Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

7 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Sabtu 13 Jun 2026, 09:16 WIB
Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Pernahkah Anda membuka lemari pakaian lalu menemukan baju yang bahkan lupa pernah dibeli? Atau pakaian yang baru sekali dipakai, lalu tersisih karena tren sudah berganti? Bagi banyak orang, itu mungkin hanya perkara kebiasaan belanja. Namun, bagi sejumlah pegiat lingkungan di Bandung, isi lemari ternyata menyimpan jejak krisis yang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Isu itulah yang dibongkar dalam pemutaran film dokumenter Menolak Punah produksi Watchdogs yang digelar di kafe estetik favorit anak muda, Tjap Sahabat, kawasan Tjibadak, Bandung, hari Minggu lalu. Diinisiasi kolaborasi lintas generasi antara kelompok ibu-ibu Mama Mingle (DigitalMamaID) dan perempuan muda usia 18–24 tahun yang tergabung dalam Kutub Sisters, pemutaran film ini menjelma menjadi ruang refleksi tentang gaya hidup masyarakat urban.

Bagi penggagas acara dari DigitalMamaID, Catur Ratna Wulandari, isu fesyen sengaja dipilih karena Bandung dikenal sebagai salah satu kiblat mode di Indonesia. Selain itu, persoalan ini sangat dekat dengan kehidupan perempuan dan ibu rumah tangga.

"Tahun ini DigitalMamaID memang fokus mengomunikasikan isu lingkungan. Ketika tahu ada film ini, kami merasa sangat relate karena fesyen itu dekat sekali dengan perempuan. Industri ini juga termasuk yang paling gacor dan terus berkembang pesat. Bahkan saat situasi ekonomi sedang sulit, lini fesyen dan kosmetik tetap jalan," ujar Catur usai pemutaran film.

Penyakit Check Out Sambil Rebahan dan Ongkos 2.700 Liter Air

Celakanya, menurut Catur, pesatnya industri ini justru didorong oleh lahirnya tren fast fashion yang menawarkan pakaian massal dengan harga murah. Kehadiran platform belanja daring dan algoritma pasar digital membuat masyarakat semakin mudah mengonsumsi sandang tanpa banyak pertimbangan.

"Sekarang produk fesyen semakin murah dan semakin mudah dijangkau. Orang tidak perlu datang ke toko. Sambil rebahan malam-malam karena enggak bisa tidur juga bisa check out keranjang belanjaan. Ada promo tanggal kembar, ada hari belanja nasional terus-menerus. Akhirnya orang membeli bukan karena butuh, tapi karena merasa mampu dan sayang kalau tidak membeli," kritiknya.

Fenomena psikologis ini perlahan mengikis kebiasaan berbelanja secara sadar atau mindful shopping. Pakaian dibeli dalam jumlah besar, dipakai sekali demi formalitas foto di media sosial, lalu berakhir menjadi tumpukan kain yang tak lagi tersentuh.

Dalam dokumenter tersebut dipaparkan fakta yang mencengangkan. Untuk memproduksi satu kaus katun, dibutuhkan sekitar 2.700 liter air. Jumlah itu setara dengan kebutuhan air minum satu orang selama 3,5 tahun.

Ketika pola konsumsi seperti ini menjangkiti kebutuhan domestik, misalnya pembelian pakaian anak, dampaknya menjadi berlipat.

"Baju bayi itu umur pakainya pendek sekali, kurang dari tiga bulan. Banyak ibu-ibu yang akhirnya sadar mereka punya gunungan baju anak yang bahkan belum pernah sempat dipakai satu kali pun karena fisik anaknya keburu besar. Itu problem nyata yang terjadi di Bandung," tutur Catur.

Tumpukan pakaian yang mubazir ini menjadi ironi ketika masyarakat diajak berbicara tentang krisis iklim.

"Kadang kalau bicara krisis iklim, orang merasa itu terlalu jauh di langit, seperti suhu bumi meningkat. Mereka merasa it's not my problem. Padahal keputusan domestik seperti membeli baju yang tidak dibutuhkan malam ini adalah penyumbang emisi nyata yang menjadi tanggung jawab kita," tambahnya.

Catur Ratna Wulandari menilai perubahan gaya hidup sehari-hari dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri fesyen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Catur Ratna Wulandari menilai perubahan gaya hidup sehari-hari dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak lingkungan dari industri fesyen. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Dilema Ruang Publik dan Stigma "Baju Itu-Itu Saja"

Persoalan lingkungan semakin rumit karena keinginan menahan diri untuk tidak membeli pakaian baru sering kali berbenturan dengan stigma sosial.

Hal itu dirasakan oleh Siti Latifah (32), atau yang akrab disapa Teh Puput.

Sebagai anggota komunitas Kutub.co sekaligus dosen di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung, Puput dituntut untuk selalu tampil rapi di depan mahasiswa dan kolega.

"Aku sendiri merasakan dilema sosiologisnya. Sebagai dosen dan orang yang setiap hari keluar rumah bertemu banyak orang, di lingkungan kita itu masih sering ada komentar nyinyir seperti, 'kok bajunya itu-itu aja?' atau 'kok ganti harinya pakai baju yang sama?' Stigma seperti itu nyata ada dan kerap menghakimi perempuan di ruang publik," ungkap Puput.

Tekanan sosial itulah yang secara psikologis mendorong banyak perempuan urban terus membeli pakaian baru berbahan poliester sintetis murah demi menjaga citra sosial.

Padahal, menurut Puput, berpakaian rapi dan profesional sama sekali tidak berkorelasi dengan memiliki baju baru. Dokumenter Menolak Punah mencatat bahwa dalam satu kali proses pencucian pakaian sintetis, sekitar 700.000 partikel mikroplastik dapat terlepas dan mencemari lingkungan perairan.

Puput mengakui bahwa sebagai individu, meruntuhkan sistem kapitalisme industri tekstil yang eksploitatif bukan perkara mudah. Namun, ia percaya perubahan selalu bisa dimulai dari kesadaran pribadi.

"Kita memang tidak bisa langsung mengubah sistem besar di atas yang sudah susah ini. Tapi yang bisa kita lakukan adalah mulai dari kesadaran individu: beli kalau memang butuh, bukan karena lapar mata akibat promo. Dan kalau mau mengeluarkan baju lama, pastikan disalurkan ke tangan orang yang benar-benar membutuhkan agar menjadi manfaat, bukan mudarat atau sampah baru," tegasnya.

Ironi Simbol "Padi dan Kapas" yang 99 Persen Impor

Bagi gerakan perempuan di Bandung, persoalan sandang tidak bisa berhenti pada perubahan gaya hidup semata. Ada benang merah yang menghubungkannya dengan kebijakan negara.

Dalam diskusi pasca-pemutaran film, muncul ironi yang cukup menohok. Sejak awal berdirinya republik, bangsa Indonesia menggunakan simbol "Padi dan Kapas" dalam Sila Kelima Pancasila sebagai lambang kemakmuran pangan dan sandang. Simbol itu hadir di berbagai lambang lembaga negara, mulai dari pemerintah daerah hingga institusi nasional.

Namun kenyataannya berbeda.

Dokumenter tersebut mengungkap bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 99 persen kebutuhan kapas untuk industri tekstil, kecantikan, dan farmasi. Artinya, produksi kapas dalam negeri hanya memenuhi sekitar 1 persen kebutuhan nasional.

Ironisnya, dalam lima tahun terakhir, program penanaman kapas justru dihapuskan.

"Bahan baku kapas kita itu ternyata hampir 100 persen impor. Kita kenal kapas hanya sebagai tanaman simbol di banyak logo lembaga kita, tapi kita tidak pernah benar-benar peduli untuk menanamnya. Saya berharap pemerintah mau lebih serius menanam kapas daripada terus-menerus membuka lahan sawit," ujar Puput.

Menelan Mikroplastik Seukuran Kartu ATM Setiap Bulan

Menempatkan konsumen sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan juga dianggap tidak adil.

Pandangan itu disampaikan Zen Ihsan (28), mahasiswa Magister UIN Sunan Gunung Djati Bandung asal Cibiru yang turut hadir dalam diskusi.

Menurut Zen, berbagai data ilmiah yang dipaparkan dalam film justru memperlihatkan betapa besar ketimpangan antara konsumen dan sistem produksi.

Ketika pakaian berbahan poliester dibuang ke tempat pembuangan akhir atau terbawa hingga ke pantai, panas dan hujan membuat material tersebut terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik. Partikel ini kemudian menyebar melalui udara, tanah, dan perairan.

Bahkan, partikel mikroplastik ditemukan oleh BRIN hingga kedalaman laut 2.450 meter.

Pada akhirnya, limbah itu kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan laut yang dikonsumsi sehari-hari.

Data yang ditampilkan dalam film menunjukkan bahwa konsumsi mikroplastik masyarakat Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, yakni rata-rata 15 gram per bulan atau setara ukuran satu kartu ATM.

"Permasalahan lingkungan itu selalu dimulai dari produsen, bukan konsumen. Konsumen hanya bisa berikhtiar di dalam sistem yang sudah buruk ini. Faktanya, kita hari ini sudah dikepung: udara mikroplastik, air mikroplastik, tanah pun mikroplastik. Bahkan riset terbaru menunjukkan mikroplastik sudah menyumbat pembuluh darah, ditemukan di 75 persen sampel ASI, hingga sperma. Jadi sering kali masyarakat ingin berubah, tetapi ruang geraknya dibatasi oleh sistem yang dibuat oleh kapital dan pemerintah," kata Zen.

Karena itu, ia menilai forum nonton bareng dan diskusi lintas komunitas memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar berbagi pengetahuan.

"Ketika gerakan sosial lingkungan ini masif dan masyarakatnya semakin cerdas serta kritis, ini akan menjadi nilai daya tawar yang tinggi di hadapan pemerintah maupun kapital industri. Mereka dipaksa tahu bahwa rakyat memperhatikan dan menuntut tanggung jawab sistemik yang lebih besar," pungkasnya.

Melalui pemutaran Menolak Punah, diskusi tentang lingkungan diharapkan tidak berhenti saat lampu ruangan kembali dinyalakan. Sebab krisis ekologis hari ini hadir dalam bentuk yang sangat dekat melalui keranjang belanja daring yang terlalu penuh, pakaian yang hanya dipakai sekali demi gengsi sosial, hingga lemari rumah yang sesak oleh barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Di tengah budaya konsumsi yang bergerak serbacepat, langkah kecil untuk menolak kepunahan mungkin bisa dimulai dari satu pertanyaan sederhana sebelum menekan tombol checkout: apakah saya benar-benar membutuhkan pakaian ini? Atau saya hanya sedang membeli sesuatu yang kelak menjadi beban bagi bumi dan generasi berikutnya?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:21

Mandi Kembang sebagai Cara Perempuan Masa Kini Mengapresiasi Tubuh

Tren amandazahraism sebagai sarana pelestarian budaya, menjadikan mandi bunga yang dulunya dianggap mistis dan kolot sebagai bentuk self-care.

Ilustrasi mandi kembang. (Sumber: "Spa in DVN" by Dennis Wong)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:09

Mengenal Dunia Pelayanan Sosial Melalui Magang Berdampak

Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UPI melaksanakan Program Magang Mandiri Berdampak di Dinas Sosial Kota Bandung.

Kegiatan Penjemputan Mahasiswa Magang oleh Pihak Kampus & Pihak Mitra.
Ikon 12 Jun 2026, 10:50

Ubertos Mall di Timur Kota Bandung yang Mengalami Pasang Surut

Perjalanan Ubertos dari era BTP, sempat bangkit usai rebranding lalu kembali menghadapi penurunan.

Ubertos Mall. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 10:19

Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

Meski “Isi Piringku” menjadi pedoman gizi seimbang, penerapannya masih terhambat oleh keterbatasan ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan akses pangan sehat yang belum merata.

 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)
Beranda 12 Jun 2026, 09:55

Potret Gejolak Ekonomi, Nestapa Ojol hingga Perajin Tahu Tempe di Bandung

Potret gejolak ekonomi di Bandung, dari ojol yang terbebani kenaikan harga BBM hingga perajin tahu tempe yang terjepit mahalnya kedelai impor akibat pelemahan rupiah.

Kenaikan harga kedelai impor membuat keuntungan perajin tahu dan tempe terus menyusut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:42

Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

Melihat sejarah adopsi senapan utama TNI yang digunakan hingga sekarang.

SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:00

Kecemasan Mahasiswa Perantau, Kenaikan BBM Memicu Efek Domino

Kenaikan harga BBM di Cirebon memicu kecemasan di kalangan mahasiswa,terutama yang merantau.

Illustrasi. (Sumber AI)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 08:37

Mengulik Sejarah Benteng Vastenburg dan Perkembangannya Menjadi Tempat Rekreasi

Benteng Vastenburg dahulu hampir menjadi benteng yang terbengkalai.

 (Sumber: sinar.big.go.id)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 20:52

Moro Langlayangan

Layangan yang tersangkut di atap jemuran rumah sore itu. Bila bagi seorang anak, hanyalah galabag yang berhasil didapatkan.

Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 11 Jun 2026, 20:34

Edukasi Tata Kelola Kopi, Bekali Kopi Dampingi Petani di Lembang Tanpa Beli Lahan

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka.

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:47

Dari Jalan Pos, Pecinan, dan Wisata Kuliner: Lapisan Waktu di Surya Kencana

Surya Kencana berawal dari jalur pos kolonial, kampung dagang Tionghoa, hingga destinasi kuliner yang tak pernah tidur.

Potret Suryakencana pada malam hari. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)