Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

  • Jangan sampai ukuran keberhasilan tata kota berubah menjadi jumlah video yang viral. Kalau begitu, warga yang punya kamera dan akses internet memperoleh semacam “jalur cepat” menuju perhatian pemerintah.

  • Kota bukan hanya kumpulan bangunan. Kota adalah sistem hubungan. Rumah membutuhkan jalan. Jalan membutuhkan drainase. Perumahan membutuhkan koneksi dengan lingkungan. TPU membutuhkan akses.

SEBUAH video yang diambil di kawasan Gedebage, Kota Bandung, viral, baru-baru ini.  Videonya memperlihatkan warga membawa jenazah menuju TPU, tetapi akses yang mereka gunakan bukan jalan sebagaimana mestinya. Mereka melewati jalur bawah tanah. Dalam bahasa tata kota, ini mungkin disebut persoalan akses. Dalam bahasa warga, mungkin lebih sederhana: “Masa nganter orang meninggal harus lewat situ?”

Video itu kemudian ramai. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, merespons dan meminta warga serta pengembang kembali bermusyawarah. Pemkot juga membongkar konstruksi bekas jembatan yang dianggap menghalangi jalur tembus. Ada akses alternatif. Hanya saja, warga harus memutar. Persoalannya lalu tampak selesai sebagian. 

Pertanyaan kemudian adalah: mengapa sebuah masalah tata ruang baru memperoleh perhatian besar setelah ia menjadi video yang viral?

Inspektur lapangan

Kita memang hidup dalam zaman ketika kamera ponsel bisa menjadi semacam “inspektur lapangan”. Dulu, warga yang menghadapi masalah harus membuat surat, mencari kantor yang tepat, mengisi formulir, menunggu disposisi, lalu berharap masalahnya bergerak dari meja ke meja. 

Lha, sekarang, cukup satu video berdurasi beberapa detik. Algoritma yang bahkan tidak pernah ikut rapat RT bisa membuat persoalan lokal mendadak diketahui satu kota.

Dan ini bukan semata-mata fenomena media sosial. Dalam ilmu politik dan administrasi publik, visibilitas memang berpengaruh terhadap perhatian pemerintah. Masalah yang terlihat, mudah dipahami dan menyentuh emosi manusia cenderung lebih cepat memperoleh perhatian dibanding persoalan yang membutuhkan tabel 30 halaman. 

Keranda di underpass adalah gambar yang sangat kuat soal ini. Kita tidak perlu membaca dokumen tata ruang untuk memahami ada sesuatu yang terasa janggal.

Di sinilah media sosial memiliki fungsi yang agak aneh tetapi nyata. Ia bisa menjadi mekanisme akuntabilitas informal. Bukan karena video viral otomatis membuktikan siapa yang salah, melainkan karena video dapat mengubah masalah yang tadinya tersembunyi menjadi masalah terbuka ke hadapan publik. Pemerintah kemudian menghadapi sesuatu yang berbeda, yaitu bukan hanya laporan warga, tetapi juga perhatian ribuan atau jutaan mata.

Masalahnya, mekanisme seperti ini mempunyai kelemahan besar. Algoritma tidak bekerja berdasarkan tingkat urgensi masalah. Ia bekerja berdasarkan perhatian. Jalan rusak yang sudah sepuluh tahun mungkin kalah menarik dari keranda yang lewat underpass hari ini. Drainase yang dirancang buruk selama bertahun-tahun tidak punya peluang viral sebesar satu video banjir setinggi pinggang orang dewasa. Kita akhirnya berisiko memiliki pemerintahan yang lebih cepat merespons apa yang terlihat, bukan selalu apa yang paling penting.

Inilah yang perlu diwaspadai. Jangan sampai ukuran keberhasilan tata kota berubah menjadi jumlah video yang viral. Kalau begitu, warga yang punya kamera dan akses internet memperoleh semacam “jalur cepat” menuju perhatian pemerintah. Sementara warga yang tidak memiliki kemampuan merekam, tidak mengerti cara membuat konten, atau tidak punya jaringan media sosial tetap harus menunggu prosedur biasa.

Padahal, kota yang baik seharusnya tidak membutuhkan keranda sebagai alarm. Akses menuju TPU semestinya dapat dibaca sejak perencanaan kawasan. Begitu sebuah perumahan dibangun, pemerintah tidak hanya perlu melihat rumahnya berdiri endah dan rapi, gerbangnya bagus, dan jalan internalnya mulus seperti pipi ABG yang rutin perawatan. Yang juga penting adalah bagaimana kawasan itu terhubung dengan lingkungan sekitar: jalan umum, drainase, fasilitas sosial, fasilitas kesehatan, ruang publik, termasuk akses menuju tempat pemakaman.

Dalam kasus keranda di Gedebage, pernyataan Walikota Farhan mengenai kewajiban Prasarana, Sarana dan Utilitas atau PSU menjadi bagian penting. Jika memang terdapat kewajiban PSU yang belum diserahkan penuh, persoalannya tidak lagi sekadar “tetangga ribut soal jalan”. Ada pertanyaan administratif yang jauh lebih konkret: apa status lahannya, siapa yang memiliki kewajiban, bagaimana desain aksesnya, dan mengapa persoalan tersebut belum tuntas? Jawabannya harus datang dari dokumen dan proses administrasi, bukan dari seberapa keras suara masing-masing pihak.

Kalimat Farhan bahwa akses warga sebenarnya tidak terisolasi, tetapi menjadi lebih memutar, juga menarik. Secara geometris, benar: jalan masih ada. Tetapi, kota tidak hanya berbicara soal ada jalan atau tidak ada jalan. Dalam perencanaan transportasi dikenal konsep aksesibilitas, yakni seberapa mudah seseorang mencapai tujuan. Jarak, waktu tempuh, kualitas permukaan, keselamatan dan moda perjalanan ikut menentukan. Jalan yang bertambah 500 meter bagi pengendara mobil tidak selalu sama artinya bagi orang yang berjalan kaki sambil menggotong-gotong keranda.

Sistem hubungan

Kota bukan hanya kumpulan bangunan. Kota adalah sistem hubungan. Rumah membutuhkan jalan. Jalan membutuhkan drainase. Perumahan membutuhkan koneksi dengan lingkungan. TPU membutuhkan akses. Pedagang membutuhkan pembeli. Anak sekolah membutuhkan rute yang aman. 

Ketika satu bagian kawasan dibuat sangat privat sementara koneksinya dengan lingkungan sekitar tidak dirancang dengan baik, yang muncul adalah kota dalam bentuk puzzle: potongannya bagus-bagus, tetapi ketika disusun ternyata gambarnya tidak nyambung.

Karena itu, musyawarah tetap penting. Ungkapan “Sok atuh badami” adalah pendekatan yang masuk akal untuk persoalan sosial. Tetapi, musyawarah sebaiknya menjadi jalan menuju solusi, bukan pengganti kepastian aturan. Warga dan pengembang boleh berbeda kepentingan. Pemerintah justru diperlukan untuk memastikan bahwa perbedaan itu tidak membuat hak akses publik bergantung pada siapa yang paling kuat bernegosiasi.

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak. Kalau setiap masalah baru bergerak setelah direkam, diunggah ke media sosial, dan viral, kita bukan sedang membangun kota yang responsif. Kita sedang membangun kota yang responsif setelah ditonton orang banyak. 

Kalau seperti itu, maka sebenarnya siapa yang selama ini mengawasi kota -- pemerintah, warga, atau algoritma? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.