ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

6 menit baca
Henri Sinurat
Ditulis oleh Henri Sinurat diterbitkan
Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Data terbaru survei Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional (Pusjar SKTAN) menunjukkan keyakinan yang tinggi di kalangan ASN Generasi Z terhadap pilihan kariernya. Dari 4.561 responden, sebanyak 4.395 orang atau 96,36 persen menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa dirinya cocok dan layak berkarier sebagai aparatur sipil negara.

Namun, ada temuan lain yang menarik. Sebanyak 4.412 responden atau 96,74 persen menyatakan setuju atau sangat setuju dengan pernyataan bahwa sebagian ASN masih perlu meningkatkan kompetensi dan kualitas kerja.

Dua temuan ini tidak bertentangan. Yang pertama berbicara tentang penilaian terhadap diri sendiri, sedangkan yang kedua merupakan penilaian terhadap kondisi ASN secara lebih umum.

Justru perbedaan itu menarik. ASN Gen Z memiliki keyakinan yang tinggi terhadap kecocokan dirinya dengan profesi ASN, tetapi pada saat yang sama mereka melihat masih ada pekerjaan rumah dalam kualitas aparatur secara keseluruhan.

Bagi pengelolaan ASN, temuan tersebut penting. Rasa cocok terhadap profesi merupakan modal awal. Namun, modal itu baru berarti apabila organisasi mampu mengubahnya menjadi kompetensi dan kinerja.

Percaya Diri terhadap Diri, Kritis terhadap Organisasi

Survei menunjukkan bahwa 97,72 persen responden menyatakan memiliki kemampuan dasar yang memadai. Sebanyak 98,40 persen menyatakan siap mempelajari hal baru. Sementara itu, 98,62 persen menyatakan disiplin dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Gambaran tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap kapasitas pribadi.

Pada saat yang sama, 96,74 persen responden menilai masih ada ASN yang perlu meningkatkan kompetensi dan kualitas kerja. Sebanyak 2.273 responden menyatakan setuju dan 2.139 sangat setuju terhadap pernyataan tersebut. Nilai rata-ratanya mencapai 3,43 pada skala 1–4.

Artinya, responden tidak melihat persoalan kompetensi ASN sebagai sesuatu yang sudah selesai.

Yang menarik, penilaian itu muncul bersamaan dengan keyakinan tinggi terhadap kemampuan diri sendiri. Responden merasa memiliki kemampuan dasar yang memadai, siap belajar, dan mampu menjalankan tugas dengan disiplin. Namun, mereka tetap melihat perlunya peningkatan kompetensi dan kualitas kerja di kalangan ASN.

Temuan tersebut setidaknya menunjukkan adanya jarak antara persepsi terhadap kapasitas pribadi dan penilaian terhadap kualitas aparatur secara umum. Jarak itu tidak perlu dibaca sebagai kelemahan responden. Sebaliknya, ia dapat menjadi indikasi bahwa ASN muda memiliki ekspektasi tertentu terhadap standar profesionalisme aparatur.

Cocok Bukan Berarti Berhenti Belajar

Sebanyak 96,36 persen responden merasa cocok dan layak berkarier sebagai ASN. Nilai rata-rata jawabannya mencapai 3,37 dari skala 1–4.

Angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki keyakinan positif terhadap pilihan profesinya. Hanya 166 responden atau 3,64 persen yang menyatakan tidak setuju atau sangat tidak setuju.

Namun, rasa cocok terhadap profesi tidak seharusnya diterjemahkan sebagai tanda bahwa proses pengembangan telah selesai.

Dalam pekerjaan yang tuntutannya terus berubah, kompetensi tidak bersifat statis. Perubahan teknologi, pola pelayanan publik, regulasi, dan cara kerja organisasi menuntut ASN untuk terus memperbarui kemampuan.

Karena itu, temuan bahwa 96,74 persen responden melihat masih perlunya peningkatan kompetensi dan kualitas kerja justru dapat dibaca sebagai pesan positif. Ada kesadaran bahwa menjadi ASN bukan berarti mencapai titik akhir pembelajaran.

Persoalannya kemudian berpindah kepada organisasi. Jika ASN muda sudah memiliki keyakinan terhadap profesinya dan kesiapan untuk belajar, apakah sistem kerja menyediakan ruang yang cukup untuk pengembangan kompetensi ASN Gen Z tersebut?

Bangkom Tidak Hanya Pelatihan

Jawabannya tidak cukup dengan menambah jumlah pelatihan semata. Pengembangan kompetensi sering kali dipersempit menjadi kegiatan pelatihan. Pegawai dikirim mengikuti kelas, memperoleh sertifikat, lalu kembali ke unit kerja. Pendekatan seperti itu tentu berguna, tetapi tidak otomatis mengubah kemampuan menjadi kinerja.

Pengembangan kompetensi harus terhubung dengan pekerjaan.

ASN perlu memperoleh penugasan yang sesuai dengan kapasitasnya, kesempatan menghadapi persoalan baru, umpan balik dari atasan, serta ruang untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh. Dengan demikian, pengembangan kompetensi tidak menjadi kegiatan yang berdiri sendiri dari pekerjaan sehari-hari.

Temuan survei mengenai kesiapan mempelajari hal baru seharusnya dibaca dalam kerangka tersebut. Sebanyak 98,40 persen responden menyatakan siap mempelajari hal baru. Hal ini merupakan modal yang besar. Tetapi kemauan belajar membutuhkan lingkungan organisasi yang mendukung.

Jika organisasi tidak memberikan kesempatan mencoba, mengambil tanggung jawab, menerima umpan balik, dan berpindah ke penugasan yang lebih menantang, kesiapan belajar akan sulit berkembang menjadi peningkatan kapasitas.

Mobilitas talenta ASN adalah kunci birokrasi lincah dan merata. (Sumber: Pemprov Maluku Utara)
Mobilitas talenta ASN adalah kunci birokrasi lincah dan merata. (Sumber: Pemprov Maluku Utara)

Bagaimana dengan Kelompok Kecil?

Kelompok kecil yang menyatakan tidak merasa cocok dan layak berkarier sebagai ASN juga perlu diperhatikan, meskipun jumlahnya hanya 166 responden.

Data tersebut belum cukup untuk menjelaskan alasan mereka. Karena itu, tidak tepat langsung menyimpulkan bahwa mereka salah memilih profesi, masuk ASN karena tekanan keluarga, atau memiliki masalah dengan lingkungan kerja.

Yang dapat dikatakan dari data adalah terdapat sebagian kecil ASN muda yang belum melihat dirinya cocok dengan karier sebagai ASN.

Pertanyaan mengenai kelompok ini justru penting untuk penelitian dan kebijakan lanjutan. Apa yang menyebabkan ketidakcocokan tersebut? Apakah berkaitan dengan pekerjaan, penempatan, lingkungan organisasi, pola kepemimpinan, atau ekspektasi terhadap karier?

Jawaban atas pertanyaan itu diperlukan agar data survei tidak berhenti pada angka persentase.

Dalam manajemen talenta, informasi mengenai kelompok yang merasa tidak sesuai sama pentingnya dengan informasi mengenai kelompok yang merasa sangat sesuai. Bukan karena kelompok minoritas harus diperlakukan istimewa, melainkan karena ketidakcocokan dapat menjadi informasi bagi organisasi untuk memperbaiki penempatan dan pengembangan pegawai.

Dari Career Fit ke Organizational Fit

Selama ini, pembicaraan mengenai kecocokan karier cenderung diletakkan pada individu. Muncul pertanyaan apakah seseorang cocok menjadi ASN atau tidak. Padahal kecocokan tidak hanya ditentukan oleh karakteristik individu. Hal ini juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat seseorang bekerja.

ASN yang memiliki kemampuan baik belum tentu berkembang jika ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai. Pegawai yang memiliki kemauan belajar juga belum tentu tumbuh jika organisasinya tidak memberi kesempatan belajar.

Karena itu, hasil survei perlu mendorong pergeseran cara pandang. Career fit tidak cukup dilihat sebagai kesesuaian individu dengan profesi. Perlu ada perhatian terhadap organizational fit, yaitu sejauh mana organisasi mampu menyediakan lingkungan yang memungkinkan kapasitas pegawai digunakan dan dikembangkan.

Bagi birokrasi hal ini bukan persoalan kecil. Rekrutmen yang baik hanya menghasilkan potensi. Penempatan, pengembangan, kepemimpinan, dan manajemen kinerja yang menentukan apakah potensi tersebut benar-benar menghasilkan kinerja.

Tugas Birokrasi Setelah Merekrut Gen Z

Temuan survei Pusjar SKTAN memberikan pesan yang relatif jelas. ASN Gen Z yang menjadi responden menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap dirinya. Mereka merasa memiliki kemampuan dasar yang memadai, siap mempelajari hal baru, disiplin, dan bertanggung jawab. Pada saat yang sama, mereka menilai peningkatan kompetensi dan kualitas kerja ASN masih diperlukan.

Artinya, tantangan birokrasi bukan lagi berhenti pada bagaimana membuat generasi muda tertarik menjadi ASN. Tantangannya adalah apa yang dilakukan setelah mereka masuk.

Jika 96,36 persen merasa cocok dan layak berkarier sebagai ASN, maka birokrasi memiliki modal berupa keterikatan awal terhadap profesi. Jika 98,40 persen siap mempelajari hal baru, organisasi memiliki modal kemauan belajar. Jika 96,74 persen melihat masih perlunya peningkatan kompetensi dan kualitas kerja, terdapat pula kesadaran bahwa standar profesionalisme harus terus ditingkatkan. Ketiga hal tersebut perlu dipertemukan dalam sistem manajemen ASN.

Pengembangan karier perlu lebih berbasis kompetensi dan kinerja. Profil potensi dan kompetensi harus digunakan dalam penempatan dan pengembangan, bukan berhenti sebagai data administratif. Pelatihan harus dikaitkan dengan kebutuhan pekerjaan. Mobilitas dan penugasan perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan talenta.

Dengan begitu, rasa cocok terhadap profesi tidak berhenti sebagai persepsi positif pegawai. Ia menjadi titik awal bagi proses pengembangan yang lebih terarah.

ASN Gen Z mungkin melihat birokrasi sebagai pilihan karier yang tepat. Itu modal yang penting. Tetapi bagi birokrasi, pekerjaan sebenarnya baru dimulai setelah keyakinan tersebut terbentuk.

Tantangannya adalah memastikan mereka tidak hanya cocok menjadi ASN, tetapi juga tumbuh menjadi ASN yang kompeten dan berkinerja. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)