Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

3 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

MPLS sudah dimulai dengan persiapan matang dari orang tua dan anak-anak yang bekerja sama. Bangun lebih cepat, memasak, dan memakai baju seragam sekolah dengan rapi, mengantar anak dengan riang, hingga selesai dengan bahagia.

Kesiapan anak ke sekolah juga diimbangi dengan kesiapan orang tua yang mendukung semangat anaknya bersekolah. Bekal belajarnya pun sempurna. 

Namun memunculkan pertanyaan baru, benarkah MPLS sudah menjadi kebutuhan pokok bagi anak-anak yang melanjutkan sekolahnya? Apakah kebijakan MPLS sudah sesuai dengan program terbaik bagi pendidikan? 

Sedangkan pendidikan tidak bisa sekadar menjaga ketatakelolaan melainkan pendidikan hadir untuk menjembatani kebutuhan pokok masyarakat agar bisa mengenyam bangku sekolah sebagai bekal di masa mendatang.

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan. Terdapat beberapa sekolah yang muridnya hanya satu, tiga, dan jumlah tersebut sangat tidak berkualitas dan kurangnya keadilan.

Kebutuhan murid di sekolah pada dasarnya sudah ditetapkan namun masih ada temuan sekolah yang tidak mendapatkan murid baru. 

Ketidakhadiran siapakah sampai sekolah yang seharusnya menerima murid baru sesuai kebijakan, justru tidak memeroleh sesuai harapan. Hasilnya MPLS tetap harus berjalan. Mengapa demikian kasus ini terjadi berulang tiap tahunnya?

Persepsi Sekolah Terbaik 

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pendidikan seharusnya hadir sebagai solusi. Masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk membuat kebijakan selain pemerintah. Maka pemerintah harus hadir dalam mewujudkan keadilan bagi pendidikan.

Pemerintah harus menelusuri ketimpangan pendidikan ini? MPLS yang sebenarnya dihadiri oleh seluruh murid harus sebanding dengan jumlah penerimaan muridnya. 

Jika tidak sesuai jumlah penerimaan muridnya, maka harus ada evaluasi menyeluruh. Pemerintah mesti turun ke masyarakat. Mendata jumlah kebutuhan murid di sekolah-sekolah. Mengarahkan anak-anak ke sekolah yang semestinya lebih dekat dengan rumahnya. 

Tidak lupa, sesungguhnya pendidikan hadir untuk menjangkau masyarakat, tidak memandang antara ekonomi rendah maupun tinggi. 

Memang tidak bisa dilepaskan dengan persepsi masyarakat tentang sekolah terbaik. Persepsi sekolah negeri dan sekolah swasta saat ini mencolok sekali. Keributan tentang penerimaan murid pada dasarnya berkaitan dengan peluang anak memeroleh pendidikan terbaiknya. 

Sekolah terbaik sering dijadikan tolok ukur bagi penerimaan murid. Prestasi alumni dan prestasi murid aktif di sekolah terbaik pada umumnya menjadi bahan perbincangan dan bahan yang digunakan untuk berdiskusi bagi orang tua. 

Maka tidak ada salahnya jika pemerintah mengakomodir kebutuhan masyarakat tentang pendidikan terbaik. Sehingga masyarakat tidak memiliki persepsi jika sekolah negeri dan sekolah swasta mendapatkan persaingan yang ketat. Padahal ujungnya pendidikan tidak sekadar ruang belajar. Tetapi ruang keilmuan yang tidak bisa dikecualikan hanya untuk masyarakat tertentu.

Pilihan sekolah memang wewenang orang tua yang berhak menentukan sekolah bagi anak-anaknya. Namun orang tua juga wajib melihat kondisi dan situasi ekonominya. Jika memungkinkan sekolah terdekat dan berkualitas mengapa tidak anak tersebut diberi kesempatan untuk memilih sekolahnya.

Tujuan Pendidikan 

Walaupun dibuat program MPLS agar terhubung dengan tujuan pendidikan. Namun memunculkan pertanyaan, benarkah tujuan pendidikan berkualitas sudah terealisasi? 

Sebagai data dasar bagi pemerintah merujuk pada PISA, apakah solusi yang tepat diselenggarakannya MPLS akan mencetak hasil pendidikan yang sebenarnya?

Realisasi dari berbagai program pendidikan, kenyataannya masih didominasi oleh ketercapaian jangka pendek. Sementara problematika baru muncul. Pendidikan masih memiliki lubang persoalan yang besar. Persoalan ini berkaitan dengan infrastruktur yang masih ditahap perencanaan. Banyak sekolah yang belum mendapatkan kebijakan revitalisasi, yang membuat mirisnya lagi sekolah belum memiliki lahan untuk sarana belajar. 

Sedangkan tujuan pendidikan harus dibarengi dengan kolaborasi yang cepat tanggap. Asumsi bahwa pendidikan tidak bisa akses oleh masyarakat menengah ke bawah perlu digarisbawahi dan ditangani dengan baik dan berkelanjutan. 

Maka tidak ada salahnya jika koreksi-koreksi dari pakar pendidikan tidak selalu digunjing di ranah kebijakan, melainkan disegerakan untuk diambil keputusan. 

Urgensinya, agar tujuan pendidikan yang sebenarnya benar-benar direalisasikan. Potensi dan karakter murid menjadi manusia yang beriman, cerdas, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab sebagai acuan pokok. 

Di akhir, pendidikan untuk semua bukan sekadar jargon politik atau tuntutan slogan yang mengarah kepada ketidaktuntasan hingga amanah undang-undang tentang pendidikan disia-siakan. Menggalang tentang pendidikan terbaik, pemerintah wajib memberikan manfaat bagi sekolah, masyarakat, murid untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas sebagaimana tujuan global dan tujuan pendidikan nasional. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muh Husen Arifin
Dosen Aktif di Prodi PGSD UPI Kampus Cibiru

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)