Lembang ‘Mundur’, Bandung ‘Membesar’

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Kondisi tempat angkutan kota  (masih oplet) jurusan Lembang-Bandung "ngetem" di Jalan Setiabudi, Bandung 1950-an, lokasi tepatnya di Jajaran Setiabudi supermarket sekarang.
Kondisi tempat angkutan kota (masih oplet) jurusan Lembang-Bandung "ngetem" di Jalan Setiabudi, Bandung 1950-an, lokasi tepatnya di Jajaran Setiabudi supermarket sekarang.

Bandung adalah salah satu target kaum urban baik itu di era modern seperti sekarang ini, ataupun di masa lalu. Bandung dahulu adalah sebuah kampung kecil yang perkembangannya dimulai dari selatan. Namun, demi perkembangannya maka peradaban pun dibuka kembali di kawasan utara, demi kondisi yang lebih baik.

Bandung dalam kacamata saya seorang warganya, adalah sebuah kota yang terlalu berat menyandang tempat. Dahulu, Bandung hanyalah sebuah kabupaten yang sedang menggeliat yang lahir di 25 September 1810. Bandung pun resmi menjadi ibu kota Karesidenan Priangan pada 17 Agustus 1864. Lalu pada 1 April 1906 Bandung menjadi Gemeente atau Kotapraja. Bahkan, Bandung pernah menjadi negara Pasundan pada 24 April 1948, namun dua tahun kemudian di 8 Maret 1950 kembali ke Republik Indonesia. Dan, Bandung pun menjadi ibu kota Asia-Afrika, semenjak diadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 18-24 April 1955.

Begitu banyak beban yang ditopang kota ini, hingga tak heran tempat yang kecil ini pun harus membesar, menggeser wilayah lain terutama di utaranya, yaitu Lembang. Dan, sudah otomatis momen ini adalah sebuah magnet besar bagi kedatangan para kaum urban.

Pada awalnya batas kota Bandung sebelum menjadi kotapraja adalah hanya hingga kawasan Cicendo/pabrik kina. hingga warga-warga lama selalu memiliki sudut pandang wilayah di luar Cicendo adalah kawasan luar kota atau Bandung coret.

Hingga pemerintah kolonial pada saat itu membangun pabrik pengolahan kina yang besar di sana, karena pada saat itu kawasan pabrik adalah kawasan luar kota. Selain pabrik pengolahan kina, terdapat pula pabrik pengalengan makanan terutama daging di utara Bandung (kawasan Ciwalk sekarang). pabrik permen Wybert (sekarang Rumah Mode), pabrik karung goni besar (sekarang Wisma TNI AU Stiabudi), pabrik selai skala besar (sekarang Borma Stiabudi), pabrik permen Davos (Stiabudi atas) dan pabrik cokelat Mavalda (sekarang kawasan komplek di jalan Eykman, dan surau pabriknya pada tahun 1934 menjadi masjid Cipaganti). Selain dibangun banyak kawasan pabrik, utara Bandung (luar kotanya) pun didirikan pemakaman Kebon Jahe (Kerkof Kebon Jahe) yang sekarang menjadi kawasan GOR Pajajaran.

Batas kota yang tepat berada di perempatan jalan Pajajaran, Cicendo dan Cihampelas bawah itu dahulu perempatan pertama di Bandung yang menggunakan lampu setop. Hal tersebut dilakukan karena apabila waktu masuk dan pulang karyawan pabrik kina, akan terjadi kepadatan, hingga memang diperlukan digunakan lampu setop di perempatan tersebut.

Dengan banyaknya pabrik-pabrik di utara Bandung sudah bisa dipastikan lonjakan kaum urban di Bandung pada masa itu, mereka berlomba untuk menjadi karyawan pabrik-pabrik tersebut guna kehidupan yang lebih menjanjikan.

Namun ketika Bandung telah menjadi kotapraja pada tahun 1906, maka luasan kota mulai ditambah. Yang awalnya batas kota itu di kawasan pabrik kina (pabrik kina ke atas disebut Lembangweg atau jalan raya Lembang), kini harus meluas hingga ke kawasan Stiabudi sekarang (patokannya adalah taman segitiga di depan Stiabudi Supermarket). Di taman itulah dahulu terdapat tugu yang menjadi ciri batas kota Bandung dan Lembang.

Kawasan-kawasan yang awalnya merupakan luar kota Bandung menjadi bagian dari kota Bandung, hingga mulailah bermunculan komplek perumahan di utara Bandung seperti kawasan Villa Park, kawasan jalan Pajajaran (jalan nama-nama wayang), Perumahan di Dago dan kawasan Cipaganti. lahan-lahan kosong pun semakin banyak yang mulai dibangun, hingga mulai dibangun banyak sekolah di utara Bandung.

Lembang yang telah mundur pada 1906, harus mundur untuk kedua kalinya ketika Bandung dijadikan Negara Pasundan pada 1948. Mundur beberapa kilometer terus ke arah utara hingga yang sekarang menjadi batas kota Bandung dan Lembang di jalan Stiabudi atas (utara Eldorado). Sehingga kawasan-kawasan yang tadinya luar kota Bandung menjadi bagian dari kota Bandung.

Dua kali mundur untuk Lembang dan dua kali maju dan berkembang untuk Bandung. Itulah yang saya catat dalam perjalanan riset sejarah saya tentang Lembang dan Bandung. Hal tersebut memberikan banyak sekali dampak, kawasan pabrik-pabrik di bagian luar kota utara Bandung pun kemudian banyak yang mulai berubah menjadi hunian, dan semakin padat hingga sekarang.

Informasi ini saya peroleh secara lisan. Ketika saya berhasil memperoleh dan mewawancarai berbagai narasumber yang hidup dalam dua masa mundurnya Lembang tersebut. bahkan saya menemukan seorang fotografer amatir tahun 1950-an yang saat 2017 saya temui di kediamannya di kawasan Stiabudi, Bandung. Ia pun menjadi saksi akan perluasan wilayah tersebut dan saya diperkenankan untuk memperoleh dokumentasi beliau tentang keadaan terminal angkutan kota arah Lembang yang masih berjajar di kawasan Stiabudi (kawasan Stiabudi Supermarket tahun 1950-an).

Selain informasi lisan, saya juga memperoleh informasi ini melalui buku Bapak Haryoto Kunto, sang kuncen Bandung yang berjudul “Balai Agung di Kota Bandung”. Yang terdapat sebuah lampiran peta perubahan wilayah kota Bandung 1906-1996 yang tersimpan antara halaman 8 dan 9.

Bisa dibayangkan wilayah yang meluas, adalah magnet bagi kedatangan kaum urban. Beban kota Bandung yang semakin berat di setiap tahunnya sungguh sangat terasa dan semakin terasa sekarang ini, hingga terdapat istilah dalam bahasa Sunda “Bandung Heurin Ku Tangtung” (Bandung sesak oleh orang yang berdiri/penuh sesak). (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)