Memahami Kontradiksi Wilayah Kerajaan Melayu dalam Konteks Ekspedisi Pamalayu (1275-1286 M)

6 menit baca
Muhammad Daifullah Al Ariq
Ditulis oleh Muhammad Daifullah Al Ariq diterbitkan
Prasasti Amoghapasa yang diberikan oleh Kertanegara kepada Kerajaan Pamalayu. (Sumber: Museum Nasional Indonesia)
Prasasti Amoghapasa yang diberikan oleh Kertanegara kepada Kerajaan Pamalayu. (Sumber: Museum Nasional Indonesia)

Oleh Muhammad Daifullah Al Ariq & Dzulfikar Sholahuddin Al Ayyubi

Pada masa ketika Nusantara dikuasai oleh berbagai macam kerajaan, Kerajaan Melayu adalah salah satu kerajaan yang berkuasa di Sumatera bagian timur, tepatnya di wilayah Jambi. Namun, pada tahun 685 M kerajaan ini ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya yang membuat kerajaan ini tidak pernah disebutkan lagi hingga tahun 1275 M dalam Kitab Pararaton yang menceritakan tentang adanya pengiriman pasukan Singasari ke Melayu. Dijelaskan bahwa pengiriman pasukan yang dilakukan oleh Raja Kertanegara ini merupakan bagian dari ekspedisi yang nantinya dinamai Ekspedisi Pamalayu.

Walau ekspedisi ini sering kali dianggap sebagai penaklukan Melayu, hal tersebut memunculkan kontradiksi karena nantinya Singasari mengirim sebuah arca Amoghapasa sebagai bentuk persahabatan kepada Melayu, yang membuat rakyat serta raja pada saat itu yang bernama Tribuwana Raja bersuka cita, sehingga membuktikan bahwa ekspedisi ini lebih mengarah kepada penjalinan aliansi. Namun, pengiriman arca Amoghapasa ini memunculkan kontradiksi informasi, di mana pada awal ekspedisi pada tahun 1275 M, wilayah Melayu hanya mencakup Jambi, akan tetapi pengiriman arca yang dilakukan pada tahun 1286 M tersebut diletakkan di Dharmasraya yang terletak di bagian barat Sumatera.

Perbedaan wilayah ini menunjukkan adanya perubahan wilayah kekuasaan Melayu selama Ekspedisi Pamalayu berlangsung, tepatnya selama 11 tahun, sehingga memunculkan pertanyaan apakah selama 11 tahun itu Kerajaan Melayu melakukan ekspansi hingga ke arah barat Sumatera atau apakah wilayah tersebut sudah dikuasai oleh kerajaan Melayu dari awal? Pertanyaan ini tentunya menarik karena setelah terjadinya Ekspedisi Pamalayu dan Kerajaan Melayu berada dalam kepemimpinan Jayawisnuwardhani pada tahun 1328 M, kerajaan tersebut sudah menjadi pusat kekuasaan di Sumatera, sementara Sriwijaya tidak pernah disebutkan lagi dalam berita Cina.

Latar belakang ekspedisi

Kerajaan Singasari yang didirikan oleh Ken Arok dapat menjadi kerajaan adidaya hingga masa kepemimpinan Kertanegara berkat penggulingan penguasa Kadiri, Kertajaya, oleh Ken Arok yang membuatnya dapat mendirikan Kerajaan Singasari. Kerajaan ini sendiri dapat menjadi kerajaan adidaya dikarenakan besarnya kekuatan kerajaan baik dalam bidang militer maupun kecermatan mereka dalam membuat langkah politik dengan kerajaan lain di Nusantara, termasuk Bali dan Melayu. Kerajaan ini nantinya mencapai puncak tertingginya pada masa kepemimpinan Kertanegara yang ditandai dengan ekspansi wilayah secara masif.

Ekspansi yang dilakukan oleh Kertanegara ini nantinya dinamai sebagai Ekspedisi Pamalayu, dinamakan begitu dikarenakan ekspansi tersebut berawal dari pengiriman pasukan Singasari ke Melayu pada tahun 1275 M. Ekspedisi ini dilakukan oleh Kertanegara atas dua alasan, yaitu adanya ancaman dari daratan Cina yaitu bangsa Mongol yang dipimpin oleh Kublai Khan melakukan ekspansi kekuasaan secara masif dan menjadi nyata ketika Kublai Khan mengirimkan utusan ke Singasari pada tahun 1280 M yang mengharuskan Singasari mengirim upeti serta melemahnya kekuasaan Sriwijaya sejak penyerangan oleh Kerajaan Chola pada tahun 1024 hingga 1025 M.

Selain berhasil menjalin aliansi dengan Kerajaan Melayu, Ekspedisi Pamalayu juga meluaskan wilayah kekuasaan Singasari hingga ke Semenanjung Malaya, tepatnya di Pahang. Selain itu, ekspedisi ini juga mempererat hubungan persahabatan antara Kerajaan Singasari dan Campa, dibuktikan dengan Prasasti Po Sah yang dibuat pada tahun 1306 dan menceritakan tentang putri dari Jawa bernama Tapasi yang menjadi permaisuri raja Campa pada saat itu. Ekspedisi Pamalayu nantinya mencapai puncak pada tahun 1286 M, dengan dikirimnya arca Amoghapasa oleh Kertanegara sebagai bentuk persahabatan Kerajaan Melayu. Arca tersebut dikirim dengan 14 pengiring dan 4 pejabat dari Jawa yang bernama Rakryan Mahamantri, Rakryan Sirikan, Rakryan Demung, dan Rakryan Payanan, dan nantinya diletakkan di Dharmasraya.

Sementara Ekspedisi Pamalayu terus berlangsung, ancaman bangsa Mongol semakin mendekat. Pada tahun 1280 M, Kublai Khan yang terus melakukan ekspansi berhasil menumbangkan Dinasti Song di daratan Cina dan mendirikan Dinasti Yuan. Selain itu, ia juga terus mengirimkan utusan ke Singasari sebanyak 3 kali setelah pengiriman utusan pertama pada tahun 1280 M yang menuntut pengakuan kekuasaan berupa upeti. Namun, setelah Kertanegara yakin bahwa keberhasilan ekspedisi yang ia lakukan dapat menyaingi kekuatan Mongol, utusan terakhir bernama Meng-Ch’i yang dikirim ke Singasari pada tahun 1289 M nantinya dianiaya di bagian muka. Kejadian ini tentu saja membuat Kublai Khan marah sehingga pada tahun 1292, ia mengirim armada yang dipimpin oleh tiga komandan bernama Shih-pi, Ye-hei-mi-She, dan Kao-hsing untuk menaklukkan Jawa dan Kerajaan Singasari.

lukisan pemimpin bangsa Mongol Kublai Khan (Sumber: National Geographic | Foto: Universal History Archive)
lukisan pemimpin bangsa Mongol Kublai Khan (Sumber: National Geographic | Foto: Universal History Archive)

Namun, Ekspedisi Pamalayu harus selesai pada tahun 1293 M dikarenakan adanya penyerangan oleh Jayakatwang dan Kerajaan Kadiri terhadap Singasari. Penyerangan ini nantinya berhasil menaklukkan Singasari, dan berdasarkan Kitab Pararaton, penaklukkan ini berakhir pada bulan Mei 1292 M yang ditandai dengan kematian Kertanegara.         

Korelasi antara Sungai Batanghari dengan Kerajaan Melayu

Sebelum ekspedisi ini terjadi, kerajaan Melayu sendiri merupakan salah satu bagian dari wilayah kekuasaan Sriwijaya setelah penaklukannya pada tahun 685 M. Namun, semenjak penyerangan kerajaan Sriwijaya oleh kerajaan Chola yang berkuasa di bagian selatan India pada tahun 1024 hingga 1025 M, pengaruh Sriwijaya atas Melayu melemah. Melemahnya pengaruh ini nantinya membuat Kerajaan Melayu mulai melepaskan diri dari Sriwijaya dengan berkuasanya Pangeran Suryanarayana atas Sumatera pada abad ke-11 M.  Sehingga, ketika Kertanegara menghadapi ancaman bangsa Mongol, ia menjalin aliansi dengan kerajaan tersebut yang pada saat itu lebih berkuasa atas Sumatera dibandingkan dengan Sriwijaya.

Walau tidak ada tahun pasti kapan Kerajaan Melayu terbebas dari Sriwijaya, peletakan Arca Amoghapasa di Dharmasraya pada tahun 1286 M memberikan bukti bahwa ada perluasan kekuasaan Kerajaan Melayu menuju bagian barat Sumatera. Bukti lainnya ada pada masa Majapahit nantinya, di mana Malayu sebagai salah satu kerajaan bawahan memiliki wilayah yang mencakup Jambi, Kandis, Dharmasraya, dan Minangkabau. Informasi ini tentunya menciptakan spekulasi bahwa ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Melayu sehingga arca yang dihadiahkan oleh Kertanegara dapat diletakkan di Dharmasraya memiliki acuan.

Dalam wilayah kekuasaan Melayu, terdapat aliran sungai utama bernama Sungai Batanghari yang memiliki kontribusi besar bagi kerajaan tersebut. Kerajaan Melayu yang berlandaskan agama Buddha terjadi akibat masuknya pengaruh agama tersebut melalui pantai timur Jambi dan menyebar melalui sungai tersebut. Selain itu, Sungai Batanghari digunakan oleh berbagai biksu Buddha seperti I-Tsing ketika mengunjungi Kerajaan Melayu sebagai bagian dari perjalanan menuju Nalanda. Terakhir, pusat Kerajaan Melayu yang mengalami perpindahan pusat setidaknya sebanyak tiga kali, yang awalnya berpusat di Jambi lalu berpindah ke Padangroco dan Pagaruyung, selalu berdekatan dengan Sungai Batanghari sehingga bisa disimpulkan bahwa sungai ini memiliki peranan yang sangat penting bagi tatanan Kerajaan Melayu.

Walau tidak memiliki penjelasan secara jelas apakah terjadi ekspansi wilayah oleh Kerajaan Melayu ke arah barat Sumatera, jika memang benar ekspansi dilakukan, informasi tadi menjelaskan bahwa kemungkinan besar Sungai Batanghari digunakan sebagai acuan untuk ekspansi tersebut dikarenakan pentingnya Sungai Batanghari dalam tatanan kekuasaan Kerajaan tersebut. (*)

Referensi

  • Poesponegoro, M. D. & Notosusanto, N. (1993). Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

  • Coedes, G. (2010). Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Jakarta.

  • Alian, M. Pertumbuhan Kerajaan Melayu Sampai Masa Adityawarman

  • Utomo, B. B. (1994). Swarnnadwipa Abad XIII-XIV Masehi Penggunaan Atas Sumber Emas di Hulu Batanghari (Sumatra Barat). Berkala Arkeologi, 14(2), 221-226

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)