Nama Remy Sylado tentu tidak asing dalam perjalanan kebudayaan Indonesia. Lahir dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong, ia dikenal sebagai sosok multidisipliner: sastrawan, penulis, musisi, pelukis, aktor, pekerja teater, kritikus, sekaligus pengamat bahasa dan budaya. Keluasan pengetahuan dan kiprahnya di berbagai bidang membuat Remy kerap disebut sebagai “Ensiklopedia Berjalan.”
Jauh sebelum namanya dikenal luas melalui novel, puisi, musik, teater, dan berbagai karya kebudayaan, Remy juga memiliki keterkaitan erat dengan dunia pers dan kebudayaan populer, termasuk Majalah Aktuil, majalah musik dan hiburan yang pernah menjadi salah satu bacaan penting anak muda Indonesia pada era 1960-an hingga 1970-an.
Aktuil bukan sekadar majalah musik. Di tangan para pengelolanya dan para penulisnya, majalah yang terbit dari Bandung itu ikut merekam denyut perkembangan musik, seni pertunjukan, budaya populer, serta gaya hidup generasi muda pada zamannya. Nama Remy Sylado pun menjadi bagian dari dinamika intelektual dan kebudayaan yang tumbuh di lingkungan media tersebut.
Bandung pada masa itu memang memiliki atmosfer kreatif yang khas. Dari dunia pers, musik, sastra, teater hingga seni rupa, berbagai gagasan baru tumbuh dan saling berkelindan. Dalam ruang kebudayaan semacam itulah sosok Remy Sylado berkembang menjadi seniman dengan karakter yang kuat, kritis, berani, eksentrik, sekaligus “mbeling”.
Remy Sylado wafat pada 2022 dalam usia 78 tahun. Kepergiannya meninggalkan ruang kosong dalam dunia kebudayaan Indonesia. Namun, kisah tentang dirinya tidak ikut berakhir. Karya, gagasan, kesaksian sahabat, serta jejak perjalanan hidupnya terus membuka kemungkinan untuk ditelusuri kembali.
Sore itu, Minggu (6/9/2026), Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Bandung, terasa lebih hidup dari biasanya.
Sahabat, seniman, budayawan, jurnalis, keluarga, mahasiswa, dan pencinta karya Remy Sylado berkumpul dalam suasana hangat dan akrab.
Mereka datang bukan sekadar untuk memperkenalkan sebuah buku, tetapi juga untuk merawat ingatan tentang seorang maestro yang telah memberi warna panjang bagi perjalanan kebudayaan Indonesia.
Buku yang menjadi titik temu dalam perbincangan tersebut adalah Remy Sylado & Dua Brouwer karya Ai Takeshita, Ph.D., pengajar Bahasa Indonesia di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Jepang.
Kehadiran Ai Takeshita menjadi menarik. Di tengah kenyataan bahwa karya-karya Remy Sylado belum banyak diterjemahkan dan beredar luas di Jepang, akademisi asal Negeri Sakura itu justru tertarik menelusuri perjalanan hidup dan kreativitas sang maestro, terutama periode penting ketika Remy berkiprah di dunia teater Bandung pada dekade 1970-an.
Bagi Ai Takeshita, Remy bukan sekadar sastrawan. Nama pena Yapi Panda Abdiel Tambayong itu merujuk pada sosok seniman multidisipliner yang bergerak di banyak bidang. Karena keluasan pengetahuannya, Remy bahkan pernah dijuluki “Ensiklopedia Berjalan”.
Salah satu jejak yang coba dirangkai Takeshita adalah masa muda Remy ketika Bandung menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan kreativitas dan eksperimen seni pada era 1970-an.
Saat itu, lanskap kebudayaan Bandung tengah bergerak. Berbagai gagasan baru bermunculan, pengaruh budaya Barat semakin terasa, sementara generasi muda mencari bentuk ekspresi yang lebih bebas dan berani menantang batas-batas kemapanan.

Di tengah suasana itulah Remy hadir dengan karakter khas: kritis, berani, eksentrik, dan “mbeling” tidak mudah tunduk pada aturan maupun kebiasaan yang telah mapan.
Takeshita menggambarkan kehadiran Remy pada masa itu seperti kembang api: menyala terang, memikat perhatian, kemudian menghilang, tetapi cahayanya meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Masalahnya, tidak seluruh perjalanan tersebut tersimpan dengan baik dalam arsip tertulis. Banyak kepingan sejarah kebudayaan hanya bertahan dalam ingatan orang-orang yang pernah mengalaminya.
Karena itu, dalam menyusun penelusurannya, Takeshita tidak hanya mengandalkan dokumen dan sumber tertulis. Ia juga berbicara dengan rekan-rekan teater, sahabat, kerabat, serta orang-orang yang pernah bersentuhan langsung dengan kehidupan dan perjalanan kreatif Remy.
Dari kesaksian-kesaksian tersebut, muncul sosok Remy yang jauh lebih kompleks daripada sekadar deretan karya dan penghargaan.
Ia dikenal keras dalam mempertahankan gagasan, tetapi dapat hangat dalam pergaulan. Ia gemar mendobrak batas, namun memiliki pengetahuan luas mengenai sejarah, bahasa, seni, dan kebudayaan.
Kontradiksi-kontradiksi itulah yang membuat sosoknya menarik untuk terus dipahami.
Dalam penelusuran tersebut, Takeshita menemukan persinggungan Remy dengan dua orang Belanda yang sama-sama bernama Brouwer.
Dua sosok inilah yang menjadi salah satu pintu masuk penting dalam Remy Sylado & Dua Brouwer. Kisah mereka tidak ditempatkan sekadar sebagai detail biografis, tetapi menjadi bagian dari upaya memahami jaringan pergaulan, pertukaran gagasan, serta lingkungan sosial dan kebudayaan yang turut mewarnai perjalanan Remy.
Dengan pendekatan tersebut, buku ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa Remy Sylado, tetapi juga mencoba melihat bagaimana lingkungan, pertemuan antarmanusia, dan persinggungan lintas budaya ikut membentuk seorang seniman.
Itulah sebabnya Remy Sylado & Dua Brouwer lebih tepat dibaca sebagai upaya merangkai kembali kepingan-kepingan ingatan yang tercecer. Ia membawa pembaca kembali pada suasana Bandung pada masanya sekaligus membuka jendela untuk melihat Remy sebagai manusia di balik nama besar “maestro”.
Buku tersebut diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Bagi yang ingin membacanya, buku Remy Sylado & Dua Brouwer dapat dipesan melalui penerbit maupun diperoleh di toko-toko buku Gramedia, dengan harga yang tercantum Rp59.000.
Di Perpustakaan Ajip Rosidi, penelusuran akademis itu kemudian bertemu dengan kenangan personal.
Acara yang dipandu seniman dan budayawan Boy Borang, sahabat sekaligus murid Remy, mengalir dalam suasana penuh keakraban. Berbagai cerita tentang Remy bermunculan, bukan hanya mengenai karya dan aktivitas keseniannya, tetapi juga tentang sosoknya dalam kehidupan sehari-hari.
Emmy Tambayong, istri almarhum, turut berbagi kenangan tentang Remy. Dari cerita-cerita tersebut, sosok sang maestro hadir bukan sebagai figur idola melainkan sebagai manusia yang pernah berkawan, berdiskusi, berdebat, bercanda, mengajar, dan berkarya bersama orang-orang di sekelilingnya.
Sejumlah sahabat dan orang-orang yang pernah dekat dengan Remy juga hadir, antara lain Bucky Wikagoe, salah seorang murid almarhum yang kini menjabat Ketua DPRD Jawa Barat; seniman Tatang Ramdhan Bouqie, Faiz Manshur, Hawe Setiawan, Yan Hartland, Deddy Effendie, Karno Kartadibrata, Juniarso Ridwan, Muhammad Syafrin Zaini, Kyai Matdon, Etti RS, Rinrin Candraresmi, Nunung Kusmiaty, Jan Hartland, TH Sugiyo, Danto Suganda, Yanov Ukur, Poedji Irawan, serta sejumlah sahabat lainnya.
Kehadiran mereka membuat pertemuan itu terasa seperti membuka kembali album kenangan.
Satu cerita disambung cerita lain. Satu nama memunculkan nama berikutnya. Dan dari sana, Remy seakan kembali hadir, bukan hanya sebagai penulis, musisi, pelukis, aktor, pekerja teater, dan kritikus, tetapi sebagai seorang manusia dengan pengalaman, pergaulan, gagasan, dan jejak yang begitu beragam.
Ai Takeshita sendiri bukan nama baru dalam kajian budaya dan sastra Indonesia. Ia merupakan pengajar bahasa Indonesia di Tokyo University of Foreign Studies dan memperoleh gelar Ph.D. dari Universitas Osaka pada 2011.
Kajian-kajiannya antara lain menyoroti budaya populer serta dinamika budaya Indonesia kontemporer di tengah perubahan zaman, globalisasi, dan perkembangan teknologi. Ia juga dikenal sebagai penerjemah novel Saman karya Ayu Utami ke dalam bahasa Jepang.
Ketertarikannya pada Remy memperlihatkan sesuatu yang menarik: warisan seorang seniman dapat melampaui batas bahasa dan negara, bahkan ketika karya-karyanya belum sepenuhnya dikenal luas di tempat tersebut.
Dari Bandung pada era 1970-an hingga penelitian seorang akademisi Jepang beberapa dekade kemudian, jejak Remy ternyata masih menyimpan banyak cerita.

Pertemuan di Perpustakaan Ajip Rosidi akhirnya menjadi lebih dari sekadar peluncuran atau pengenalan buku. Ia menjadi ruang pertemuan antara arsip dan ingatan, penelitian dan pengalaman, masa lalu dan generasi hari ini.
Di tempat itu, teater Bandung, sastra, musik, seni rupa, gagasan, persahabatan, dan perjalanan hidup Remy Sylado kembali dibicarakan.
Seorang maestro memang telah pergi. Tetapi seorang maestro tidak selalu benar-benar hilang.
Selama karya-karyanya masih dibaca, gagasannya masih diperbincangkan, panggungnya masih dikenang, dan kisah hidupnya masih diceritakan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, Remy Sylado akan selalu menemukan jalan untuk kembali hadir.
Dan sore itu, di antara buku-buku, percakapan, serta kenangan yang mengalir di Perpustakaan Ajip Rosidi, jejak sang maestro kembali menyala, seperti kembang api yang pernah menerangi langit kebudayaan Bandung. (*)