Politik Populer vs Tata Kelola: Birokrasi yang Tergerus

4 menit baca
Kiki esa perdana
Ditulis oleh Kiki esa perdana diterbitkan
Ilustrasi kata politik. (Sumber: Pexels | Foto: Tara Winstead)
Ilustrasi kata politik. (Sumber: Pexels | Foto: Tara Winstead)

Di tengah derasnya arus media sosial, seorang politikus bisa saja lebih sibuk mengikuti trending topic ketimbang merancang kebijakan jangka panjang. Fenomena ini membuat politik terasa seperti panggung hiburan, di mana popularitas dan viralitas menjadi kompas utama kala tersesat dan tak tahu arah. Seperti pepatah Sunda, ‘Nu ngigelan cai, sok kabawa arusna’, siapa yang terlalu mengikuti arus, bisa hanyut tanpa arah. Kebijakan yang lahir dari logika atau kepentingan populer sering kali mengorbankan tata kelola birokrasi yang sudah dibangun dengan susah payah.

Budaya populer memang punya daya tarik hebat, ia dekat dengan rakyat, mudah dipahami, dan cepat menyebar dan gampang. Namun ketika logika populer dijadikan dasar kebijakan, birokrasi yang mestinya menjamin konsistensi dan keberlanjutan justru tergerus. Seperti lirik lagu pop Sunda ‘Tong hilap kana janji, ulah ngan ukur omongan’, publik diingatkan bahwa janji politik tidak cukup hanya dengan viral di jalanan media sosial. Ia harus diwujudkan dalam tata kelola yang kokoh, sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDG, bukan sekadar konten yang cepat hilang ditelan tren dan tidak memiliki Solusi jangka panjang.

Saya teringat Agenda-Setting Theory yang pernah saya ajarkan di kelas, dia menjelaskan bagaimana media (dan kini media sosial) tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan publik, tetapi sangat memengaruhi isu apa yang dianggap penting, teori ini menjelaskan kunci untuk menjelaskan bagaimana isu-isu viral di media sosial berubah menjadi prioritas kebijakan. Teori ini menekankan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang dipikirkan publik, tetapi sangat memengaruhi isu apa yang dianggap penting. Ketika trending topic di Twitter atau Instagram mendominasi percakapan, politisi yang terlalu responsif terhadap budaya populer cenderung menjadikan isu tersebut sebagai agenda utama, meski belum tentu sesuai dengan kebutuhan atau Solusi jangka panjang untuk masyarakat. Fenomena ini menunjukkan pergeseran logika birokrasi ke logika media (atau ke logika trending topics)? Birokrasi yang mestinya berjalan sistematis dan berjenjang justru dipangkas demi kecepatan respons terhadap isu viral. 

Perilaku politisi yang terlalu mengikuti budaya populer dan trending topic netizen bisa dianggap salah karena menggeser logika kebijakan dari kebutuhan publik jangka panjang ke sekadar viralitas yang cuma jangka pendek. Dalam kerangka Agenda-Setting Theory, isu yang ramai di media sosial memang tampak penting, tetapi tidak selalu merepresentasikan masalah struktural yang harus segera ditangani. Ingat, jika kebijakan hanya lahir dari tren, maka prioritas publik yang lebih mendasar (seperti pendidikan, kesejahteraan masyarakat, pengangguran, masalah ormas, kesehatan, atau tata kelola birokrasi), bisa dengan mudah terabaikan terabaikan.

Selain itu, perilaku ini berisiko melemahkan tata kelola pemerintahan. Birokrasi dibangun untuk menjamin konsistensi, transparansi, dan akuntabilitas. Ketika prosedur dipangkas demi kecepatan respons terhadap isu viral, sistem pengawasan dan mekanisme formal bisa rusak. Akibatnya, kebijakan menjadi reaktif, tidak berkelanjutan, dan rawan salah arah. Dengan kata lain, politik populer yang hanya mengejar legitimasi dari “adsense”, “like” dan “share” berpotensi mengorbankan prinsip good governance yang seharusnya menjadi fondasi pemerintahan.

Politisi yang terlalu mengikuti budaya populer dan tren media sosial berisiko menghancurkan persiapan pemerintah tingkat lokal/daerah yang sudah dibangun dengan perencanaan panjang. Agenda pembangunan di level daerah biasanya disusun melalui proses birokrasi yang melibatkan musyawarah, FGD (yang katanya tidak penting), perencanaan anggaran, dan koordinasi lintas sektor. Namun, ketika politisi lebih memilih merespons isu viral ketimbang menjalankan rencana yang sudah disiapkan, maka kerja keras birokrasi bisa runtuh begitu saja.

Ungkapan “Vox populi, vox Dei” menegaskan bahwa kekuasaan politik pada akhirnya bersumber dari rakyat. (Sumber: Pexels/Daris Ardiansyah)
Ungkapan “Vox populi, vox Dei” menegaskan bahwa kekuasaan politik pada akhirnya bersumber dari rakyat. (Sumber: Pexels/Daris Ardiansyah)

Lagi, dalam kerangka Agenda-Setting Theory, isu yang ramai di media sosial memang tampak mendesak, tetapi tidak selalu mencerminkan kebutuhan struktural masyarakat. Jika politisi menjadikan tren sebagai dasar kebijakan, maka program pembangunan yang sudah dirancang pemerintah tingkat lokal/daerah bisa terabaikan, bahkan dibatalkan. Akibatnya, tata kelola yang mestinya menjamin konsistensi dan keberlanjutan berubah menjadi kebijakan reaktif, rawan salah arah, dan melemahkan prinsip good governance.

Sebagai kesimpulan, fenomena politik populer yang terlalu tunduk pada logika media sosial menunjukkan adanya pergeseran serius dalam tata kelola pemerintahan. Agenda-Setting Theory membantu kita memahami bahwa isu viral memang bisa membentuk persepsi publik tentang apa yang penting, apa yang trending dan apa yang tidak, tetapi ketika politisi menjadikan tren sebagai acuan dasar kebijakan, maka kebutuhan jangka panjang masyarakat dan konsistensi birokrasi terancam diabaikan.

Lebih jauh kedepannya, perilaku ini berisiko merusak good governance karena birokrasi yang sudah dipersiapkan lama di tingkat lokal/daerah bisa runtuh hanya karena tekanan budaya populer. Politik populer memang memberi legitimasi instan, tetapi tanpa fondasi tata kelola yang kuat, ia hanya menghasilkan kebijakan reaktif dan rapuh. Artikel ini menegaskan bahwa viralitas tidak boleh menggantikan perencanaan institusional, sebab pembangunan berkelanjutan membutuhkan arah yang jelas, bukan sekadar mengikuti arus tren sesaat.

Di Jawa Barat, fenomena politik populer kadang muncul dalam bentuk kebijakan yang cepat mengikuti arus tren publik. Isu yang ramai di media sosial bisa mendesak birokrasi untuk bergerak secara instan, meski perencanaan jangka panjang sudah disusun dengan hati-hati oleh pemerintah daerah. Dalam praktiknya, arah kebijakan di tingkat provinsi sering tampak mendominasi, sehingga peran kabupaten/kota berisiko terpinggirkan. Situasi seperti ini menimbulkan kesan bahwa legitimasi dapat diperoleh seketika, tetapi di balik itu ada risiko tata kelola menjadi rapuh karena fondasi institusional tidak diperkuat

Tetiba saya teringat lagu Oon B, berjudul “jang”, “Tong hilap kana janji, ulah ngan ukur omongan”. Jangan sampai janji politik hanya berhenti sebagai kata-kata yang viral, melainkan harus diwujudkan dalam tata kelola yang nyata dan berkelanjutan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kiki esa perdana
orang Cimahi, dosen Komunikasi di Jakarta, peneliti doktoral Ilmu politik Universiti Malaysia Sarawak fokus demokrasi digital, minat politik dan budaya populer

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)