Pendidikan bukan hanya disampaikan di dalam kelas. Pendidikan selalu luas dalam mengartikannya. Setiap kegiatan pendidikan selalu bermuara pada asas Ki Hajar Dewantara yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Filosofi tersebut menekankan bahwa pendidikan menjadi gerbang pengetahuan yang dapat divisualisasikan dalam jati diri dan bermanfaat untuk masyarakat.
Maka tidak ada komentar untuk pentingnya pendidikan bagi masyarakat. Pendidikan sangat wajib bagi masyarakat dan prioritasnya nomor satu. Namun dengan fokusnya pada pembelajaran, tentu saja belajar di ruang kelas saja tidak cukup.
Sedangkan pembelajaran di luar kelas pun sangat penting untuk murid. Maka dari itu ekstrakurikuler yang menyenangkan harus diimplementasikan.
Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.
Sebab hobi atau minat dan bakat murid tentu berbeda-beda. Maka murid dapat diberi fasilitas untuk memilih ekstrakurikuler yang disediakan. Peranan sekolah untuk menyediakan ekstrakurikuler yang sesuai dengan minatnya murid. Sekolah tidak sekadar menyediakan saja, tetapi harus diekspresikan dengan pilihan ekstrakurikuler yang beragam.
Murid dapat memilih dengan caranya, hobinya yang sesuai dengan positif. Mengapa ekstrakurikuler harus dilakukan dengan membahagiakan?
Untuk memilih ekstrakurikuler yang membahagiakan harus dilakukan dengan cara yang terbaik. Maka langkah terbaiknya yaitu pertama, mengenali minat murid yang sebenarnya, bahwa kegiatan yang membuat anak penasaran atau senang menjalaninya, bukan sekadar mengikuti teman atau menuruti ambisi orang tua.
Orang tua juga mengupayakan agar anak harus diposisikan sebagai anak yang sedang ingin mengembangkan dirinya dalam hal memutuskan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Minatnya kemana saja harus dimaksimalkan. Tidak perlu ditentang.
Kedua, orang tua harus memperhatikan waktu istirahatnya. Anak memiliki jam belajar yang tidak bisa diganggu dan tidak boleh ditumpuk dengan waktu istirahat dan ekstrakurikuler. Maka harus bisa dijaga. Antara waktu istirahat, waktu belajar, dan waktu ekstrakurikulernya.
Orang tua wajib memastikan jadwalnya tidak berseberangan. Sehingga anak tidak merasakan stres panjang. Fokusnya tetap agar anak mau mengatur diri.
Ketiga, memberikan anak keleluasaan untuk fokus pada proses mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, tanpa ada target dengan hasil. Bukan mengejar hasilnya. Melainkan berproses dengan baik. Kegiatan ekstrakurikuler yang membentuk karakter, disiplin, dan berkepribadian baik. Melalui seni, musik, olahraga, dan lainnya, tetap mengutamakan untuk berproses secara tepat.
Ekstrakurikuler yang dipilih benar dengan menikmati prosesnya tanpa beban harus selalu juara. Sebab ekspektasi menjadi juara akan memberikan tekanan psikis kepada murid. Jika proses yang didahulukan maka anak akan menyukainya.
Keempat, anak diberi ruang untuk mencoba, dalam mencoba ini dimaksudkan ketika anak diberi kesempatan mengikuti ekstrakurikuler maka sebaiknya bersikap bahwa mencoba merupakan hal yang wajar, dengan anak menikmati dalam ekstrakurikulernya.
Dalam mencoba ekstrakurikuler ini anak akan merasakan manfaatnya, bahwa setiap kegiatan dibutuhkan kesungguhan. Sehingga anak mampu meningkatkan semangat dan terus mencoba akan setiap kegiatan yang dilakukannya.
Peran Ekstrakurikuler

Pada dasarnya ekstrakurikuler hadir untuk pendidikan dasar dan menengah sebagai ruang aktif di luar kelas yang dikhususkan untuk murid. Kehadiran ekstrakurikuler memiliki peran yang konkrit, berpusat kepada murid dan bekal bagi murid untjk meningkatkan keterampilannya.
Keterampilan yang dimiliki akan dibawa ke dalam pendidikan kehidupannya kelak. Maka dari itu, ekstrakurikuler sangat penting bagi murid untuk dipilih sebagai tambahan kegiatan yang aktif dan mendukungnya bagi kehidupan murid.
Dampaknya berkelanjutan, murid mampu meningkatkan kapasitasnya untuk mendapatkan hasil maksimal di kehidupan berikutnya. Maka terdapat tiga dimensi utama dalam peranan ekstrakurikuler, pertama berkaitan dengan pembentukan karakter, kepemimpinan dan kolaborasi, dalam konteks ini murid bisa mengikuti ekstrakurikuler seperti Pramuka, OSIS, atau PMR melatih kemampuan komunikasi, resolusi konflik, dan kerja sama tim yang esensial untuk dunia kerja masa depan.
Organisasi tersebut sangat tepat bagi murid sehingga proses bertumbuh untuk masa depannya sangat berpotensi dan semakin fokus dengan dunia kerjanya kelak.
Kedua, terkait dengan daya juang. Murid bisa mengikuti ekstrakurikuler olahraga atau seni. Dimana murid bisa belajar untuk menghadapi kegagalan, mampu mengevaluasi dari aspek prosesnya, juga bisa konsisten untuk mencapai target. Sederhananya, murid bisa bertahan lebih lama dalam eksperimen ekstrakurikulernya.
Ketiga, yang paling tren saat ini, murid bisa mengikuti ekstrakurikuler robotik dan koding, murid mampu menyiapkan diri menghadapi masa depannya di era digital, dan murid bisa melatih diri memiliki kemampuan berpikirnya.
Kemudian murid juga bisa mengikuti Karya Ilmiah Remaja (KIR), yang mana murid bisa menumbuhkan budaya meneliti, berpikir kritis, serta mencari solusi berbasis data terhadap masalah sosial atau sains di sekitarnya.
Menariknya dari dimensi ini sebenarnya murid mengekspresikan diri mengikuti ekstrakurikuler lainnya seperti musik, kegiatan sosial, dan yang bermanfaat lainnya.
Baca Juga: Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian
Pendidikan Berkelanjutan
Ekstrakurikuler sebagai ekspresi murid untuk mendapatkan kesempatan berprestasi dan menghasilkan prestasi non akademik tentu berpeluang untuk membesarkan nama murid di sekolah, disertai mempraktikkan keterampilannya untuk pendidikan berkelanjutan.
Kesiapan menghadapi masa depannya, murid diberikan otonomi penuh, menguasai diri untuk mengelola kegiatan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas konsekuensinya, sehingga mental mandiri mereka terbentuk.
Tidak terbentuk instan melainkan dipupuk sedemikian waktunya, sepanjang mempelajari ekstrakurikuler dengan sungguh-sungguh.
Apresiasi sekolah tidak boleh hanya diberikan kepada murid yang menang kompetisi, melainkan juga pada komitmen, peningkatan kemampuan pribadi, dan kerja keras prosesnya, setelah itu murid juga menyadari bahwa ekstrakurikulernya digunakan untuk menjembatani antara prestasi akademik dan non akademiknya.
Lewat ekstrakurikuler ini, murid bisa menumbuhkan semangat berjuang untuk mencapai tujuan melalui ekstrakurikulernya. Semoga ekstrakurikuler yang dibentuk bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi meraihnya karena senang dan bahagia. (*)