Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih. sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)

Bandung -- sebagai ibukota Jawa Barat -- hampir tidak pernah kehabisan ide. Setiap beberapa periode muncul gagasan baru tentang bagaimana kota ini harus dikenang. 

Ada yang ingin meninggalkan bangunan ikonik. Ada yang menghadirkan taman-taman tematik. Ada yang membangun ruang publik baru. Ada pula yang memperkuat citra Bandung dengan menonjolkan aspek tertentu.

Semua itu, tentu memiliki nilai. Kota memang membutuhkan identitas. Lewat identitas, sebuah kota mudah dikenali dan memiliki daya pesona.

Namun, pertanyaannya adalah: apakah kota yang mudah dikenali senantiasa menjadi kota yang nyaman ditinggali?

Pertanyaan itu penting diapungkan lantaran politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan. 

Kepentingan pertama adalah membangun citra kota. Adapun kepentingan kedua yaitu mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Keduanya sama-sama penting, tetapi tidak selalu memperoleh perhatian yang seimbang.

Identitas dan pengelolaan

Dalam ilmu perencanaan kota, dikenal dua istilah yang kian populer, yaitu city branding dan city management.

City branding berusaha membentuk identitas kota. Ia bersinggungan dengan reputasi, daya tarik investasi, pariwisata, ekonomi kreatif, dan bagaimana sebuah kota dipersepsikan oleh dunia luar.

Sebaliknya, city management bersinggungan dengan tata kelola. Contohnya, mengelola drainase, menata lalu lintas, memelihara trotoar, mengangkut sampah, merawat taman, memastikan air bersih tersedia, lampu jalan berfungsi, dan ruang publik tetap aman digunakan.

Ironinya, justru pekerjaan yang paling menentukan kualitas hidup warga sering kali paling sedikit mendapat perhatian. 

Orang baru menyadari pentingnya tata kelola manakala banjir datang, kemacetan memburuk, sampah menumpuk, atau trotoar berubah fungsi.

Politik dan perencanaan kota

Politik, seperti sama kita ketahui, memiliki logikanya sendiri. Pemimpin dipilih dalam siklus yang relatif pendek -- lima tahunan. Karena itu, selalu ada dorongan untuk menghadirkan hasil yang cepat terlihat. 

Sebuah bangunan baru lebih mudah difoto daripada sistem drainase yang bekerja baik. Sebuah plaza atau gerbang baru lebih mudah diresmikan daripada tata kelola lalu lintas yang membaik secara bertahap.

Di sinilah muncul ketegangan antara politik dan perencanaan kota. Politik sering berpikir dalam hitungan masa jabatan. Kota justru tumbuh dalam hitungan puluhan bahkan ratusan tahun.

Bandung sendiri memahami pentingnya identitas. Sejak lama kota ini dikenal sebagai kota pendidikan, kota kreatif, kota mode, sekaligus tujuan wisata. Reputasi tersebut menjadi modal yang sangat berharga.

Namun, identitas yang kuat tidak otomatis membuat kehidupan sehari-hari warga menjadi lebih nyaman. Warga tetap harus menghadapi persoalan yang sangat konkret. Misalnya, waktu tempuh menuju tempat kerja, kualitas udara, kondisi trotoar, ruang hijau, dan pengelolaan lingkungan.

Bagi seorang wisatawan, ikon kota mungkin menjadi pengalaman utama. Tapi, bagi warga, pengalaman kota justru dibentuk oleh rutinitas yang diulang setiap hari dan dirasakan.

Seorang warga tidak mengukur kualitas kotanya dari seberapa banyak bangunan ikonik yang berdiri. Ia mengukurnya dari berapa lama terjebak macet, apakah anaknya dapat berjalan ke sekolah dengan aman, atau apakah taman publik di lingkungan permukimannya tetap terawat.

Karena itu, ukuran keberhasilan kota tidak selalu sama dengan ukuran keberhasilan politik.

Simbol dan sistem

Politik, di mana pun, sering membutuhkan simbol. Adapun kota membutuhkan sistem.

Simbol memang memiliki fungsi. Ia membangun kebanggaan kolektif. Ia memperkuat identitas. Ia bahkan dapat menggerakkan ekonomi melalui pariwisata.

Akan tetapi, simbol tidak boleh menggantikan sistem. Sebab, kota tidak dihuni oleh wisatawan selamanya. Kota dihuni oleh warga selama puluhan tahun.

Kota yang baik bukanlah kota yang paling spektakuler. Kota yang baik adalah kota yang paling mudah dijalani. Warganya dapat bergerak dengan efisien, memperoleh pelayanan publik yang dapat diandalkan, serta menikmati ruang bersama yang terawat.

Itulah sebabnya banyak kota yang sering dijadikan contoh ideal tidak selalu dipenuhi bangunan yang mencolok. Yang justru menonjol adalah konsistensi pelayanan publik, transportasi yang terintegrasi, ruang terbuka yang mudah diakses, serta tata kelola yang mampu bertahan melampaui pergantian pemimpin.

Hal tersebut berlaku juga bagi Bandung. Tantangan terbesar kota ini mungkin bukan bagaimana menciptakan ikon-ikon berikutnya yang spektakuler, melainkan bagaimana memastikan seluruh elemen kota bekerja sebagai satu sistem yang saling mendukung.

Kemacetan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pelebaran jalan atau membangun jalan layang. Persoalan itu berkaitan dengan tata guna lahan, angkutan umum, pola perjalanan, hingga penyediaan ruang bagi pejalan kaki dan pesepeda.

Begitu pula banjir. Ia bukan sekadar persoalan saluran air, melainkan juga menyangkut ruang resapan, perubahan penggunaan lahan, pemeliharaan infrastruktur, dan koordinasi antarwilayah di kawasan metropolitan Bandung.

Artinya, kualitas sebuah kota lahir dari kemampuan melihat hubungan antarpersoalan, bukan menyelesaikan satu demi satu persoalan secara sektoral.

Maka, tata kelola menjadi jauh lebih penting daripada proyek. Proyek memiliki tanggal peresmian. Tata kelola tidak pernah selesai. Ia berlangsung setiap hari, bahkan ketika tidak ada kamera yang menyorot.

Karena itu, keberhasilan seorang kepala daerah seharusnya tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dibangun, tetapi juga dari sistem yang tetap bekerja setelah masa jabatannya berakhir.

Bergantung pada figur

Sistem yang baik membuat kota tetap berfungsi meskipun pemimpinnya berganti. Sebaliknya, jika kota terlalu bergantung pada figur, setiap pergantian kepemimpinan berisiko mengubah arah kebijakan pembangunan dan selalu memulai kembali dari awal.

Bandung sesungguhnya  memiliki modal yang tidak dimiliki banyak kota. Ia punya sejarah, perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan masyarakat yang peduli terhadap ruang hidupnya. 

Modal tersebut seharusnya menjadi fondasi untuk membangun tata kelola yang semakin matang, bukan sekadar untuk memperkuat citra.

Jujur saja, warga tidak setiap hari membutuhkan sesuatu yang dapat dipotret. Mereka lebih membutuhkan sesuatu yang dapat dirasakan. Jalan yang aman, udara yang lebih bersih, angkutan umum yang dapat diandalkan, taman yang teduh, trotoar yang nyaman, serta pelayanan publik prima.

Barangkali di situlah letak perbedaan paling mendasar antara city branding dan city management

Yang pertama membuat orang ingin datang ke Bandung. Yang kedua membuat orang ingin tetap tinggal di Bandung. 

Dan bagi sebuah kota, keinginan warganya untuk terus tinggal dengan nyaman adalah ukuran keberhasilan yang jauh lebih mendasar daripada seberapa sering kota itu menjadi latar foto atau perbincangan di medsos. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)