Era tahun 90-an bioskop layar lebar menjadi salah satu tempat hiburan warga kota Bandung.
Kolom film-film yang diputar di bioskop-bioskop Kota Bandung merupakan catatan kecil yang menyimpan jejak nostalgia. Potongan iklan dari harian Bandung Pos edisi 4 Maret 1994 atau akhir Ramadhan dan menjelang Lebaran Idul Fitri 1414 Hijriyah seakan membuka kapsul waktu tentang masa ketika gedung-gedung bioskop masih menjadi pusat hiburan utama masyarakat, jauh sebelum jaringan cineplex modern dan layanan streaming mengubah cara orang menikmati film.
Apalagi menjelang Hari Raya Idulfitri, suasana bioskop biasanya semakin semarak. Setelah sebulan menjalani ibadah puasa, masa libur Lebaran menjadi kesempatan bagi warga kota untuk berkumpul bersama keluarga atau sahabat, salah satunya dengan menonton film di bioskop.
Melihat kembali iklan film dari masa itu menghadirkan gambaran suasana menonton yang sangat berbeda dengan hari ini.
Pada era 1990-an, warga Bandung mengenal berbagai gedung bioskop yang tersebar dari pusat kota hingga kawasan permukiman. Menonton film bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari gaya hidup urban.
Di sekitar gedung bioskop, penonton biasanya mengantre di loket tiket, membeli jajanan kaki lima dari kacang rebus hingga minuman ringan, lalu masuk ke ruang pertunjukan dengan kursi-kursi beludru yang khas. Aroma karpet lama, pendingin udara tua, serta lampu redup menjelang film diputar menjadi bagian dari pengalaman menonton yang sulit dilupakan.
Bagi banyak orang, pergi ke bioskop saat libur Lebaran menjadi semacam tradisi kecil: berjalan-jalan di pusat kota, makan bersama keluarga, lalu menutup hari dengan menonton film.
Daftar film yang tayang pada masa itu menunjukkan selera penonton yang sangat beragam. Film aksi, komedi keluarga, drama, hingga film Asia hadir berdampingan di layar-layar bioskop Bandung.
Beberapa judul yang menarik perhatian antara lain:
~ Drunken Master II
Film kungfu legendaris yang menampilkan aksi akrobatik Jackie Chan bersama Anita Mui. Film ini menjadi salah satu tontonan paling populer pada masanya.
~ Hellbound
Film aksi yang dibintangi Chuck Norris, mewakili gelombang film laga Hollywood yang sarat adegan perkelahian.
~ Kung Fu Cult Master
Film Hong Kong yang menampilkan Aaron Kwok, menghadirkan cerita silat penuh intrik khas wuxia.
~ Akibat Hamil Muda
Film drama Indonesia yang dibintangi Sally Marcelina, mencerminkan masih hidupnya produksi film nasional pada awal 1990-an.

Selain itu, sejumlah film Hollywood juga menghiasi layar bioskop Bandung, di antaranya:
~ True Romance, karya sutradara Tony Scott.
~ Mrs. Doubtfire, komedi keluarga yang dibintangi Robin Williams.
~ A Perfect World, film drama garapan Clint Eastwood.
~ Hard Target, film aksi karya sutradara Hong Kong John Woo dengan bintang Jean-Claude Van Damme.
~ The Three Musketeers, kisah petualangan klasik yang diangkat kembali ke layar lebar.
Beberapa film Asia lainnya turut meramaikan layar bioskop Bandung:
~ The Message (Dallas 2)
Film epik sejarah tentang lahirnya agama Islam. Diproduksi tahun 1976, film ini kerap diputar ulang di Indonesia karena nilai religius dan sejarahnya yang kuat.
~ Save Me (Palaguna 3)
Film thriller psikologis yang dibintangi Harry Hamlin dan Lysette Anthony, mewakili tren film Hollywood kelas menengah pada awal 1990-an.
~ American Ninja 5 (Bandung 4 & Dallas 1)
Film aksi yang sangat digemari anak muda era 90-an. Kisah ninja selalu menjadi jaminan tontonan laris pada masa itu.
~ Jurassic Park (Majalaya Studio 2)
Mega-blockbuster karya Steven Spielberg yang mengubah sejarah perfilman dunia. Menyaksikan dinosaurus di layar lebar pada masa itu menjadi pengalaman sinematik yang luar biasa.
~ Perfect Gamble (Artha 4)
Film Hong Kong yang dibintangi Andy Lau dan Tony Leung, menggambarkan masa kejayaan film Mandarin di Indonesia.
~ Perawan Lembah Wilis (Artha 3)
Film Indonesia yang dibintangi Barry Prima, mewakili genre laga kolosal yang populer sebelum industri film nasional sempat mengalami masa suram di pertengahan 1990-an.
Film lain yang turut hadir di layar bioskop saat itu antara lain:
~ Shatranj, film Bollywood yang dibintangi Mithun Chakraborty.
~ Only The Strong, film yang memperkenalkan seni bela diri Capoeira kepada penonton dunia.
Jadwal ini memperlihatkan betapa beragamnya pilihan hiburan bagi masyarakat: dari film religi, aksi Hollywood, drama Mandarin, hingga laga lokal.
Tak kalah menarik dari daftar filmnya adalah deretan nama bioskop yang kini sebagian besar tinggal kenangan.
Gedung-gedung itu dahulu menjadi ruang hiburan populer warga Bandung.
Palaguna, yang berdiri di kawasan Alun-alun, pernah menjadi salah satu bioskop terbesar di pusat kota.
Regent dan Empire dikenal sebagai bioskop bergengsi yang sering memutar film-film internasional terbaru.
Sementara itu bioskop seperti Kopo, Kiara, Artha, dan Dallas menunjukkan bahwa jaringan bioskop saat itu tersebar hingga ke berbagai penjuru kota.
Nama-nama tersebut bukan sekadar tempat menonton film, melainkan bagian dari memori kolektif warga Bandung tentang budaya hiburan kota pada masa lalu.
Menariknya, iklan ini terbit pada 21 Ramadhan, masa ketika aktivitas warga kota tetap semarak.
Banyak orang memanfaatkan waktu ngabuburit dengan menonton film pada sesi siang atau sore hari. Ada pula yang datang pada pertunjukan malam setelah salat tarawih.
Jadwal tayang umumnya dimulai sekitar pukul 14.00 atau 14.30 hingga sesi terakhir sekitar pukul 21.30, menyesuaikan ritme kehidupan masyarakat selama bulan puasa.
Menjelang Lebaran, suasana bioskop biasanya semakin ramai. Para perantau yang pulang kampung, keluarga yang berkumpul, hingga anak-anak yang menikmati libur sekolah menjadikan bioskop sebagai salah satu tujuan hiburan.
Baca Juga: Hikayat Bioskop Laksana Cicalengka, Tempat Gaul di Bandung Timur Tempo Doeloe
Potongan iklan dari koran lama ini mengingatkan kita bahwa bioskop pernah menjadi pusat pertemuan sosial masyarakat.
Suasana mengantre tiket, membaca papan jadwal film di depan gedung, hingga menunggu lampu ruangan dipadamkan sebelum layar menyala adalah pengalaman yang kini perlahan tergeser oleh teknologi modern.
Namun bagi banyak warga Bandung, kenangan menonton di bioskop-bioskop lama tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah budaya kota.
Selembar iklan kecil dari koran lawas pun mampu membawa kita kembali ke masa ketika layar lebar menjadi jendela utama menuju dunia hiburan, terutama pada hari-hari libur Lebaran yang penuh kegembiraan. (*)
