Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September. Tahun ini, RRI memasuki usia ke-81 sejak didirikan pada 11 September 1945, dengan mengusung tema “Suara Indonesia, Berdaulat, Adil dan Makmur.”

Bagi yang tumbuh bersama radio, nama RRI tentu bukan sekadar nama sebuah lembaga penyiaran publik. RRI adalah bagian dari perjalanan panjang Indonesia. Dari pesawat radio di ruang keluarga, warung kopi, kantor, hingga radio transistor yang menemani perjalanan, suara RRI pernah begitu akrab di telinga banyak orang Indonesia.

RRI berdiri tidak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Kehadirannya tidak bisa dilepaskan dari situasi bangsa yang sedang mempertahankan kemerdekaan. Pada masa itu, radio bukan sekadar sarana hiburan, melainkan alat penting untuk menyampaikan informasi, membangun komunikasi, sekaligus menjaga semangat kebangsaan.

Kini, 81 tahun kemudian, RRI masih mengudara.

Pada 11 September 2026, peringatan HUT ke-81 RRI menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang tersebut. Tema “Suara Indonesia, Berdaulat, Adil dan Makmur” terasa menarik jika disandingkan dengan semboyan yang sudah begitu melekat dalam ingatan: “Sekali di Udara, Tetap di Udara.”

Ada masa ketika mendengarkan radio menjadi salah satu hiburan paling menyenangkan di rumah.

Belum ada internet, belum ada media sosial. Televisi pun belum menjadi bagian dari kehidupan semua keluarga. Radio menjadi jendela untuk mengetahui apa yang terjadi di luar rumah. Dari radio kita mengenal berita, musik, olahraga, kesenian, kebudayaan, hingga berbagai cerita tentang kehidupan.

Bagi sebagian orang, kenangan terhadap radio mungkin sederhana. Duduk di depan pesawat radio, memutar tombol pencari gelombang, lalu mencari suara yang paling jernih. Kadang terdengar suara berdesis sebelum akhirnya menemukan siaran yang dicari.

Ada pula kebiasaan mencatat jadwal acara, menunggu lagu kesayangan, atau sekadar membiarkan radio menyala sebagai teman mengerjakan sesuatu.

Dalam suasana seperti itulah RRI menjadi salah satu bagian penting dari budaya mendengarkan radio di Indonesia.

Radio memang sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya terasa dekat. Suara penyiar seperti suara seseorang yang hadir menemani. Tidak perlu layar, tidak perlu gambar. Cukup suara dan imajinasi.

Teknologi kemudian mengubah cara orang mendengarkan radio. Dari gelombang AM hingga berkembangnya FM dengan kualitas audio yang lebih baik, penyiaran radio terus beradaptasi. Memasuki era digital, radio tidak lagi hanya hadir melalui pesawat penerima siaran.

RRI pun mengikuti perubahan tersebut melalui streaming, platform digital, media sosial, dan berbagai kanal informasi lainnya.

Perubahan teknologi itu menunjukkan bahwa radio ternyata belum selesai dengan zamannya.

Radio hanya berubah cara hadirnya.

Delapan puluh satu tahun perjalanan tentu bukan waktu yang sebentar.

RRI melewati berbagai periode sejarah Indonesia, dari masa mempertahankan kemerdekaan, perjalanan pembangunan bangsa, berbagai perubahan sosial dan politik, hingga memasuki era digital seperti sekarang.

Karena itu, RRI memiliki posisi yang lebih dari sekadar media penyiaran. Ada ingatan sejarah yang ikut melekat di dalamnya.

Radio pernah menjadi media penting untuk menyampaikan kabar dan membangun semangat masyarakat. Dalam konteks itulah nilai-nilai kejuangan 1945 menjadi penting untuk terus diperkenalkan, terutama kepada generasi muda.

Nilai perjuangan tidak harus selalu disampaikan melalui bahasa yang berat atau pidato yang panjang. Patriotisme, nasionalisme, semangat pantang menyerah, gotong royong, menjaga persatuan, dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dibicarakan melalui berbagai cara yang lebih dekat dengan kehidupan generasi sekarang.

Sebab, bentuk perjuangan generasi hari ini memang berbeda dengan perjuangan para pendahulu.

Kalau dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata dan mempertahankan kemerdekaan, hari ini perjuangan dapat diwujudkan melalui pendidikan, prestasi, kreativitas, kerja keras, menjaga toleransi, melawan hoaks, serta menggunakan teknologi secara bijak.

Dengan kata lain, semangat 1945 tidak berhenti sebagai cerita sejarah. Nilai-nilainya harus tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat memiliki pilihan informasi yang nyaris tidak terbatas. Dalam hitungan detik, sebuah informasi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, derasnya informasi juga membawa persoalan baru. Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan informasi yang tidak terverifikasi dapat dengan mudah beredar.

Dalam situasi seperti ini, media publik yang kredibel tetap dibutuhkan.

RRI memiliki kesempatan untuk memainkan peran tersebut. Bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi ruang bertemunya berbagai suara Indonesia: suara dari kota dan desa, komunitas, seniman, budayawan, pendidik, anak muda, serta berbagai kelompok masyarakat lainnya.

Indonesia memang beragam. Justru karena keberagaman itulah diperlukan ruang yang dapat mempertemukan perbedaan tanpa kehilangan semangat persatuan.

Tema HUT ke-81 RRI, “Suara Indonesia, Berdaulat, Adil dan Makmur,” menjadi relevan dengan keadaan tersebut.

Kedaulatan pada masa kini bukan hanya mengenai wilayah dan politik, tetapi juga menyangkut kedaulatan informasi, kebudayaan, dan karakter bangsa. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilih informasi, berpikir kritis, serta tidak mudah terseret oleh kabar yang belum tentu benar.

Di sinilah radio publik masih mempunyai tempat.

Penulis saat menjadi bintang tamu dalam sebuah program siaran di Studio RRI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Barat No. 4–5, Jakarta. (Foto: Agus Wahyudi)
Penulis saat menjadi bintang tamu dalam sebuah program siaran di Studio RRI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Barat No. 4–5, Jakarta. (Foto: Agus Wahyudi)

Sebagai pendengar, saya merasa radio selalu mempunyai cara sendiri untuk menyimpan kenangan.

Suara penyiar tertentu kadang bisa membawa kita kembali ke masa lalu. Sebuah jingle dapat mengingatkan pada suasana rumah bertahun-tahun silam. Bahkan suara khas ketika radio mencari gelombang pun bisa menjadi semacam “suara masa kecil”.

Radio memang tidak selalu menawarkan kemewahan teknologi. Tetapi radio menawarkan sesuatu yang barangkali semakin mahal pada zaman sekarang: teman mendengarkan.

Kita bisa mendengarkan radio sambil membaca koran, menyeruput kopi, bekerja, berkendara, atau sekadar melamun. Tidak harus selalu melihat layar.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa radio tetap bertahan.

Dulu, untuk mendengarkan RRI, kita membutuhkan pesawat radio dan harus berada dalam jangkauan siaran. Kini, generasi muda yang mungkin tidak memiliki pesawat radio di rumah dapat mendengarkannya melalui gawai.

Jarak antara radio dan pendengar semakin pendek.

Teknologi berubah. Cara mendengarkan berubah. Tetapi kebutuhan manusia untuk mendapatkan informasi yang benar dan suara yang dapat dipercaya tetap ada.

Sekali di Udara, Tetap di Udara

Delapan puluh satu tahun RRI adalah perjalanan panjang sebuah lembaga yang tumbuh bersama perjalanan Indonesia.

Dari suara radio yang dahulu memenuhi ruang keluarga hingga suara digital yang kini dapat didengarkan dari berbagai tempat, RRI terus berusaha menjaga keberadaannya sebagai media publik.

Yang menarik, semboyan “Sekali di Udara, Tetap di Udara” seolah bukan hanya slogan. Ia seperti sebuah janji untuk terus hadir, mengikuti zaman, sekaligus tidak kehilangan akar sejarahnya.

RRI memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan: bagaimana membuat sejarah dan nilai kejuangan tetap menarik bagi generasi muda; bagaimana menghadirkan informasi yang mencerdaskan di tengah banjir konten; serta bagaimana menjadikan radio tetap relevan ketika perhatian masyarakat semakin banyak tersedot ke layar telepon pintar.

Jawabannya mungkin bukan dengan meninggalkan radio, melainkan membawa semangat radio ke berbagai ruang baru.

Program siaran, dialog kebangsaan, edukasi sejarah, literasi digital, kebudayaan, musik, dan berbagai kegiatan yang melibatkan anak muda dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Sebab, merawat nilai perjuangan bukan berarti terus-menerus hidup di masa lalu.

Justru sebaliknya, kita mengenang masa lalu agar lebih siap menghadapi masa depan.

Bagi saya sebagai pendengar, RRI bukan hanya soal suara yang keluar dari pesawat radio. Ia adalah bagian dari ingatan tentang Indonesia, tentang bagaimana sebuah suara menemani masyarakat melewati zaman, dari ruang-ruang sederhana hingga ruang digital yang nyaris tanpa batas.

Selamat ulang tahun ke-81 RRI.

Semoga suara itu tetap terdengar bukan hanya sebagai suara dari sebuah studio, tetapi sebagai suara Indonesia yang beragam, mencerdaskan, menyejukkan, dan menyatukan.

Sekali di udara, tetap di udara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Sep 2026, 17:12

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian

Sulit menemukan research gap untuk skripsi? Pelajari cara menemukannya dari jurnal, melihat celah penelitian, hingga mengubahnya menjadi ide penelitian.

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 16:57

Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September.

Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 14:04

Komunikasi di Era AI: Mengapa Suara Manusia di Radio Tak Tergantikan

Di era AI, radio bertahan sebagai benteng keaslian manusia. Hari Radio Nasional mengingatkan bahwa kehangatan dan koneksi emosional dari suara penyiar tak tergantikan oleh algoritma.

Ilustrasi ruangan siaran radio. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Linimasa 11 Sep 2026, 14:02

Dulu Sempat Viral, Apa Kabar Odading Mang Oleh?

Odading Mang Soleh pernah viral berkat video Ade Londok. Kini usaha tersebut diteruskan anak-anak dan memiliki cabang di luar Bandung.

Odading Mang Oleh yang dulu sempat viral. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 13:27

Menghidupkan Siaran RRI Bandung dengan Kreativitas Siniar

Alih wahana oleh RRI Bandung membutuhkan platform digital karya anak bangsa yang multifungsi.

Gedung Radio Republik Indonesia Bandung di Jalan Diponegoro No.61 Kota Bandung (Sumber: RRI | Foto: Atep)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 10:16

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan memajukan kebudayaan serta cagar budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 09:00

Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Para pemain Persib tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat Jawa Barat. 

Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)