Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)

PERSIB Maung Bandung sukses mencetak sejarah sebagai klab sepak bola pertama di Tanah Air yang menjuarai liga kasta tertinggi tiga kali berturut-turut alias hattrick. Maung Bandung mengunci gelar ketiganya secara beruntun pada kompetisi Super League musim 2025/2026. 

Bobotoh pun girang bukan kepalang. Euforia juara membuncah. Sembilan puluh menit pertandingan dapat mengubah suasana satu kota. Jalanan dipenuhi konvoi, warung kopi ramai oleh perdebatan, dan media sosial berubah menjadi ruang selebrasi.

Bagi bobotoh, gelar juara bukan sekadar peringkat terbaik di klasemen. Ia adalah pelepasan emosi yang telah ditunggu sepanjang musim.

Pertanyaannya sekarang adalah: apakah ukuran keberhasilan Persib cukup berhenti pada trofi juara semata?

Tidak seluruhnya benar

Dalam jagad olahraga profesional, tujuan utama mengikuti kompetisi memang memenangi pertandingan. Pelatih dinilai dari keberhasilannya membawa tim menggondol gelar juara. Adapun pemain diukur dari kontribusinya di lapangan. 

Di saat yang sama, manajemen mendapat pujian ketika klab menjadi juara. Semua itu benar. Namun, tidak seluruhnya benar.

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi. Mereka tentu ingin selalu memenangi setiap laga. Tapi, mereka juga sibuk membangun sesuatu yang jauh lebih sulit daripada memenangi satu musim kompetisi, yaitu membangun warisan.

Nah, warisan dalam sepak bola bukan cuma stadion yang megah dan mewah atau museum yang penuh trofi juara. Warisan yang dimaksud di sini adalah kemampuan sebuah klab tetap melahirkan pemain berkualitas meskipun pelatih bergonta-ganti, manajer dan direksi berubah, atau generasi emas telah gantung sepatu.

Warisan adalah ketika klab mampu menjaga kualitasnya tanpa harus selalu memulai dari nol. Di sinilah letak perbedaan antara klab yang sukses dan klab yang besar. Klab sukses bisa menjuarai liga satu atau dua musim. Klab besar mampu mempertahankan pengaruhnya selama puluhan tahun. Kesuksesan adalah peristiwa. Kebesaran adalah proses yang terus berlangsung.

Bandung dan Jawa Barat

Persib sejatinya punya modal untuk masuk ke kategori besar. Basis suporternya termasuk yang terbesar di Indonesia. Identitas klab melekat kuat pada Kota Bandung dan Jawa Barat. Setiap pertandingan kandang bukan sekadar agenda olahraga, melainkan peristiwa sosial. Tidak banyak klab yang memiliki ikatan emosional sekuat itu.

Namun, modal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya jika hanya dipakai untuk mengejar hasil jangka pendek. Dalam dunia bisnis dikenal istilah aset produktif. Nilainya bukan karena dimiliki, tetapi karena mampu terus menghasilkan nilai baru.

Pemain dan offisial Persib Bandung menyapa ribuan Bobotoh saat mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemain dan offisial Persib Bandung menyapa ribuan Bobotoh saat mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Hal yang sama berlaku pula dalam urusan sepak bola. Klab besar bukan cuma mengoleksi aset berupa pemain bagus. Klab besar mampu terus menghasilkan pemain bagus.

Karena itu, mungkin sudah saatnya Bobotoh mulai pula melihat Persib dari sudut pandang yang lebih luas. Ini bukan untuk mengurangi pentingnya meraih gelar juara. Juga bukan untuk menurunkan ekspektasi terhadap prestasi Persib. Justru sebaliknya. Ekspektasi itu perlu dinaikkan ke level yang lebih tinggi.

Selama ini, diskusi setelah pertandingan hampir selalu berputar pada tiga hal: siapa yang mencetak gol, siapa yang bermain buruk, dan siapa yang harus dibeli pada bursa transfer berikutnya. 

Topik-topik tersebut memang menarik karena hasil pertandingan selalu terasa dekat. Namun, ada pertanyaan lain yang jauh lebih menentukan masa depan klab, meski jarang menjadi bahan obrolan.

Misalnya, berapa pemain muda akademi yang benar-benar berhasil menembus tim utama musim ini? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi jawabannya menggambarkan apakah jalur pembinaan di dalam klab bekerja dengan baik atau tidak. 

Tulang punggung timnas

Akademi sepak bola yang bagus seharusnya tidak hanya menghasilkan juara kelompok umur. Ia harus pula mampu mengantarkan pemain menuju jenjang sepak bola profesional dan lantas menjadi andalan timnas.

Maka, pertanyaan berikutnya yaitu berapa pemain Persib yang menjadi tulang punggung timnas Indonesia?

Klab besar semestinya menjadi salah satu pemasok utama pemain nasional. Bukan karena ada kewajiban tertulis, melainkan karena kualitas pembinaan memang menghasilkan pemain yang dibutuhkan tim nasional. 

Jika kontribusi untuk timnas terus meningkat, maka keberhasilan Persib tidak lagi hanya dirasakan Bobotoh, tetapi juga seluruh pencinta sepak bola di Tanah Air.

Pertanyaan selanjutnya adalah: berapa banyak pemain Persib yang mampu dijual ke liga luar negeri?

Di banyak negara, keberhasilan mengekspor pemain menjadi indikator bahwa kualitas pembinaan klab diakui oleh pasar sepak bola internasional. Pemain bukan sekadar aset pertandingan, melainkan juga bukti bahwa sistem pembinaan memiliki daya saing

Ketiga pertanyaan tersebut pada gilirannya akan mengubah cara kita memandang keberhasilan sebuah klab. Trofi juara tetap penting lantararn ia adalah tujuan kompetisi. Namun, trofi hanyalah salah satu hasil. Di belakangnya ada proses yang jauh lebih besar. Ada akademi, pelatih, pencari bakat, analis performa, tim medis, hingga lingkungan yang membentuk pemain setiap hari.

Jika seluruh perhatian hanya diarahkan kepada gelar juara, klab berisiko terjebak pada logika jangka pendek. Tekanan untuk menang bisa membuat manajemen lebih memilih membeli pemain yang sudah jadi daripada membangun pemain sendiri. Secara kompetitif pilihan itu sering masuk akal. Namun, dalam jangka panjang, klub perlahan kehilangan identitas sebagai tempat lahirnya talenta.

Padahal, justru di situlah kebanggaan yang paling sulit ditandingi. Bayangkan seorang pemain yang sejak kecil berlatih di akademi Persib, tumbuh menjadi pemain utama, dipanggil ke timnas Indonesia, dan lantas berkarier di liga luar negeri. Ketika ia kembali suatu hari nanti, yang pulang bukan hanya seorang pesepak bola. Ia juga membawa pulang pengalaman, standar profesional, dan inspirasi bagi generasi berikutnya.

Mungkin karena itu, Bobotoh layak menuntut lebih dari sekadar piala. Ini bukan karena trofi juara tidak penting, melainkan karena klab sebesar Persib memiliki kapasitas untuk menghasilkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemenangan satu musim kompetisi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)