Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

5 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

  • Bandung dengan bioskop-bioskop : Empire, Regent, Kopo, Studio, Galaxy, Palaguna, Kiara, Nusantara, Dallas, Majestic dan Artha. Bandung yang belum mengenal Google untuk mencari jadwal film, belum mengenal aplikasi pemesanan tiket, dan belum mengenal streaming.

  • Untuk mendapatkan tiket, orang datang ke loket. Untuk mengetahui film yang menarik, orang melihat poster atau mendengar cerita teman. Dan setelah film selesai, kenangan dibawa pulang.

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Pada era 1970-an hingga 1990-an, nama seperti Empire, Kopo, Studio, Galaxy, Plaza, Palaguna, Kiara, Regent, Nusantara, Dian, Majestic, Bandung Theatre, Dallas hingga Artha begitu akrab di telinga warga Bandung.

Bioskop bukan sekadar tempat menonton film. Ia adalah ruang sosial, tempat bertemu teman, berkencan, menghabiskan akhir pekan, atau sekadar mencari hiburan setelah sepekan beraktivitas.

Pergi ke bioskop pun terasa seperti sebuah acara.

Belum ada internet, media sosial, aplikasi bioskop, apalagi layanan streaming. Untuk mengetahui film yang sedang diputar, orang membaca koran, melihat poster dan papan reklame, atau mendengar cerita dari teman.

Kalau ingin tahu film apa yang sedang tayang, ya buka koran. Saat itu koran menjadi “Mesin Pencari” film.

Salah satu yang menarik untuk mengenang suasana itu adalah halaman jadwal bioskop dalam Harian Umum Pikiran Rakyat edisi Sabtu, 25 September 1993. Tanggal itu kini telah berjarak 33 tahun. Namun selembar halaman koran tersebut seperti membawa kita kembali ke Bandung awal 1990-an.

Nama bioskop berderet. Judul film bergantian. Hollywood, Hong Kong, India, hingga film laga yang melibatkan aktor Indonesia, semuanya berebut perhatian penonton.

Pada akhir pekan itu, Empire, Regent, Kopo, Studio, Galaxy, Palaguna, Kiara, Nusantara, Dallas, Majestic hingga Artha ikut meramaikan peta tontonan Bandung. Beberapa bioskop bahkan menyediakan Midnight Show.

Bagi warga kota masa itu, memilih film sekaligus berarti memilih bioskop.

Nama gedungnya sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman.

Pilihan film pada 25 September 1993 memperlihatkan betapa beragamnya selera penonton Bandung.

Ada Jurassic Park, film Steven Spielberg yang sedang menjadi fenomena dunia. Dinosaurus yang terasa hidup di layar lebar menjadi pengalaman visual yang sulit dilupakan penonton masa itu.

Ada pula In the Line of Fire, yang mempertemukan Clint Eastwood dengan John Malkovich dalam thriller politik yang penuh ketegangan.

Bagi penonton yang menyukai drama dan misteri, tersedia Sommersby, dibintangi Richard Gere dan Jodie Foster. Sementara penggemar film laga bisa memilih The Hit List atau Passenger 57 yang menampilkan Wesley Snipes.

Film Hong Kong juga memiliki tempat tersendiri. Boys Are Easy menghadirkan sederet bintang populer seperti Brigitte Lin, Maggie Cheung, Chingmy Yau, Tony Leung Ka-fai dan Jacky Cheung.

Sementara nama Jet Li menjadi magnet dalam King of Kung Fu II, judul yang digunakan di Indonesia untuk The Legend of Fong Sai Yuk II. Bagi penggemar kungfu, nama Jet Li di papan reklame sudah cukup menjadi alasan untuk membeli tiket.

Tak hanya film impor. Aankhen, film Hindi yang dibintangi Govinda dan Chunky Pandey, turut meramaikan layar Bandung.

Ada pula Lady Dragon, film laga yang dibintangi Cynthia Rothrock dan memiliki keterkaitan langsung dengan Indonesia. Film produksi Rapi Films itu melibatkan sejumlah aktor Indonesia, antara lain Hengky Tornando, Advent Bangun, H.I.M. Damsyik dan Pitradjaya Burnama.

Artinya, penonton Bandung kala itu tidak hanya menyaksikan bintang-bintang Hollywood atau Hong Kong. Mereka juga bisa menemukan jejak Indonesia dalam film laga internasional.

Yang menarik dari jadwal bioskop tahun 1993 itu bukan hanya judul filmnya, tetapi juga keberadaan Midnight Show.

Ketika sebagian toko dan tempat usaha mulai tutup, kehidupan kota belum sepenuhnya berhenti. Di dalam gedung bioskop, lampu kembali dipadamkan dan layar menyala.

Midnight Ride, misalnya, diputar di Dallas dan Artha.

Bagi generasi yang pernah merasakannya, menonton film tengah malam memiliki sensasi tersendiri. Jalanan yang mulai sepi, udara malam Bandung, lalu suasana gedung bioskop yang lebih lengang membuat pengalaman menonton terasa berbeda.

Bioskop seolah menjadi salah satu ruang kehidupan malam kota.

Peta bioskop Bandung juga tersebar di berbagai kawasan.

Empire berada di Jalan Merdeka. Kopo Theatre di Jalan Kopo, Studio di Jalan Maskumambang, Galaxy di Jalan Kepatihan, dan Plaza di kawasan Kosambi.

Di sekitar Alun-Alun Bandung terdapat Palaguna dan Nusantara. Ketika model sinepleks berkembang, gedung bioskop besar mulai dibagi menjadi beberapa ruang pertunjukan. Dalam catatan penelitian mengenai industri bioskop Indonesia, Palaguna dan Nusantara masing-masing disebut dipecah menjadi empat ruang.

Ada Dian di Jalan Dalem Kaum, Majestic di Jalan Braga, Regent di kawasan Jalan Sumatera, Kiara di Kiaracondong, Bandung Theatre di kawasan Kosambi, serta Dallas di Jalan Dalem Kaum.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Kin Sanubary)
Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Kin Sanubary)

Sebagian nama itu kini tinggal kenangan. Sebagian bangunannya berubah fungsi, berganti nama, atau hilang dari peta kota.

Namun bagi mereka yang pernah menjadi penontonnya, setiap nama menyimpan cerita.

Pada masa itu, satu gedung bioskop bisa menjadi tujuan perjalanan tersendiri.

Ada yang datang lebih awal untuk membeli tiket. Ada yang mengantre di loket. Ada yang menunggu teman di depan gedung. Ada pula yang sengaja memilih jadwal tertentu karena ingin bertemu seseorang.

Poster film terpampang besar. Lampu reklame menyala. Orang-orang bercakap-cakap sebelum pintu dibuka. Kemudian lampu ruangan perlahan padam.

Layar menyala.

Film dimulai.

Pengalaman seperti itu kini terasa sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya membekas.

Bioskop-bioskop lama Bandung pada akhirnya bukan hanya menyimpan sejarah perfilman. Ia juga menyimpan sejarah kehidupan warganya—tentang pertemanan, keluarga, percintaan, masa muda, bahkan tentang cara sebuah generasi menghabiskan waktu luangnya.

Kini, ketika film dapat ditonton melalui telepon genggam dan tiket bioskop bisa dipesan dalam hitungan detik, halaman jadwal bioskop dari Pikiran Rakyat 25 September 1993 terasa seperti mesin waktu.

Dari sana kita bisa melihat Bandung yang berbeda.

Bandung dengan bioskop-bioskop : Empire, Regent, Kopo, Studio, Galaxy, Palaguna, Kiara, Nusantara, Dallas, Majestic dan Artha. Bandung yang belum mengenal Google untuk mencari jadwal film, belum mengenal aplikasi pemesanan tiket, dan belum mengenal streaming.

Untuk menentukan tontonan, orang membaca koran.

Untuk mendapatkan tiket, orang datang ke loket. Untuk mengetahui film yang menarik, orang melihat poster atau mendengar cerita teman. Dan setelah film selesai, kenangan dibawa pulang.

Mungkin itu sebabnya nama-nama bioskop lama masih mudah membangkitkan nostalgia. Yang dirindukan bukan semata-mata filmnya, melainkan suasananya: antrean di loket, poster yang memenuhi dinding, lampu reklame di depan gedung, tiket kecil di saku, janji bertemu di depan bioskop, hingga detik ketika lampu padam dan layar mulai menyala.

Pada masa itu, menonton film bukan sekadar membeli tiket untuk melihat gambar bergerak.

Menonton film adalah pengalaman. Dan bioskop adalah bagian dari kehidupan kota.

Itulah Bandung yang kini hanya bisa kita temui kembali melalui ingatan, foto, kliping koran, dan nama-nama bioskop yang pernah menjadi bagian dari masa muda banyak orang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)