Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

3 menit baca
Syifa nur awaliyah
Ditulis oleh Syifa nur awaliyah diterbitkan Minggu 07 Jun 2026, 07:09 WIB
Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bagi masyarakat Sukabumi yang tumbuh pada era 1900-an hingga 2000-an tidak akan asing dengan Capitol. Gedung yang berdiri di Jl. Ahmad Yani No.75 pernah menjadi salah satu tempat hiburan paling ramai di Kota Sukabumi. Sebelum maraknya hiburan modern, Capitol hadir sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk menonton film, bermain, hingga hanya sekedar menghabiskan waktu bersama teman ataupun keluarga.

Jika ditelusuri lebih jauh, Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Pada masa itu, bangunan ini digunakan sebagai tempat hiburan bagi kalangan elit Eropa yang tinggal di Sukabumi. Menurut GoodNewsFromIndonesia (2024), gedung ini sering dipakai untuk berbagai kegiatan acara sosial, termasuk pesta dan dansa yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Keberadaan Capitol pada masa itu menjadi salah satu bagian dari kehidupan sosial masyarakat eropa di Sukabumi.

 (Sumber: Sukabumi Heritage)
(Sumber: Sukabumi Heritage)

Setelah Indonesia merdeka, fungsi Capitol mengalami perubahan. Bangunan yang dulunya identik dengan hiburan kalangan elit mulai terbuka dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Seiring dengan berkembangnya kota, Capitol bertransformasi menjadi salah satu tempat hiburan modern yang cukup populer pada masa itu. Perubahan ini terjadi secara bertahap dan mulai dikenal sebagai Bioskop Capitol.

Daya tarik utama Bioskop Capitol terletak pada pemutaran film segmen nasional seperti Warkop DKI yang menjadi salah satu tontonan yang banyak diminati dan sering membuat ruang bioskop dipenuhi oleh penonton. Bagi sebagian warga, menonton film di Capitol menjadi momen paling di tunggu saat menjelang akhir pekan atau saat libur sekolah.

Puncak masa kejayaan Bioskop Capitol sekitar awal 2000-an. Saat itu, Capitol tidak hanya menawarkan pemutaran film saja, tetapi juga mulai adanya fasilitas hiburan lain seperti karaoke, billiard, hingga permainan ding-dong yang cukup populer dikalangan anak-anak hingga remaja. Dengan adanya fasilitas tersebut menjadikan Capitol sebagai tempat hiburan favorit masyarakat Sukabumi.

Suasana Bioskop Capitol pada masa itu masih tersimpan di ingatan banyak orang. Dewi, salah satu warga Sukabumi yang mengenang bagaimana tempat tersebut bagian pada masa remajanya. "saya ingat saat itu setelah pulang sekolah, pergi ke capitol buat nonton Warkop DKI sama temen-temen, tapi selain bioskop disana juga ada tempat karaoke, tempat billiard, sama tempat olahraga" ucap Dewi. Hal ini menunjukan bahwa Capitol bukan hanya sekedar gedung hiburann semata, melainkan menjadi salah satu kenangan bagi masyarakat.

amun, dibalik kenangan tersebut, kejayaan Capitol tidak berlangsung selamanya. Bioskop-bioskop lama seperti Capitol mulai mengalami kemunduran akibat munculnya pesaing baru. Kehadiran bioskop modern dengan fasilitas yang lebih bagus dan nyaman membuat peminat Bioskop Capitol mulai beralih, Menurut DetikJabar (2020), terdapat monopoli dalam distribusi film sehingga bioskop-bioskop lama kesulitan mendapatkan film baru untuk ditayangkan.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada jumlah pengunjung yang terus menurun. Ruang-ruang yang dulu nya ramai oleh suara penonton, pemain ding-dong, dan karaoke mulai sepi. Hingga akhirnya, menurunya pemasukan operasional bioskop sehingga tidak dapat dipertahankan dan Capitol pun terpaksa menutup usaha hiburannya.

Meskipun kini tidak lagi beroperasi seperti dulu, Capitol tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Bagi generasi yang pernah merasakan masa jayanya, gedung ini bukan hanya sekedar bangunan tua yang sepi melainkan menjadi saksi kenangan masa kecil bersama keluarga dan teman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Syifa nur awaliyah
Nama lengkap saya Syifa Nur Awaliyah dan biasa dipanggil Syifa, merupakan mahasiswi semester 2 Universitas Padjadjaran prodi ilmu sejarah

Berita Terkait

News Update

Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 06 Jun 2026, 12:29

Sasapedahan

Saatnya memberi kesempatan kepada sepeda untuk menunjukkan kemampuannya.

Asyiknya bermain sepeda. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)