Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

5 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)

Di tengah derasnya arus media sosial yang dipenuhi beragam cerita, kisah sederhana tentang keluarga justru sering mencuri perhatian. Bukan karena kemewahan atau sensasi, melainkan karena menghadirkan kehangatan, kebersamaan, humor, dan hubungan antargenerasi yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satunya adalah kisah Mamah Bule bersama cucunya, Berliana Pradhella Guntara, yang akrab disapa Kang Ian. Keduanya dikenal melalui akun media sosial Bridgia Adhella, nama yang diambil dari nama cicit Mamah Bule, putri kesayangan Kang Ian.

Di Facebook dan Instagram, kebersamaan mereka hadir lewat percakapan ringan, saling menggoda, tingkah lucu, hingga berbagai kejadian spontan dalam keseharian. Tidak ada kesan dibuat-buat atau membutuhkan konsep yang rumit. Justru suasana natural itulah yang membuat konten mereka terasa dekat dan menghibur.

Mamah Bule memiliki nama asli Adellina Ganda Prawira. Ia lahir di Bandung, 26 September 1941.

Di balik sosoknya yang ceria dan akrab di media sosial, tersimpan kisah keluarga dengan perjalanan sejarah yang cukup panjang. Berdasarkan riwayat yang diwariskan dalam keluarga, Mamah Bule disebut memiliki hubungan keturunan dengan Christiaan Snouck Hurgronje, tokoh Belanda yang dikenal sebagai orientalis dan memiliki peran penting dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Dalam riwayat keluarga tersebut disebutkan, Snouck Hurgronje pernah menikah dengan Sangkana, putri Raden Haji Mohammad Ta'ib, seorang penghulu di Ciamis. Dari pernikahan itu lahir beberapa anak, salah satunya Raden Oemar Ganda Prawira.

Riwayat keluarga kemudian menyebutkan bahwa Mamah Bule merupakan putri dari Oemar Ganda Prawira.

Silsilah tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan keluarga Mamah Bule. Namun, untuk memastikan hubungan genealogis secara lebih rinci, tentu diperlukan penelusuran terhadap arsip keluarga dan dokumen sejarah yang dapat diverifikasi.

Mengenal Snouck Hurgronje

Christiaan Snouck Hurgronje (1857–1936) merupakan orientalis, ahli bahasa Arab, dan sarjana Islam asal Belanda yang menempuh pendidikan di Universitas Leiden.

Ia dikenal melalui penelitian mengenai Islam dan masyarakat Muslim. Pada 1884–1885, Snouck berada di Jeddah dan Makkah. Pengalamannya kemudian dituangkan dalam karya terkenalnya, Mekka, yang menggambarkan kehidupan masyarakat dan jamaah di kota suci tersebut.

Pada 1889, Snouck datang ke Hindia Belanda dan kemudian menjadi penasihat pemerintah kolonial dalam persoalan Islam dan masyarakat pribumi.

Namanya juga sangat berkaitan dengan Perang Aceh. Pengetahuannya mengenai masyarakat, ulama, serta jaringan sosial-keagamaan Aceh digunakan pemerintah kolonial dalam menyusun strategi menghadapi perlawanan di wilayah tersebut.

Nenek membaca surat dari ayahandanya. Dulu, R. Gandaprawira sangat mendambakan seorang anak perempuan setelah lima anak sebelumnya semuanya laki-laki. Namun, anak perempuan yang dinantikan itu meninggal dunia ketika Nenek baru berusia delapan bulan. (Sumber: Foto dan koleksi :  Kang Iyan)
Nenek membaca surat dari ayahandanya. Dulu, R. Gandaprawira sangat mendambakan seorang anak perempuan setelah lima anak sebelumnya semuanya laki-laki. Namun, anak perempuan yang dinantikan itu meninggal dunia ketika Nenek baru berusia delapan bulan. (Sumber: Foto dan koleksi : Kang Iyan)

Karena itu, warisan sejarah Snouck Hurgronje tergolong kompleks. Ia merupakan ilmuwan yang memiliki kontribusi penting dalam kajian Islam dan masyarakat Muslim, tetapi pengetahuan yang dimilikinya juga dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintahan kolonial.

Pada 1906, Snouck kembali ke Belanda dan melanjutkan karier akademiknya di Universitas Leiden.

Kehidupan pribadinya di Hindia Belanda juga meninggalkan jejak tersendiri. Ia pernah membangun keluarga dengan perempuan pribumi dan memiliki anak. Riwayat inilah yang kemudian menjadi bagian dari cerita mengenai garis keturunan yang diwariskan dalam keluarga Mamah Bule.

Ada satu peninggalan yang memiliki arti khusus dalam perjalanan keluarga Mamah Bule, yakni sebuah surat bertahun 1907 yang ditulis ayahnya kepada kakeknya.

Menurut cerita keluarga, keberadaan surat tersebut kemudian diketahui kembali melalui sebuah email yang datang dari Leiden.

Bagi keluarga, surat berusia lebih dari satu abad itu bukan sekadar dokumen lama. Ia menjadi semacam jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan kehidupan orang-orang yang telah lama berlalu.

Dalam kisah yang diwariskan keluarga, terdapat pula cerita mengenai kerinduan keturunan dari garis tersebut untuk bertemu dengan keluarga di Belanda. Bahkan, disebutkan adanya larangan keras untuk menggunakan nama Hurgronje.

Benar atau tidaknya seluruh detail genealogis tersebut tentu masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui arsip keluarga dan dokumen sejarah. Namun, bagi keluarga Mamah Bule, surat tahun 1907 tetap menjadi peninggalan berharga karena menyimpan jejak perjalanan keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kini, kisah keluarga tersebut bertemu dengan kehidupan yang jauh berbeda: dunia media sosial.

Mamah Bule tinggal bersama cucunya, Kang Ian, di kawasan Padasuka Park, Pasir Layung, Kota Bandung. Dari rumah inilah banyak cerita keseharian mereka bermula.

Kebersamaan nenek dan cucu itu kemudian berkembang menjadi bagian dari aktivitas Mamah Bule sebagai kreator konten digital. Obrolan sehari-hari, humor, ulasan produk, promosi, hingga berbagai momen keluarga dikemas menjadi konten yang ringan dan menghibur.

Kang Ian menjadi pasangan interaksi yang membuat suasana semakin hidup. Perbedaan usia yang cukup jauh justru menjadi kekuatan tersendiri.

Mamah Bule membawa pengalaman, spontanitas, dan gaya komunikasi dari generasinya. Sementara Kang Ian hadir dengan karakter generasi yang lebih akrab dengan dunia digital.

Dari perbedaan itulah lahir percakapan yang spontan. Kadang lucu, kadang sederhana, tetapi justru terasa apa adanya.

Nenek dan cucu tercinta dalam sebuah kebersamaan yang hangat. Keduanya menjadi pasangan yang banyak digemari dan menarik perhatian para netizen di media sosial. (Sumber: Kang Iyan)
Nenek dan cucu tercinta dalam sebuah kebersamaan yang hangat. Keduanya menjadi pasangan yang banyak digemari dan menarik perhatian para netizen di media sosial. (Sumber: Kang Iyan)

Di luar aktivitasnya di media sosial, Mamah Bule juga dikenal memiliki kegemaran membaca surat kabar, salah satunya Pikiran Rakyat.

Kecintaannya terhadap koran tersebut bahkan pernah mendapat perhatian dari pihak Pikiran Rakyat. Mamah Bule pernah dikunjungi Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat, Satrya Graha, bersama tim. Dalam kesempatan tersebut, ia memperoleh sejumlah suvenir sekaligus kesempatan berlangganan koran secara gratis selama tiga bulan.

Mamah Bule juga mengikuti berbagai informasi olahraga dan sepak bola. Persib Bandung termasuk salah satu yang menjadi perhatiannya dan kerap menjadi bahan obrolan dalam keseharian.

Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas digital Mamah Bule berjalan berdampingan dengan kegemarannya membaca dan mengikuti perkembangan berita.

Kehadiran Mamah Bule di media sosial menjadi contoh bahwa dunia digital bukan hanya milik generasi muda.

Dengan pembawaan yang ceria, spontan, dan natural, ia terus membuat konten sekaligus berinteraksi dengan para pengikutnya. Aktivitas tersebut bahkan berkembang menjadi berbagai bentuk kerja sama, mulai dari ulasan produk, promosi, hingga endorsement.

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Pada akhirnya, kisah Mamah Bule dan Kang Ian bukan sekadar cerita tentang Facebook atau Instagram. Ini adalah kisah tentang dua generasi yang menemukan cara sederhana untuk menikmati kebersamaan, berbagi canda, dan mengubah keseharian menjadi cerita yang menghibur banyak orang.

Dari rumah di Bandung, mereka menunjukkan bahwa kebersamaan dalam keluarga, meski sederhana, selalu memiliki daya tarik tersendiri. Semoga Mamah Bule senantiasa sehat walafiat, tetap ceria, dan terus berkarya serta berkreasi bersama Kang Ian. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)