Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

6 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)

Nama Remy Sylado tentu tidak asing dalam perjalanan kebudayaan Indonesia. Lahir dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong, ia dikenal sebagai sosok multidisipliner: sastrawan, penulis, musisi, pelukis, aktor, pekerja teater, kritikus, sekaligus pengamat bahasa dan budaya. Keluasan pengetahuan dan kiprahnya di berbagai bidang membuat Remy kerap disebut sebagai “Ensiklopedia Berjalan.”

Jauh sebelum namanya dikenal luas melalui novel, puisi, musik, teater, dan berbagai karya kebudayaan, Remy juga memiliki keterkaitan erat dengan dunia pers dan kebudayaan populer, termasuk Majalah Aktuil, majalah musik dan hiburan yang pernah menjadi salah satu bacaan penting anak muda Indonesia pada era 1960-an hingga 1970-an.

Aktuil bukan sekadar majalah musik. Di tangan para pengelolanya dan para penulisnya, majalah yang terbit dari Bandung itu ikut merekam denyut perkembangan musik, seni pertunjukan, budaya populer, serta gaya hidup generasi muda pada zamannya. Nama Remy Sylado pun menjadi bagian dari dinamika intelektual dan kebudayaan yang tumbuh di lingkungan media tersebut.

Bandung pada masa itu memang memiliki atmosfer kreatif yang khas. Dari dunia pers, musik, sastra, teater hingga seni rupa, berbagai gagasan baru tumbuh dan saling berkelindan. Dalam ruang kebudayaan semacam itulah sosok Remy Sylado berkembang menjadi seniman dengan karakter yang kuat, kritis, berani, eksentrik, sekaligus “mbeling”.

Remy Sylado wafat pada 2022 dalam usia 78 tahun. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong dalam dunia kebudayaan Indonesia. Namun, kisah tentang dirinya tidak ikut berakhir. Karya, gagasan, kesaksian sahabat, serta jejak perjalanan hidupnya terus membuka kemungkinan untuk ditelusuri kembali.

Sore itu, Minggu (6/9/2026), Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Bandung, terasa lebih hidup dari biasanya.

Sahabat, seniman, budayawan, jurnalis, keluarga, mahasiswa, dan pencinta karya Remy Sylado berkumpul dalam suasana hangat dan akrab.

Mereka datang bukan sekadar untuk memperkenalkan sebuah buku, tetapi juga untuk merawat ingatan tentang seorang maestro yang telah memberi warna panjang bagi perjalanan kebudayaan Indonesia.

Buku yang menjadi titik temu dalam perbincangan tersebut adalah Remy Sylado & Dua Brouwer karya Ai Takeshita, Ph.D., pengajar Bahasa Indonesia di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Jepang.

Kehadiran Ai Takeshita menjadi menarik. Di tengah kenyataan bahwa karya-karya Remy Sylado belum banyak diterjemahkan dan beredar luas di Jepang, akademisi asal Negeri Sakura itu justru tertarik menelusuri perjalanan hidup dan kreativitas sang maestro, terutama periode penting ketika Remy berkiprah di dunia teater Bandung pada dekade 1970-an.

Bagi Ai Takeshita, Remy bukan sekadar sastrawan. Nama pena Yapi Panda Abdiel Tambayong itu merujuk pada sosok seniman multidisipliner yang bergerak di banyak bidang. Karena keluasan pengetahuannya, Remy bahkan pernah dijuluki “Ensiklopedia Berjalan”.

Salah satu jejak yang coba dirangkai Takeshita adalah masa muda Remy ketika Bandung menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan kreativitas dan eksperimen seni pada era 1970-an.

Saat itu, lanskap kebudayaan Bandung tengah bergerak. Berbagai gagasan baru bermunculan, pengaruh budaya Barat semakin terasa, sementara generasi muda mencari bentuk ekspresi yang lebih bebas dan berani menantang batas-batas kemapanan.

Penulis buku Remy Sylado dan Dua Brouwer, Ai Takeshita, bersama moderator Boy Worang dalam acara silaturahmi yang berlangsung di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Penulis buku Remy Sylado dan Dua Brouwer, Ai Takeshita, bersama moderator Boy Worang dalam acara silaturahmi yang berlangsung di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)

Di tengah suasana itulah Remy hadir dengan karakter khas: kritis, berani, eksentrik, dan “mbeling” tidak mudah tunduk pada aturan maupun kebiasaan yang telah mapan.

Takeshita menggambarkan kehadiran Remy pada masa itu seperti kembang api: menyala terang, memikat perhatian, kemudian menghilang, tetapi cahayanya meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.

Masalahnya, tidak seluruh perjalanan tersebut tersimpan dengan baik dalam arsip tertulis. Banyak kepingan sejarah kebudayaan hanya bertahan dalam ingatan orang-orang yang pernah mengalaminya.

Karena itu, dalam menyusun penelusurannya, Takeshita tidak hanya mengandalkan dokumen dan sumber tertulis. Ia juga berbicara dengan rekan-rekan teater, sahabat, kerabat, serta orang-orang yang pernah bersentuhan langsung dengan kehidupan dan perjalanan kreatif Remy.

Dari kesaksian-kesaksian tersebut, muncul sosok Remy yang jauh lebih kompleks daripada sekadar deretan karya dan penghargaan.

Ia dikenal keras dalam mempertahankan gagasan, tetapi dapat hangat dalam pergaulan. Ia gemar mendobrak batas, namun memiliki pengetahuan luas mengenai sejarah, bahasa, seni, dan kebudayaan.

Kontradiksi-kontradiksi itulah yang membuat sosoknya menarik untuk terus dipahami.

Dalam penelusuran tersebut, Takeshita menemukan persinggungan Remy dengan dua orang Belanda yang sama-sama bernama Brouwer.

Dua sosok inilah yang menjadi salah satu pintu masuk penting dalam Remy Sylado & Dua Brouwer. Kisah mereka tidak ditempatkan sekadar sebagai detail biografis, tetapi menjadi bagian dari upaya memahami jaringan pergaulan, pertukaran gagasan, serta lingkungan sosial dan kebudayaan yang turut mewarnai perjalanan Remy.

Dengan pendekatan tersebut, buku ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa Remy Sylado, tetapi juga mencoba melihat bagaimana lingkungan, pertemuan antarmanusia, dan persinggungan lintas budaya ikut membentuk seorang seniman.

Itulah sebabnya Remy Sylado & Dua Brouwer lebih tepat dibaca sebagai upaya merangkai kembali kepingan-kepingan ingatan yang tercecer. Ia membawa pembaca kembali pada suasana Bandung pada masanya sekaligus membuka jendela untuk melihat Remy sebagai manusia di balik nama besar “maestro”.

Buku tersebut diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Bagi yang ingin membacanya, buku Remy Sylado & Dua Brouwer dapat dipesan melalui penerbit maupun diperoleh di toko-toko buku Gramedia, dengan harga yang tercantum Rp59.000.

Di Perpustakaan Ajip Rosidi, penelusuran akademis itu kemudian bertemu dengan kenangan personal.

Acara yang dipandu seniman dan budayawan Boy Borang, sahabat sekaligus murid Remy, mengalir dalam suasana penuh keakraban. Berbagai cerita tentang Remy bermunculan, bukan hanya mengenai karya dan aktivitas keseniannya, tetapi juga tentang sosoknya dalam kehidupan sehari-hari.

Emmy Tambayong, istri almarhum, turut berbagi kenangan tentang Remy. Dari cerita-cerita tersebut, sosok sang maestro hadir bukan sebagai figur idola melainkan sebagai manusia yang pernah berkawan, berdiskusi, berdebat, bercanda, mengajar, dan berkarya bersama orang-orang di sekelilingnya.

Sejumlah sahabat dan orang-orang yang pernah dekat dengan Remy juga hadir, antara lain Bucky Wikagoe, salah seorang murid almarhum yang kini menjabat Ketua DPRD Jawa Barat; seniman Tatang Ramdhan Bouqie, Faiz Manshur, Hawe Setiawan, Yan Hartland, Deddy Effendie, Karno Kartadibrata, Juniarso Ridwan, Muhammad Syafrin Zaini, Kyai Matdon, Etti RS, Rinrin Candraresmi, Nunung Kusmiaty, Jan Hartland, TH Sugiyo, Danto Suganda, Yanov Ukur, Poedji Irawan, serta sejumlah sahabat lainnya.

Kehadiran mereka membuat pertemuan itu terasa seperti membuka kembali album kenangan.

Satu cerita disambung cerita lain. Satu nama memunculkan nama berikutnya. Dan dari sana, Remy seakan kembali hadir, bukan hanya sebagai penulis, musisi, pelukis, aktor, pekerja teater, dan kritikus, tetapi sebagai seorang manusia dengan pengalaman, pergaulan, gagasan, dan jejak yang begitu beragam.

Ai Takeshita sendiri bukan nama baru dalam kajian budaya dan sastra Indonesia. Ia merupakan pengajar bahasa Indonesia di Tokyo University of Foreign Studies dan memperoleh gelar Ph.D. dari Universitas Osaka pada 2011.

Kajian-kajiannya antara lain menyoroti budaya populer serta dinamika budaya Indonesia kontemporer di tengah perubahan zaman, globalisasi, dan perkembangan teknologi. Ia juga dikenal sebagai penerjemah novel Saman karya Ayu Utami ke dalam bahasa Jepang.

Ketertarikannya pada Remy memperlihatkan sesuatu yang menarik: warisan seorang seniman dapat melampaui batas bahasa dan negara, bahkan ketika karya-karyanya belum sepenuhnya dikenal luas di tempat tersebut.

Dari Bandung pada era 1970-an hingga penelitian seorang akademisi Jepang beberapa dekade kemudian, jejak Remy ternyata masih menyimpan banyak cerita.

Pertemuan di Perpustakaan Ajip Rosidi akhirnya menjadi lebih dari sekadar peluncuran atau pengenalan buku. Ia menjadi ruang pertemuan antara arsip dan ingatan, penelitian dan pengalaman, masa lalu dan generasi hari ini.

Di tempat itu, teater Bandung, sastra, musik, seni rupa, gagasan, persahabatan, dan perjalanan hidup Remy Sylado kembali dibicarakan.

Seorang maestro memang telah pergi. Tetapi seorang maestro tidak selalu benar-benar hilang.

Selama karya-karyanya masih dibaca, gagasannya masih diperbincangkan, panggungnya masih dikenang, dan kisah hidupnya masih diceritakan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, Remy Sylado akan selalu menemukan jalan untuk kembali hadir.

Dan sore itu, di antara buku-buku, percakapan, serta kenangan yang mengalir di Perpustakaan Ajip Rosidi, jejak sang maestro kembali menyala, seperti kembang api yang pernah menerangi langit kebudayaan Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:53

Mewah di Mata, Ramah di Kantong? Menilik Fifty One Braga

Di balik tampilan megah Fifty One Braga, ada pengalaman nongkrong dengan harga yang relatif terjangkau. Suasana elegan, pelayanan ramah, dan pilihan menu menjadi daya tarik tersendiri.

Tampilan bangunan dan interior Fifty One Braga yang menghadirkan kesan megah dan elegan di kawasan Jalan Braga, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:37

Melihat Asap dari Lensa Karl Marx

Asap tidak lepas dari perluasan perkebunan kelapa sawit. Siapa yang ada dibaliknya adalah korporasi dan prinsip kapitalistik. Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis.

Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis. (Sumber: Ilustrasi diolah Gemini AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 17:07

Sumpah Pemuda Jangan Cuma Gagah di Kata

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mendorong lahirnya generasi yang berani bekerja, mencipta, dan berinovasi.

Ilustrasi peringatan Sumpah Pemuda 2026 pentignnya mencegah layunya bunga demokrasi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 28 Okt 2026, 15:46

Tantangan Jurnalis di Era AI Bukan Lagi Soal Kecepatan

Perkembangan AI dan maraknya kreator konten membuat kecepatan bukan lagi keunggulan eksklusif media.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin. (Sumber: Humas Indonesia)
Beranda 28 Okt 2026, 15:30

IDMC 2026 AMSI Dibuka, Bahas Masa Depan Media di Era AI dan Konten Kreator

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, mengatakan industri media menghadapi tantangan serius terkait kepercayaan publik.

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 13:29

Budaya, Etika dan Moral di Tengah Perubahan Zaman: Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Apa yang bisa kita definisikan kembali tentang budaya, etika dan moral dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun ini? Seharusnya budaya, etika dan moral maknanya tidak tercerabut dalam perubahan zaman

Hari Sumpah Pemuda meneguhkan kembali budaya, etika, dan moral di tengah perubahan zaman (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 12:46

Kala PKL Bandung Menunggu ‘Wahyu’ dari Balai Kota

Gerobak milik PKL yang menutup jalur pejalan kaki bukan urusan remeh. Begitu pula sampah, kemacetan, dan bangunan liar.

Petugas Satpol PP Kota Bandung melakukan penertiban bangunan liar di atas trotoar. Hal tersebut sebagai upaya lanjutan dalam pembenahan PKL di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 11:42

Nasi Timbel dalam Balutan Anyaman Sunda

Nasi timbel lengkap di Warung Kopi Gunung Ciwidey disajikan dalam anyaman bambu khas Sunda, dengan ikan asin balado dan rempeyek kacang renyah.

Hidangan yang di balut kearifan lokal. (Foto: Zahra Rihhadatul Aisy)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 08:06

Bukan Sekadar Tempat Ngopi: Cerita tentang Jeda di Kalatemu

Lebih dari sekadar tempat ngopi, Kalatemu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melepas penat, menyelesaikan tugas, dan menikmati jeda dari rutinitas sehari-hari.

Tampak depan Kalatemu dengan logo kafe yang menjadi identitas tempat tersebut di Jalan Manisi, Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 20:11

Kamar Mewah dalam Lapas

Pungli di lapas ada uang ada kamar mewah

Ilustrasi lapas. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 19:00

Perguruan Tinggi di Bandung dan Karhutla

Karhutla sering terjadi di Indonesia sehingga diperlukan upaya-upaya agar tidak terjadi lagi di masa datang dengan aktifnya kampus atau Perguruan Tinggi berpartisasi dalam pencegahannya

Petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Rabu (12/8). (Sumber: Bidang Komunikasi Kebencanaan)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 18:02

Jejak Kenangan: Famor Radio Idola Bandung Era 80-90-an

Di Bandung, salah satu nama yang pernah mewarnai kehidupan pendengar pada era 1970-an hingga 1980-an adalah Radio FAMOR.

Booklet pedoman acara Radio Famor 1260 kHz yang memuat berbagai pilihan program siaran sepanjang tahun 1988. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 16:30

Karhutla Jauh dari Kota Bandung, namun Ibarat Kebakaran Halaman Rumah Sendiri (Bagian 1)

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan lagi masalah jauh. Dampaknya nyata merusak alam, mengancam kesehatan dan merugikan ekonomi—layaknya halaman rumah kita sendiri yang sedang membara.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan Gunung Semeru. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 14:54

Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ayo Biz 27 Okt 2026, 11:57

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala

PLN Nusantara Power UP Cirata bersama Gemapala perkuat kesiapsiagaan bencana dalam momentum Hari Sumpah Pemuda melalui aksi nyata.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:54

Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Peringatan hari santri nasional selalu ditandai dengan frasa resolusi jihad. Tetapi, apakah maknanya mulai bergeser mengikuti arah zaman? Atau ini menjadi titik balik dalam menumbuhkan spiritualitas?

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:33

Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Tantangan Bandung adalah mengubah modal SDM menjadi kompetensi yang relevan, pekerjaan yang bermutu, dan produktivitas yang meningkat.

Walikota Bandung Tanda Tangani Kemitraan Strategis Kolaborasi Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 08:59

Dari Bandung Teknologi Pendukung untuk Mitigasi Karhutla Bisa Diintegrasikan

Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem gambut, pengawasan kegiatan usaha, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi agenda utama

Perlu mengembangkan drone buatan PT Iter Aero di Bandung untuk mitigasi Karhutla (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 19:02

Media Sosial sebagai Mesin Pencari Utama Generasi Muda

Media sosial sebagai sarana pencari informasi generasi masa kini

Ilustrasi berbagai ikon platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram yang kini kerap digunakan sebagai sarana pencari informasi. (Sumber: Pixabay | Foto: BiljaST)