Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

"Baruah-buah, 5000-an.. seger.. buah."

"Tahu Sumedang, kripik cau, basreng, kurupuk kulit."

"Di caian. caian.. NU teu Acan."

Terdengar pedagang asongan yang saling bersahutan menawarkan dagangannya ke setiap penumpang. Sebetulnya transportasi umum seperti bus atau kereta api sudah tidak memperkenankan pedagang asongan untuk masuk. Tapi menurut saya supir juga serba salah antara kasihan karena orang lain juga sedang mencari rezeki atau memang para pedagang asongan itu yang sulit untuk diatur.

Yang jelas dulu saat perjalanan solo trip pertama saya di usia 22 tahun ke daerah Tasikmalaya, saya pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan dengan para pedagang asongan di bus.

Saya memahami bahwa mereka juga sudah berikhtiar mencari rezeki tentu cara apapun akan dilakukan agar pembeli mau membayar dagangannya. Hanya saja saat itu posisinya saja akan trip ke area pantai yang tentunya saya tidak mau repot membawa makanan yang menurut saya akan memperberat beban selama perjalanan.

Saat itu saya bertemu dengan seorang pedagang buah salak. Ketika beliau menawarkan saya coba tolak dengan baik-baik karena saya memang sedang tidak ingin mengkonsumsi buah salak. Sekali, dua hingga tiga kali menawarkan saya tetap tersenyum dan mengatakan tidak.

Namun pada tahap selanjutnya pedagang tersebut memasukan buah salak ke kantong kresek dan menyodorkan ke pangkuan saya.

"Sok neng mirah , 2 kilo Rp.30.000."

"Moal mang , abdi moal meser."

"Atuh neng sok sing karunya ka bapa."

"Punten mang, moal."

" Euh meni pedit, meli salak wae embung," tukasnya sambil mengambil kresek salak dengan kasar.

Sejak saat itu saya selalu merasa terganggu jika di perjalanan manapun bertemu dengan pedagang yang serupa. Namun seiring berjalannya waktu saya mulai memahami kenapa mereka begitu memaksa untuk menawarkan dagangannya karena itu lah penopang untuk menghidupi keluarganya.

Begitu pun dengan sore ini ketika saya menggunakan bus MGI. Di jalan belokan menuju arah city link ada seorang pedagang asongan yang menawarkan buah-buahan dan tahu Sumedang.

Seperti biasa mereka selalu semangat dalam menjalani pekerjaannya. Berulang kali membujuk para penumpang untuk berkenan membeli dagangannya. Tak lama dari itu terdengar sebuah percakapan seorang pedagang tahu dan buah dengan ibu-ibu tepat di depan kursi saya duduk.

"Mang tahu dan buah berapa."

"Sebungkusna 10 rebu pami 2 janten 20 rebu."

"Meni awis mang 5 rebuan meren."

"Te tiasa ,paling sok 15 rebu 2 bungkus."

"Moal ah mang mahal."

"Atuh ai hayang 5 rebuan mah boncos abi modalnya. Sakie mah murah atuh ker pedagang keliling mah. Aneh harayang murah meli ka pedagang asongan mau. Ai ka Indomaret jeng Alfa mah sakumaha mahal GE dibeli."

Ucap sang pedagang sambil meleos meninggalkan protesnya.

Mendengar percakapan itu saya sedikit setuju. Bukan karena pembeli mau membeli atau tidak sebuah dagangan karena itu menjadi hak konsumen. Hanya yang ingin saya soroti adalah perilaku sebagian masyarakat kita dalam berbelanja. Rasanya masih banyak yang perhitungan dengan pedagang kecil. Misalnya menawar dagangan dengan harga yang tidak masuk akal, tidak rela jika kembalian yang diberikan kurang hingga beberapa diantaranya selalu mengoceh jika ada yang tidak sesuai.

Tapi banyak dari perilaku pembeli yang ketika mereka berbelanja ke swalayan besar tidak pernah menawar. Mereka cenderung mengambil barang sesuka hati tanpa memperhatikan secara detail label harga yang tercantum di rak dan label harga yang tertera dalam struk belanja. Saya yakin tidak banyak yang sadar kalau belanja di swalayan juga seringkali terdapat pembohongan--salah satunya ketidakjujuran kasir dalam memberikan harga. Selanjutnya ketika mendapat kembalian pun seringkali tidak pernah di cek dan langsung masuk ke kantong celana. Bahkan ketika tidak ada kembalian dengan rela mendonasikan uang recehannya yang kita tidak pernah tau transparansi penyalurannya.

Saya pribadi memang seringkali dilema ketika banyak pedagang asongan yang menawarkan dagangnya. Pada satu sisi jika kebetulan saya sedang ingin makan maka saya akan membeli dagangannya. Kadang pada beberapa waktu membeli tapi sebetulnya tidak begitu perlu untuk membeli. Namun sesekali juga saya sering menolak karena benar-benar tidak mau makan dan tidak ada orang yang bisa kita beri atau makanan yang ditawarkan punya waktu kadaluarsa yang singkat.

Dibalik sikapnya yang sesekali terganggu jika memaksa. Tapi saya juga tidak bisa protes karena barangkali mereka juga terus tetap berjuang dan bertahan untuk terus hidup dan menghidupi keluarganya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)