Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

7 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Pernahkah Anda membuka lemari pakaian lalu menemukan baju yang bahkan lupa pernah dibeli? Atau pakaian yang baru sekali dipakai, lalu tersisih karena tren sudah berganti? Bagi banyak orang, itu mungkin hanya perkara kebiasaan belanja. Namun, bagi sejumlah pegiat lingkungan di Bandung, isi lemari ternyata menyimpan jejak krisis yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Isu itulah yang dibongkar dalam pemutaran film dokumenter Menolak Punah produksi Watchdogs yang digelar di kafe estetik favorit anak muda, Tjap Sahabat, kawasan Tjibadak, Bandung, hari Minggu lalu. Diinisiasi kolaborasi lintas generasi antara kelompok ibu-ibu Mama Mingle (DigitalMamaID) dan perempuan muda usia 18–24 tahun yang tergabung dalam Kutub Sisters, pemutaran film ini menjelma menjadi ruang refleksi tentang gaya hidup masyarakat urban.

Bagi penggagas acara dari DigitalMamaID, Catur Ratna Wulandari, isu fesyen sengaja dipilih karena Bandung dikenal sebagai salah satu kiblat mode di Indonesia. Selain itu, persoalan ini sangat dekat dengan kehidupan perempuan dan ibu rumah tangga.

"Tahun ini DigitalMamaID memang fokus mengomunikasikan isu lingkungan. Ketika tahu ada film ini, kami merasa sangat relate karena fesyen itu dekat sekali dengan perempuan. Industri ini juga termasuk yang paling gacor dan terus berkembang pesat. Bahkan saat situasi ekonomi sedang sulit, lini fesyen dan kosmetik tetap jalan," ujar Catur usai pemutaran film.

Penyakit Check Out Sambil Rebahan dan Ongkos 2.700 Liter Air

Celakanya, menurut Catur, pesatnya industri ini justru didorong oleh lahirnya tren fast fashion yang menawarkan pakaian massal dengan harga murah. Kehadiran platform belanja daring dan algoritma pasar digital membuat masyarakat semakin mudah mengonsumsi sandang tanpa banyak pertimbangan.

"Sekarang produk fesyen semakin murah dan semakin mudah dijangkau. Orang tidak perlu datang ke toko. Sambil rebahan malam-malam karena enggak bisa tidur juga bisa check out keranjang belanjaan. Ada promo tanggal kembar, ada hari belanja nasional terus-menerus. Akhirnya orang membeli bukan karena butuh, tapi karena merasa mampu dan sayang kalau tidak membeli," kritiknya.

Fenomena psikologis ini perlahan mengikis kebiasaan berbelanja secara sadar atau mindful shopping. Pakaian dibeli dalam jumlah besar, dipakai sekali demi formalitas foto di media sosial, lalu berakhir menjadi tumpukan kain yang tak lagi tersentuh.

Dalam dokumenter tersebut dipaparkan fakta yang mencengangkan. Untuk memproduksi satu kaus katun, dibutuhkan sekitar 2.700 liter air. Jumlah itu setara dengan kebutuhan air minum satu orang selama 3,5 tahun.

Ketika pola konsumsi seperti ini menjangkiti kebutuhan domestik, misalnya pembelian pakaian anak, dampaknya menjadi berlipat.

"Baju bayi itu umur pakainya pendek sekali, kurang dari tiga bulan. Banyak ibu-ibu yang akhirnya sadar mereka punya gunungan baju anak yang bahkan belum pernah sempat dipakai satu kali pun karena fisik anaknya keburu besar. Itu problem nyata yang terjadi di Bandung," tutur Catur.

Tumpukan pakaian yang mubazir ini menjadi ironi ketika masyarakat diajak berbicara tentang krisis iklim.

"Kadang kalau bicara krisis iklim, orang merasa itu terlalu jauh di langit, seperti suhu bumi meningkat. Mereka merasa it's not my problem. Padahal keputusan domestik seperti membeli baju yang tidak dibutuhkan malam ini adalah penyumbang emisi nyata yang menjadi tanggung jawab kita," tambahnya.

Catur Ratna Wulandari menilai perubahan gaya hidup sehari-hari dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri fesyen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Catur Ratna Wulandari menilai perubahan gaya hidup sehari-hari dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri fesyen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Dilema Ruang Publik dan Stigma "Baju Itu-Itu Saja"

Persoalan lingkungan semakin rumit karena keinginan menahan diri untuk tidak membeli pakaian baru sering kali berbenturan dengan stigma sosial.

Hal itu dirasakan oleh Siti Latifah (32), atau yang akrab disapa Teh Puput.

Sebagai anggota komunitas Kutub.co sekaligus dosen di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Puput dituntut untuk selalu tampil rapi di depan mahasiswa dan kolega.

"Aku sendiri merasakan dilema sosiologisnya. Sebagai dosen dan orang yang setiap hari keluar rumah bertemu banyak orang, di lingkungan kita itu masih sering ada komentar nyinyir seperti, 'kok bajunya itu-itu aja?' atau 'kok ganti harinya pakai baju yang sama?' Stigma seperti itu nyata ada dan kerap menghakimi perempuan di ruang publik," ungkap Puput.

Tekanan sosial itulah yang secara psikologis mendorong banyak perempuan urban terus membeli pakaian baru berbahan poliester sintetis murah demi menjaga citra sosial.

Padahal, menurut Puput, berpakaian rapi dan profesional sama sekali tidak berkorelasi dengan memiliki baju baru. Dokumenter Menolak Punah mencatat bahwa dalam satu kali proses pencucian pakaian sintetis, sekitar 700.000 partikel mikroplastik dapat terlepas dan mencemari lingkungan perairan.

Puput mengakui bahwa sebagai individu, meruntuhkan sistem kapitalisme industri tekstil yang eksploitatif bukan perkara mudah. Namun, ia percaya perubahan selalu bisa dimulai dari kesadaran pribadi.

"Kita memang tidak bisa langsung mengubah sistem besar di atas yang sudah susah ini. Tapi yang bisa kita lakukan adalah mulai dari kesadaran individu: beli kalau memang butuh, bukan karena lapar mata akibat promo. Dan kalau mau mengeluarkan baju lama, pastikan disalurkan ke tangan orang yang benar-benar membutuhkan agar menjadi manfaat, bukan mudarat atau sampah baru," tegasnya.

Ironi Simbol "Padi dan Kapas" yang 99 Persen Impor

Bagi gerakan perempuan di Bandung, persoalan sandang tidak bisa berhenti pada perubahan gaya hidup semata. Ada benang merah yang menghubungkannya dengan kebijakan negara.

Dalam diskusi pasca-pemutaran film, muncul ironi yang cukup menohok. Sejak awal berdirinya republik, bangsa Indonesia menggunakan simbol "Padi dan Kapas" dalam Sila Kelima Pancasila sebagai lambang kemakmuran pangan dan sandang. Simbol itu hadir di berbagai lambang lembaga negara, mulai dari pemerintah daerah hingga institusi nasional.

Namun kenyataannya berbeda.

Dokumenter tersebut mengungkap bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 99 persen kebutuhan kapas untuk industri tekstil, kecantikan, dan farmasi. Artinya, produksi kapas dalam negeri hanya memenuhi sekitar 1 persen kebutuhan nasional.

Ironisnya, dalam lima tahun terakhir, program penanaman kapas justru dihapuskan.

"Bahan baku kapas kita itu ternyata hampir 100 persen impor. Kita kenal kapas hanya sebagai tanaman simbol di banyak logo lembaga kita, tapi kita tidak pernah benar-benar peduli untuk menanamnya. Saya berharap pemerintah mau lebih serius menanam kapas daripada terus-menerus membuka lahan sawit," ujar Puput.

Menelan Mikroplastik Seukuran Kartu ATM Setiap Bulan

Menempatkan konsumen sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan juga dianggap tidak adil.

Pandangan itu disampaikan Zen Ihsan (28), mahasiswa Magister UIN Sunan Gunung Djati Bandung asal Cibiru yang turut hadir dalam diskusi.

Menurut Zen, berbagai data ilmiah yang dipaparkan dalam film justru memperlihatkan betapa besar ketimpangan antara konsumen dan sistem produksi.

Ketika pakaian berbahan poliester dibuang ke tempat pembuangan akhir atau terbawa hingga ke pantai, panas dan hujan membuat material tersebut terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik. Partikel ini kemudian menyebar melalui udara, tanah, dan perairan.

Bahkan, partikel mikroplastik ditemukan oleh BRIN hingga kedalaman laut 2.450 meter.

Pada akhirnya, limbah itu kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan laut yang dikonsumsi sehari-hari.

Data yang ditampilkan dalam film menunjukkan bahwa konsumsi mikroplastik masyarakat Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, yakni rata-rata 15 gram per bulan atau setara ukuran satu kartu ATM.

"Permasalahan lingkungan itu selalu dimulai dari produsen, bukan konsumen. Konsumen hanya bisa berikhtiar di dalam sistem yang sudah buruk ini. Faktanya, kita hari ini sudah dikepung: udara mikroplastik, air mikroplastik, tanah pun mikroplastik. Bahkan riset terbaru menunjukkan mikroplastik sudah menyumbat pembuluh darah, ditemukan di 75 persen sampel ASI, hingga sperma. Jadi sering kali masyarakat ingin berubah, tetapi ruang geraknya dibatasi oleh sistem yang dibuat oleh kapital dan pemerintah," kata Zen.

Karena itu, ia menilai forum nonton bareng dan diskusi lintas komunitas memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar berbagi pengetahuan.

"Ketika gerakan sosial lingkungan ini masif dan masyarakatnya semakin cerdas serta kritis, ini akan menjadi nilai daya tawar yang tinggi di hadapan pemerintah maupun kapital industri. Mereka dipaksa tahu bahwa rakyat memperhatikan dan menuntut tanggung jawab sistemik yang lebih besar," pungkasnya.

Melalui pemutaran Menolak Punah, diskusi tentang lingkungan diharapkan tidak berhenti saat lampu ruangan kembali dinyalakan. Sebab krisis ekologis hari ini hadir dalam bentuk yang sangat dekat melalui keranjang belanja daring yang terlalu penuh, pakaian yang hanya dipakai sekali demi gengsi sosial, hingga lemari rumah yang sesak oleh barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Di tengah budaya konsumsi yang bergerak serbacepat, langkah kecil untuk menolak kepunahan mungkin bisa dimulai dari satu pertanyaan sederhana sebelum menekan tombol checkout: apakah saya benar-benar membutuhkan pakaian ini? Atau saya hanya sedang membeli sesuatu yang kelak menjadi beban bagi bumi dan generasi berikutnya?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)