: Dias Ashari)

Memutar ingatan ke masa lalu, transportasi becak cukup menjadi pilihan masyarakat untuk melakukan aktivitas untuk pergi ke sekolah, pergi ke pasar hingga mengantar banyak barang sebelum ada aplikasi bernama gojek. Terakhir yang saya ingat menggunakan becak saat belanja dari minimarket menjelang hari raya sebelum pandemi. Sudah enam tahun berlalu tapi tukang becak masih eksis hingga hari ini meski peminatnya semakin sedikit.

Dunia termasuk juga Bandung kian hari terus berjalan dengan dinamis. Banyak menyisakkan perubahan baru yang kadang tidak selalu bisa diterima semua orang dan tidak selamanya bisa dipahami. Perubahan pada umumnya memang memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Misalnya akses untuk memiliki kendaraan pribadi dengan mudah, akses jalan yang semakin terbuka antar daerah, infrastruktur yang dibangun untuk membuka akses pekerjaan bagi masyarakat. Namun tidak dipungkiri perubahan juga terkadang menyisakkan banyak dampak bagi sebuah kota atau masyarakatnya. Macet, banjir, gunungan sampah menjadi bukti perkembangan zaman. Masyarakat makin banyak mengeluhkan kesehatan mental karena tekanan gaya hidup di media sosial juga tekanan ekonomi yang kian hari makin mencekik.

Di tengah perubahan Kota Bandung yang masif tersisa beberapa profesi yang mulai hilang di masyarakat tapi hebatnya mereka masih tetap berjuang dan bertahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Perjuangannya sunyi tapi mereka tidak pernah berhenti. Sesekali terlihat membawa barang ibu-ibu yang habis belanja dari pasar tradisional. Membawa paket elektronik dan kadang kayu-kayu ke rumah konsumen yang menggunakan jasanya. Namun terkadang mereka juga melamun memikirkan banyak hal yang tentu tidak bisa dengan mudah dimengerti oleh orang sekitarnya. Wajahnya penuh harap menawarkan ke setiap orang yang melewati becak di depannya. Realitasnya tentu banyak dari mereka yang menolak karena memilih menggunakan angkot atau transportasi online.

Dilansir dari kompas.com bahwa pada tahun 2022 tukang becak hanya mendapatkan pendapatan kotor Rp.50.000/ hari. Bisa kita bayangkan ketika zaman terus maju-- pilihan transportasi makin beragam, bisa saja pendapatan mereka turun beradu dengan kebutuhan pokok yang semakin tinggi. Mereka adalah korban kemiskinan struktural negara ini. Bagaimana sistem ekonomi, hukum juga politik sangat mempengaruhi kehidupan mereka.

Menurut saya fenomena yang satu ini bisa dikatakan sebagai kemiskinan struktural. Pertama faktor yang menyebabkan mereka menjadi tukang becak bisa saja ketika mereka kecil akses pendidikan tidak merata sehingga sistem mengeluarkan mereka karena tidak adanya ijazah yang sesuai dengan klasifikasi perusahaan. Mirisnya juga sistem ekonomi kita memang belum merata. Ibaratnya ketimpangannya sangat tinggi, yang kaya makin kaya dan yang miskin juga sebaliknya. Lagi dan lagi hal ini karena sistem negara kita juga masih pandang bulu. Masyarakat yang merangkak menjadi pengusaha UMKM, ketika usahanya berangsur membaik seharusnya mereka bisa menaikan taraf hidup layak keluarganya dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Namun yang terjadi terkadang pajak justru merenggut mereka untuk naik ke kelas menengah atas dalam ruang lingkup sosial.

Saya paham mereka tidak pernah minta dikasihani oleh siapapun. Hal tersebut sangat tercermin dari mereka yang masih memilih menjadi tukang becak dibandingkan minta-minta di jalanan. Meski kadang dunia tidak selalu berjalan sesuai kehendak mereka. Kerennya mereka tetap bertahan demi harga diri mereka sebagai laki-laki, demi tanggung jawabnya untuk keluarga dan demi pelanggan setianya yang masih membutuhkan jasa mereka.

Diantara riuhnya manusia yang hidup, saling merebutkan oksigen untuk bernapas. Masih tersisa serpinahan nafas dari mereka yang lelah tapi tak pernah bersuara dan menyerah. Mereka yang selalu menjaga harga diri meski tak selalu dihargai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)