Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

4 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Surat terbuka untuk Gubenur Jabar Dedi Mulyadi (KDM):

Pak Gubernur yang saya hormati, akhir Agustus 2026 menjadi momen kelam bagi dunia peternakan sapi perah di Jawa Barat. Dago Dairy, sebuah peternakan legendaris yang kokoh berdiri sejak 2015 di Buniwangi, Lembang, resmi menyatakan gulung tikar.

Pahitnya, peternakan milik pasangan Mark Hallett dan Yanti ini terpaksa tutup bukan karena bangkrut secara finansial atau produk susunya kalah bersaing di pasar, melainkan akibat krisis internal yang sangat struktural,  mereka kehabisan tenaga kerja.

Selama dua tahun terakhir, lowongan kerja di peternakan tersebut kosong melompong. Minimnya minat generasi muda untuk melakoni pekerjaan fisik yang berat, seperti membersihkan kandang dan memerah susu sejak pukul 3 pagi tanpa libur, membuat sang pemilik harus bekerja sendirian hingga dua shift.

Kelelahan fisik (burnout) yang berujung penutupan Dago Dairy ini hanyalah puncak gunung es dari sebuah paradoks besar yang sedang menggerogoti sektor peternakan nasional kita.

Di satu sisi, kita menghadapi krisis regenerasi SDM dan melambungnya biaya operasional terkhusus komponen pakan. Namun di sisi lain, ada ceruk bisnis raksasa berputar lambat yang justru dikuasai asing karena kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan di hulu pertanian dan peternakan.

Paradoks Industri dan Jerat Impor Triliunan Rupiah

Sektor peternakan dan pakan hewan di Indonesia sebenarnya adalah ladang perputaran uang yang sangat masif. Saat ini, industri manufaktur pakan ternak (feedmill) domestik sangat kuat dengan kapasitas produksi melebihi 20 juta ton per tahun.

Ditambah lagi, tren pet humanization, yakni fenomena masyarakat urban yang memperlakukan hewan peliharaan layaknya keluarga, memicu ledakan pasar pakan hewan kesayangan (pet food). Pasar makanan kucing dan anjing premium di Indonesia kini bernilai hingga Rp 3 triliun per tahun.

Sayangnya, potensi yang gurihnya luar biasa  ini menjadi rapor merah kedaulatan pangan kita. Setiap tahun, Indonesia harus merogoh kocek hingga Rp 53 triliun untuk mengimpor bahan baku pakan berprotein tinggi, seperti bungkil kedelai dari Brasil dan Amerika Serikat.

Ironisnya lagi, sekitar 60 persen pasar pet food di pet shop yang menjamur saat ini dikuasai oleh produk impor asal Thailand dan Cina. Mengapa kita membiarkan banjir impor ini merajai pasar, padahal Indonesia kaya raya akan sumber daya alam yang melimpah?

Jawabannya ada pada rantai pasok pendidikan kita yang tidak sinkron (mismatch). Selama ini, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Diploma Peternakan di Indonesia umumnya hanya berfokus pada lini konvensional, seperti teknik budidaya (breeding), pemeliharaan, dan penggemukan hewan. Sangat sedikit level vokasi kita yang menyentuh teknologi hilirisasi pencampuran nutrisi (feed processing).

SMK Produksi Pakan: Solusi Krisis Pekerja dan Substitusi Impor

Melihat rontoknya peternakan seperti Dago Dairy dan jerat ketergantungan impor, sudah saatnya Indonesia, khususnya Jawa barat melakukan terobosan radikal dengan mentransformasikan dan mendirikan SMK Produksi Pakan. Langkah ini bukan lagi sekadar opsi pendidikan, melainkan urgensi strategis untuk mengatasi pengangguran lulusan muda sekaligus menyelamatkan masa depan peternakan melalui tiga peran utama :

Penyedia Operator Industri Masa Depan: Ratusan pabrik pakan raksasa di Indonesia (seperti Japfa, Charoen Pokphand, dan Malindo) membutuhkan tenaga siap pakai di era Industri 4.0. Lulusan SMK ini akan dicetak menguasai komputerisasi formula pakan berbasis biaya terendah (least-cost formulation), pengoperasian mesin grinding, mixing, hingga teknologi ekstrusi untuk membuat pakan apung ikan dan kibble hewan peliharaan.

Inovator Substitusi Bahan Baku Lokal: Alih-alih bergantung pada kedelai impor, tangan-tangan terampil lulusan SMK ini dididik untuk mengolah kekayaan hayati lokal secara massal. Mulai dari pemanfaatan maggot (Black Soldier Fly), bungkil inti sawit, dedak padi berkualitas tinggi, hingga tepung ikan lokal yang difermentasi menjadi pakan bernutrisi tinggi.

Penggerak Bank Pakan di Pelosok Daerah: Pada Juli 2026, Kementerian Pertanian menyebut telah memfasilitasi 843 Bank Pakan di 34 provinsi demi memitigasi krisis pakan akibat kemarau ekstrim. Namun, Bank Pakan ini hanya akan menjadi pajangan jika tidak ada SDM kredibel di pelosok daerah yang mampu mengelolanya. Lulusan SMK inilah yang akan menjadi motor penggerak ketahanan pakan di tingkat tapak.

Mengubah Wajah Sektor Peternakan

Krisis pekerja kasar yang dialami Dago Dairy memberikan pelajaran berharga: sektor peternakan tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara lama yang menguras fisik tanpa sentuhan teknologi modern. Generasi muda hari ini tidak akan tertarik ke kandang jika citra yang ditampilkan hanyalah kerja kasar tanpa masa depan yang jelas.

Dengan menggeser fokus pendidikan peternakan ke arah industri pengolahan pakan (feedmill) dan pet food berbasis teknologi tinggi, kita tidak hanya mengubah wajah sektor peternakan menjadi lebih keren dan menjanjikan bagi milenial serta Gen Z. Lebih dari itu, kurikulum yang adaptif dan terintegrasi dengan dunia usaha (link and match) akan melahirkan wirausahawan UMKM pakan mandiri yang mampu memotong tingginya biaya pemeliharaan hewan akibat dominasi barang impor.

Kasus Dago Dairy di Lembang adalah alarm keras bagi kita semua. Jika kita terus membiarkan sektor hulu peternakan berjalan tanpa pasokan SDM yang kompeten dan adaptif, maka mimpi mencapai ketahanan pangan mandiri akan selamanya terkubur. Membangun SMK Produksi Pakan adalah investasi nyata untuk memutus rantai impor, menyediakan lapangan kerja yang relevan, dan memastikan tidak ada lagi 'Dago Dairy' lain yang harus menyerah di tanah yang kaya raya ini. (*)

Demikian Pak Gubernur KDM, semoga segera mendapat perhatian yang konkret.

Salam Hormat.

Totok Siswantara ( Netizen AyoBandung )

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 10:03

Waspadai Sindikat Penjualan Bayi dan Perbaiki Tata Kelola Adopsi

Pembentukan keluarga melalui jalur adopsi, proses ini masih sering dihadapkan pada tantangan yang rumit.

Ilustrasi adopsi bayi dalam sebuah keluarga (Sumber: dokpri dengan bantuan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 08:29

Manusia Gerobak, Manusia Statistik, Manusia Bandung

Istilah manusia gerobak mungkin terdengar seperti deskripsi visual. Padahal, ia membawa beban moral yang tidak enteng.

Manusia gerobak. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ANTARA via ayobandung.com)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 20:52

200 Ikon Bandung #3: Medan Prijaji, Koran Bandung Pelopor Nasionalisme Indonesia

Pada 22 Agustus 1912 Medan Prijaji harus tutup karena intervensi pemerintah kolonial, dan Tirto Adhi Soerjo pun harus dibuang ke Ambon.

Koran "Medan Prijaji" 1910. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 15:36

Menggabungkan OPD, Menggabungkan Kekuasaan?

Penggabungan OPD bakal menjadi lebih dari sekadar merapikan bagan organisasi. Ia bisa menjadi contoh bahwa birokrasi daerah dapat dibuat lebih sederhana.

Kantor Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Instagram/@dihubjabar via ayobandung.com)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 12:47

Seandainya Saya Jadi Presiden (bagian 1)

Setiap orang memiliki mimpi besar, tetapi tidak semua impian itu bisa terwujud. Minimal jadi perenungan tentang pemikiran apa yang bisa kita sumbangkan kepada bangsa dan negara.

Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels | Foto: Irgi Nur Fadil)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 10:40

Miliaran Pemirsa Saksikan Pemakaman Lady Di

Ketika Lady Diana atau Lady Di dimakamkan, 6 September 1997, miliaran orang menyaksikan prosesinya melalui siaran tv

Putri Diana. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: John MacIntyre)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 09:54

Tren Operasi Bariatrik untuk Penuhi Standar Kecantikan yang Semu

Bariatrik menjadi tren operasi yang sedang happening baik di kalangan masyarakat maupun influencer untuk menurunkan berat badan secara instan.

Antara diet sehat dengan operasi bariatrik (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 22:18

Siaga pada Musim Peralihan

Peralihan musim inilah yang harus diwaspadai dan melakukan upaya mitigasi agar sehat dan selamat.

Pohon tumbang di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 17:12

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian

Sulit menemukan research gap untuk skripsi? Pelajari cara menemukannya dari jurnal, melihat celah penelitian, hingga mengubahnya menjadi ide penelitian.

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 16:57

Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September.

Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 14:04

Komunikasi di Era AI: Mengapa Suara Manusia di Radio Tak Tergantikan

Di era AI, radio bertahan sebagai benteng keaslian manusia. Hari Radio Nasional mengingatkan bahwa kehangatan dan koneksi emosional dari suara penyiar tak tergantikan oleh algoritma.

Ilustrasi ruangan siaran radio. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Linimasa 11 Sep 2026, 14:02

Dulu Sempat Viral, Apa Kabar Odading Mang Oleh?

Odading Mang Soleh pernah viral berkat video Ade Londok. Kini usaha tersebut diteruskan anak-anak dan memiliki cabang di luar Bandung.

Odading Mang Oleh yang dulu sempat viral. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 13:27

Menghidupkan Siaran RRI Bandung dengan Kreativitas Siniar

Alih wahana oleh RRI Bandung membutuhkan platform digital karya anak bangsa yang multifungsi.

Gedung Radio Republik Indonesia Bandung di Jalan Diponegoro No.61 Kota Bandung (Sumber: RRI | Foto: Atep)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 10:16

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan memajukan kebudayaan serta cagar budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 09:00

Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Para pemain Persib tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat Jawa Barat. 

Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)