Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)

Bagi sebagian orang, stiker radio mungkin hanya benda kecil yang ditempel di kaca mobil, rumah, buku, atau tempat lainnya. Namun bagi pencinta radio, selembar stiker menyimpan cerita tentang stasiun favorit, program kesayangan, penyiar, dan masa yang pernah dilalui.

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Sebelum telepon pintar dan internet hadir, radio menjadi teman dalam kehidupan sehari-hari. Suaranya menemani orang di rumah, kendaraan, angkutan kota, warung kopi, hingga tempat kerja. Melalui radio, pendengar mengenal lagu baru, mengikuti berita, menikmati obrolan penyiar, dan menjelajahi dunia dari kejauhan.

Bagi penggemar radio, kenangan tersebut tidak hanya tersimpan dalam ingatan. Ada yang mengabadikannya melalui kartu QSL, surat, majalah, kaset, jadwal siaran, jingle radio hingga stiker radio.

Hobi mendengarkan radio sering bermula dari rasa ingin tahu. Memutar tombol tuning, mencari frekuensi, dan berusaha menangkap siaran di tengah noise, desis, atau gangguan teknis menjadi pengalaman yang mengasyikkan. Bagi penggemar Shortwave Listening (SWL), keberhasilan menangkap siaran dari daerah atau negara lain menghadirkan kepuasan tersendiri.

Pengalaman itu kemudian mendorong sebagian pendengar mengumpulkan memorabilia radio, termasuk stiker.

Pada masanya, stiker radio mudah diperoleh melalui kunjungan ke studio, acara off-air, kuis, pameran, konser, maupun kegiatan komunitas. Desainnya beragam, mulai dari logo stasiun, nama program, frekuensi, dan slogan, hingga call sign milik radio amatir atau radio komunikasi.

Bagi penggemar, call sign bukan sekadar rangkaian huruf dan angka. Ia dapat mengingatkan pada operator, komunitas, daerah, atau persahabatan yang terjalin melalui gelombang udara.

Karena itu, nilai sebuah stiker tidak selalu terletak pada desainnya, melainkan pada cerita bagaimana benda tersebut diperoleh. Ada stiker yang dibawa pulang setelah mengunjungi studio, diberikan penyiar seusai acara, atau diterima dari teman sesama penggemar radio.

Penulis saat berkunjung ke studio Hits Unikom Radio di Jalan Dipati Ukur No. 103, Bandung, untuk berburu stiker radio. (Sumber: Agus Wahyudi)
Penulis saat berkunjung ke studio Hits Unikom Radio di Jalan Dipati Ukur No. 103, Bandung, untuk berburu stiker radio. (Sumber: Agus Wahyudi)

Mendatangi studio memiliki kenangan tersendiri. Penyiar yang selama ini hanya dikenal melalui suara akhirnya dapat ditemui secara langsung. Suasana ruang siaran, mikrofon, headphone, dan perangkat pemutar musik menjadi pengalaman yang berbeda dari sekadar mendengarkan radio di rumah.

Tak jarang, studio juga menjadi tempat bertemunya pendengar dan komunitas. Dari kegemaran yang sama, persahabatan pun tumbuh. Bertahun-tahun kemudian, sebuah stiker sederhana dapat menghidupkan kembali suasana studio, suara penyiar, dan wajah orang-orang yang pernah ditemui.

Memorabilia radio juga dapat berasal dari luar negeri. Pada masa kejayaan radio gelombang pendek, pendengar biasa mengirimkan reception report berisi informasi mengenai siaran yang berhasil ditangkap. Sebagai balasan, sejumlah stasiun mengirimkan kartu QSL, surat, brosur, jadwal program, dan terkadang stiker.

Bagi seorang SWL, menerima amplop dari stasiun yang berada ribuan kilometer jauhnya merupakan pengalaman istimewa. Kartu QSL dan stiker di dalamnya menjadi bukti bahwa sinyal dari tempat yang jauh pernah berhasil ditangkap di rumah.

Kini, kolektor juga mengenal kegiatan bertukar atau barter memorabilia. Stiker, kartu QSL, majalah, dan kaset dapat berpindah tangan, tetapi cerita di balik setiap benda tetap menjadi bagian terpenting. Sebuah stiker mungkin biasa bagi seseorang, namun sangat berarti bagi kolektor yang telah lama mencarinya.

Dunia radio terus berubah. Stasiun berganti nama, logo, frekuensi, bahkan ada yang berhenti mengudara. Dalam situasi tersebut, stiker lama menjadi penanda sebuah zaman.

Logo yang sudah tidak digunakan, slogan yang terlupakan, atau frekuensi yang telah berubah dapat mengingatkan kita pada perjalanan dunia penyiaran. Meskipun tidak tercatat dalam buku sejarah, stiker menyimpan jejak pengalaman pribadi dan perkembangan radio dari masa ke masa.

Agar kenangan itu tetap terjaga, stiker lama sebaiknya disimpan dalam album atau binder dengan lembar pelindung. Hindarkan dari kelembapan, panas, dan sinar matahari langsung. Stiker yang belum ditempel sebaiknya tetap disimpan bersama lapisan pelindung perekatnya.

Koleksi stiker radio swasta dari sejumlah stasiun radio di Jakarta dan Bandung. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Koleksi stiker radio swasta dari sejumlah stasiun radio di Jakarta dan Bandung. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)

Selembar Stiker, Sejuta Kenangan

Bagi banyak orang, radio tidak dapat dipisahkan dari masa muda. Sebuah lagu, suara penyiar, atau nama stasiun dapat membawa kembali kenangan tentang sekolah, perjalanan, persahabatan, dan suasana masa lalu.

Teknologi digital kini membuat siaran radio lebih mudah diakses. Namun, bagi mereka yang pernah menikmati radio analog, sensasi mencari frekuensi, mendengarkan suara di tengah gangguan sinyal, dan menunggu kartu QSL dari negeri jauh tetap memiliki romantisme tersendiri.

Para kolektor stiker radio yang cukup dikenal di komunitas pendengar radio yaitu Joe Alexander dan Ricky H Brataatmadja dari Jakarta, Ameen Rizal Fahrezi dan Huda Nur Hanif Prasetya dari Solo, Yayan Yess (Tangerang), Muhlisin (Semarang), Iwan Darma (Sukabumi) dan Kin Sanubary (Subang).

Pada akhirnya, mengoleksi stiker radio bukan sekadar mengumpulkan benda. Di dalamnya terdapat cerita tentang kunjungan ke studio, pertemuan dengan penyiar, persahabatan komunitas, hingga keberhasilan menangkap siaran dari tempat yang jauh.

Stikernya mungkin hanya selembar kertas, tetapi kenangan di baliknya merupakan bagian dari perjalanan panjang sebuah hobi: mendengarkan radio, mengenal dunia, dan menyimpan cerita dari gelombang udara.

Radio mungkin terus berganti cara untuk hadir. Namun bagi mereka yang pernah jatuh cinta pada suara dari balik speaker, sebuah stiker tua saja sudah cukup untuk membuat kenangan lama kembali mengudara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)