Saya lahir dan dibesarkan di sebuah rumah tua di barat Braga yang dibangun “Wong Kalang” yang akhirnya menjadi cikal bakal “Urang Pasar Bandung” pada tahun 1880. Di rumah tersebut saya banyak menghabiskan waktu bersama kedua kakek saya (mereka kakak beradik, kakek saya adalah sang adik). Mungkin itulah yang mendasari kesukaan saya pada dunia sejarah.
Untuk anak-anak kecil sebelum tidur biasanya diberikan cerita pengantar tidur berupa kisah si kancil atau dongeng-dongeng lainnya, berbeda dengan saya. Saya diberikan cerita masa lalu setiap menjelang tidur oleh kakek, bisa itu berupa kisah masa lalu kakek yang melewati masa mudanya dengan menjadi tentara pelajar dan harus berjuang di kawasan Congeang, Sumedang pada 1946, atau kisah-kisah purba lainnya.
Kakek mengatakan bahwa kakeknya adalah seorang komandan pasukan hibrid Kraton Kanoman yang akhirnya menjadi asisten wedana Bojongloa dan berumah dinas kawasan Tegallega (kantor Museum Sri Baduga sekarang). Di sanalah kakeknya kakek tersebut membawa banyak salinan naskah Sunda yang mungkin sekarang pun masih ada di Museum Sri Baduga.
Tak hanya cerita masa lalu sebelum tidur, kakek pun sering mengajak saya pelesir ke gedung tua, Curug Dago, Dago Pakar bahkan ke makam-makam tua. Dalam perjalanan beliau bercerita kisah manusia-manusia prasejarah di Bandung, dan hal inilah yang terus mendasari saya hingga sekarang untuk terus menggali kisah masa lalu, hingga saya pribadi mengetahui jati diri.
Dalam buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya” karya sang kuncen Bandung, Bapak Haryoto Kunto dituliskan pada 50 halaman pertama bahwa keberadaan manusia prasejarah Bandung dibuktikan dengan penemuan sisa kebudayaan dalam bentuk perkakas dari batu.
Kebudayaan sekitar Bandung terdiri atas berbagai unsur yang menunjukkan tingkatan-tingkatan dari masa ke masa, dari zaman Mesolitikum ke Neolitikum, sampai zaman Logam Awal. Penemuan sisa kebudayaan nelayan di tepian telaga Bandung, telah memberi landasan nyata historis terhadap sebuah cerita rakyat “Sangkuriang” yang tak ada duanya di Indonesia.
Pada masa sebelum perang secara intensif Dr. G.H.R. Von Koenigswald (1935) sempat mengadakan penyelidikan tentang temuan benda prasejarah di Dataran Tinggi Bandung. Adapun unsur-unsur temuan benda prasejarah di Bandung pada umumnya terdiri dari alat-alat batu obsidian dalam jumlah yang banyak sekali, seperti mata tombak untuk berburu. Urutan kedua dalam jumlah temuan berupa pecahan barang-barang gerabah.
Semua temuan itu ditemukan di kawasan perbukitan Telaga Bandung yang terletak pada ketinggian 725 mdpl. Jenis-jenis penemuan itu pada umumnya didapati bersama-sama atau letaknya berdekatan satu dengan yang lainnya, yang menunjukkan bahwa tempat tersebut telah dihuni oleh manusia dalam jangka yang panjang. Pecahan batu yang menyerupai beling botol berwarna hijau ditemui banyak sekali di perbukitan Dago dan Majalaya.
Penyelidikan Van Bemmelen (1949) menunjukkan, bahwa sisa-sisa perkakas batu dapat mudah ditemui di utara Bandung. Yang terbanyak dapat ditemui di kawasan Jalan Raya Lembang yang membujur di sebelah timur Sungai Cihideung. Setelah saya riset lebih dalam dalam perjalanan riset 2009–2022, kawasan tersebut adalah kawasan area RSUD Lembang, Desa Gudangkahuripan, kawasan wisata Great Asia Afrika hingga kawasan Kowad yang dahulunya adalah sebuah Hotel Pasir Jati yang dikelola seorang pribumi Jawa yang menjadi saingan utama Grand Hotel Lembang.
Salah satu perkampungan purba yang dekat dan mudah dicapai dari Kota Bandung terletak di Kampung Kordon atau Sekepucung di sebelah utara Bukit Dago (lapangan golf). Wilayah itu disebut wilayah pakar yang mudah dikenali lewat pilar kadaster KQ380. Nama Pakar pun diambil dari bahasa Sunda yaitu Pakarang yang artinya senjata, karena di wilayah tersebut banyak ditemukan senjata seperti ujung panah, tombak, belati dan kapak yang kesemuanya terbuat dari batuan obsidian. Dapat disimpulkan bahwa kawasan Pakar adalah bengkel senjata pada zaman purba.
Perkampungan purba lainnya di Bandung terdapat di kawasan Pasir Kiara Jenggot, Pasir Panyandakan sebelah utara Terminal Cicaheum, selain itu perkampungan purba pun terdapat di sekitar Terminal Ledeng, lebih tepatnya di kawasan yang sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Kemungkinan perkampungan-perkampungan purba di seputaran Bandung itu banyak, namun karena letusan dahsyat gunung Sunda dan Tangkuban Parahu perkampungan-perkampungan itu pun terkubur.
Di masa lalu para ahli-ahli Belanda melakukan antisipasi agar situs-situs purba itu tidak dirusak. Pada tahun 1950, Dr. W. Rothpletz telah membangun tugu prasasti yang berisikan catatan agar kawasan tersebut yang dianggap sebuah perkampungan purba dapat dijaga kelestariannya. Seperti yang ia lakukan di kawasan Kordon, ia mendirikan prasasti itu. Pada tahun 1980-an pada lokasi tersebut didirikan SD Inpres, entah bagaimana sekarang kondisinya.
Yang menjadi catatan saya adalah, mengapa para ahli Belanda terdahulu lebih peduli dan sayang pada peninggalan kebudayaan kita dibandingkan kita warga asli. Padahal peninggalan tersebut adalah jati diri kita yang sekarang sangat diperlukan untuk bangkit dari keterpurukan yang semakin menjadi. Sudah saatnya kita semua bangun dari tidur panjang, kita adalah bangsa besar, DNA-DNA leluhur yang berjaya mengalir deras pada darah kita, tinggal kita yang mau mengaktifkannya atau tidak.
Mari kawan kita mulai sadar bahwa kita adalah penerus bangsa yang besar, mari mulai kembali merajut kejujuran dan welas asih yang menjadi ciri khas bangsa ini. (*)