Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Dalam kontek kepemilikan BUMD, pemerintah daerah memiliki dua wajah sekaligus. Pertama, sebagai pemilik modal. Dan kedua, sebagai pembuat kebijakan. 

  • Keberadaan BUMD yang tidak produktif menjadi persoalan publik. Kerugiannya bukan hanya terlihat dalam laporan keuangan perusahaan.

  • Masyarakat Jawa Barat sangat berhak mengetahui bukan hanya jumlah BUMD yang sehat dan sakit, tetapi juga alasan di balik penilaian tersebut.

ADA laporan media yang menyebut tentang 37 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Barat, namun yang secara konsisten memberikan dividen besar kepada daerah disebut hanya Bank BJB. Artinya, BUMD lain kurang berkontribusi besar.  

Kenapa bisa begitu? Buat apa banyak BUMD kalau ujung-ujungnya tidak memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Ukuran keberhasilan

Dalam bisnis, jumlah perusahaan bukanlah ukuran keberhasilan. Sebuah kelompok usaha dengan puluhan anak perusahaan belum tentu lebih sehat daripada perusahaan yang hanya memiliki beberapa unit usaha. 

Yang lebih penting adalah kemampuan menghasilkan pendapatan, laba, arus kas, dan nilai tambah secara berkelanjutan. Karena itu, 37 BUMD di Jawa Barat semestinya tidak otomatis dipandang sebagai aset yang membanggakan. Ia baru menjadi kekuatan jika aset, modal, dan sumber daya manusia di dalamnya mampu menghasilkan manfaat yang sepadan bagi publik.

Dalam kontek kepemilikan BUMD, pemerintah daerah memiliki dua wajah sekaligus. Pertama, sebagai pemilik modal. Dan kedua, sebagai pembuat kebijakan. 

Di lingkup perusahaan swasta, pemilik perusahaan akan bertanya sederhana: modal yang saya tanam menghasilkan apa? Berapa laba? Bagaimana prospeknya? Kalau bertahun-tahun tidak menghasilkan, pilihan biasanya tidak banyak: diperbaiki, dijual, digabung, atau ditutup.

Pemerintah daerah tentu tidak bisa sepenuhnya menggunakan logika bisnis perusahaan partikelir. Ada BUMD yang memang dibentuk untuk menjalankan fungsi pelayanan publik. Contohnya, perusahaan air minum, transportasi, pasar, energi, pangan, dan layanan tertentu misalnya, tidak selalu bisa dinilai hanya dari besar kecilnya laba. Dalam hal ini, ada manfaat sosial yang tidak tercermin dalam laporan laba-rugi. 

Tetapi, justru karena itu, ukuran keberhasilan setiap BUMD harus jelas sejak awal, yakni mana yang mengejar laba, mana yang menjalankan pelayanan publik, dan mana yang harus melakukan keduanya secara seimbang.

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama. Perusahaan yang sehat, perusahaan yang sedang bertumbuh, perusahaan yang merugi, dan perusahaan yang secara bisnis sudah sulit diselamatkan bisa sama-sama diperlakukan sebagai aset daerah. Padahal, dalam ilmu manajemen aset, aset yang tidak produktif bukan otomatis menjadi kekayaan. Ia bisa berubah menjadi beban.

Karena itu, laporan media yang menyebut  terdapat 27 BUMD di Jabar yang berkategori sehat dan 10 lainnya sakit karena itu perlu dicermati lebih jauh.

Kategori sehat seharusnya tidak hanya berarti perusahaan tidak bangkrut atau masih mampu menjalankan kegiatan operasional. Dalam perspektif bisnis, kesehatan perusahaan juga menyangkut profitabilitas, likuiditas, solvabilitas, produktivitas aset, arus kas, pertumbuhan pendapatan, dan kemampuan menghasilkan tingkat pengembalian modal yang layak.

Begitu pula dengan istilah dividen. Dividen memang penting karena menunjukkan bahwa perusahaan menghasilkan laba yang bisa dibagikan kepada pemilik. Tetapi, dividen bukan satu-satunya ukuran. 

Perusahaan yang sedang tumbuh mungkin justru menahan sebagian besar labanya untuk investasi. Karena itu, pemerintah daerah seharusnya memiliki dashboard kinerja yang lebih lengkap terkait berapa modal yang sudah ditanamkan, berapa laba yang dihasilkan, berapa dividen yang dibayarkan, berapa nilai asetnya, berapa utangnya, dan berapa return on equity yang dicapai.

Modal yang masuk

Untuk mengetahui seberapa bagus BUMD kita perlu mengetahui setidaknya total modal yang sudah masuk. Bayangkan seseorang menanamkan Rp1 triliun ke sebuah perusahaan dan menerima dividen Rp20 miliar setiap tahun. Sekilas Rp20 miliar tampak besar. Tetapi, pertanyaannya belum selesai. Apakah Rp20 miliar itu sudah mencerminkan imbal hasil yang wajar atas modal Rp1 triliun? Bagaimana dengan kenaikan nilai aset? Bagaimana risiko bisnisnya? Bagaimana utangnya? Dan apakah ada alternatif investasi lain yang menghasilkan manfaat lebih besar bagi daerah?

Itulah cara pandang yang mungkin perlu dibawa ke dalam pembicaraan mengenai BUMD Jawa Barat. Jangan hanya bertanya berapa dividen yang diberikan? Pertanyaan yang lebih penting adalah, berapa nilai yang diciptakan dari setiap rupiah uang publik yang ditanamkan?

Dalam ekonomi bisnis, modal selalu mempunyai biaya. Uang yang ditanamkan pada satu usaha berarti uang tersebut tidak bisa digunakan untuk pilihan lain. 

Ketika APBD digunakan sebagai penyertaan modal kepada perusahaan daerah, pemerintah sebenarnya sedang memilih satu investasi dan meninggalkan pilihan lainnya. Bisa jadi modal itu menghasilkan keuntungan. Bisa pula menghasilkan pelayanan publik yang besar. Tetapi, semuanya harus bisa dijelaskan dengan ukuran yang masuk akal.

Tentu saja,  keberadaan BUMD yang tidak produktif menjadi persoalan publik. Kerugiannya bukan hanya terlihat dalam laporan keuangan perusahaan. Ada biaya kesempatan yang ikut muncul. Modal tertahan, aset tidak optimal, manajemen terserap, dan perhatian birokrasi habis untuk menyelesaikan masalah perusahaan yang seharusnya sudah dapat diselesaikan melalui mekanisme bisnis.

Karena itu, rencana membentuk PT Sangga Buana sebagai holding company bagi 26 BUMD yang sehat di Jawa Barat menarik untuk diperhatikan. Secara teori, holding dapat memberikan manfaat ekonomi. Pengadaan dapat dikonsolidasikan, investasi bisa lebih terarah, standar tata kelola dapat diseragamkan, dan perusahaan-perusahaan yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri dapat memperoleh skala ekonomi yang lebih baik.

Tetapi, holding bukan obat mujarab. Menggabungkan beberapa perusahaan yang kurang produktif tidak serta-merta membuat semuanya menjadi produktif. Dalam dunia bisnis, merger atau pembentukan holding baru menciptakan nilai hanya jika ada sinergi yang nyata. Kalau yang berubah hanya struktur organisasi, nama perusahaan, atau susunan komisaris dan direksi, persoalan dasarnya bisa tetap tinggal di tempat.

Karena itu, Sangga Buana sebaiknya tidak hanya diberi tugas mengelola 26 BUMD. Ia harus diberi target yang dapat diukur. Misalnya, peningkatan produktivitas aset, kenaikan laba, efisiensi biaya, peningkatan dividen, pengurangan utang, atau peningkatan kualitas layanan. 

Dengan indikator semacam itu, masyarakat bisa menilai apakah holding tersebut benar-benar menciptakan nilai atau hanya menciptakan lapisan birokrasi baru.

Lalu, bagaimana dengan 10 BUMD yang katanya sakit? Di sinilah keputusan bisnis yang paling sulit biasanya berada. Tidak semua perusahaan yang sakit harus disuntik modal segar. Ada perusahaan yang masih punya prospek tetapi membutuhkan restrukturisasi. Ada yang perlu digabung. Ada yang perlu mengganti model bisnis. Ada pula yang mungkin secara ekonomi sudah tidak layak dipertahankan.

Bukanlah kegagalan

Dalam bisnis, mengakui bahwa sebuah usaha tidak lagi layak bukanlah kegagalan. Justru kemampuan menghentikan investasi pada bisnis yang tidak memiliki prospek merupakan bagian dari disiplin modal.

Pemerintah daerah mungkin perlu memiliki keberanian yang sama, tentu dengan mempertimbangkan aspek hukum, pelayanan publik, tenaga kerja, dan kepentingan masyarakat.

Masyarakat Jawa Barat sangat berhak mengetahui bukan hanya jumlah BUMD yang sehat dan sakit, tetapi juga alasan di balik penilaian tersebut. Juga mengetahui berapa pendapatan masing-masing BUMD, berapa laba atau kerugiannya, berapa asetnya, berapa utangnya, berapa penyertaan modal pemerintah, berapa dividen yang dikembalikan, dan berapa orang yang bekerja di dalamnya?

Mengetahui data-data tersebut akan membantu mengubah perdebatan dari opini menjadi evaluasi. Dan DPRD tidak perlu hanya mendengar presentasi perusahaan. Publik juga tidak perlu hanya menerima klaim bahwa sebuah BUMD sehat atau sakit.

Dengan data yang terbuka, perusahaan dapat dinilai berdasarkan kinerja. Yang berhasil bisa diberi ruang untuk berkembang. Yang bermasalah dapat diperbaiki dengan resep yang lebih tepat.***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 16:40

Romantisme Membaca Majalah Monitor : Ketika TVRI Menjadi Jendela Hiburan Keluarga

Membuka kembali Majalah Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980 seperti membuka jendela kecil menuju masa lalu.

Majalah Monitor edisi perdana, Agustus 1980, menjadi salah satu bacaan panduan bagi penonton dan pemirsa TVRI untuk mengetahui beragam acara televisi yang ditayangkan pada masa itu. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 15:14

Hari Lahir Kemenlu dan Bandung Gudangnya Diplomat Ulung

Banyaknya diplomat asal Kota Bandung yang berprestasi memberikan citra positif bangsa di mata dunia.

Ilustrasi Gedung Pancasila terkait dengan hari jadi Kementerian Luar Negeri, 19 Agustus (Sumber: galeri kemlu.go.id)
Wisata & Kuliner 20 Agu 2026, 13:22

Panduan Wisata Kebun Raya Kuningan: Taman Batu, Bunga Kuning, dan Udara Ciremai

Panduan lengkap Kebun Raya Kuningan, mulai dari harga tiket, jam buka, Rock Garden, Taman Kuning, hingga tips berkunjung ke kaki Gunung Ciremai.

Kebun Raya Kuningan.
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 13:01

DAMRI Leuwi Panjang—Cibiru: Antara Antusiasme Penumpang dan Berbagi Jatah dengan Angkot

Membicarakan transportasi umum di Bandung memang cukup rumit—baik pembagian rute maupun keterbatasan trayek yang bisa menjangkau setiap sudut Kota Bandung.

Antusiasme Pengguna DAMRI tidak sebanding dengan armada dan waktu yang disediakan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 11:14

Wujudkan Furnitur Fungsional yang Ergonomik untuk Mall di Bandung

Ada kecenderungan Mall yang kini banyak dikunjungi oleh masyarakat karena memiliki furnitur fungsional dan taman yang luas.

Kolase foto penulis disekitar furnitur fungsional Mall Sumaba (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Beranda 20 Agu 2026, 09:44

Menelusuri Jejak Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Arcamanik, Lapang Golf sampai Buruan Sae

Data BPS 2019–2024 mengungkap luas ruang terbuka hijau tiap kelurahan di Kecamatan Arcamanik, dari taman raksasa Sukamiskin hingga kebun warga Buruan Sae.

Pengendara melintasi jalan Pacuan Kuda Arcamanik pada Rabu, 19 Agustus 2026. Tampak jalan tersebut teduh karena masih ditumbuhi pohon-pohon berukuran besar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)