Budaya Self-reward dan Hubungannya dengan Konsumerisme Gen Z

6 menit baca
Evangeline Chelsea N
Ditulis oleh Evangeline Chelsea N diterbitkan
Ilustrasi belanja. (Sumber: Pexels | Foto: Max Fischer)
Ilustrasi belanja. (Sumber: Pexels | Foto: Max Fischer)

Akhir-akhir ini, self-reward menjadi istilah yang tidak asing bagi Gen Z. Gen menjadikan self-reward sebagai apresiasi kepada diri sendiri atas pencapaian seminimal apapun. Contohnya, ketika selesai mengerjakan tugas, melewati hari yang melelahkan, dan berhasil mencapai target, kita merasa pantas untuk mendapatkan hadiah. Self-reward awalnya dianggap positif karena meningkatkan kebutuhan regulasi emosi dan motivasi dalam mencapai setiap tugas atau target. Namun ternyata, sekarang self-reward dapat berpotensi menjadi pembelaan untuk perilaku konsumtif. Self-reward pada Gen Z menunjukkan bagaimana kebutuhan akan apresiasi diri dapat berubah menjadi budaya konsumtif yang dipengaruhi oleh media sosial, tren digital, dan pencarian validasi sosial.

Melalui media sosial, self-reward kerap dikaitkan dengan pembelian barang-barang tertentu. Apa yang dibeli bukan selalu apa yang dibutuhkan, namun barang-barang mewah yang dipasarkan influencer. Contoh barang yang dimaksud diantaranya adalah tas mewah, skincare dan makeup yang mahal, baju premium dan lainnya yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Apa yang dilihat penonton saat melihat konten-konten flexing barang mewah membuat penonton tertarik untuk membeli meskipun tidak butuh dengan dalih self-reward. Akibatnya, banyak Gen Z yang konsumtif membeli barang bukan karena kebutuhan tapi karena mempertahankan gengsi dan status sosial di media sosial.

Self-reward bagi Gen Z

Para psikolog di American Psychological Association menjelaskan pada dasarnya self-reward adalah mekanisme sederhana manusia dalam memberi penghargaan setelah usaha tertentu secara alami. Apresiasi bisa dalam bentuk hal yang sederhana seperti beristirahat, melakukan hobi, dan makan makanan kesukaan. Namun, apa yang sering terjadi sekarang adalah sebaliknya. Di media sosial, banyak influencer yang kontennya berisi self reward yang mengacu pada belanja barang dan gaya hidup mewah. Konten-konten tersebut akhirnya banyak ditonton oleh generasi yang erat dengan teknologi dan media sosial seperti Gen Z.

Untuk dapat memahami siapa itu Gen Z, kita perlu melihat pengertian sebenarnya mengenai Gen Z. Menurut Adha dan Fuandi (2023), Gen Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1996 sampai 2010 dan dibesarkan di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berkembang mengikuti zaman. Generasi Z lebih erat dengan teknologi dan gadget dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Maka, sebagian besar pengguna media sosial Gen Z banyak dipengaruhi media sosial melalui konten-konten. Survei yang dilakukan oleh University Times menunjukkan bahwa 43% konsumen Gen Z telah melakukan pembelian melalui media sosial. Selain itu, 57% pengguna media sosial Gen Z dalam beberapa hal dipengaruhi oleh pembuat konten ketika membuat keputusan pembelian.

IZEA, sebuah penyedia utama teknologi pemasaran influencer, data, dan layanan untuk merek-merek terkemuka dunia, juga mengungkapkan penelitian mengenai pengaruh influencer terhadap pembelian konsumen. Berdasarkan hasil survei, pengaruh TikTok di kalangan usia 18–29 tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Sebanyak 31% responden menganggap TikTok sebagai platform yang paling memengaruhi mereka, dibandingkan 19% pada tahun 2022. Pengaruh tersebut juga tercermin dalam perilaku konsumsi, di mana 42% responden menggunakan TikTok sebagai sumber informasi produk dan jasa sebelum melakukan pembelian. Meskipun tidak semua yang dibuat konten adalah apa yang kita butuhkan, para Gen Z dapat melihat dan merasa bahwa setiap barang yang mereka lihat di konten adalah suatu yang mereka perlu dapatkan juga. Akibatnya, banyak pembelian dilakukan tidak sesuai fungsinya.

Pengaruh FoMO dan Budaya Self-reward terhadap Perilaku Konsumtif Gen Z

Eratnya hubungan Generasi Z dengan media sosial menjadikan generasi ini rentan mengalami Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan cemas atau takut tertinggal dari pengalaman, informasi, maupun tren yang sedang dinikmati orang lain. Menurut Chetioui dan El Bouzidi (2023), FoMO merupakan salah satu faktor yang memengaruhi perilaku konsumen dalam berbelanja daring karena mendorong individu untuk mengikuti tren, promosi, atau pengalaman yang dianggap populer. Dalam konteks perilaku konsumtif, perasaan ini membuat seseorang terdorong untuk terus mengikuti apa yang sedang viral agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya. Akibatnya, keputusan pembelian seringkali didasarkan pada dorongan emosional daripada kebutuhan yang sebenarnya.

Self reward juga suatu hal yang salah jika dilakukan dengan alasan yang kuat bukan sekadar alasan impulsif yang membenarkan pemborosan dengan dalih demi kebahagiaan diri sendiri. (Sumber: Pexels/Ahsanjaya)
Self reward juga suatu hal yang salah jika dilakukan dengan alasan yang kuat bukan sekadar alasan impulsif yang membenarkan pemborosan dengan dalih demi kebahagiaan diri sendiri. (Sumber: Pexels/Ahsanjaya)

Salah satu fenomena yang mencerminkan pengaruh FoMO dan budaya self-reward adalah tren blind box yang populer di kalangan Generasi Z. Blind box merupakan kotak berisi barang koleksi dengan isi yang dirahasiakan sehingga pembeli tidak mengetahui item yang akan diperoleh sebelum membukanya. Sensasi kaget, penasaran, dan peluang mendapatkan karakter lucu membuat banyak orang tertarik untuk membeli produk ini. Selain menjadi sarana hiburan, blind box juga sering dianggap sebagai bentuk self-reward atau penghargaan terhadap diri sendiri setelah menyelesaikan tugas atau mencapai suatu pencapaian.

Namun, nyatanya banyak pembelian blind box dilakukan karena dorongan untuk merasakan kesenangan sesaat dan mengikuti tren yang sedang berkembang. Tidak sedikit konsumen yang membeli berulang kali demi memperoleh item tertentu atau item langka yang diinginkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa FoMO dan praktik self-reward yang tidak terkendali dapat mendorong perilaku konsumtif, pembelian impulsif, serta pengeluaran yang berlebihan.

Psikologi di Balik Self-reward

Dari sisi psikologi, budaya self-reward dan tren blind box berkaitan erat dengan sistem penghargaan (reward system) dalam otak manusia. Ketika seseorang membeli barang yang diinginkan atau mendapatkan item langka dari blind box, otak akan melepaskan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang dan puas. Sensasi inilah yang membuat seseorang ingin mengulang perilaku tersebut secara terus-menerus.

Selain itu, media sosial juga memperkuat kebutuhan validasi sosial. Banyak Gen Z merasa lebih percaya diri atau dianggap mengikuti tren ketika memiliki barang tertentu yang sedang viral. Akibatnya, keputusan membeli tidak lagi didasarkan keinginan untuk memperolehpengakuan dari lingkungan sekitar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa self-reward yang tidak disertai kontrol diri dapat mendorong perilaku konsumtif yang berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan suatu solusi yang dapat menyeimbangkan kebutuhan individu untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri tanpa mengabaikan dampaknya terhadap lingkungan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah green awareness.

Hubungan dengan Green Awareness

Dengan meningkatkan kesadaran terhadap dampak konsumsi terhadap keberlanjutan lingkungan, kita dapat lebih bijak dalam menentukan bentuk self-reward yang dilakukan. Melalui green awareness, self-reward tidak lagi hanya berorientasi pada kepuasan sesaat melalui pembelian barang, tetapi juga mempertimbangkan nilai keberlanjutan dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Budaya konsumtif ini bertentangan dengan meningkatnya green awareness atau kesadaran lingkungan yang sebenarnya mulai berkembang di kalangan anak muda. Gen Z dikenal sebagai generasi yang cukup peduli terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Namun, di sisi lain, kebiasaan membeli barang secara impulsif melalui tren self-reward dan blind box justru menghasilkan limbah konsumsi yang besar. Kemasan plastik, barang koleksi yang tidak terpakai, hingga produk yang cepat mengikuti tren menjadi penyumbang sampah yang sulit didaur ulang.

Solusi yang bisa kita lakukan untuk menerapkan green awareness guna mengurangi limbah konsumerisme diantaranya yaitu menggunakan tempat sendiri ketika berbelanja (kantong belanja, tempat minum dan makan sendiri). Selain itu juga dengan menggunakan skala prioritas mana yang perlu dibeli dan yang tidak perlu. Hal ini berguna untuk menghemat pengeluaran juga mengurangi limbah.

Meskipun demikian, self-reward sebenarnya tetap memiliki sisi positif jika dilakukan secara bijak. Menghargai diri sendiri tidak harus selalu diwujudkan dengan membeli barang mahal atau mengikuti tren. Bentuk self-reward yang lebih sehat dapat dilakukan dengan beristirahat, melakukan hobi, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, atau merawat diri tanpa konsumsi berlebihan.

Kesimpulannya, budaya self-reward pada Gen Z telah mengalami perubahan makna akibat pengaruh media sosial, tren digital seperti blind box, serta kebutuhan validasi sosial. Dari sisi psikologi, perilaku ini dipengaruhi oleh dorongan emosional dan sistem penghargaan dalam otak yang memunculkan rasa senang sesaat. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, budaya tersebut dapat memicu konsumerisme dan bertentangan dengan kesadaran lingkungan atau green awareness. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran untuk memahami batas antara kebutuhan dan keinginan agar self-reward tetap menjadi bentuk apresiasi diri yang sehat dan tidak berubah menjadi gaya hidup konsumtif. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Evangeline Chelsea N
Mahasiswa Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Parahyangan Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)