Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

6 menit baca
Anna Joestiana
Ditulis oleh Anna Joestiana diterbitkan
Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan yang dikenal dengan nama “Pendopo eks Kawedanaan”. Letak bangunan tersebut ada disebelah utara alun-alun Lembang. Hingga saat ini bangunannya masih kuat kokoh berdiri. Belakangan ini sering muncul pertanyaan, “Kapan ditetapkan sebagai Kawadanaan? Dan jabatan “Wadana” itu setingkat apa?.

Secara harafiah “Kawadanaan” merupakan kata jadian dalam Bahasa Jawa, dengan kata dasar ‘wedana (ka-wedana-an)’. Artinya: wilayah administrasi kepemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan, yang berlaku pada masa Hindia Belanda hingga beberapa tahun setelah kemerdekaan RI. Pemimpin “kawadanan” disebut “wadana”. Menurut P.J. Zoetmulder dalam ‘Kamus Jawa Kuna-Indonesia’, kata ‘wadana’ diartikan sebagai: ketua, kepala (1995: 1363).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kewedanaan/ke-we-da-na-an/n adalah daerah (kantor, rumah) wedana. Sedangkan wedana/we-da-na/n yaitu pembantu pimpinan wilayah Daerah Tingkat II (kabupaten), membawahi beberapa camat; pembantu bupati.

Di Tatar Sunda, rumah tinggal wedana yang mengkepalai distrik ini di wilayah utara (pegunungan/perkebunan) lazim disebut “Pakemitan”. Seperti dikatakan Andries de Wilde dalam bukunya “Priangan” yang diterbitkan pada 1829 dan 1830, disebutkan bahwa nama “Pakemitan” merupakan kampung utama dari sebuah cutak atau distrik. “Pakemitan” juga merupakan tempat tinggal kepala distrik/cutak. Dengan kata lain, “Pakemitan” bisa dianggap sebagai ibu kota dari distrik.

Dalam Kamus Bahasa Sunda, terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1985, kata kemit, ngemitan artinya menjaga atau menemani pada malam hari; sedangkan pakemitan artinya : I tempat jaga; atau 2 kota kawedanaan pada zaman dahulu.

Kedudukan “Wadana”

Berdasarkan catatan sejarah, kedudukan “Wadana” mengalami perbedaan tingkatan sesuai perkembangan jaman. Jabatan “wadana” merupakan jabatan yang cukup tinggi, kedudukannya berada dibawah para ‘menteri’. Hal ini berdasarkan Kakawin Nagarakretagama (88.1, 88.2, 89.3) dan Tantri Kamandaka (Penelitian Dr. C. Hooykas menyebutkan bahwa penggubahan Tantri Kamandaka terjadi sekitar tahun 1200-an Masehi), yang disebutkan:‘……para mantri, para wadana….’. Menurut Zoetmulder (1995: 647), jabatan ‘mantri’ terbilang cukup tinggi, kemungkinan menunjuk pada: penasihat raja, menteri, pejabat tinggi atau pemuka di istana, atau perwira.

Namun dalam Piagam Sultan Agung yang dikeluarkan pada tanggal 9 Muharam tahun Jim Akhir, yang bertepatan dengan 26 Juli 1632 Masehi disebutkan bahwa: “ikoe soen sedahi Priangan kalih welas, sarta soen djenengaken mantri, ana déné patoet ki wadana ikoe Wirawangsa, kang djeneng toemenggoeng Wiradadaha, nata Priangan wadana kalih welas”. Terjemahannya: “kami berikan kepadanya 12 orang kepala di Priangan dan kami angkat menjadi mantri (bupati), dan ki wedana harus memperhatikan (membantu) kakaknya Wirasangsa yang diangkat menjadi Tumenggung Wiradadaha, yang memerintah 12 wedana Priangan (Sobana Hardjasaputra, 2011, hal 112). Jelas disini jabatan “Mantri” adalah seorang bupati dengan gelar Tumenggung, kemudian jabatan “Wedana” kedudukannya dibawah “Mantri” atau Bupati.

Tingkatan selanjutnya berdasarkan Prasasti Katiden I (antara 24 Maret dan 22 April 1392 Masehi) koleksi Museum Nasional Jakarta (No. Inventaris E65) lempeng 1.a baris ke-1, tertulis: ‘Itu supaya diketahui penduduk di sekelurahan (salurah) Katiḍen, demikian pula para waddhana di Lumpang ……”. (M. Dwi Cahyono, 2016). Disini disebutkan bahwa jabatan ‘wadana’ hanya merupakan jabatan yang tidak begitu tinggi, kedudukannya berada di tingkat ‘desa’, yaitu Desa Lumpang.

Perbedaan kedudukan ‘wadana’ juga terjadi pada masa Mataram Islam, dimana muncul istilah jabatan “Wedana Bupati” yang kedudukannya lebih tinggi daripada bupati. Menurut Mumuh Muhsin Z. dalam "Kerajaan Sumedang Larang" (2008), dikatakan bahwa bekas raja-raja Sumedanglarang kemudian bertransformasi menjadi “Wedana Bupati”, yaitu jabatan yang dibentuk Sultan Agung untuk mengoordinasikan bupati-bupati. Istilah “wedana bupati” yaitu pejabat Mataram yang berada di wilayah Mancanagara Wetan ataupun Kulon.

Dalam Susastra ‘Pustaka Raja Purwa’ karya R.Ng. Ranggawarsita pada abad ke-19, disebutkan bahwa para bupati mancanagara tersebut berada dibawah pengawasan seorang “Wedana Bupati”. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1620, saat penguasa Sumedanglarang, Raden Suriadiwangsa, datang langsung ke Mataram menyerah tanpa perang dan mengakui Sumedanglarang sebagai bawahan Sultan Agung (M. Dwi Cahyono, 2016).

Menurut Muhajir Salam (2024), saat itu wilayah Sumedanglarang berganti menjadi “Priangan” kemudian dipecah menjadi beberapa kabupaten yang masing-masing dipimpin oleh seorang bupati. Wilayahnya meliputi Sumedang, Sukapura, Bandung, Limbangan, Karawang, Pamanukan, Ciasem, dan sebagian Cianjur. Sebagai kordinator para bupati maka diangkat seorang “Wedana Bupati”.

Pembagian wilayah Priangan menjadi beberapa kabupaten dalam dokumen Belanda disebut Westerlanden (Pandu Radea, 2020). Yang menjabat Wedana Bupati Priangan pertama adalah Aria Suriadiwangsa I dengan gelar Pangeran Dipati Kusumadinata I atau Rangga Gempol I (1620-1625). lalu dilanjutkan oleh Dipati Ukur (1625-1629) dan yang terakhir Rangga Gempol II (1641-1656). Selanjutnya jabatan Wedana Bupati dihapus oleh Sultan Agung dan masing-masing bupati bertanggungjawab kepada Mataram.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)

Jabatan "Wedana" juga terdapat dalam lirik lagu "Ayang-ayang Gung" pada sekitar tahun 1700-an. Jabatan tersebut kedudukannya setingkat dibawah Bupati/Adipati/Dalem dan satu tingkat diatas Camat. liriknya sebagai berikut:

Ayang-ayang gung/ gung goongna rame/ menak ki mas tanu/ nu jadi wadana

Ngantos kanjeng dalem/ lempa lempi lempong/ jalan ka batawi ngemplong/ ngadu pipi jeung nu ompong

Bait pertama lirik lagu tersebut mengisahkan seorang menak bernama Ki Mas Tanu yang menjadi serang wadana (kedudukannya setingkat di bawah bupati dan setingkat diatas camat. Sedangkan bait terakhir lirik lagu ini mengisahkan; meskipun sudah diketahui sikap tidak baiknya, Ki Mas Tanu tetap bersikukuh untuk mendekati Kanjeng Dalem (sebutan bupati pada masa kolonial) untuk memuluskan niatnya mendapatkan jabatan yang lebih tinggi (Teguh Tri Fauzi, 2023).

Selanjutnya, jabatan "wadana" sebagai kepala distrik dibawah bupati dan patih serta diatas camat terjadi pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Para pejabat pemerintahan pada masa itu tergabung dalam birokrasi tradisional (pangreh praja) yang terdiri dari kaum Menak Paseban/Menak Luhur/ Menak Gede yaitu priyayi golongan tinggi yang terdiri dari bupati yang membawahi Patih dan Wadana (M. Dwi Cahyono, 2016). Sedangkan kaum Menak Leutik adalah priyayi golongan kecil yang terdiri dari pejabat dibawah Wadana sampai tingkat desa (pamong), penghulu beserta bawahannya seperti naib, kalipah, imam, bilal/modin, dan yang lainnya.

Kapan Berdirinya Kawadanaan Lembang?

Minimnya literasi tentang sejak kapan berdirinya Kawedanaan Lembang membuat kita sulit untuk menentukan kapan pertama kalinya Kawedanaan Lembang dibentuk. Ada beberapa sumber yang menyebutkan tentang keberadaan Kawedanaan Lembang yaitu:

Pertama, dalam Wawacan Carios Munada disebutkan nama seorang Wadana Lembang yaitu Raden Demang Ardikusumah, baitnya yaitu:

Ari wadana di Lembang

bawahan Bandung nagari

den Demang Ardikusumah

menak lantip sarta manis

titih sagala budi

taya damel anu kusut

satia tur bijaksana

teu ngetang babaya pati

eta putra Rahaden Ariya Patya

Wawacan Carios Munada adalah sebuah naskah yang ditulis oleh Mas Kartadinata, pegawai jawatan kereta api, pada Rabu, 25 Agustus 1910, berdasarkan wawancara dan sumber pustaka yang dimiliki Raden Yudasastra, seorang tua di Desa Pungkur, Bandung. Naskah tersebut menceritakan peristiwa pembunuhan Asisten Residen Bandung Nagel oleh Munada pada tanggal 28 Desember 1845.

Kedua, Wawacan Karaman (Rasiah Priangan) yang diterbitkan pada tahun 1921 oleh Balai Poestaka. Naskah ini berlatar belakang sejarah dan menceritakan tentang peristiwa pemberontakan Raksapraja yang terjadi pada tahun 1842 terhadap Bupati Bandung. Dalam baitnya ditulis:

… Wedana Lembang ngaranna Raden Ardikusuma,

saurang menak berbudi sarta singer,

putra kahiji Tumenggung Raden Adinagara

anu berkantor di Bandung…

Ketiga, berdasarkan catatan dari buku “Daftar Orang Indonesia Yang Terkemuka Di Jawa” (ANRI, hal 71), disebutkan bahwa R. Endjang Iskak Djajadikoesoema tercatat menjabat sebagai Wedana Lembang pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Sayangnya tidak disebutkan angka tahunnya.

Keempat, menurut kajian DR. Nina H. Lubis (1998), dikatakan bahwa pada masa Bupati Bandung Wiranatakusumah 1V (1846-1874) yang didampingi oleh seorang Patih Bandung yang bernama Radén Aria Adinagara. Setelah patih tersebut wafat, jabatan Patih Bandung kemudian diisi oleh putranya sendiri, yaitu Radén Demang Ardikusumah yang waktu itu menjadi Wedana Lembang.

Berdasarkan bukti-bukti diatas, pada paruh waktu sekitar tahun 1845, ternyata di wilayah Lembang sudah ada Kawedanaan, yang dipimpin oleh seorang Wedana yang bernama Radén Ardikusumah. Jadi, dapat dikatakan bahwa Gedung Kawedanaan Lembang dibangun sebelum tahun 1845. Sedangkan berakhirnya sistem Kawedaaan yaitu pada saat terbitnya Peraturan Presiden No. 22 tahun 1963 tentang ‘Penghapusan Karesidenan dan Kawedanaan’. Semenjak itu, hapuslah Kawedanan dalam jenjang birokrasi pemerintahan di Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)