Bagi masyarakat Sukabumi yang tumbuh pada era 1900-an hingga 2000-an tidak akan asing dengan Capitol. Gedung yang berdiri di Jl. Ahmad Yani No.75 pernah menjadi salah satu tempat hiburan paling ramai di Kota Sukabumi. Sebelum maraknya hiburan modern, Capitol hadir sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk menonton film, bermain, hingga hanya sekedar menghabiskan waktu bersama teman ataupun keluarga.
Jika ditelusuri lebih jauh, Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Pada masa itu, bangunan ini digunakan sebagai tempat hiburan bagi kalangan elit Eropa yang tinggal di Sukabumi. Menurut GoodNewsFromIndonesia (2024), gedung ini sering dipakai untuk berbagai kegiatan acara sosial, termasuk pesta dan dansa yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Keberadaan Capitol pada masa itu menjadi salah satu bagian dari kehidupan sosial masyarakat eropa di Sukabumi.

Setelah Indonesia merdeka, fungsi Capitol mengalami perubahan. Bangunan yang dulunya identik dengan hiburan kalangan elit mulai terbuka dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Seiring dengan berkembangnya kota, Capitol bertransformasi menjadi salah satu tempat hiburan modern yang cukup populer pada masa itu. Perubahan ini terjadi secara bertahap dan mulai dikenal sebagai Bioskop Capitol.
Daya tarik utama Bioskop Capitol terletak pada pemutaran film segmen nasional seperti Warkop DKI yang menjadi salah satu tontonan yang banyak diminati dan sering membuat ruang bioskop dipenuhi oleh penonton. Bagi sebagian warga, menonton film di Capitol menjadi momen paling di tunggu saat menjelang akhir pekan atau saat libur sekolah.
Puncak masa kejayaan Bioskop Capitol sekitar awal 2000-an. Saat itu, Capitol tidak hanya menawarkan pemutaran film saja, tetapi juga mulai adanya fasilitas hiburan lain seperti karaoke, billiard, hingga permainan ding-dong yang cukup populer dikalangan anak-anak hingga remaja. Dengan adanya fasilitas tersebut menjadikan Capitol sebagai tempat hiburan favorit masyarakat Sukabumi.
Suasana Bioskop Capitol pada masa itu masih tersimpan di ingatan banyak orang. Dewi, salah satu warga Sukabumi yang mengenang bagaimana tempat tersebut bagian pada masa remajanya. "saya ingat saat itu setelah pulang sekolah, pergi ke capitol buat nonton Warkop DKI sama temen-temen, tapi selain bioskop disana juga ada tempat karaoke, tempat billiard, sama tempat olahraga" ucap Dewi. Hal ini menunjukan bahwa Capitol bukan hanya sekedar gedung hiburann semata, melainkan menjadi salah satu kenangan bagi masyarakat.
amun, dibalik kenangan tersebut, kejayaan Capitol tidak berlangsung selamanya. Bioskop-bioskop lama seperti Capitol mulai mengalami kemunduran akibat munculnya pesaing baru. Kehadiran bioskop modern dengan fasilitas yang lebih bagus dan nyaman membuat peminat Bioskop Capitol mulai beralih, Menurut DetikJabar (2020), terdapat monopoli dalam distribusi film sehingga bioskop-bioskop lama kesulitan mendapatkan film baru untuk ditayangkan.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada jumlah pengunjung yang terus menurun. Ruang-ruang yang dulu nya ramai oleh suara penonton, pemain ding-dong, dan karaoke mulai sepi. Hingga akhirnya, menurunya pemasukan operasional bioskop sehingga tidak dapat dipertahankan dan Capitol pun terpaksa menutup usaha hiburannya.
Meskipun kini tidak lagi beroperasi seperti dulu, Capitol tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Bagi generasi yang pernah merasakan masa jayanya, gedung ini bukan hanya sekedar bangunan tua yang sepi melainkan menjadi saksi kenangan masa kecil bersama keluarga dan teman. (*)
