MPLS Tanpa Bully

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore itu langit Babakan Dangdeur, Cibiru, Bandung tampak begitu cerah. Seusai makan alakadarnya sekeluarga menikmati obrolan ringan tentang persiapan hari pertama sekolah.

Kakang, anak ketiga (5 tahun), bersiap memasuki Kelas B di Pos PAUD Al-Hidayah Kebonterong, Cibiru. Aa Akil anak kedua akan memulai tahun terakhirnya di bangku sekolah dasar sebagai siswa kelas VI SDI Al Amanah Cileunyi.

Semula percakapan yang biasa saja tiba-tiba berubah menjadi bahan renungan bersama.

"Ayo, Kakang potong rambut dulu," ajak istri.

Aa Akil ikut menyahut, "Iya, kan besok MPLS. Masa rambutnya masih gondrong?"

Kami mengira Kakang akan mengangguk. Malahan, bocah berambut ikal yang sudah menutupi telinganya itu justru menjawab lirih, "Enggak... nanti di-bully."

Selang beberapa menit bocil berkata, "Bah... rambutnya masih panjang. Takut di-bully."

Kalimat itu sederhana. Namun, entah mengapa, terasa panjang di dalam hati.

Ku terdiam sambil garuk-garuk kepala.

Rupanya, anak berusia lima tahun itu telah mengenal bully, satu kata yang semestinya belum akrab dengan dunia masa kecil.

Tidak tahu dari mana mendengar kata itu. Bisa jadi dari teman bermain, dari tayangan di gawai, dari percakapan orang dewasa yang tanpa sadar mampir ke telinganya. Yang jelas, rasa takut itu sudah hadir bahkan sebelum benar-benar memasuki gerbang sekolah.

Padahal, sekolah semestinya menjadi tempat pertama anak belajar merasa aman. Bukan tempat pertama mereka belajar merasa takut.

Kegelisahan-kegelisahan kecil seperti itulah yang tampaknya ingin dijawab melalui kebijakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah.

Istri membuat status twibbon Aa Akil dan Kakang siap mengikuti MPLS (Sumber: Istimewa)

Mengelola MPLS Ramah Bukan Marah-marah

Dalam laman resminya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan bahwa hari pertama sekolah merupakan aktivitas awal yang sangat bermakna bagi murid baru. Ketika murid merasa aman, nyaman, dan diterima, mereka akan lebih percaya diri untuk belajar, berteman, serta mengembangkan potensi dirinya.

Kehadiran MPLS Ramah dirancang sebagai kegiatan awal yang menghadirkan pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dengan menghormati hak setiap anak serta memuliakan seluruh warga sekolah.

Tujuannya sederhana, tetapi sangat mendasar, yakni menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman dan nyaman bagi semua murid.

Program ini dilaksanakan selama lima hari secara inklusif dan tanpa biaya. Selama masa itu, murid dikenalkan kepada warga sekolah, lingkungan belajar, proses pembelajaran, serta budaya sekolah agar mereka merasa diterima sejak hari pertama (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2026).

Semangat itu dipertegas oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu'ti, dalam pengantar Buku Rujukan Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026.

"MPLS Ramah adalah ikhtiar bersama untuk menciptakan ruang belajar yang penuh kasih sayang dan saling menghargai serta menumbuhkan rasa aman, nyaman, percaya diri, dan bahagia bagi setiap murid."

Ya, semangat MPLS tidak boleh berhenti pada kegiatan yang bersifat formal dan seremonial. MPLS harus menghadirkan aktivitas yang interaktif, menyenangkan, dan memuliakan setiap anak. Dengan demikian, sekolah bukan sekadar menjadi meeting point atau ruang perjumpaan, melainkan melting point, ruang tempat anak-anak dari beragam latar belakang melebur menjadi satu keluarga belajar yang dipenuhi sukacita.

Guru Besar UIN Jakarta ini menjelaskan bahwa MPLS bukan sekadar mengenalkan guru, gedung sekolah, tata tertib. Proses ini merupakan ikhtiar mempersiapkan murid secara mental, intelektual, dan sosial untuk memasuki jenjang pendidikan yang baru.

Dalam pelaksanaannya MPLS Ramah tahun ini mengamanatkan pemetaan profil murid serta unjuk karya sebagai bagian dari upaya mengenali potensi setiap anak sejak awal.

Seluruh pelaksanaan MPLS Ramah berpedoman pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 198 Tahun 2026 tentang Uraian Materi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Ramah.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dokumen rujukan ini. Besar harapan kami jika dokumen rujukan ini bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan situasi dan kondisi di masing-masing sekolah dengan tetap memastikan ketercapaian dari tujuan pelaksanaan MPLS Ramah ini." (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2026: iv-v).

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saatnya Happy Sekolah Tanpa Bully

Ingat, dalam buku Happy Tanpa Bully: Panduan Antibully untuk Siswa, Guru dan Orang Tua dijelaskan untuk di Indonesia setiap tahunnya ada 3,5 juta korban bully dan 81% siswa pernah menjadi korban bully. Efek bully tidak bisa hilang hingga puluhan tahun.

"Kejadiannya puluhan tahun yang lalu (tahun 90an), usia saya baru 12 tahun. Saat itu saya duduk di kelas dua SMP. Saya disangka mencuri uang 50 ribu milik teman. Sehingga saya digeledah sekalipun tak ada bukti. Parahnya, saya dikeroyok teman seangkatan. Saya dipukuli hingga babak belur tak berdaya. Saya sampai pingsan, namun tak ada yang mempedulikan.

Tak berhenti di sana, saya terus hidup dalam ancaman dan dicap sebagai maling. Trauma mendalam itu saya rasakan hingga setua hari ini, puluhan tahun kemudian. Sampai hari ini, tak ada satupun yang meminta maaf bahkan tak ada seorangpun yang merasa bersalah, padahal hari ini mereka (teman seangkatan saya), sudah tua dan menjadi ayah." Korban Bully, Nama dan Sekolah Dirahasiakan.

Bully adalah segala perilaku menyakiti orang lain baik dalam fisik maupun psikis. Dalam Bahasa Indonesia bully semakna dengan perisakan yang berarti mengusik atau mengganggu.

Kita tahu kata bullying adalah kata serapan dari bahasa Inggris. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak ditemukan kata bully atau bullying. Kata yang searti dengan kata bullying adalah risak, yang berarti mengusik, mengganggu.

Kata bully (bullying) sangat populer. Secara umum dapat dipahami sebagai serangkaian perilaku negatif berupa penyerangan, agresi yang dilakukan secara berulang-ulang—baik yang bersifat fisik, psikologis, secara sosial maupun secara verbal—terhadap orang atau kelompok lain.

Sementara pihak pelaku mendapatkan sensasi kesenangan atas tindakannya, di pihak lain orang atau kelompok yang menjadi sasarannya menjadi terintimidasi, merasa terluka, marah, kehilangan kepercayaan diri, malu, dan sedih. Dengan demikian, bullying bisa berimplikasi parah bagi korban.

Parahnya, bully bisa terwujud dalam berbagai bentuk mulai dari mengolok-olok, menghina, memberi julukan, mempermalukan, menyebarkan gosip (keburukan) orang lain, mengasingkan (mengucilkan), menyerang secara fisik, cyber bully (membuat postingan yang mengolok-olok orang lain di media sosial), sampai vandalisme yakni mencorat-coret tembok, serta membuat tulisan, gambar yang menyerang kelompok lain. (Irfan Amalee, 2016:5-22 dan Tesis Ilham Mundzir, Uhamka 2017:114-116)

Sejumlah siswa baru mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 2 Bandung, Jalan Sumatera, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Memang kasus perundungan di sekolah masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Laporan internasional mencatat, Indonesia menempati peringkat lima besar dari 81 negara dengan angka bullying yang tinggi—lebih dari 41% siswa pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan, mulai dari ejekan (roasting) hingga kekerasan fisik. Ironisnya, praktik tersebut kerap dianggap lumrah. Padahal, di balik tawa, ada luka yang membekas.

Penguatan Happy Tanpa Bully yang difasilitasi BBPPMPV Seni dan Budaya diselenggarakan melalui kolaborasi dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Yogyakarta, sebagai upaya menghadirkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan mendukung pertumbuhan karakter pelajar.

Mariman Darto, Staf Ahli Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi menegaskan “Sekolah seharusnya bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi ruang untuk bertumbuh menjadi generasi yang mulia,”

Lahir dari keprihatinan bersama atas maraknya kasus bullying yang kian mendapat sorotan publik. Sesdirjen Pendidikan Vokasi, Hasbi, yang hadir sebagai sponsor kegiatan, menekankan perlunya ruang bersama untuk membicarakan persoalan ini.

“Kasus bullying masih sangat marak. Kita butuh forum untuk saling berdiskusi: apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana mencari solusi agar angka perundungan bisa ditekan,”

Guru SMK dari berbagai daerah difasilitasi untuk tidak hanya memahami konsep anti bullying, tetapi berusaha mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah. Kepala BBPPMPV Seni dan Budaya, Masrukhan Budiyanto, menegaskan, “Setelah mengikuti camp ini, guru diharapkan mampu menerapkan, memahami, sekaligus mendesiminasikan nilai-nilai anti bullying kepada rekan sejawat maupun siswa.”

Perwakilan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbudristek Indra Budi Setiawan, menegaskan bahwa kasus perundungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan sanksi, tetapi dengan pembiasaan nilai karakter yang konsisten.

“Bullying adalah masalah karakter. Karena itu, pencegahan harus melalui pembiasaan sejak dini: disiplin, empati, dan menghargai perbedaan. Sekolah harus menjadi ekosistem yang menanamkan nilai-nilai itu dalam keseharian, bukan hanya dalam teori,”

Menurutnya pembiasaan sederhana seperti kerja kelompok, kegiatan ekstrakurikuler yang menekankan kolaborasi, hingga program literasi empati, bisa menjadi strategi nyata untuk mengurangi praktik perundungan.

Mariman Darto mengingatkan bahwa praktik roasting (ejekan) yang kerap dianggap wajar harus dilihat ulang. “Budaya belajar harus aman, nyaman, dan menggembirakan. Jika ejekan dianggap lumrah, kita lupa bahwa itu melukai. Sekolah adalah tempat tumbuh, bukan tempat trauma,”

Program Happy Tanpa Bully diharapkan mampu menjadi langkah nyata menciptakan sekolah yang benar-benar menyenangkan, bebas dari kekerasan, dan mendukung peningkatan prestasi akademik maupun non-akademik siswa.(https://bbppmpvsb.kemendikdasmen.go.id).

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dalam konteks Bandung Raya, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di seluruh sekolah harus berlangsung tanpa praktik perpeloncoan maupun kekerasan dalam bentuk apa pun. MPLS selama lima hari semata-mata merupakan kegiatan orientasi untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru, bukan ruang yang membenarkan tindakan intimidasi. "Perpeloncoan tidak boleh, sama sekali tidak boleh. MPLS hanya untuk pengenalan sekolah,"

Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat upaya pencegahan bullying sejak dini, antara lain melalui peningkatan kapasitas guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) yang telah mendapatkan pelatihan dari psikolog. Program ini akan dievaluasi untuk mengukur efektivitas penanganan kasus perundungan dan kekerasan di sekolah. "Salah satu yang kita cegah adalah berkembangnya budaya kekerasan atau budaya bullying di kalangan anak-anak sekolah. Ini harus dicegah sejak awal,"

Ikhtiar ini diperkuat dengan pendidikan karakter, layanan kesehatan mental bagi pelajar, serta penguatan pola hidup sehat sebagai bagian dari pembentukan lingkungan belajar yang aman dan mendukung tumbuh kembang siswa.

Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan pelaksanaan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 harus menjadi momentum membangun sekolah sebagai rumah kedua yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah bagi seluruh peserta didik.

Saat membuka MPLS tingkat Kabupaten Bandung di SMP Negeri 3 Soreang, Senin (13/7/2026), menekankan bahwa tujuan utama MPLS adalah membantu siswa baru mengenal guru, teman, ruang belajar, tempat ibadah, hingga berbagai fasilitas sekolah sebagai bekal beradaptasi di lingkungan pendidikan yang baru.

Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari lahirnya generasi yang berkarakter dan berakhlakul karimah. Dengan meminta seluruh kepala sekolah dan guru menjadi teladan serta memastikan tidak ada praktik perundungan maupun pungutan liar di lingkungan sekolah.

"Saya tegaskan jangan sampai ada bullying dan jangan ada pungutan liar di sekolah. Guru adalah orang tua bagi anak-anak di sekolah sehingga harus menjadi teladan dalam membentuk karakter peserta didik," (www.bandung.go.id dan www.bandungkab.go.id)

Kakang asyik mewarnai dengan rambut panjang menutupi telinganya. Takut di-bully jadi alasan tidak mau dipotong, Rabu (15/7/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)

Komitmen yang disampaikan Pemerintah Kota Bandung dan Pemerintah Kabupaten Bandung menunjukkan semangat yang sama, menghadirkan MPLS yang ramah sebagai pintu masuk terciptanya budaya sekolah yang aman, inklusif, dan menghargai martabat setiap anak.

Masa pengenalan lingkungan sekolah tidak lagi dipandang sebagai ajang perpeloncoan, melainkan sebagai momentum menumbuhkan rasa aman, percaya diri, dan kebahagiaan peserta didik.

Dengan demikian, sekolah benar-benar menjadi rumah kedua yang bebas dari bullying, kekerasan, maupun segala bentuk intimidasi sejak hari pertama anak menginjakkan kaki di lingkungan sekolah.

Saat kembali mengingat wajah Kakang sore itu.Ya, barangkali, yang dibutuhkan anak-anak ketika memasuki gerbang sekolah bukanlah seragam yang paling baru, tas yang paling mahal, sepatu yang paling mengilap. Justru yang paling dibutuhkan itu ihwal keyakinan, keberanian utuh akan diterima apa adanya.

Tidak ada yang akan menertawakan rambutnya, warna kulitnya, bentuk tubuhnya, logat bicaranya, termasuk hal-hal kecil (tek-tek bengek) yang justru membuat setiap anak menjadi unik.

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ingat, pendidikan sejatinya tidak dimulai saat guru membuka buku pelajaran. Melainkan dimulai dari seorang anak merasa cukup aman, nyaman untuk menjadi dirinya sendiri.

Rumah yang baik bukanlah rumah yang tidak pernah memiliki perbedaan, melainkan rumah yang membuat setiap penghuninya merasa diterima.

Demikian pula sekolah, bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca, berhitung, dan mengenal dunia. Justru menjadi ruang (tempat) bersama, perjumpaan autentik untuk belajar mengenal dirinya sendiri.

Bila pada hari pertama saja seorang anak sudah membawa rasa takut untuk menjadi dirinya sendiri, sesungguhnya ada sesuatu yang perlu kita benahi bersama.

Semoga semangat MPLS Ramah tidak berhenti sebagai slogan, rangkaian kegiatan lima hari di awal tahun ajaran. Melainkan wahana (ajang) benar-benar hidup di setiap ruang kelas, setiap halaman sekolah, setiap percakapan antara guru dan murid, termasuk di antara sesama teman.

Walhasil, sekolah yang ramah bukanlah tempat menimba ilmu yang sekadar bebas dari perundungan. Rumah kedua itu harus menjadi ruang bersama yang membuat setiap anak pulang dengan senyum yang lebih lebar daripada saat datang.

Dengan demikian, sudah saatnya kita berusaha menghadirkan ruang di mana setiap anak merasa aman, nyaman untuk tumbuh, berani untuk bermimpi, dan bahagia menjadi dirinya sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)