Kawasan Ciwidey di bandung selatan menawarkan keindahan alam yang tenang dengan perkebunan yang asri dan bukit-bukit. Hal Itu menjadi kebanggaan dan anugerah yang tak bisa dipungkiri menuntut rasa syukur.
Ditengah keindahan itu terbentang sebuah jalur kereta api yang meninggalkan kesan historis. Rel yang kini mangkrak menjadi titik balik sejarah sebagai memori kolektif bagi masyarakat. Rel kereta itu memiliki panjang kurang lebih 40km, hal itu menjadi titik awal kemajuan transportasi. Rel kereta yang membentang itu dibangun pada tahun 1917-1924 oleh pemerintahan belanda.
Belanda memiliki kekuasaan penuh atas pembang dan pemanfaatan rel dan pribumi dijadikan alat untuk membangun infrastruktur. Rel dimanfaatkan untuk mengangkut hasil perkebunan berupa the dan kina untuk kemudian didistribusikan ke daerah perkotaan.
Kehidupan pribumi sebelum pembangunan rel, berjalan secara mandiri dengan sumber daya alam yang ada. Mata pencaharian masyarakat disana memanfaatkan potensi agraria sepenuhnya. Sehingga menjadi ciri utama masyarakat yaitu bergantung pada alam.
Namun ketika rel telah dibangun terjadi perubahan yang signifikan terutama dalam bidang ekonomi. Masyarakat tetap bertani namun diperuntukkan untuk kolonial, sebagian lagi bekerja untuk pembangunan rel kereta dengan kerja paksa dan upah seadanya.
Pembangunan rel kereta api Ciwidey menjadi sebuah kemajuan transportasi. Distribusi hasil kebun menjadi mudah di akses dengan adanya itu. Namun disisi lain hal itu berdampak kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat di Ciwidey yang dikuasai oleh kolonial Belanda.
Hasil bumi yang diperjuangkan oleh para petani, dieksploitasi. Tak hanya itu pembangunan dan perawatan rel ker pun menjadi bahan eksploitasi masyarakat pribumi. (*)