Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka dapat dimaknai sebagai pertanyaan: siapa yang sesungguhnya berbicara atas nama Indonesia, untuk kepentingan siapa kemerdekaan dijalankan, dan bagaimana pengetahuan tentang Indonesia dibentuk oleh kekuasaan?

  • Dalam perspektif sosiologi Émile Durkheim, masyarakat memiliki apa yang disebut fakta sosial, yakni pola nilai, norma, institusi, kebiasaan, dan struktur yang berada di luar individu tetapi mempunyai daya memengaruhi perilaku individu.

  • Indonesia tidak boleh hanya merayakan kemerdekaan sebagai masa lalu. Indonesia harus menjadikan kemerdekaan sebagai proyek etis masa depan.

Bagaimanakah kita melihat dan membaca persoalan kebangsaan secara epistemologis, di mana fakta sosial dan karakter masyarakat sebagai objek dalam memaknai usia kemerdekaan yang ke-81?

Kemerdekaan Indonesia tidak pernah selesai hanya dengan membaca tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan adalah sebuah proses historis yang terus diuji oleh perubahan zaman, pertarungan kepentingan, ketimpangan sosial, serta kemampuan masyarakat dan negara dalam menerjemahkan cita-cita kebangsaan ke dalam kehidupan nyata.

Karena itu, ketika Indonesia dipotret dalam usia kemerdekaannya, yang tampak bukan hanya keberhasilan pembangunan, melainkan juga berbagai paradoks: demokrasi yang tumbuh berdampingan dengan oligarki, kebebasan yang berhadapan dengan pembatasan, pertumbuhan ekonomi yang berjalan bersama ketimpangan, serta kemajuan teknologi yang belum selalu berbanding lurus dengan kemajuan kualitas manusia.

Dalam konteks tersebut, istilah kaukus Indonesia dapat dibaca bukan semata-mata sebagai kelompok politik tertentu, melainkan sebagai metafora tentang berbagai kelompok kepentingan, komunitas intelektual, organisasi masyarakat, kelompok profesi, gerakan kebudayaan, hingga jaringan politik yang berusaha memengaruhi arah kehidupan bangsa.

Secara historis, kaukus memang merupakan bentuk pengelompokan untuk membangun strategi dan memengaruhi proses pengambilan keputusan. Dalam konteks Indonesia, bentuk-bentuk kaukus telah berkembang dalam berbagai isu, mulai dari keterwakilan perempuan, lingkungan, perdamaian, hingga kebebasan akademik.

Maka, Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka dapat dimaknai sebagai pertanyaan: siapa yang sesungguhnya berbicara atas nama Indonesia, untuk kepentingan siapa kemerdekaan dijalankan, dan bagaimana pengetahuan tentang Indonesia dibentuk oleh kekuasaan?

Jika kemerdekaan dibaca secara epistemologis, maka pertanyaan pertama bukan sekadar apakah Indonesia merdeka?, melainkan bagaimana kita mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka?

Secara historis-politik, jawabannya jelas: Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan membangun negara berdaulat. Tetapi kemerdekaan politik tidak otomatis identik dengan kemerdekaan sosial. Seorang warga negara mungkin bebas secara konstitusional, tetapi belum tentu bebas dari kemiskinan, ketidakadilan struktural, diskriminasi, keterbatasan akses pendidikan, atau ketergantungan ekonomi.

Di sinilah muncul perbedaan antara kemerdekaan sebagai fakta normatif dan kemerdekaan sebagai pengalaman sosial. Konstitusi memberikan seperangkat prinsip mengenai hak warga negara. Namun pengalaman sehari-hari masyarakat memperlihatkan apakah prinsip itu benar-benar bekerja. Dengan demikian, ukuran kemerdekaan tidak cukup dibangun dari narasi resmi negara. Ia harus diuji melalui pengalaman masyarakat yang hidup di dalamnya.

Epistemologi kemerdekaan karenanya harus memberi ruang kepada suara yang selama ini berada di pinggir: petani, buruh, nelayan, masyarakat adat, kelompok miskin kota, perempuan, anak muda, pekerja informal, seniman, akademisi, serta masyarakat di wilayah yang akses terhadap pembangunan masih terbatas.

Jika hanya suara pusat yang dianggap sebagai pengetahuan tentang Indonesia, maka kita sesungguhnya hanya memperoleh Indonesia versi negara, bukan keseluruhan Indonesia sebagai realitas sosial.

Dalam perspektif sosiologi Émile Durkheim, masyarakat memiliki apa yang disebut fakta sosial, yakni pola nilai, norma, institusi, kebiasaan, dan struktur yang berada di luar individu tetapi mempunyai daya memengaruhi perilaku individu. Dengan pendekatan tersebut, kemiskinan, birokrasi, budaya politik, pendidikan, hukum, ketimpangan, bahkan korupsi tidak semata-mata dapat dipahami sebagai persoalan perilaku individual. Banyak di antaranya telah menjadi struktur sosial yang mempunyai daya paksa.

Karena itu, karakter Indonesia tidak dapat hanya dibaca dari karakter individu-individunya. Ia harus dibaca dari struktur sosial yang membentuk karakter tersebut. Salah satu karakter penting Indonesia adalah kemampuan membangun solidaritas. Gotong royong, musyawarah, solidaritas komunitas, dan ikatan sosial merupakan modal sosial yang telah lama hidup dalam masyarakat. Namun karakter tersebut memiliki sisi paradoksal.

Solidaritas dapat menjadi energi demokratis ketika digunakan untuk memperjuangkan kepentingan publik. Akan tetapi solidaritas juga dapat berubah menjadi primordialisme, eksklusivisme, politik identitas, atau loyalitas kelompok ketika kepentingan bersama digantikan kepentingan golongan.

Di sinilah kaukus memiliki dua kemungkinan wajah.

Pertama, kaukus dapat menjadi ruang deliberatif, tempat berbagai kepentingan bertemu, bertukar gagasan, menyusun agenda, dan memperjuangkan kepentingan publik. Kaukus perempuan, misalnya, telah digunakan sebagai ruang konsolidasi lintas partai untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam politik. Penelitian mengenai KPPI menunjukkan bahwa strategi advokasi dan capacity building menjadi instrumen penting dalam pemberdayaan politik perempuan.

Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)

Kedua, kaukus dapat berubah menjadi ruang eksklusif kekuasaan, ketika keputusan strategis hanya dibicarakan oleh segelintir orang dan kepentingan publik sekadar menjadi legitimasi.

Di sinilah persoalan epistemologis kembali muncul: siapa yang boleh masuk ke dalam ruang pengetahuan dan pengambilan keputusan? Demokrasi tidak hanya membutuhkan kebebasan memilih. Demokrasi membutuhkan kebebasan untuk mengetahui, bertanya, mengkritik, dan berpartisipasi.

Di sinilah Indonesia menghadapi persoalan epistemik baru: hoaks, disinformasi, manipulasi opini, politik buzzer, propaganda digital, serta pembentukan persepsi melalui algoritma. Masyarakat dapat mengetahui banyak hal tetapi sekaligus kehilangan kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang sengaja dibuat untuk dianggap benar.

Persoalan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari relasi kekuasaan. Kekuasaan tidak hanya berada di tangan pemerintah. Ia juga berada dalam institusi ekonomi, partai politik, media, birokrasi, pendidikan, teknologi, bahkan dalam bahasa.

Mungkin pertanyaan ini sedikit radikal, jika dalam membaca Indonesia adalah: merdeka dari apa? Indonesia memang telah merdeka dari kolonialisme formal. Tetapi masyarakat masih menghadapi bentuk-bentuk kolonialisme baru: kolonialisme ekonomi, kolonialisme pengetahuan, ketergantungan teknologi, eksploitasi sumber daya, ketimpangan struktural, serta dominasi narasi.

Maka kemerdekaan abad ke-21 harus diperluas menjadi: Merdeka dari kebodohan; Merdeka dari kemiskinan; Merdeka dari ketakutan; Merdeka dari diskriminasi; Merdeka dari manipulasi pengetahuan; Merdeka dari korupsi kekuasaan; Dan merdeka untuk berpikir.

Pada titik inilah pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, sastra, media, dan kebebasan akademik menjadi sangat penting. Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik, misalnya, secara eksplisit dibangun sebagai solidaritas akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk memperjuangkan kebebasan akademik dan otonomi institusi akademik. Organisasi tersebut berdiri pada 2019 dan mengembangkan advokasi kebijakan serta pembelaan terhadap korban tekanan karena menjalankan fungsi akademiknya.

Di satu sisi terdapat kemajuan demokrasi, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, dan semakin luasnya ruang partisipasi masyarakat. Di sisi lain terdapat persoalan ketimpangan, korupsi, politik transaksional, kualitas pendidikan, krisis ekologis, polarisasi sosial, serta ketidaksetaraan akses terhadap sumber daya.

Karena itu, Indonesia tidak boleh hanya merayakan kemerdekaan sebagai masa lalu. Indonesia harus menjadikan kemerdekaan sebagai proyek etis masa depan. Kaukus dalam pengertian yang lebih luas dapat menjadi simbol dari masyarakat yang sedang mencari jalan untuk mengartikulasikan kepentingannya. Tetapi ia harus selalu dikembalikan kepada pertanyaan fundamental: apakah pengelompokan itu memperbesar ruang demokrasi atau justru mempersempitnya?

Dan barangkali tugas terbesar sebuah bangsa yang merdeka bukanlah mengatakan bahwa dirinya telah sampai, melainkan terus bertanya: apakah kemerdekaan yang kita wariskan kepada generasi berikutnya akan lebih adil daripada kemerdekaan yang kita terima? Pertanyaan itulah yang membuat kemerdekaan tetap hidup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)