Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Apakah desil bisa digunakan untuk menentukan tingkat atau strata ekonomi Indonesia kini? Beberapa kasus yang ditemukan, antara objek data dan fakta sosial yang didasarkan oleh jenis pekerjaan seseorang, tidak menunjukkan akurasi dari alat ukur tersebut.

Munculnya polemik ini, menjadi gambaran bahwa penggunaan desil dalam menggambarkan data statistik ekonomi Indonesia, tidak disusun secara sistematis dan profesional. Ada kesan bahwa ini hanya untuk melegalkan program pembangunan ekonomi yang digunakan untuk algoritma penyusunan laporan, tanpa analisis dan riset mendalam.

Desil adalah istilah yang pada dasarnya berarti pembagian suatu kumpulan data yang telah diurutkan menjadi sepuluh bagian yang sama besar. Istilah ini banyak digunakan dalam statistik, ekonomi, demografi, dan kebijakan sosial—misalnya desil pendapatan atau desil kesejahteraan.

Dari manakah asal-usul kata desil? Secara etimologis, desil berkaitan dengan istilah Inggris decile, yang berasal dari bahasa Latin decem, berarti “sepuluh”. Dalam bahasa Indonesia, bentuk desil merupakan bentuk yang telah diserap dan digunakan sebagai istilah statistik.

Dari perspektif linguistik, desil menarik karena memperlihatkan bagaimana bahasa ilmu pengetahuan membentuk istilah melalui proses penyerapan dan pemadanan istilah asing. Secara morfologis, desil merupakan leksem yang telah mengalami penyesuaian bentuk dalam bahasa Indonesia. Ia tidak lagi dipahami oleh penutur umum sebagai gabungan unsur Latin, melainkan sebagai satuan leksikal utuh dalam terminologi statistik.

Istilah desil menjadi polemik bukan karena konsep statistiknya keliru, melainkan karena desil sering dipahami masyarakat sebagai ukuran langsung tentang kemiskinan, pendapatan, atau kelayakan menerima bantuan, padahal secara metodologis maknanya lebih sempit dan relatif.

Dalam konteks Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), BPS menegaskan bahwa desil adalah peringkat relatif kesejahteraan keluarga, bukan angka nominal pendapatan atau kekayaan. Keluarga diurutkan berdasarkan berbagai karakteristik sosial-ekonomi lalu dibagi ke dalam 10 kelompok, dari desil 1 sampai desil 10.

Jadi desil adalah ranking, bukan nominal. BPS bahkan secara eksplisit membedakan desil dari pengeluaran per kapita. Pengeluaran per kapita merupakan nilai rata-rata pengeluaran seseorang dalam rumah tangga, sedangkan desil menunjukkan posisi relatif dalam distribusi kesejahteraan.

Ini penting karena masyarakat sering mencari logika sederhana:Desil bukan hanya berdasarkan penghasilan. Ini yang sering luput dalam perdebatan. Dalam DTSEN, pemeringkatan menggunakan berbagai karakteristik sosial-ekonomi secara simultan. BPS menyebut antara lain kondisi rumah, sumber air minum, energi untuk memasak, aset, listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan disabilitas. Pengolahan tersebut menggunakan pendekatan Proxy Means Test (PMT).

Artinya, dua keluarga dengan pendapatan yang sama belum tentu berada pada desil yang sama. Sebaliknya, dua keluarga dalam desil yang sama juga belum tentu memiliki pendapatan, pengeluaran, aset, dan kondisi kehidupan yang identik.

Di sinilah muncul persoalan komunikasi statistik: masyarakat melihat kehidupan secara konkret, sementara statistik melihat posisi melalui konstruksi indikator. Persoalannya menjadi serius ketika desil dipakai untuk menentukan kebijakan. Di sinilah polemik desil berubah dari persoalan istilah menjadi persoalan keadilan sosial.

Desil pada dasarnya merupakan instrumen pemeringkatan. Tetapi ketika hasil pemeringkatan digunakan pemerintah untuk menentukan sasaran program, konsekuensinya menjadi sangat konkret.

Misalnya: Keluarga A berada pada desil 3 dan dianggap memenuhi kriteria suatu program, sementara keluarga B berada pada desil 4 dan tidak memperoleh program tersebut. Perbedaan satu angka statistik akhirnya bisa berarti perbedaan akses terhadap bantuan atau program pemerintah. Padahal kehidupan sosial tidak mengenal batas yang setegas angka 3 dan 4.

Seseorang yang berada di sekitar batas antara dua kelompok bisa memiliki kondisi yang hampir sama, tetapi secara administratif berada dalam kategori berbeda. Karena itu, masalah sebenarnya bukan pada desil sebagai metode statistik, tetapi pada bagaimana angka statistik diterjemahkan menjadi keputusan administratif.

Ada persoalan “realitas lapangan” versus “realitas database”. Ini menurut saya merupakan kritik yang lebih mendasar. Kondisi ekonomi rumah tangga bersifat dinamis. Hari ini seseorang mempunyai pekerjaan. Besok kehilangan pekerjaan. Hari ini rumah tangga memiliki pendapatan cukup. Bulan berikutnya harus membayar biaya pendidikan, kesehatan, utang, atau kebutuhan keluarga yang besar.

Database, sebaliknya, membutuhkan snapshot—suatu keadaan yang direkam pada titik tertentu. Maka sangat mungkin muncul persepsi, seperti misalnya: “Saya hidup susah, tetapi mengapa masuk desil tinggi?”

BPS sendiri mengakui bahwa posisi desil bersifat relatif dan dapat berubah seiring perubahan kondisi sosial-ekonomi maupun perubahan posisi keluarga dibandingkan keluarga lainnya. Karena itu, DTSEN perlu terus diperbarui.

PMT merupakan metode statistik yang sah dan digunakan secara internasional. Namun bagi masyarakat awam, proses perhitungan berbagai variabel menjadi satu peringkat kesejahteraan adalah sesuatu yang tidak mudah dipahami. Karena itu, negara perlu membedakan dua hal: akurasi statistik dan keterterimaan sosial.

Sebuah model bisa secara statistik valid, tetapi tetap dipersoalkan masyarakat jika mekanisme penentuan hasilnya tidak dipahami atau dianggap tidak sesuai dengan pengalaman hidup mereka.

Maka, di sinilah letak persoalan epistemologisnya. Kalau kita melihatnya secara lebih kritis, polemik desil sebenarnya adalah polemik tentang bagaimana negara “mengetahui” rakyatnya. Negara membutuhkan angka untuk mengelola jutaan rumah tangga. Tetapi manusia tidak pernah bisa sepenuhnya dapat direduksi menjadi angka.

Statistik membutuhkan klasifikasi, sementara kehidupan membutuhkan kontinuitas. Karena itu, persoalan muncul ketika kategori statistik diperlakukan sebagai realitas sosial itu sendiri. Padahal kategori statistik hanyalah model untuk mendekati realitas.

Dengan kata lain, desil bukan realitas kemiskinan; desil adalah cara statistik untuk memetakan posisi relatif seseorang dalam distribusi kesejahteraan. Ini perbedaan yang sangat penting.

Maka, apa yang seharusnya dilakukan? Menurut teori, ada empat perbaikan yang diperlukan.

Pertama, pemerintah harus memperbaiki literasi statistik publik. Jangan hanya mengumumkan “desil 1–10”, tetapi jelaskan apa arti angka tersebut dan apa yang tidak boleh disimpulkan darinya.

Kedua, desil jangan menjadi satu-satunya dasar keputusan. Untuk kebijakan bantuan sosial, perlu ada mekanisme verifikasi dan pengecualian terhadap kondisi khusus.

Ketiga, mekanisme koreksi harus mudah. BPS saat ini menjelaskan bahwa pembaruan dapat dilakukan melalui berbagai kanal seperti Cek Bansos, SIKS-NG, dan Cek DTSEN. Tetapi mekanisme tersebut harus benar-benar mudah diakses masyarakat dan hasil koreksinya harus dapat dilacak.

Keempat, pemerintah harus membuka metodologi dengan bahasa yang bisa dipahami publik. Transparansi bukan berarti semua orang harus memahami rumus statistiknya, tetapi setiap warga harus dapat memahami mengapa dirinya ditempatkan dalam suatu kategori dan bagaimana cara mengoreksinya jika data keliru.

Jadi kesimpulannya, polemik desil sesungguhnya bukan sekadar polemik istilah statistik. Ia menyentuh persoalan yang jauh lebih besar: validitas data, transparansi negara, ketepatan sasaran bantuan, keadilan sosial, dan hubungan antara angka statistik dengan realitas kehidupan masyarakat.

Desil berguna sebagai alat pemeringkatan. Yang berbahaya adalah ketika alat tersebut berubah menjadi vonis sosial. Karena itu, prinsip yang seharusnya dipegang pemerintah adalah: Data harus menjadi alat untuk memahami manusia, bukan manusia yang dipaksa menyesuaikan diri dengan angka.

Dan justru di sinilah tantangan terbesar DTSEN: bukan sekadar membuat data yang besar dan terintegrasi, tetapi memastikan bahwa data tersebut benar-benar mampu membaca keragaman kehidupan rakyat Indonesia tanpa kehilangan manusia di balik angka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:53

Mewah di Mata, Ramah di Kantong? Menilik Fifty One Braga

Di balik tampilan megah Fifty One Braga, ada pengalaman nongkrong dengan harga yang relatif terjangkau. Suasana elegan, pelayanan ramah, dan pilihan menu menjadi daya tarik tersendiri.

Tampilan bangunan dan interior Fifty One Braga yang menghadirkan kesan megah dan elegan di kawasan Jalan Braga, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:37

Melihat Asap dari Lensa Karl Marx

Asap tidak lepas dari perluasan perkebunan kelapa sawit. Siapa yang ada dibaliknya adalah korporasi dan prinsip kapitalistik. Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis.

Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis. (Sumber: Ilustrasi diolah Gemini AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 17:07

Sumpah Pemuda Jangan Cuma Gagah di Kata

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mendorong lahirnya generasi yang berani bekerja, mencipta, dan berinovasi.

Ilustrasi peringatan Sumpah Pemuda 2026 pentignnya mencegah layunya bunga demokrasi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 28 Okt 2026, 15:46

Tantangan Jurnalis di Era AI Bukan Lagi Soal Kecepatan

Perkembangan AI dan maraknya kreator konten membuat kecepatan bukan lagi keunggulan eksklusif media.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin. (Sumber: Humas Indonesia)
Beranda 28 Okt 2026, 15:30

IDMC 2026 AMSI Dibuka, Bahas Masa Depan Media di Era AI dan Konten Kreator

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, mengatakan industri media menghadapi tantangan serius terkait kepercayaan publik.

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 13:29

Budaya, Etika dan Moral di Tengah Perubahan Zaman: Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Apa yang bisa kita definisikan kembali tentang budaya, etika dan moral dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun ini? Seharusnya budaya, etika dan moral maknanya tidak tercerabut dalam perubahan zaman

Hari Sumpah Pemuda meneguhkan kembali budaya, etika, dan moral di tengah perubahan zaman (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 12:46

Kala PKL Bandung Menunggu ‘Wahyu’ dari Balai Kota

Gerobak milik PKL yang menutup jalur pejalan kaki bukan urusan remeh. Begitu pula sampah, kemacetan, dan bangunan liar.

Petugas Satpol PP Kota Bandung melakukan penertiban bangunan liar di atas trotoar. Hal tersebut sebagai upaya lanjutan dalam pembenahan PKL di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 11:42

Nasi Timbel dalam Balutan Anyaman Sunda

Nasi timbel lengkap di Warung Kopi Gunung Ciwidey disajikan dalam anyaman bambu khas Sunda, dengan ikan asin balado dan rempeyek kacang renyah.

Hidangan yang di balut kearifan lokal. (Foto: Zahra Rihhadatul Aisy)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 08:06

Bukan Sekadar Tempat Ngopi: Cerita tentang Jeda di Kalatemu

Lebih dari sekadar tempat ngopi, Kalatemu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melepas penat, menyelesaikan tugas, dan menikmati jeda dari rutinitas sehari-hari.

Tampak depan Kalatemu dengan logo kafe yang menjadi identitas tempat tersebut di Jalan Manisi, Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 20:11

Kamar Mewah dalam Lapas

Pungli di lapas ada uang ada kamar mewah

Ilustrasi lapas. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 19:00

Perguruan Tinggi di Bandung dan Karhutla

Karhutla sering terjadi di Indonesia sehingga diperlukan upaya-upaya agar tidak terjadi lagi di masa datang dengan aktifnya kampus atau Perguruan Tinggi berpartisasi dalam pencegahannya

Petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Rabu (12/8). (Sumber: Bidang Komunikasi Kebencanaan)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 18:02

Jejak Kenangan: Famor Radio Idola Bandung Era 80-90-an

Di Bandung, salah satu nama yang pernah mewarnai kehidupan pendengar pada era 1970-an hingga 1980-an adalah Radio FAMOR.

Booklet pedoman acara Radio Famor 1260 kHz yang memuat berbagai pilihan program siaran sepanjang tahun 1988. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 16:30

Karhutla Jauh dari Kota Bandung, namun Ibarat Kebakaran Halaman Rumah Sendiri (Bagian 1)

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan lagi masalah jauh. Dampaknya nyata merusak alam, mengancam kesehatan dan merugikan ekonomi—layaknya halaman rumah kita sendiri yang sedang membara.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan Gunung Semeru. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 14:54

Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ayo Biz 27 Okt 2026, 11:57

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala

PLN Nusantara Power UP Cirata bersama Gemapala perkuat kesiapsiagaan bencana dalam momentum Hari Sumpah Pemuda melalui aksi nyata.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:54

Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Peringatan hari santri nasional selalu ditandai dengan frasa resolusi jihad. Tetapi, apakah maknanya mulai bergeser mengikuti arah zaman? Atau ini menjadi titik balik dalam menumbuhkan spiritualitas?

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:33

Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Tantangan Bandung adalah mengubah modal SDM menjadi kompetensi yang relevan, pekerjaan yang bermutu, dan produktivitas yang meningkat.

Walikota Bandung Tanda Tangani Kemitraan Strategis Kolaborasi Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 08:59

Dari Bandung Teknologi Pendukung untuk Mitigasi Karhutla Bisa Diintegrasikan

Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem gambut, pengawasan kegiatan usaha, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi agenda utama

Perlu mengembangkan drone buatan PT Iter Aero di Bandung untuk mitigasi Karhutla (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 19:02

Media Sosial sebagai Mesin Pencari Utama Generasi Muda

Media sosial sebagai sarana pencari informasi generasi masa kini

Ilustrasi berbagai ikon platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram yang kini kerap digunakan sebagai sarana pencari informasi. (Sumber: Pixabay | Foto: BiljaST)