Bandung -- sebagai ibukota Jawa Barat -- hampir tidak pernah kehabisan ide. Setiap beberapa periode muncul gagasan baru tentang bagaimana kota ini harus dikenang.
Ada yang ingin meninggalkan bangunan ikonik. Ada yang menghadirkan taman-taman tematik. Ada yang membangun ruang publik baru. Ada pula yang memperkuat citra Bandung dengan menonjolkan aspek tertentu.
Semua itu, tentu memiliki nilai. Kota memang membutuhkan identitas. Lewat identitas, sebuah kota mudah dikenali dan memiliki daya pesona.
Namun, pertanyaannya adalah: apakah kota yang mudah dikenali senantiasa menjadi kota yang nyaman ditinggali?
Pertanyaan itu penting diapungkan lantaran politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan.
Kepentingan pertama adalah membangun citra kota. Adapun kepentingan kedua yaitu mengelola kehidupan kota sehari-hari.
Keduanya sama-sama penting, tetapi tidak selalu memperoleh perhatian yang seimbang.
Identitas dan pengelolaan
Dalam ilmu perencanaan kota, dikenal dua istilah yang kian populer, yaitu city branding dan city management.
City branding berusaha membentuk identitas kota. Ia bersinggungan dengan reputasi, daya tarik investasi, pariwisata, ekonomi kreatif, dan bagaimana sebuah kota dipersepsikan oleh dunia luar.
Sebaliknya, city management bersinggungan dengan tata kelola. Contohnya, mengelola drainase, menata lalu lintas, memelihara trotoar, mengangkut sampah, merawat taman, memastikan air bersih tersedia, lampu jalan berfungsi, dan ruang publik tetap aman digunakan.
Ironinya, justru pekerjaan yang paling menentukan kualitas hidup warga sering kali paling sedikit mendapat perhatian.
Orang baru menyadari pentingnya tata kelola manakala banjir datang, kemacetan memburuk, sampah menumpuk, atau trotoar berubah fungsi.
Politik dan perencanaan kota
Politik, seperti sama kita ketahui, memiliki logikanya sendiri. Pemimpin dipilih dalam siklus yang relatif pendek -- lima tahunan. Karena itu, selalu ada dorongan untuk menghadirkan hasil yang cepat terlihat.
Sebuah bangunan baru lebih mudah difoto daripada sistem drainase yang bekerja baik. Sebuah plaza atau gerbang baru lebih mudah diresmikan daripada tata kelola lalu lintas yang membaik secara bertahap.
Di sinilah muncul ketegangan antara politik dan perencanaan kota. Politik sering berpikir dalam hitungan masa jabatan. Kota justru tumbuh dalam hitungan puluhan bahkan ratusan tahun.
Bandung sendiri memahami pentingnya identitas. Sejak lama kota ini dikenal sebagai kota pendidikan, kota kreatif, kota mode, sekaligus tujuan wisata. Reputasi tersebut menjadi modal yang sangat berharga.
Namun, identitas yang kuat tidak otomatis membuat kehidupan sehari-hari warga menjadi lebih nyaman. Warga tetap harus menghadapi persoalan yang sangat konkret. Misalnya, waktu tempuh menuju tempat kerja, kualitas udara, kondisi trotoar, ruang hijau, dan pengelolaan lingkungan.
Bagi seorang wisatawan, ikon kota mungkin menjadi pengalaman utama. Tapi, bagi warga, pengalaman kota justru dibentuk oleh rutinitas yang diulang setiap hari dan dirasakan.
Seorang warga tidak mengukur kualitas kotanya dari seberapa banyak bangunan ikonik yang berdiri. Ia mengukurnya dari berapa lama terjebak macet, apakah anaknya dapat berjalan ke sekolah dengan aman, atau apakah taman publik di lingkungan permukimannya tetap terawat.
Karena itu, ukuran keberhasilan kota tidak selalu sama dengan ukuran keberhasilan politik.
Simbol dan sistem
Politik, di mana pun, sering membutuhkan simbol. Adapun kota membutuhkan sistem.
Simbol memang memiliki fungsi. Ia membangun kebanggaan kolektif. Ia memperkuat identitas. Ia bahkan dapat menggerakkan ekonomi melalui pariwisata.
Akan tetapi, simbol tidak boleh menggantikan sistem. Sebab, kota tidak dihuni oleh wisatawan selamanya. Kota dihuni oleh warga selama puluhan tahun.
Kota yang baik bukanlah kota yang paling spektakuler. Kota yang baik adalah kota yang paling mudah dijalani. Warganya dapat bergerak dengan efisien, memperoleh pelayanan publik yang dapat diandalkan, serta menikmati ruang bersama yang terawat.
Itulah sebabnya banyak kota yang sering dijadikan contoh ideal tidak selalu dipenuhi bangunan yang mencolok. Yang justru menonjol adalah konsistensi pelayanan publik, transportasi yang terintegrasi, ruang terbuka yang mudah diakses, serta tata kelola yang mampu bertahan melampaui pergantian pemimpin.
Hal tersebut berlaku juga bagi Bandung. Tantangan terbesar kota ini mungkin bukan bagaimana menciptakan ikon-ikon berikutnya yang spektakuler, melainkan bagaimana memastikan seluruh elemen kota bekerja sebagai satu sistem yang saling mendukung.
Kemacetan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pelebaran jalan atau membangun jalan layang. Persoalan itu berkaitan dengan tata guna lahan, angkutan umum, pola perjalanan, hingga penyediaan ruang bagi pejalan kaki dan pesepeda.
Begitu pula banjir. Ia bukan sekadar persoalan saluran air, melainkan juga menyangkut ruang resapan, perubahan penggunaan lahan, pemeliharaan infrastruktur, dan koordinasi antarwilayah di kawasan metropolitan Bandung.
Artinya, kualitas sebuah kota lahir dari kemampuan melihat hubungan antarpersoalan, bukan menyelesaikan satu demi satu persoalan secara sektoral.
Maka, tata kelola menjadi jauh lebih penting daripada proyek. Proyek memiliki tanggal peresmian. Tata kelola tidak pernah selesai. Ia berlangsung setiap hari, bahkan ketika tidak ada kamera yang menyorot.
Karena itu, keberhasilan seorang kepala daerah seharusnya tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun, tetapi juga dari sistem yang tetap bekerja setelah masa jabatannya berakhir.

Bergantung pada figur
Sistem yang baik membuat kota tetap berfungsi meskipun pemimpinnya berganti. Sebaliknya, jika kota terlalu bergantung pada figur, setiap pergantian kepemimpinan berisiko mengubah arah kebijakan pembangunan dan selalu memulai kembali dari awal.
Bandung sesungguhnya memiliki modal yang tidak dimiliki banyak kota. Ia punya sejarah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan masyarakat yang peduli terhadap ruang hidupnya.
Modal tersebut seharusnya menjadi fondasi untuk membangun tata kelola yang semakin matang, bukan sekadar untuk memperkuat citra.
Jujur saja, warga tidak setiap hari membutuhkan sesuatu yang dapat dipotret. Mereka lebih membutuhkan sesuatu yang dapat dirasakan. Jalan yang aman, udara yang lebih bersih, angkutan umum yang dapat diandalkan, taman yang teduh, trotoar yang nyaman, serta pelayanan publik prima.
Barangkali di situlah letak perbedaan paling mendasar antara city branding dan city management.
Yang pertama membuat orang ingin datang ke Bandung. Yang kedua membuat orang ingin tetap tinggal di Bandung.
Dan bagi sebuah kota, keinginan warganya untuk terus tinggal dengan nyaman adalah ukuran keberhasilan yang jauh lebih mendasar daripada seberapa sering kota itu menjadi latar foto atau perbincangan di medsos. (*)