Lembang ‘Mundur’, Bandung ‘Membesar’

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Selasa 14 Apr 2026, 14:49 WIB
Kondisi tempat angkutan kota  (masih oplet) jurusan Lembang-Bandung "ngetem" di Jalan Setiabudi, Bandung 1950-an, lokasi tepatnya di Jajaran Setiabudi supermarket sekarang.

Kondisi tempat angkutan kota (masih oplet) jurusan Lembang-Bandung "ngetem" di Jalan Setiabudi, Bandung 1950-an, lokasi tepatnya di Jajaran Setiabudi supermarket sekarang.

Bandung adalah salah satu target kaum urban baik itu di era modern seperti sekarang ini, ataupun di masa lalu. Bandung dahulu adalah sebuah kampung kecil yang perkembangannya dimulai dari selatan. Namun, demi perkembangannya maka peradaban pun dibuka kembali di kawasan utara, demi kondisi yang lebih baik.

Bandung dalam kacamata saya seorang warganya, adalah sebuah kota yang terlalu berat menyandang tempat. Dahulu, Bandung hanyalah sebuah kabupaten yang sedang menggeliat yang lahir di 25 September 1810. Bandung pun resmi menjadi ibu kota Karesidenan Priangan pada 17 Agustus 1864. Lalu pada 1 April 1906 Bandung menjadi Gemeente atau Kotapraja. Bahkan, Bandung pernah menjadi negara Pasundan pada 24 April 1948, namun dua tahun kemudian di 8 Maret 1950 kembali ke Republik Indonesia. Dan, Bandung pun menjadi ibu kota Asia-Afrika, semenjak diadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 18-24 April 1955.

Begitu banyak beban yang ditopang kota ini, hingga tak heran tempat yang kecil ini pun harus membesar, menggeser wilayah lain terutama di utaranya, yaitu Lembang. Dan, sudah otomatis momen ini adalah sebuah magnet besar bagi kedatangan para kaum urban.

Pada awalnya batas kota Bandung sebelum menjadi kotapraja adalah hanya hingga kawasan Cicendo/pabrik kina. hingga warga-warga lama selalu memiliki sudut pandang wilayah di luar Cicendo adalah kawasan luar kota atau Bandung coret.

Hingga pemerintah kolonial pada saat itu membangun pabrik pengolahan kina yang besar di sana, karena pada saat itu kawasan pabrik adalah kawasan luar kota. Selain pabrik pengolahan kina, terdapat pula pabrik pengalengan makanan terutama daging di utara Bandung (kawasan Ciwalk sekarang). pabrik permen Wybert (sekarang Rumah Mode), pabrik karung goni besar (sekarang Wisma TNI AU Stiabudi), pabrik selai skala besar (sekarang Borma Stiabudi), pabrik permen Davos (Stiabudi atas) dan pabrik cokelat Mavalda (sekarang kawasan komplek di jalan Eykman, dan surau pabriknya pada tahun 1934 menjadi masjid Cipaganti). Selain dibangun banyak kawasan pabrik, utara Bandung (luar kotanya) pun didirikan pemakaman Kebon Jahe (Kerkof Kebon Jahe) yang sekarang menjadi kawasan GOR Pajajaran.

Batas kota yang tepat berada di perempatan jalan Pajajaran, Cicendo dan Cihampelas bawah itu dahulu perempatan pertama di Bandung yang menggunakan lampu setop. Hal tersebut dilakukan karena apabila waktu masuk dan pulang karyawan pabrik kina, akan terjadi kepadatan, hingga memang diperlukan digunakan lampu setop di perempatan tersebut.

Dengan banyaknya pabrik-pabrik di utara Bandung sudah bisa dipastikan lonjakan kaum urban di Bandung pada masa itu, mereka berlomba untuk menjadi karyawan pabrik-pabrik tersebut guna kehidupan yang lebih menjanjikan.

Namun ketika Bandung telah menjadi kotapraja pada tahun 1906, maka luasan kota mulai ditambah. Yang awalnya batas kota itu di kawasan pabrik kina (pabrik kina ke atas disebut Lembangweg atau jalan raya Lembang), kini harus meluas hingga ke kawasan Stiabudi sekarang (patokannya adalah taman segitiga di depan Stiabudi Supermarket). Di taman itulah dahulu terdapat tugu yang menjadi ciri batas kota Bandung dan Lembang.

Kawasan-kawasan yang awalnya merupakan luar kota Bandung menjadi bagian dari kota Bandung, hingga mulailah bermunculan komplek perumahan di utara Bandung seperti kawasan Villa Park, kawasan jalan Pajajaran (jalan nama-nama wayang), Perumahan di Dago dan kawasan Cipaganti. lahan-lahan kosong pun semakin banyak yang mulai dibangun, hingga mulai dibangun banyak sekolah di utara Bandung.

Lembang yang telah mundur pada 1906, harus mundur untuk kedua kalinya ketika Bandung dijadikan Negara Pasundan pada 1948. Mundur beberapa kilometer terus ke arah utara hingga yang sekarang menjadi batas kota Bandung dan Lembang di jalan Stiabudi atas (utara Eldorado). Sehingga kawasan-kawasan yang tadinya luar kota Bandung menjadi bagian dari kota Bandung.

Dua kali mundur untuk Lembang dan dua kali maju dan berkembang untuk Bandung. Itulah yang saya catat dalam perjalanan riset sejarah saya tentang Lembang dan Bandung. Hal tersebut memberikan banyak sekali dampak, kawasan pabrik-pabrik di bagian luar kota utara Bandung pun kemudian banyak yang mulai berubah menjadi hunian, dan semakin padat hingga sekarang.

Informasi ini saya peroleh secara lisan. Ketika saya berhasil memperoleh dan mewawancarai berbagai narasumber yang hidup dalam dua masa mundurnya Lembang tersebut. bahkan saya menemukan seorang fotografer amatir tahun 1950-an yang saat 2017 saya temui di kediamannya di kawasan Stiabudi, Bandung. Ia pun menjadi saksi akan perluasan wilayah tersebut dan saya diperkenankan untuk memperoleh dokumentasi beliau tentang keadaan terminal angkutan kota arah Lembang yang masih berjajar di kawasan Stiabudi (kawasan Stiabudi Supermarket tahun 1950-an).

Selain informasi lisan, saya juga memperoleh informasi ini melalui buku Bapak Haryoto Kunto, sang kuncen Bandung yang berjudul “Balai Agung di Kota Bandung”. Yang terdapat sebuah lampiran peta perubahan wilayah kota Bandung 1906-1996 yang tersimpan antara halaman 8 dan 9.

Bisa dibayangkan wilayah yang meluas, adalah magnet bagi kedatangan kaum urban. Beban kota Bandung yang semakin berat di setiap tahunnya sungguh sangat terasa dan semakin terasa sekarang ini, hingga terdapat istilah dalam bahasa Sunda “Bandung Heurin Ku Tangtung” (Bandung sesak oleh orang yang berdiri/penuh sesak). (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Beranda 14 Apr 2026, 17:07

Baca Bareng Anak di Bandung, Cara Sederhana Tanamkan Minat Literasi

Seorang ayah membawa anaknya mengikuti baca senyap di Bandung sebagai cara sederhana mengenalkan kebiasaan membaca sejak dini.

Herry Prihamdani datang bersama anaknya, mengenalkan kebiasaan membaca sejak dini sambil menikmati ketenangan dalam suasana baca senyap. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sejarah 14 Apr 2026, 16:29

Hikayat Gunung Tampomas, Legenda Warisan Emas Kerajaan Sunda di Jantung Sumedang

Gunung Tampomas di Sumedang menyimpan legenda keris emas, jejak Kerajaan Sunda, dan situs arkeologi kuno di puncaknya.

Sunset Gunung Tampomas. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 16:08

Pendatang ke Bandung yang Jadi Presiden

Kisah Soekarno yang pernah datang dan tinggal di Kota Bandung kemudian menjadi Presiden RI pertama.

Monumen Soekarno di Lapas Banceuy Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 14:49

Lembang ‘Mundur’, Bandung ‘Membesar’

Begitu banyak beban yang ditopang kota ini, hingga tak heran tempat yang kecil ini pun harus membesar, menggeser wilayah lain terutama di utaranya, yaitu Lembang.

Kondisi tempat angkutan kota  (masih oplet) jurusan Lembang-Bandung "ngetem" di Jalan Setiabudi, Bandung 1950-an, lokasi tepatnya di Jajaran Setiabudi supermarket sekarang.
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 13:32

Mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi: Transformasi Budaya adalah Kunci

KPK memproses ratusan perkara tindak pidana korupsi serta berhasil memulihkan aset negara sebesar Rp1,53 triliun.

Mata uang rupiah dan emas. (Sumber: Pexels | Foto: Robert Lens)
Komunitas 14 Apr 2026, 12:29

Komunitas Baca di Bandung, Ruang Sunyi yang Menghidupkan Literasi di Nadi Kota Kembang

Komunitas Baca di Bandung menghadirkan ruang sunyi di tengah Kota Kembang, mengajak warga membaca bersama tanpa tekanan, sekaligus membuka akses literasi yang inklusif.

Puluhan anggota Komunitas Baca di Bandung berkumpul di Taman Badak untuk membaca bersama dalam senyap tanpa distraksi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 14 Apr 2026, 11:28

Jelajah Jans Park Jatinangor, Taman Rekreasi di Tengah Kawasan Kampus

Jans Park hadir di Jatinangor sebagai taman rekreasi keluarga dengan wahana lengkap, spot foto menarik, serta konsep visual yang menonjol di kawasan kampus

Objek wisata Jatinangor National Park atau Jans Park (Sumber: jatinangornasionalpark.com)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 10:23

Melintasi Waktu Menyoal Ruang untuk Pertumbuhan Anak di Kota Bandung

Kota Bandung masih kekurangan ruang terbuka hijau untuk anak sesuai dengan ketentuan luas ideal.

Menikmati suasana taman kota. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 14 Apr 2026, 09:01

Socrates untuk Kaum Sibuk: Benarkah Hidup Tanpa Refleksi Tidak Layak Dijalani?

Pemikiran Socrates Tentang Refleksi Diri di Tengah Kehidupan Modern Yang Serba Cepat, Dengan Menelaah Makna Hidup, Kesadaran, dan Tanggungjawab Atas Tindakan Sebelum Menghadapi Akhir Kehidupan.

Dalam diam dan renungannya, Socrates mengingatkan: hidup tanpa refleksi hanyalah perjalanan tanpa makna. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 18:07

Lalap: Rahasia Kesehatan dan Identitas Budaya di Meja Makan Sunda

Tradisi mengonsumsi tumbuhan segar atau lalab (lalap) adalah denyut nadi kebudayaan yang selama ini lebih banyak berpindah melalui tutur lisan.

Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Bandung 13 Apr 2026, 18:06

Mencicipi 'The Best Dirty Latte in Town' di CO,MA Coffee Matter, Coffee Shop dengan Bakery Paling 'Niat' di Bandung

Menjadi pusat gravitasi komunitas kreatif, Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif.

CO,MA Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Wisata & Kuliner 13 Apr 2026, 17:00

Panduan Wisata Capolaga Subang, Surga Tiga Curug dan Camping di Kebun Teh

Wisata Capolaga Subang menawarkan tiga curug, camping ground, dan trekking kebun teh dengan suasana alam sejuk dan asri.

Salah satu curug yang ada di Wisata Alam Capolaga. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 16:11

Bandung dalam Novel ‘Dilan ITB 1997’

Mari kita telusuri jejak-jejak Dilan dan Ancika di Bandung tahun 1997.

Poster film 'Dilan ITB 1997'. (Sumber: Falcon Pictures)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 15:12

Ketik, Kurir, dan Kupon

Setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)
Linimasa 13 Apr 2026, 14:00

Sejarah dan Kontroversi Konversi Gas Elpiji di Indonesia

Program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 mengubah pola energi rumah tangga, namun menyisakan kontroversi, kecelakaan, dan polemik kebijakan

Sejumlah warga mengantre untuk membeli gas elpiji di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 12:43

Potret Bandung Era 90-an dalam Kenangan 

Bandung pada awal 1990-an adalah kota yang bergerak dengan irama pelan.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 10:24

Intelektual, Masyarakat Sipil, dan Perubahan Sosial

Di tengah kondisi yang tidak pasti saat ini, kita membutuhkan intelektual yang mampu berpikir jernih, masyarakat sipil yang kuat, dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial.

Calon jemaah haji saat kegiatan pelepasan manasik haji di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 13 Apr 2026, 09:11

Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

Komunitas Masagi Tjibogo mengolah sampah berbasis budaya lokal, membangun kesadaran warga, sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi yang menembus pasar global.

Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Komunitas 13 Apr 2026, 05:25

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Komunitas Bandung Berpuisi menghadirkan panggung terbuka melalui Open Mic Vol. 17 sebagai ruang ekspresi bagi siapa saja untuk membacakan karya, sekaligus mendekatkan puisi kepada masyarakat.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)