Kita Menghirup Asap yang Sama

6 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)

Jika Anda membaca tulisan ini dari Bandung yang jaraknya ke Pontianak sekitar 738 km – 790 km atau ke Banjarmasin dengan jarak sekitar 900 km – 927 km atau ke Balikpapan yang berjark sekitar 1.200 km – 1.239 km, Anda tentu tidak akan merasakan sesak napas atau terbatasnya jangkauan penglihatan. Tapi, Anda harus percaya bahwa sebagaimana penduduk Jawa, Papua, Sumatera, atau Sulawesi, penduduk Borneo juga membutuhkan udara yang sehat. Haruskah mereka membiasakan diri dengan permasalahan yang sama setiap tahun hingga berevolusi secara fisiologis menjadi “manusia tahan asap”--seperti Jerapah dalam teori Lamarckisme itu. 

Asap pekat yang dihasilkan bukan sekadar fenomena alam atau gangguan penglihatan sementara, melainkan krisis ekologis dan sosial yang dampaknya melintasi batas-batas wilayah administrasi maupun negara (transboundary haze). Kandungan asap kebakaran hutan dipenuhi oleh zat beracun, mulai dari karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), hingga partikel mikroskopis halus, PM2.5. Kebakaran hutan dan kabut asap yang dihasilkannya bukan sekadar gangguan vegetasi, melainkan ancaman multidimensional yang merusak kesehatan masyarakat, meruntuhkan fondasi perekonomian, serta memicu krisis ekologis yang berkepanjangan.

Di antara dampak langsung dan dirasakan dari kabut asap adalah penurunan kualitas udara. Dalam jangka pendek, paparan asap memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, serta eksaserbasi asma. Ancaman yang paling mematikan terletak pada keberadaan partisipatif mikro PM2.5. Partikel dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer ini sangat mudah dihirup hingga masuk ke bagian terdalam paru-paru dan menembus aliran darah. Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap PM2.5 meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, kanker paru-paru, hingga gangguan perkembangan organ dan kognitif pada kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Di luar dampaknya bagi manusia, asap kebakaran hutan adalah sinyal utama terjadinya kehancuran ekosistem secara masif. Ketika lahan gambut yang kaya akan cadangan karbon terbakar, gigaton emisi gas rumah kaca terlepas langsung ke atmosfer, memicu percepatan pemanasan global dan perubahan iklim.

Selain pencemaran udara yang merambat hingga ke negara jiran, karhutla juga menghancurkan keanekaragaman hayati secara langsung. Satwa endemik terancam kehilangan habitat, mati akibat sesak nafas, atau terpaksa merambah pemukiman warga demi bertahan hidup. Hilangnya tutupan hutan dan vegetasi pendukung juga merusak siklus hidrologi, memicu krisis air bersih, dan meningkatkan kerentanan lahan terhadap erosi serta banjir di musim berikutnya.

Berdasarkan pengalaman, dampak yang tidak kalah besarnya adalah kelumpuhan di sektor sosio-ekonomi. Menurut laporan Bank Dunia (World Bank), kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada tahun 2019 mencapai US$ 5,2 miliar, yang memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Kabut asap yang pekat melumpuhkan mobilitas dan aktivitas harian. Bandara harus membatalkan penerbangan demi keselamatan, sekolah-sekolah terpaksa diliburkan untuk melindungi kesehatan siswa, dan aktivitas perdagangan maupun pertanian terhenti. Beban biaya pengobatan dan pengeluaran kesehatan membengkak secara drastis, baik di tingkat rumah tangga maupun anggaran negara. Di sektor perikanan dan pertanian, berkurangnya intensitas cahaya matahari akibat tertutup kabut asap mengganggu laju fotosintesis tanaman dan menghambat aktivitas produksi panen warga.

Kebakaran hutan dan kabut asap yang dihasilkannya telah terbukti menjadi bencana multidimensi yang melumpuhkan kesehatan, menghancurkan kelestarian lingkungan, dan menguras ketahanan ekonomi masyarakat. Penanganan masalah ini tidak bisa hanya berfokus pada upaya pemadaman api secara reaktif ketika kabut asap telah terlanjur membumbung.

Dibutuhkan langkah preventif dan komprehensif, mulai dari penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu terhadap pelaku atau korporasi pembuka lahan secara ilegal, restorasi kawasan gambut yang terdegradasi, hingga edukasi pengelolaan lahan tanpa bakar berbasis masyarakat. Menjaga integritas hutan bukan sekadar upaya melestarikan pohon dan vegetasi, melainkan bentuk investasi nyata untuk melindungi kelangsungan hidup manusia, stabilitas ekonomi, dan hak fundamental atas udara bersih bagi generasi masa depan.

Kita mesti belajar dari arogansi modernitas yang lahir dengan keyakinan bahwa akal budi (rasio) dan kemajuan teknologi akan membawa kedamaian dan kesejahteraan mutlak bagi manusia. Namun, nyatanya, abad ke-20 yang sangat modern justru diwarnai oleh dua Perang Dunia. Teknologi dan rasionalitas yang diagungkan justru beralih fungsi menjadi alat penghancur yang sangat efisien. Modernitas yang  terobsesi dengan narasi besar yang mencari satu kebenaran mutlak, universal, dan seragam mematikan kebudayaan, nilai lokal, dan kelompok minoritas yang tidak sejalan dengan standar oligarki. Modernitas menciptakan sistem yang mekanistik dan terlalu fokus pada efisiensi ekonomi atau industri. Manusia di era modern cenderung dipandang sebatas angka statistik atau sekadar roda penggerak dalam sistem kapitalisme industri, yang akhirnya memicu alienasi. Kita mesti menyadari, bahwa apa yang disebut "kebenaran objektif" di modern sering kali merupakan bentukan dari pihak yang memiliki kekuasaan. Kebenaran modern dinilai tidak netral dan sarat akan kepentingan politik atau ekonomi kelompok tertentu. Jangan-jangan asap adalah hantu modernitas yang menuntut tumbal kepada oligarki?

Upaya preventif yang dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran hutan serta kabut asap secara berkelanjutan adalah penerapkan sanksi hukum yang berat—baik pidana maupun perdata—tanpa kompromi bagi perorangan maupun korporasi yang membuka lahan dengan cara membakar. Pengawasan berbasis teknologi dengan memanfaatkan satelit pemantau titik panas (hotspot) dan teknologi drone secara real-time untuk mendeteksi potensi kebakaran di lahan rawan, khususnya kawasan hutan dan lahan gambut. Restorasi lahan gambut dengan  menjaga tingkat kebasahan ekosistem gambut melalui pembangunan sekat kanal (canal blocking) dan revegetasi agar lahan tidak mudah kering dan terbakar saat musim kemarau. Berikutnya adalah edukasi dan pelibatan masyarakat dalam memberikan penyuluhan kepada petani dan masyarakat sekitar hutan mengenai metode pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) serta membentuk kelompok masyarakat peduli api (MPA).

Sebagai penanggulangan, pengerahkan satuan tugas darat dari manggala agni, TNI, Polri, dan masyarakat secara cepat ke lokasi titik api sebelum api meluas. Operasi teknologi modifikasi cuaca dengan menyemai awam menggunakan bahan tertentu untuk memicu hujan buatan di wilayah-wilayah rawan karhutla. Evakuasi dan Perlindungan kelompok rentan dengan menyiapkan posko kesehatan darurat, menyediakan masker berkualitas (seperti N95), serta mengevakuasi kelompok rentan (balita, lansia, dan penderita gangguan pernapasan) ke ruang publik yang dilengkapi penjernih udara (air purifier).

Sementara untuk upaya mitigasi jangka panjang diperlukan  tata kelola kebijakan lahan dengan mengevaluasi perizinan konsesi lahan bagi korporasi perkebunan dan kehutanan, serta mewajibkan adanya infrastruktur pengendalian kebakaran yang memadai di setiap perusahaan pemegang izin. Juga diperlukan kerja sama lintas batas (Transboundary Cooperation) untuk memperkuat diplomasi dan kerja sama bilateral maupun regional (misalnya melalui kesepakatan ASEAN tentang polusi kabut asap lintas batas) untuk berbagi data, teknologi, dan strategi pencegahan.

Di tengah situasi bencana kebakaran hutan dan kabut asap, informasi atau berita yang simpang siur, hoaks, maupun disinformasi sering kali memperkeruh keadaan—mulai dari kepanikan publik terkait tingkat polusi, hoaks seputar penanganan bencana, hingga simpang siurnya data wilayah terdampak.

Baca Juga: Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Celakanya, di masa yang kita mudah memeroleh informasi, malah kita kebanjiran, kita tak memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah informasi yang dapat dipercaya atau bertanggung jawab. Akhirnya, kita terjebak dalam kekacauan informasi. Otoritas resmi mesti menyediakan satu pintu informasi resmi, pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah [BPBD], Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [KLHK], serta BMKG perlu menyediakan satu kanal atau hub informasi terpusat yang diperbarui secara real-time. Rilis data kualitas udara yang transparan, memublikasikan data indeks kualitas udara dan peta sebaran titik panas secara terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat agar tidak ada ruang bagi spekulasi atau disinformasi.Membentuk satuan tugas komunikasi krisis yang bertugas mendeteksi dan langsung meluruskan berita bohong yang beredar di media sosial sebelum memicu kepanikan massal.

Peran Media Massa dan Jurnalis adalah melakukan verifikasi ketat mematuhi kode etik dengan melakukan verifikasi silang terhadap narasumber yang kredibel sebelum menyebarkan berita, terutama mengenai klaim korban jiwa atau luas lahan yang terbakar. Media massa dapat secara aktif memuat rubrik edukasi literasi media dan kesehatan kepada masyarakat, misalnya cara membedakan informasi valid mengenai masker yang harus digunakan atau tindakan darurat saat kabut asap pekat.

Peran warganet adalah menerapkan prinsip kehati-hatian dengan tidak langsung menyebarkan informasi atau video terkait kebakaran hutan yang diterima melalui grup percakapan atau media sosial sebelum dipastikan kebenarannya. Membiasakan diri memeriksa informasi hanya dari lembaga atau instansi yang berwenang (seperti BMKG, BNPB, atau situs pemantau udara kredibel) alih-alih mempercayai narasi dari akun anonim. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 14:54

Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ayo Biz 27 Okt 2026, 11:57

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala

PLN Nusantara Power UP Cirata bersama Gemapala perkuat kesiapsiagaan bencana dalam momentum Hari Sumpah Pemuda melalui aksi nyata.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:54

Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Peringatan hari santri nasional selalu ditandai dengan frasa resolusi jihad. Tetapi, apakah maknanya mulai bergeser mengikuti arah zaman? Atau ini menjadi titik balik dalam menumbuhkan spiritualitas?

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:33

Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Tantangan Bandung adalah mengubah modal SDM menjadi kompetensi yang relevan, pekerjaan yang bermutu, dan produktivitas yang meningkat.

Walikota Bandung Tanda Tangani Kemitraan Strategis Kolaborasi Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 08:59

Dari Bandung Teknologi Pendukung untuk Mitigasi Karhutla Bisa Diintegrasikan

Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem gambut, pengawasan kegiatan usaha, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi agenda utama

Perlu mengembangkan drone buatan PT Iter Aero di Bandung untuk mitigasi Karhutla (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 19:02

Media Sosial sebagai Mesin Pencari Utama Generasi Muda

Media sosial sebagai sarana pencari informasi generasi masa kini

Ilustrasi berbagai ikon platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram yang kini kerap digunakan sebagai sarana pencari informasi. (Sumber: Pixabay | Foto: BiljaST)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 17:00

Tahura Djuanda, Hutan Raya yang Penyimpan Jejak Sejarah

Tahura Djuanda di Dago Pakar, Bandung, menawarkan hutan sejuk, Gua Belanda, Gua Jepang, museum, dan Curug Omas untuk liburan alam dan sejarah.

Gelang masuk Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, Bandung.
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:36

Bandung dan Pusat Mata Nasional:  Solidaritas bagi Korban Karhutla Kalimantan

Segenap urang Bandung memiliki momentum yang amat mulia untuk menunjukkan bahwa solidaritas antardaerah tidak berhenti pada rasa prihatin.

Aeshtetic Eye Care & Dry Eye Clinic di RS Mata Cicendo. (Sumber: RS Mata Cicendo)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:02

Menata Kiaracondong, Menjaga Mata Pencaharian: Tantangan Kepemimpinan Pemerintah

Adanya Penertiban 77 lapak pedagang kaki lima di Pasar Kiaracondong, Kota Bandung, Pada Senin, 12 Oktober 2026. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagaimana pemerintah menjalankan perannya.

Puluhan pedagang di kawasan Pasar Kiaracondong membongkar bangunan yang ditempati secara mandiri, Senin, 12 Oktober 2026. (Sumber: Dok. Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 14:00

Kebakaran Hutan di Masa Hindia Belanda

Sejarah kehutanan pada masa Hindia Belanda menjadi pengingat bahwa pengelolaan hutan harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi, hak masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pembukaan lahan di Sumatra Utara pada 1910 untuk dijadikan perkebunan. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 13:27

Parkir Gratis sebagai Fiksi yang Dipajang dengan Huruf Kapital

Keberadaan juru parkir di depan gerai minimarket  tidak otomatis berarti terjadi pelanggaran. Toh, di sejumlah minimarket, ada petugas parkir yang memang bekerja secara resmi.

Ilustrasi lahan parkir sepeda motor. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:11

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Warga Bandung dalam Penanganan Karlutha

Warga Bandung harus bersuara kritis dalam penanganan karlutha. Mendorong pemerintah untuk menangani karlutha ini lebih serius dengan sikap empati dan kesadaran kolektif. Ini sudah bencana nasional.

Aksi unjuk rasa BEM SI Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa 13 Oktober 2026. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan negara, salah satunya kebakaran hutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:02

Bantu Kami Bersuara, Meski Terkesan Sia-sia

Suara rakyat di negeri ini memang seringkali terabaikan. Tapi tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat terdampak selain bersuara.

Kondisi update Palangkaraya (Sumber: Instagram | nabila_albathaty)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 10:34

Inisiatif Bandung Melawan Panas dengan Teknologi Kabut Air

Pemkot Bandung atau kepada pengelola gedung dan tempat publik untuk menerapkan teknologi kabut air yang bekerja dengan menyemprotkan butiran air yang sangat halus ke udara.

Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 07:47

Hanya karena Bandung Tidak Terdampak, Bukan Berarti Korban Karhutla Baik-baik Saja

Karhutla yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Sementara yang hilang bukan hanya hutan tapi penghuni didalamnya pun manusia itu sendiri.

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 20:33

Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

Karhutla mungkin terasa jauh dari Bandung. Namun, melalui gagasan butterfly effect, kita diingatkan bahwa kepedulian lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan dan tuntutan pertanggungjawaban.

Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Bandung 25 Okt 2026, 20:00

Napas Subkultur Jalanan Kota Kembang: Saat Beton Arena Jadi Rumah Ekspresi dan Tangguh Anak Muda

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda.

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 19:38

Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

Kota yang bersih tidak lahir hanya dari program yang baik, tetapi juga dari kebiasaan warganya. Tantangannya, bagaimana memastikan program yang baik, benar-benar melahirkan perubahan perilaku?

Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)