Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

6 menit baca
Hilman Kurnia
Ditulis oleh Hilman Kurnia diterbitkan
Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)

Lembang dikenal sebagai lokasi wisata favorit di Bandung bagi wisatawan yang sedang mencari tempat terbaik untuk berlibur, baik wisatawan yang berasal dari Bandung itu sendiri maupun wisatawan yang berasal dari luar Bandung.

Padahal, jika kita telusuri asal mulanya, sejak tahun 1930-an, Lembang hanyalah wilayah perkebunan teh dan peternakan sapi.

Oleh karena itu, pastilah terdapat musabab yang menjadikan Lembang pada hari ini menjadi lokasi yang penuh dengan tempat wisata. Dengan itu, artikel ini bermaksud mengungkap rahasia bagaimana Lembang menjadi lokasi wisata favorit di Bandung. 

Geografis

Sebab utama daripada kondisi Lembang hari ini adalah karena geografisnya. Lembang terletak di sebelah utara Bandung, tetapi secara administratif sejak 2007, Lembang termasuk salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung Barat setelah dilakukannya pemekaran dari Kabupaten Bandung. Kemudian, secara topografi, Lembang berada di dataran tinggi pegunungan dengan ketinggian sekitar 1300-1500 mdpl, di mana suhu menurun setiap kenaikan ketinggian. Akibatnya, Lembang memiliki suhu yang dingin berkisar 14-17 derajat celcius, sementara Indonesia sendiri merupakan negara tropis yang cenderung panas. 

Oleh karena itu, akibat daripada kausalitas geografis bahwa Lembang berada di dataran tinggi serta memiliki suhu yang dingin, menyebabkan tanah Lembang dimanfaatkan sebagai tempat penting untuk sektor perkebunan, sehingga diharapkan untuk tanaman yang tidak bisa tumbuh di dataran tinggi, perlu dimaksimalkan oleh perkebunan Lembang. Selain itu, Lembang menjadi tempat penting pada sektor peternakan. Hal tersebut tiada lain disebabkan oleh suhu yang memungkinkan untuk melestarikan ekosistem hewan ternak, khususnya peternakan Sapi.

Historis

Sebab yang tak kalah penting yang menjadikan Lembang seperti sekarang ini adalah aspek historisnya. Namun, hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari sebab geografis yang telah dikemukakan sebelumnya. Maksudnya, proses Lembang menjadi tempat favorit bagi wisatawan, tidak lain pemicunya adalah geografisnya itu sendiri yang berpengaruh terhadap ekosistem lingkungannya. Oleh karena itu, Lembang menyimpan jejak sejarah yang ditinggalkannya sebagai simbol perjalanannya sampai hari ini yang merepresentasikan kondisi nyata Lembang. 

Melihat lebih jauh ke belakang, sudah menjadi pengetahuan umum, Indonesia pernah menjadi negara koloni Eropa, terutama yang paling lama adalah oleh Belanda. Dimulai sejak zaman VOC pada abad ke-17 sampai pada masa sebelum pendudukan Jepang pada tahun 1942. Sejak Indonesia meraih Kemerdekaannya pada 17 Agustus, 1945, Indonesia berupaya membangun negara yang terbebas dari belenggu kolonial sebelumnya. Akan tetapi, Indonesia masih tidak bisa terlepas dari peninggalan kolonial dalam bentuk apapun, terutama terkait kebijakan dan pembangunan. Salah satunya adalah perkembangan Lembang sebagai warisan kolonial, tempat yang dengan penuh wisata. 

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)

Pada awalnya, Lembang merupakan wilayah tak berpenghuni, hanya kawasan hutan lebat di lereng gunung Tangkuban parahu. Pada saat itu juga, secara administratif, wilayah Lembang menjadi bagian dari Keresidenan Priangan. Lembang sendiri hanya digunakan sebagai jalur perlintasan kecil bagi penduduk lokal. Kemudian, hingga sampai pada masa cultuurstelsel, Lembang mulai bertransformasi menjadi daerah perkebunan.

Hal itu disebabkan, karena pemerintah Hindia Belanda melihat bahwa Lembang memiliki tanah yang subur, sehingga, mulailah dibuka lahan di lereng lereng Tangkuban perahu untuk ditanami tanaman tanaman. Akibatnya, secara bertahap, mulai dibangun tempat tinggal di wilayah Lembang, baik itu bagi pejabat pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi perkebunan, maupun para petani  pada saat itu. 

Sebelum akhirnya datang orang yang bernama Franz Wilhelm Junghuhn, sebagai tokoh penting dalam sejarah Lembang. Bertepatan dengan menyebarnya penyakit malaria di dunia, dan khususnya di Indonesia, Belanda membawa bibit pohon kina dari Amerika untuk obat penyakit malaria. Sementara Junghuhn yang merupakan ahli botani dari Jerman memilih Lembang sebagai tempat pembudidayaan kina. Maka, sampai hari ini kita masih bisa melihat peninggalannya di Taman Junghuhn dan rumah sakit malarianya di Jayagiri, Lembang. 

Seiring berjalannya waktu, Lembang dijadikan pilihan terbaik untuk mencari suasana sejuk oleh pejabat pemerintah Hindia Belanda ketika waktu libur. Mereka menganggap Lembang adalah anomali di negara yang tropis ini. Akhirnya, Lembang ditetapkan menjadi onderdistrik pada masa Kolonial Belanda, tepatnya diresmikan setelah tahun 1882. Penetapan ini berkaitan dengan berkembangnya Lembang sebagai wilayah perkebunan teh. Bahkan, pada tahun 1926, status Lembang naik menjadi distrik berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal. 

Sejarah Lembang yang tak kalah penting adalah peninggalan Ursone bersaudara yang berasal dari Italia. Keluarga Ursone memainkan peran krusial dalam mengubah wajah ekonomi Lembang pada awal abad ke-20. Terpikat oleh iklim sejuk yang mirip dengan pegunungan di Eropa, mereka mendirikan Lembangsche Melkerij "Ursone" pada tahun 1895. Peternakan ini bukan sekadar bisnis biasa; mereka membawa sapi-sapi jenis friesian holstein langsung dari Belanda untuk dibudidayakan. Keberhasilan Ursone bersaudara menjadikan Lembang sebagai pemasok susu utama bagi warga Eropa di Bandung dan Batavia. Jejak kemakmuran ini masih bisa kita saksikan melalui arsitektur rumah bergaya Indische di kawasan Lembang dan operasionalisasi Balai Inseminasi Buatan yang berakar dari tradisi peternakan mereka.

Bersamaan dengan itu, transformasi Lembang dari sekadar wilayah perkebunan menjadi lokasi wisata tidak lepas dari pembangunan infrastruktur. Pada era kolonial, akses menuju Lembang diperbaiki demi kelancaran distribusi teh, kopi, dan hasil ternak. Puncaknya terjadi ketika Observatorium Bosscha didirikan pada tahun 1923. Sebagai observatorium astronomi tertua di Indonesia, keberadaannya membuktikan bahwa kualitas udara dan kejernihan langit Lembang di masa itu adalah yang terbaik. Kehadiran Bosscha menarik minat para ilmuwan dan kaum terpelajar internasional, yang secara tidak langsung mulai memperkenalkan potensi wisata edukasi dan pesona alam Lembang ke kancah nasional. 

Memasuki era modern, rahasia Lembang yang dahulu hanya dinikmati oleh pejabat kolonial kini terbuka luas bagi publik. Faktor-faktor penyebab yang telah disebutkan sebelumnya, suhu dingin, tanah subur, dan sejarah kolonial, kini dikemas dalam bentuk pariwisata kreatif. Perkebunan teh yang dulu merupakan hasil kebijakan Cultuurstelsel kini bertransformasi menjadi objek wisata swafoto dan wisata edukasi peternakan yang ramah keluarga. Warisan bangunan peninggalan Belanda dan Italia diadaptasi menjadi hotel, kafe, dan restoran bergaya klasik, mempertahankan nuansa "Eropa di tanah Pasundan". Magnet Tangkuban Parahu: Statusnya sebagai gunung api aktif tetap menjadi daya tarik utama  yang memastikan aliran wisatawan tidak pernah surut.

Kepopuleran Lembang hari ini yang penuh dengan banyaknya wisata yang menarik, bukanlah sebuah kebetulan semata. Ia adalah hasil perpaduan antara keunggulan alami (geografis) dan intervensi manusia (historis). Suhu dingin yang konsisten di tengah iklim tropis Indonesia, ditambah dengan jejak budidaya kina Junghuhn serta peternakan Ursone, telah membentuk identitas Lembang sebagai tempat pelarian dari hiruk-pikuk kota. Lembang bukan sekadar kecamatan di Bandung Barat, ia adalah monumen sejarah yang terus tumbuh bersama deru pariwisata masa kini. (*)

Daftar Pustaka

  • Ulung, G. (2009). Liburan murah meriah di Bandung. PT Gramedia Pustaka Utama.

  • A NURAFNI, A. N. (2024). Pengembangan Obyek Wisata Permandian Alam Lemosusu di Kecamatan Lembang (Analisis Pariwisata Syariah) (Doctoral dissertation, IAIN Parepare).

  • Breman, J. (2014). Keuntungan kolonial dari kerja paksa: Sistem priangan dari tanam paksa kopi di Jawa 1720-1870. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

  • Ariwibowo, G. A. (2015). Wisata Alam di Keresidenan Priangan pada Periode Akhir Kolonial (1830-1942). Patanjala, 7(3), 399-414.

  • Wasis, B., & Sandra, E. DALAM MENGATASI PENYEBARAN PENYAKIT MALARIA.

  • Dewi, L. (2023). Buku: Manajemen Pengunjung Di Destinasi Wisata.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Hilman Kurnia
Tentang Hilman Kurnia
Mahasiswa Ilmu Sejarah Unpad asal Lembang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)