Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik. Perlu solusi teknologi penggunaan pompa air. Jenis pompa yang tepat adalah pompa submersible tenaga surya.
Pompa submersible adalah pompa celup yang diturunkan langsung ke sumur bor sedalam 30-50 meter. Kelebihannya, mampu menyedot air dalam dan mendorongnya dengan tekanan tinggi. Ini penting karena api gambut membakar di bawah permukaan tanah.
Agar bisa beroperasi di tengah hutan tanpa PLN, pompa ini digerakkan oleh panel surya. Tidak butuh BBM. Cukup sinar matahari. Dalam 15 menit air sudah bisa disemprotkan ke titik api.
Satu unit sistem mampu menghasilkan debit 300 Liter per menit dengan daya 3HP. Dilengkapi tandon 5000 Liter, sistem ini bisa bekerja meski mendung atau malam hari.
Dengan teknologi ini, penanggulangan karhutla terutama yang terjadi di kawasan gambut diharapkan bergeser dari reaktif menjadi preventif. Jika ada air, ada harapan lahan gambut tidak lagi terbakar.
Sekitar 80 persen titik rawan karhutla di Sumatera dan Kalimantan tidak terjangkau jaringan PLN. Menarik genset ke lokasi butuh BBM mahal dan rawan telat.
Satu paket sistem terdiri dari Panel Surya 4400WP, Pompa DC 3HP, Baterai 48V 200Ah, Sumur Bor 50 m, Tandon, dan 200 meter selang pemadam.
Dengan adanya sistem ini, diharapkan kebakaran gambut di Indonesia bisa ditekan secara signifikan mulai dari hulunya yakni ketersediaan air.
Sistem ini sudah diterapkan di beberapa konsesi di Riau dan Kalimantan Tengah bekerja sama dengan BPBD dan perusahaan.
Perlu program terpadu antara pusat dan daerah untuk mengatasi akar masalah kabut asap akibat kutukan lahan gambut. Program tersebut antara lain usaha rewetting atau pembasahan kembali kawasan gambut tropika yang telah terdegradasi. Pada prinsipnya gambut yang basah menghambat terjadinya kebakaran.
Indonesia memiliki lahan gambut sekitar 20,6 juta hektar yang merupakan setengah dari luas lahan gambut di daerah tropika. Lahan gambut sebenarnya memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi dan dikenal sebagai habitat flora dan fauna yang spesifik bernilai ekonomi tinggi.
Seperti pohon seperti Ramin (Gonystylus bancanus), Jelutung (Dyera costulata), Meranti , dan bermacam satwa seperti orang utan dan sebagainya. Selain itu lahan gambut mempunyai peran penting ekologi dan kemampuan menyimpan air dan karbon dalam jumlah yang besar. Sayangnya peran tersebut kini terganggu oleh agroindustri.
Perlu program yang tepat untuk mengelola dan melestarikan gambut secara tepat dan bijaksana. Program restorasi dan rehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi selama ini masih ala kadarnya. Hal itu terlihat dengan banyaknya drainase yang dibuat oleh pengusaha yang kurang memperhatikan prinsip ekologis. Adanya drainase tersebut melancarkan kasus pembalakan liar dan menyebabkan lahan gambut mudah terbakar.
Perlu kesadaran bangsa untuk memahami fungsi ekologis hutan gambut. Dimana fungsi alamiah itu sebenarnya mirip dengan fungsi gunung yang menjadi mata air beberapa sungai. Fungsi gunung yang menampung dan menyerap air adalah identik dengan fungsi hutan gambut yang secara geologis berbentuk kubah gambut.
Secara ilmiah lahan gambut bisa dianalogikan seperti busa atau spon raksasa yang bisa menampung dan menyimpan air pada musim hujan lalu melepaskan perlahan di musim kemarau. Itulah peran besar gambut, hutan gambut dan rawa gambut sebagai pemasok air tawar.
Sayangnya, kini terjadi kerusakan parah kawasan gambut tropika sehingga kemampuan kawasan sebagai penyimpan dan cadangan air berubah menjadi lahan yang kering kerontang dan menjelma menjadi bara api yang memproduksi asap yang menyebar kemana-mana. Itulah kutukan gambut ketika arah pembangunan begitu serakah merubah hutan gambut menjadi hutan industri.
Keniscayaan pengelolaan ekosistem lahan gambut dengan penerapan inovasi teknologi irigasi gambut. Inovasi teknologi pengairan tersebut pada prinsipnya berperan ganda. Yakni mampu mengairi atau membasahi secara efisien lahan gambut yang kritis dan mudah terbakar dimusim kemarau.
Selain itu jaringan pipa irigasi tersebut juga bisa berfungsi mengalirkan debit air yang tersimpan di hutan gambut yang masih lestari untuk keperluan tanaman pangan, peternakan, perikanan dan air baku untuk keperluan rumah tangga. Sekedar catatan bahwa hutan gambut yang masih lestari mampu menyimpan air tawar dalam jumlah yang besar.
Sebagian besar Karhutla terjadi karena aktivitas manusia (faktor antropogenik) seperti pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Gambut kaya akan bahan organik dan karbon kering yang membuatnya mudah terbakar jika kondisinya rusak. Api di lahan gambut sulit dipadamkan karena menjalar di bawah permukaan tanah (smoldering fire).
Pembuatan kanal air membuat gambut mengering dan kehilangan sifat basah alaminya. Musim kemarau panjang atau fenomena El Nino membuat vegetasi dan gambut menjadi sangat kering.
Mengacu pada situs resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sekitar 99 persen penyebab karhutla di Indonesia akibat ulah manusia, hanya satu persen yang disebabkan oleh faktor alam. Salah satu aktivitas yang paling banyak menjadi pemicu adalah pembukaan hutan dan lahan untuk kegiatan pertanian maupun perkebunan.
Pembakaran digunakan sebagai cara untuk membersihkan vegetasi liar dan membuka lahan baru karena dianggap lebih mudah dan cepat dibandingkan menggunakan metode lain. Persoalannya, api yang awalnya digunakan untuk membersihkan area tertentu dapat dengan mudah menjalar ke vegetasi di sekitarnya, terutama ketika kondisi lahan sedang kering.

Risiko semakin tinggi pada musim kemarau ketika kondisi vegetasi kering dan api mudah menyebar. Selain itu, pengeringan lahan gambut melalui pembangunan kanal menyebabkan ekosistem menjadi sangat rentan terhadap kebakaran. Api pada lahan gambut bahkan dapat membara di bawah permukaan tanah dalam waktu lama dan sulit dipadamkan.
Dampak karhutla bersifat multidimensi. Dari aspek lingkungan, kebakaran menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, degradasi ekosistem, serta pelepasan emisi karbon dalam jumlah besar yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global. Dari sisi kesehatan, paparan kabut asap meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan dan kematian prematur. Sementara itu, dari sisi ekonomi, kerugian terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, transportasi, dan perdagangan.
Perlu konsistensi pemerintah terkait dengan penguatan regulasi dan penegakan hukum, restorasi lahan gambut, pengembangan sistem deteksi dini berbasis satelit, patroli terpadu, serta pemberdayaan masyarakat melalui program desa peduli api. (*)