Tubuh sebagai Prioritas: Kausalitas Pandemi Covid-19 dan Kebangkitan Tren Fitness di Kalangan Anak Muda

7 menit baca
Pajar Dwi Sanjaya
Ditulis oleh Pajar Dwi Sanjaya diterbitkan
Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. (Sumber: Pexels | Foto: Marta Nogueira)
Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. (Sumber: Pexels | Foto: Marta Nogueira)

Pandemi Covid-19 dapat dikatakan menjadi salah satu peristiwa global yang mengubah cara masyarakat memaknai kesehatan dan kebugaran. Berbagai kebijakan pembatasan aktivitas yang diterapkan di banyak negara, termasuk Indonesia, peristiwa ini membuat instansi pendidikan, ruang publik, dan fasilitas olahraga berhenti beroperasi untuk sementara. Situasi tersebut mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan pola hidup yang nyaris seluruhnya berpusat di rumah. Pada saat yang sama, kesadaran akan pentingnya kesehatan tumbuh semakin kuat. Tubuh tidak lagi dipandang sekadar sebagai penunjang aktivitas sehari-hari, melainkan sebagai modal utama untuk menghadapi ketidakpastian yang dibawa oleh pandemi.

Perubahan cara pandang tersebut kemudian tercermin dalam meningkatnya perhatian terhadap gaya hidup sehat. Menjaga kesehatan tidak lagi diposisikan sebagai sekadar anjuran, tetapi menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari. Kondisi fisik yang baik berpengaruh terhadap produktivitas, daya tahan tubuh, kemampuan berpikir, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Untuk mencapainya, terdapat tiga fondasi utama yang saling berkaitan, yaitu pola makan bergizi, pemenuhan nutrisi yang memadai, serta aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin.

Di antara ketiga komponen tersebut, aktivitas fisik masih menjadi aspek yang paling sering terabaikan. Kemajuan teknologi digital memang mempermudah berbagai aktivitas, tetapi pada saat yang sama juga mengurangi kebutuhan masyarakat untuk bergerak. Berbagai pekerjaan, transaksi, hingga hiburan kini dapat diakses melalui perangkat digital tanpa harus meninggalkan rumah. Perubahan ini secara perlahan membentuk pola hidup sedentari yang ditandai dengan meningkatnya durasi duduk dalam waktu lama. Dengan kata lain, persoalan rendahnya aktivitas fisik telah muncul jauh sebelum pandemi Covid-19 dan berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat kontemporer.

Pentingnya aktivitas fisik juga tercermin dalam rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization). WHO menganjurkan agar anak dan remaja berusia 10 hingga 18 tahun melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat selama sedikitnya 60 menit setiap hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut berkontribusi dalam menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga obesitas.

Sayangnya, rekomendasi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada kondisi di Indonesia. Penelitian dari Laily Hanifah berjudul Sedentary Behavior and Lack of Physical Activity among Children in Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 57 persen anak Indonesia belum memenuhi standar aktivitas fisik yang direkomendasikan. Bahkan, kondisi tersebut relatif tidak mengalami perubahan yang berarti sepanjang periode 2007 hingga 2018. Temuan ini mengindikasikan bahwa rendahnya aktivitas fisik merupakan persoalan yang telah berlangsung cukup lama sehingga pandemi Covid-19 bukan menjadi penyebab utama, melainkan memperlihatkan sekaligus memperkuat masalah yang sudah ada sebelumnya.

Rendahnya tingkat aktivitas fisik yang telah berlangsung sebelum pandemi kemudian menghadapi tantangan yang lebih besar ketika Pandemi Covid-19 tersebut melanda. Untuk menekan laju penyebaran virus, Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada awal 2020 yang kemudian dilanjutkan melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga Mei 2022. Kebijakan tersebut membatasi akses masyarakat terhadap sekolah, fasilitas olahraga, serta berbagai ruang publik yang selama ini menjadi tempat berlangsungnya aktivitas fisik. Perubahan ini mendorong masyarakat untuk menyesuaikan kembali rutinitas hariannya di tengah berbagai keterbatasan.

Perubahan pola hidup tersebut tidak hanya memengaruhi aktivitas sehari-hari, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat. Sebagaimana dijelaskan oleh media The Conversation, banyak individu mulai membangun rutinitas harian sebagai cara untuk menjaga stabilitas emosional sekaligus mengurangi kecemasan selama menjalani isolasi dan pembatasan sosial. Aktivitas fisik kemudian menjadi salah satu bentuk rutinitas yang relatif mudah dilakukan dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Keterbatasan akses terhadap fasilitas kebugaran ternyata tidak menghentikan masyarakat untuk tetap berolahraga. Sebaliknya, berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, dan TikTok mulai dimanfaatkan sebagai media latihan mandiri dari rumah. Konten kebugaran yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap perlahan berubah menjadi salah satu sumber utama informasi mengenai olahraga, mulai dari latihan beban, latihan kardio, yoga, hingga program kebugaran tanpa peralatan.

Perubahan tersebut sejalan dengan temuan Vancini dan tim penelitinya dalam jurnal berjudul "YouTube as a Source of Information About Physical Exercise During COVID-19 Outbreak". Penelitian tersebut menunjukkan bahwa media sosial berperan penting sebagai sarana promosi aktivitas fisik karena mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, serta minat masyarakat untuk menjalani gaya hidup yang lebih aktif. Platform digital tidak lagi berfungsi sekadar sebagai ruang berbagi informasi, tetapi juga berkembang menjadi media edukasi kebugaran yang memungkinkan masyarakat tetap berolahraga meskipun berada di tengah pembatasan aktivitas.

Ilustrasi alat-alat fitnes. (Sumber: Pexels | Foto: Arturo EG)
Ilustrasi alat-alat fitnes. (Sumber: Pexels | Foto: Arturo EG)

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan berolahraga dari rumah tidak lagi sekadar menjadi respons terhadap situasi pandemi. Aktivitas tersebut perlahan berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang menempatkan kesehatan sebagai investasi jangka panjang. Dalam konteks ini, pandemi dapat dipahami sebagai titik balik yang mempercepat tumbuhnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebugaran. Aktivitas fisik kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan yang dapat ditunda, melainkan sebagai kebutuhan yang berkontribusi terhadap kesehatan fisik maupun mental.

Perubahan cara pandang terhadap pentingnya aktivitas fisik tidak berhenti pada kebiasaan berolahraga dari rumah. Seiring meredanya pandemi, kesadaran tersebut juga mengubah cara masyarakat memanfaatkan berbagai fasilitas kebugaran, terutama gym. Jika sebelumnya gym lebih sering diasosiasikan sebagai tempat latihan beban atau pembentukan tubuh, kini fasilitas tersebut semakin dipahami sebagai bagian dari ekosistem yang mendukung gaya hidup sehat.

Perubahan cara pandang tersebut juga sejalan dengan perkembangan makna gym itu sendiri. Secara etimologis, istilah gym berasal dari kata Yunani Kuno gymnasium, yaitu tempat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan fisik sekaligus intelektual. Dalam perkembangannya, gym modern tidak lagi terbatas pada fasilitas latihan beban, tetapi juga mengakomodasi berbagai aktivitas kebugaran seperti aerobik, yoga, zumba, hingga latihan fungsional. Karena itu, gym pada masa kini lebih tepat dipahami sebagai ruang yang mendukung kesehatan dan kebugaran masyarakat secara menyeluruh, bukan semata-mata sebagai tempat membentuk tubuh secara estetis.

Perubahan cara pandang terhadap gym berlangsung seiring meningkatnya konsumsi konten kebugaran di media sosial. Setelah fasilitas olahraga kembali beroperasi, minat masyarakat terhadap aktivitas kebugaran tidak menunjukkan penurunan yang berarti. Sebaliknya, kebiasaan yang terbentuk selama pandemi terus berlanjut dan diperkuat oleh kehadiran berbagai fitness influencer di Instagram, TikTok, dan YouTube. Melalui unggahan mengenai rutinitas latihan, pola makan sehat, hingga transformasi tubuh, mereka membuat informasi tentang kebugaran semakin mudah diakses oleh berbagai kalangan.

Fenomena tersebut didukung oleh penelitian Wenjia Li berjudul The Impact of Fitness Influencers on a Social Media Platform on Exercise Intention during the COVID-19 Pandemic: The Role of Parasocial Relationships. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa popularitas fitness influencer justru meningkat ketika aktivitas fisik masyarakat global secara umum mengalami penurunan. Temuan ini mengindikasikan bahwa media sosial berperan penting dalam menjaga minat masyarakat terhadap olahraga, bahkan ketika akses terhadap ruang-ruang kebugaran masih terbatas.

Pengaruh fitness influencer tidak hanya tercermin dari besarnya jumlah pengikut yang mereka miliki, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan parasosial (parasocial relationship) dengan audiens. Hubungan tersebut menciptakan kedekatan emosional yang membuat pengikut merasa memperoleh motivasi, dukungan, dan pendampingan meskipun interaksi yang terjadi bersifat satu arah. Dalam konteks kebugaran, hubungan parasosial berkontribusi terhadap meningkatnya motivasi individu untuk memulai maupun mempertahankan kebiasaan berolahraga secara konsisten.

Perubahan perilaku tersebut sejalan dengan pandangan Ade Rai yang dikutip dalam penelitian Maysizar berjudul Trend Gaya Hidup Sehat di Fitness Center (Studi tentang Gaya Hidup Sehat Gym di Fitness Center Empire Kota Bandar Lampung). Penelitian tersebut menjelaskan bahwa sekitar satu dekade lalu kesehatan belum memiliki nilai komersial yang kuat dalam industri kebugaran. Seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan penampilan, aktivitas kebugaran mulai diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup modern. Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa gym tidak lagi dipahami semata mata sebagai tempat berolahraga, tetapi juga sebagai ruang yang merepresentasikan budaya hidup sehat.

Perubahan cara pandang ini paling jelas terlihat pada generasi muda. Bagi sebagian anak muda, gym telah berkembang menjadi ruang untuk membangun identitas diri, menjalin relasi sosial, sekaligus mengekspresikan gaya hidup. Paparan konten kebugaran yang terus hadir di media sosial membuat tren tersebut semakin cepat menyebar, terutama di kalangan generasi yang tumbuh bersama Instagram, TikTok, dan YouTube. Meski demikian, perkembangan ini juga menghadirkan pertanyaan yang patut dikaji lebih lanjut. Apakah meningkatnya minat terhadap gym benar-benar berangkat dari kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan, atau justru lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan untuk mengikuti tren dan memperoleh pengakuan sosial di ruang digital? Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi penting untuk memahami apakah budaya kebugaran yang berkembang saat ini akan bertahan sebagai investasi kesehatan jangka panjang atau hanya menjadi bagian dari dinamika tren yang terus berubah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pajar Dwi Sanjaya
Saya adalah mahasiswa Ilmu Sejarah yang memiliki Minat terhadap Bidang Sosial, Politik, Geografi, Teknologi, Geopolitik, Pariwisata, Kuliner dan Gastronomi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 18:02

Risiko Kenaikan Suhu Ekstrem di Bandung

Bandung yang sejak dulu dikenal berhawa sejuk, kini harus mawas diri terhadap perubahan suhu ekstrem. Bagaimana dampaknya terhadap kehidupan.

Seorang anak berjalan di sawah yang mengalami kekeringan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 17:37

Tyson, Bullying, Bandung

Kenangan terhadap Mike Tyson petinju sohor dan fenomenal meraih empat sabuk juara dunia WBC, WBO, WBA dan IBF

Mike Tyson. (Sumber: Flickr | Foto: Eduardo Merille)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 17:06

Tubuh sebagai Prioritas: Kausalitas Pandemi Covid-19 dan Kebangkitan Tren Fitness di Kalangan Anak Muda

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. Kondisi ini mendorong kebangkitan tren fitness sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan investasi jangka panjang.

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. (Sumber: Pexels | Foto: Marta Nogueira)
Wisata & Kuliner 14 Jul 2026, 16:54

Kelezatan Coto Makassar, Empat Puluh Rempah dari Kerajaan Gowa untuk Semua Orang

Kenali sejarah Coto Makassar dari era Kerajaan Gowa, filosofi 40 rempah, kuah air tajin, hingga rekomendasi warung legendaris yang wajib dicoba.

Coto Makassar.
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:34

Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD, Birokrasi dan Pelayanan Publik Terancam?

Belanja pegawai sebesar 30% dari APBD sering dipandang sebagai indikator tingginya beban birokrasi terhadap kapasitas fiskal daerah.

Ilustrasi. (Sumber: Created by gpt)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:16

Semangat Intelektual Remy Sylado Bergema di UNISBA

Bagi Remy Sylado bahasa tidak pernah sekadar menjadi alat komunikasi.

Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 15:15

Pentingnya Merawat Imajinasi untuk Memahami Literasi

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis.

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 14:47

Mewujudkan MPLS yang Ramah dan Nyaman untuk Anak

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bertujuan mengajak siswa mengenal lingkungan sekolah sebelum akhirnya menjalani hari-hari dengan baik dan menyenangkan di sekolah.

Sejumlah siswa dari SMP-SMA Advent Cimindi memunguti sampah di Jalan Babakan Cianjur, Kota Bandung, saat para mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) 2023-2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 14 Jul 2026, 14:00

Malam Jalan Soekarno-Hatta Bandung yang Tak Tidur

Jalan Soekarno-Hatta Bandung tetap ramai hingga dini hari, dari lalu lintas, balap liar, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Suasana malam di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 10:54

Asyiknya Menggambar, Mewarnai, dan Merawat Imajinasi

Setiap gambar memiliki cerita, dan setiap kisah layak untuk didengarkan dan disuarakan. Terlebih di tengah-tengah derasnya arus media informasi dan kecanduan gawai.

Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)