Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

  • CFD dan Braga Beken agaknya bukan lagi semata ruang publik, tetapi juga objek audit.

  • Dilema CFD Bandung pada akhirnya mencerminkan dilema banyak kota lain, yaitu bagaimana menyeimbangkan kepatuhan administratif dengan kebutuhan hidup warganya.

PROGRAM Car Free Day (CFD) pemerintah Kota Bandung selama ini telah mewujud menjadi semacam ruang sosial yang hidup, tempat warga berolahraga, bertemu, bahkan sekadar bernapas tanpa polusi. 

Namun, ruang yang tampak sederhana itu kini terseret ke dalam pusaran persoalan yang jauh lebih kompleks, yakni tata kelola anggaran dan kepatuhan hukum.

Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), baru-baru ini, atas penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar untuk program CFD dan Braga Beken tampaknya telah mengubah cara pandang terhadap program ini. 

CFD dan Braga Beken agaknya bukan lagi semata ruang publik, tetapi juga objek audit. Anggaran untuk kedua program tersebut tersebut dipersoalkan karena digunakan untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

Maka, dilema pun mulai terasa nyata. Di satu sisi, pemerintah kota dituntut patuh terhadap aturan pengelolaan keuangan. Di sisi lain, program seperti CFD dan Braga Beken sudah telanjur menjadi bagian dari kehidupan warga. Ketika dua kepentingan ini bertabrakan, keputusan apa pun akan selalu menyisakan konsekuensi.

Posisi serba sulit

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, seperti dilaporkan sejumlah media, mengakui posisinya serba sulit. Pasalnya, ada tekanan dari masyarakat untuk melanjutkan program, tetapi ada pula kehati-hatian akibat temuan audit. Situasi ini menggambarkan satu hal penting bahwa kebijakan publik tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu berada di antara ekspektasi publik dan batasan regulasi.

Jika dilihat dari perspektif ekonomi mikro, CFD dan Braga Beken bukan kegiatan kecil. Ia menciptakan ekosistem informal, mulai dari pedagang, komunitas olahraga, pelaku seni jalanan. Dalam banyak studi urban, ruang publik semacam ini terbukti meningkatkan perputaran ekonomi lokal, meski sering tidak tercatat secara formal.

Braga Beken, misalnya, bukan hanya soal menutup jalan dari kendaraan. Ia menghidupkan kembali kawasan heritage Braga menjadi destinasi akhir pekan. Ketika program ini dihentikan karena keterbatasan anggaran, dampaknya langsung terasa, yaitu ruang yang sebelumnya ramai pejalan kaki kembali didominasi kendaraan.

Di sisi kesehatan publik, manfaat CFD juga tidak bisa diabaikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik rutin -- bahkan sekadar jalan kaki di ruang terbuka -- berkontribusi pada penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan stres. CFD menyediakan infrastruktur sosial untuk itu, tanpa harus membangun fasilitas mahal.

Namun, manfaat tersebut sering kali tidak masuk dalam neraca keuangan pemerintah. Di sinilah letak persoalan klasik dalam kebijakan publik. Tidak semua manfaat bisa dikonversi menjadi angka rupiah. Adapun audit keuangan bekerja justru dengan logika angka dan kepatuhan administratif.

Mencegah penyimpangan

Pendekatan audit yang ketat memang penting untuk mencegah penyimpangan. Tanpa itu, ruang abu-abu anggaran bisa dengan mudah disalahgunakan. Akan tetapi, ketika pendekatan ini diterapkan tanpa mempertimbangkan konteks sosial, ia berpotensi menghambat inovasi kebijakan.

Imbasnya, aparat pemerintah menjadi cenderung defensif, bahkan takut mengambil inisiatif, karena risiko temuan audit.

Masalah utama dalam kasus CFD Bandung, dan juga Braga Beken, tampaknya bukan pada programnya, melainkan pada desain tata kelolanya. Pembayaran kepada personel non-ASN tanpa dasar hukum jelas adalah celah yang harus diperbaiki. Namun demikian, menutup program karena adanya celah itu ibarat mematikan lampu hanya karena saklarnya rusak.

Oleh sebab itu, diperlukan pemisahan yang tegas antara “substansi kebijakan” dan “mekanisme pelaksanaan”. Substansi CFD dan Braga Beken -- ruang publik, kesehatan, ekonomi lokal -- tetap relevan. Yang perlu dibenahi adalah mekanisme pembiayaan dan pengorganisasiannya.

Alternatif sebenarnya terbuka. Banyak kota di dunia mengelola kegiatan serupa dengan skema kolaboratif, dengan melibatkan relawan, komunitas, sponsor swasta, hingga kemitraan dengan pelaku usaha. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi beban APBD, tetapi juga memperkuat rasa memiliki dari masyarakat.

Bandung sendiri bukan kota tanpa modal sosial. Komunitas pesepeda, pelari, hingga pelaku UMKM sudah lama menjadi tulang punggung CFD. Mengintegrasikan mereka dalam struktur resmi program bisa menjadi solusi yang lebih berkelanjutan dibanding sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.

Dari perspektif hukum, yang dibutuhkan agaknya bukan penghentian program, melainkan reformulasi. Regulasi turunan, payung hukum yang lebih jelas, serta standar operasional yang transparan diharapkan bisa menjawab kekhawatiran audit tanpa mengorbankan manfaat publik.

Sementara itu, dari perspektif politik anggaran, kasus ini juga membuka pertanyaan lebih besar ihwal bagaimana kita menentukan prioritas belanja daerah. Apakah Rp2,7 miliar dianggap beban, atau investasi sosial? 

Jawabannya tentu saja sangat bergantung pada cara kita mendefinisikan “nilai”.

Jika ukuran nilai hanya fiskal, maka CFD dan Braga Beken dapat dengan gampang dianggap tidak efisien. Tetapi, jika ukuran nilai mencakup kesehatan, interaksi sosial, dan ekonomi informal, gambarannya menjadi jauh lebih kompleks.

Kualitas ruang publik

Kota modern pada dasarnya tidak hanya dibangun dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kualitas ruang publiknya. CFD adalah salah satu bentuk investasi pada kualitas itu,meski sering kali tidak terlihat dalam laporan keuangan.

Dilema CFD Bandung pada akhirnya mencerminkan dilema banyak kota lain, yaitu bagaimana menyeimbangkan kepatuhan administratif dengan kebutuhan hidup warganya. Tidak ada solusi sederhana, tetapi ada prinsip yang bisa dipegang, bahwa aturan seharusnya menjadi enabler, bukan penghambat.

Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan CFD -- dan juga Braga Beken. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk merancang ulang program dengan mencari format yang legal, efisien, dan tetap berpihak pada publik.***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)