Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Selasa 12 Mei 2026, 19:46 WIB
Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan. Namun pada 1870-an ketika Undang-Undang Agraria lahir, semuanya berubah. Undang-Undang Agraria 1870 atau Agrarische Wet 1870 adalah kebijakan kolonial Belanda yang menandai dimulainya era ekonomi liberal di Hindia Belanda, yang membuka pintu bagi pemodal asing swasta (terutama untuk perkebunan besar) melalui sistem sewa tanah. Salah satu dampak yang paling terlihat dari Undang-Undang ini adalah warga lokal kehilangan kendali atas tanahnya dalam jangka yang panjang.

Desa yang saya tempati dahulu dipakai sebagai kawasan Balai Pelatihan Pertanian oleh pemerintah kolonial. Sebetulnya balai-balai ini banyak dibentuk di pulau Jawa, salah satunya adalah balai untuk pengembangan bunga potong, pengrajin sepatu dan pertanian. Balai-balai ini dibentuk di Semarang dan bernama Soerja Soemirat. Dan balai Soerja Soemirat untuk pertanian berada di utara Lembang di sebuah tanah yang berada di ketinggian yang sekarang lebih dikenal dengan desa Cibogo.

Warga pribumi dari Cirebon dan Semarang didatangkan untuk membuka lahan dan mereka akhirnya pun menamakan diri mereka koloni Soerja Soemirat. Mereka menanam sayuran-sayuran lokal seperti daun kelor, kecipir, kecombrang, dan daun ginseng. Pada perkembangannya koloni Soerja Soemirat ini pun menjadi kawasan sentra pertanian tanaman sayuran, hingga pasca kemerdekaan terdapat Balai Penelitian Tanaman dan Sayuran.

Kawasan pertanian di Cibogo tahun 1972. (Sumber: wereldculturn.nl)
Kawasan pertanian di Cibogo tahun 1972. (Sumber: wereldculturn.nl)

Warga sekitar pun menggantungkan hidup mereka pada sektor pertanian dan peternakan, hingga Lembang terkenal dengan itu semua. Suasana pertanian dapat sangat terlihat pada foto-foto lama yang saya dapatkan baik itu dari narasumber di lapangan ataupun situs-situs Belanda. Kehidupan mandiri sebagai seorang petani dan peternak begitu terasa, hingga kemandirian ini tumbuh menjadi ciri khas Lembang.

Namun, kini semua telah bergeser. Ketika maraknya kawasan wisata selfie kekinian di Lembang, banyak para warga yang tadinya berkebun atau beternak malah seperti “ketiban Fomo”. Mereka menjual hewan ternak mereka dan merubah kebun-kebun sayur mereka menjadi homestay atau vila bagi para wisatawan pemburu hiburan selfie. Semakin terdesaknya “kefomoan” ini hingga membuat para warga seperti terhipnotis untuk mengikuti alur tren.

Alhasil, ladang-ladang hijau sayuran yang indah kini berubah menjadi vila-vila bertingkat hingga homestay sederhana, hijaunya kebun berubah menjadi lautan beton di mana-mana. Sahutan-sahutan hewan ternak di setiap pagi pun berganti menjadi deru kendaraan yang mondar-mandir untuk mencari hiburan di semua penginapan itu. Terutama di liburan panjang dan tahun baru, keruwetan semakin terasa. Kembang api dinyalakan, musik-musik terdengar dari semua penjuru, tak jarang saya menemukan bangkai-bangkai burung gereja yang mungkin terkena kembang api.

Keheningan nyaman di kampung kami harus berubah menjadi keruwetan di setiap akhir pekan. Apabila telah datang Jumat sore, suasana mulai terasa ruwet. Kepadatan mulai terasa oleh kendaraan-kendaraan pelat luar kota, kemacetan pun mulai terjadi di malam Sabtu itu. Di Sabtu pagi kami warga lokal yang masih harus beraktivitas ke luar rumah, harus sangat terganggu dengan motor-motor besar yang ngebut konvoi ke arah Ciater. Mereka menganggap bahwa jalan Raya Lembang dan jalan Raya Tangkuban Parahu adalah arena sirkuit mereka. Mereka lupa kami warga lokal yang untuk menyeberang saja merasa khawatir.

Sawah-sawah di kawasan Cikole, Lembang, pada tahun 1950-an, kini sawah tidak ditemukan kembali di Lembang. (Sumber: KITLV)
Sawah-sawah di kawasan Cikole, Lembang, pada tahun 1950-an, kini sawah tidak ditemukan kembali di Lembang. (Sumber: KITLV)

Di hari-hari libur panjang, kami warga lokal harus mempersiapkan kebutuhan pokok kami lebih cepat, karena apabila libur panjang suasana macet akan terjadi dari pagi hingga tengah malam, dan untuk warga lokal seperti kami terdapat celotehan “teu perlu-perlu teuing ka luar mah, mending di imah, bisa kolot di jalan” (apabila tidak ada keperluan mendesak untuk keluar rumah pada masa liburan ini, lebih baik di rumah saja, kalau dipaksakan keluar rumah akan tua di jalan).

Hingga saya berpikir, wisata-wisata yang menjamur di Lembang itu memang diciptakan bukan sebagai sarana hiburan bagi warga lokal, karena yang warga lokal rasakan hanyalah dampaknya saja. Jujur, saya sangat merindukan keadaan Lembang sebelum menjamurnya wisata-wisata kekinian. Lembang yang menawarkan kesederhanaan, ketenangan, dan dapat menjadi dirinya sendiri.

Apabila hujan besar datang, kurang dari 10 menit kawasan pasar Panorama Lembang akan tergenang cukup dalam dan lama, hal ini pun merupakan dampak dari wisata-wisata kekinian yang merampas ruang-ruang terbuka hijau, merampas serapan-serapan air. Kami sebagai warga lokal semakin termarginalkan di hari-hari liburan, bahkan saya dan beberapa kawan menyebut hari-hari liburan panjang itu dengan hari-hari horor warlok.

Salah satu hiburan warga lokal terutama untuk anak-anak di desa tempat tinggal saya adalah “nonton macet”. Anak-anak sekolah dasar akan berkumpul di pinggir jalan melihat kemacetan atau sekedar menunggu bus besar lewat dan minta dinyalakan “teloletnya”. Padahal dulu di tahun 80an dan 90an, anak-anak seusia mereka dapat dengan leluasa bermain di kebun-kebun, mata air, bermain sambil menggembalakan unggas, sebuah pemandangan yang jomplang.

Kami warga lokal sangat termarginalkan, untuk beraktivitas di saat-saat liburan di Lembang itu adalah tantangan tersendiri, kami harus pergi lebih pagi dan pulang memilih malam saja sekalian, daripada harus terjebak buang-buang waktu di jalan raya berjam-jam, sebuah ironi yang harus kami telan paksa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)