Pustakawan hari ini hadir tidak sekadar menjaga buku. Sebagai seorang yang terus menghadirkan referensi buku yang terbaru. Pustakawan bertransformasi perannya. Penjaga buku yang menjadikannya sebagai kurator informasi dan navigator digital di era ombak informasi yang sangat cepat.
Penyeleksi yang berkewajiban membentengi masyarakat dari gempuran misinformasi yang setiap waktunya mengancam keberadaan keilmuan di tengah masyarakat.
Keberadaan konten yang instan dan ketidakcermatan masyarakat memunculkan kesan bahwa membaca secara mendalam masih menjadi keharusan dan menjadi ruang kosong yang siap diabaikan atau dijaga keberadaannya. Pelindung ketersediaan buku dengan maksud agar masyarakat dapat menggunakan waktunya tidak sekadar sadar tapi menjiwai tentang pentingnya buku fisik dan buku digital.
Sedangkan masyarakat untuk mewaspadainya memerlukan seorang yang aktif di bidang perbukuan, seorang yang mendominasi jejak literasi hingga memberikan akses lengkap kepada masyarakat.
Pertahanan melawan hoaks yang merajalela tersebut dibutuhkan pendekatan yang konstruktif dan menitikberatkan kepada masyarakat untuk selalu hati-hati menggunakan teknologi.
Pustakawan mau tidak mau mengeluarkan keterampilan dan gagasannya di tengah penurunan daya juang masyarakat dalam membaca informasi dan buku-buku.
Bahkan berdasarkan laporan dari PISA tahun 2022 bahwa Indonesia masih menempati peringkat yang kritis memerlukan penanganan karena literasi baca di masyarakat belum sebagai kebutuhan dasar.
Pukulan Telak
Ibaratnya bertanding tinju di ring, keberadaan profesi pustakawan mendapatkan pukulan telak dari pelbagai arah yang tak pasti.
Pustakawan tidak bisa dianggap sebagai profesi yang mudah. Gerbang ilmu pengetahuan berada di dalam kecakapan hidupnya. Teknologi kecerdasan buatan dan manajemen perpustakaan digital wajib dikuasainya. Bukan melulu dianggap penjaga buku kuno, tetapi sebagai fasilitator yang aktif bagi komunitas maupun individu. Modernitas perbukuan digital yang berkembang mesti dibentuk manajemen terbaik oleh pustakawan.
Beradaptasi menyajikan layanan modern di tengah kondisi yang tidak menentu ini memang dilematis.
Pustakawan yang dianggap sebagai agen keilmuan perlu melakukan pekerjaannya dengan ekstra. Ekspektasi tingginya berkaitan konsep dasar bagi masyarakat dalam membaca.
Sedangkan membaca cepat di media sosial sebagai adiksi negatif yang sering masyarakat lakukan yang berdasar penelitian cepat pula merusak kemampuan otak.
Inilah yang perlu direkognisi kembali bahwa pustakawan memerlukan kekuatan yang besar untuk mengembangkan konsepnya dalam melakukan pukulan telak kepada masyarakat untuk selalu menyenangi kegiatan membacanya.
Akses dan Kontrol

Benarkah internet tidak menjangkau ke pelosok negeri dan masyarakat kurang mengakses informasi dan buku bacaan?
Akses dalam bentuk internet pada dasarnya sudah menjadi kendala yang dihadapi dan belum ada penanganan yang intensif. Akses internet di pedalaman berbeda dengan akses internet di perkotaan. Meski akses ini masih jadi pekerjaan rumah pemerintah.
Akses lainnya misalkan, infrastruktur untuk mendirikan perpustakaan di pelosok, perpustakaan yang memadai untuk mendorong pertumbuhan masyarakat dalam minat membacanya.
Perpustakaan bukanlah hal baru, tetapi kewajiban pemerintah menghadirkan buku bacaan tersedia segera. Perpustakaan di wilayah, perpustakaan yang tidak menyediakan fisik bangunannya, tetapi buku bacaan lengkap.
Selain itu, pustakawan wajib bereaksi dengan tepat. Buku-buku didesain untuk membuat masyarakat senang membaca. Tidak hanya sekadar pajangan di rak buku. Selain itu perpustakaan bukan disekat atau dianggap tempat angker. Tetapi pustakawan dengan berkolaborasi bersama pemerintah desa membuat perpustakaan semakin nyaman, dengan membuat beberapa spot yang asyik buat pembaca buku.
Selanjutnya kontrol yang ketat dengan membuat standar operasional prosedur selengkap mungkin. Kontrol ini dapat berupa asesmen kinerja dan portofolio. Asesmen kinerja ini berhubungan dengan pustakawan dan membuat survei penilaian dari pembaca. Sehingga pustakawan memeroleh kesejahteraan yang tepat.
Hybrid Library
Perjuangan pustakawan masih panjang. Konsep perpustakaan yang dihadirkan oleh pustakawan dengan hybrid library. Perpustakaan tidak lagi menjadi menara gading.
Perpustakaan yang dihadirkan di setiap tempat, wilayah, atau di tempat publik membuat nyaman masyarakat untuk membaca buku.
Perpustakaan digawangi pustakawan kreatif dengan membuat beberapa kegiatan yang produktif misalnya, membuat perlombaan literasi baca tulis, numerasi. Perlombaan yang menarik akan disukai pembaca. Lomba resensi buku, bedah buku rutin, bekerjasama dengan pemerintah desa, camat, RT dan RW, memudahkan masyarakat mendapatkan referensi buku.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan masyarakat tergugah dan termotivasi menyenangi kebiasaan membaca, dengan cara sederhana ini akan menumbuhkan semangat membaca secara mendalam, membiasakan berpikir kritis dengan membaca. Menghadirkan keluarga yang bangga dengan buku-buku.
Gerakan ini menjadi bagian dari program pustakawan. Perjuangan yang tidak kenal lelah dan pustakawan pasti berharap agar masyarakat membaca buku bukan selingan tetapi kewajiban. Kelakarnya, meskipun anggaran untuk pustakawan dan perpustakaan tetapi membaca buku bergizi gratis sama pentingnya dengan menerima makan bergizi gratis. (*)