Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

7 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)

Kabupaten Purwakarta tidak hanya tersohor karena keindahan alam dan kulinernya, tetapi juga menyimpan rekam jejak sejarah perjuangan bangsa yang mendalam. Salah satu narasi sejarah yang paling memikat adalah peran strategis wilayah ini sebagai basis pertahanan militer pada masa mempertahankan kemerdekaan. Di sudut-sudut kota inilah, saksi bisu pergerakan pasukan elite Jawa Barat pernah berdiri tegak.

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta menjadi titik sentral komando yang mengoordinasikan berbagai strategi gerilya melawan agresi militer penjajah. Keberadaan markas ini membuktikan bahwa Purwakarta merupakan wilayah krusial dalam peta geopolitik dan militer masa lalu. Dinamika perjuangan para tokoh dan prajurit di tempat ini telah membentuk fondasi patriotisme yang kuat bagi masyarakat lokal.

Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai sejarah berdirinya markas tersebut, momen-momen penting yang terjadi di dalamnya, hingga kondisinya saat ini. Melalui catatan ini, kita diajak untuk menyelami kembali heroisme masa lalu sekaligus merawat ingatan sejarah yang mulai pudar.

  • Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi.

  • Menguak sejarah Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta.

Sekilas Sejarah Pembentukan Tentara

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, maka pada tanggal 25 Agustus 1945 Badan Keamanan Rakyat (BKR) Purwakarta terbentuk dan bermarkas di bekas Hotel Spoorzichter (sekarang Gedong Kembar sebelah Utara) di Purwakarta. Pada tanggal 05 Oktober 1945 setelah BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Purwakarta menjadi tempat kedudukan Resimen VI TKR dan Brigade III/Kiansantang.

Selanjutnya untuk menyempurnakan organisasi tentara menurut standar militer internasional, maka pada tanggal 26 Januari 1946 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan maklumat tentang penggantian nama Tentara Keselamatan Rakyat menjadi Tentara Republik Indonesia. Maklumat ini dikeluarkan melalui Penetapan Pemerintah No. 4/SD Tahun 1946.

Dengan adanya maklumat ini membuat Komandemen I Jawa Barat dengan 15 resimen dan 3 divisinya menjadi 1 divisi, yaitu dengan nama Divisi I Siliwangi yang terdiri dari 5 brigade (gabungan resimen-resimen), yaitu: Brigade I Tirtayasa di Serang, Banten; Brigade II Suryakancana di Sukabumi, Cianjur dan Bogor; Brigade III Kiansantang di Purwakarta, Karawang dan Subang; Brigade IV Guntur di Tasikmalaya, Priangan dan Brigade V Gunungjati di Cirebon. Batalyon Gerilya (Guerilla) pun mengalami perubahan menjadi Batalyon IV Resimen V Brigade III Kiansantang Divisi I Siliwangi.

Pada tanggal 20 Mei 1946, ketiga divisi tersebut bersatu dengan nama Divisi Siliwangi, bermarkas di Tasikmalaya. Tiga hari kemudian, 23 Mei 1946, rapat komandan Jawa dan Madura memilih Jenderal Mayor Abdul Harris Nasution sebagai Panglima Divisi Siliwangi dan Kolonel Askari menjadi Kepala Staf Divisi Siliwangi serta Mayor Umar Wirahadikusumah sebagai Ajudan Panglima Divisi Siliwangi merangkap Direktur Latihan Perwira Divisi dan Komandan Batalyon 1 Resimen 5 Brigade III/Kian Santang (1947-1948).

Pada tanggal 03 Juni 1947 TRI berubah lagi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Pos Komando Resimen TNI di Plered, Purwakarta dan sektor pertahanan Resimen 7 di Padalarang. Mulai tanggal 21 Juli 1947 ketika tentara Belanda melancarkan Agresi Militer I, pasukan Belanda menyerang tempat-tempat kedudukan TNI, antara lain Purwakarta dan terjadi pertempuran yang hebat di Purwakarta dan sekitarnya.

Ketika mereka harus melakukan hijrah (perjalanan panjang pasukan Siliwangi dari wilayah Jawa Barat ke Yogyakarta), yang terjadi menyusul penandatanganan Perjanjian Renville antara Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 17 Januari 1948, di mana dua per tiga pulau Jawa (Jawa Barat dan Jawa Timur) dan Sumatera Timur dan Selatan diserahkan kepada Belanda. Hal ini berarti bahwa kantong-kantong gerilya di daerah Jawa Barat yang telah terbangun harus dipindahkan ke daerah Republik Indonesia. Maka dengan demikian sejumlah > 22.000 orang prajurit anggota Divisi Siliwangi dipaksa hijrah ke daerah Jawa Tengah. Hijrah dimulai pada tanggal 01 Februari hingga 22 Februari 1948.

Hijrah itu berlangsung melalui 2 (dua) jalur, darat dan laut. Pasukan-pasukan Siliwangi Jawa Barat yang berasal dari Bogor, Cianjur, Padalarang, Purwakarta dan Ciwidey berangkat ke Cirebon menggunakan kereta api. Dari Cirebon pasukan ini diberangkatkan menggunakan kapal laut menuju Rembang. Brigade Tarumanegara dan Resimen 10 berangkat dari Tasikmalaya, sebagiannya lagi menggunakan kereta api lewat Gombong menuju Yogyakarta dan setengahnya menggunakan truk ke Cirebon, lalu disambung dengan kapal laut untuk ke Rembang. Gerakan hijrah dari Jawa Barat ini dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Junus Mokoginta dan diketuai oleh Arudji Kartawinata selaku Menteri Muda Pertahanan. Mulai 19 Desember 1948 dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II, Purwakarta juga menjadi tempat kedudukan TNI dari Batalyon Mayor Sentot Iskandardinata dari Divisi Siliwangi.

Karena pusat pemerintahan Kabupaten Karawang Timur di Purwakarta dipindahkan ke Subang sejak tanggal 01 April 1948. Area pemerintahan Gedung Negara dan Pendopo Kabupaten ini sejak tidak digunakan lagi, sempat kosong, kemudian digunakan untuk keperluan sebagai markas tentara dari Teritorium Tentara III/Siliwangi kemudian berubah menjadi Komando Daerah Militer III/Siliwangi, yaitu Brigade 23/Siliwangi yang berganti nama menjadi Resimen Infanteri 7/Siliwangi, Komando Resort Militer Purwakarta yang kemudian berganti nama menjadi Brigade Infanteri XIV/Mesabarwang hingga pembetukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang terhitung sejak tanggal 29 Juni 1968. Eks anggota-anggota Brigade Infanteri XIV/Mesabarwang disalurkan ke dalam Komando Distrik Militer 0619/Purwakarta semenjak 24 Mei 1975.

Kemudian setelah ibukota Kabupaten Karawang Timur (Purwakarta) dipindahkan dari Purwakarta ke Subang, maka untuk kurun waktu antara tahun 1948-1968 kedua gedung kabupaten ini pernah digunakan sebagai Markas Brigade Infanteri XIV Mesa Barwang Divisi/Kodam Siliwangi yang beberapa orang komandannya dikenal sebagai: Achmad Kemal Idris, Letjen TNI (Purn.) (1949-1955), Poniman, Jend. TNI (Purn.) (1959-1962), Tarmat Widjaja, Brigjen TNI (Purn.) (1964) dan Willy Gayus Alexander Lasut, Brigjen TNI (Purn.) (1968-1970).

Markas Tentara

  • Badan Keamanan Rakyat (BKR) Purwakarta dengan dikomandani oleh Letkol Sumarna, berlokasi di bekas rumah dinas kolonial, yang kemudian menjadi Gedung Juang 45.

  • Tentara Repubik Indonesia Kereta Api (TRI-KA) dikomandi oleh Kapten Sukaryo dibantu oleh Letnan Jayusman;

  • Tentara Republik Indonesia Field Preparation Karawang (TRI-FP) dikomandani oleh Mayor Akip Prawirasuganda dibantu oleh Lettu Yasin;

  • Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dikomandani oleh Rustamaji dibantu oleh Aming Rachmat, Adang Syamsul Bahri, Ilyas dan A. Arief.

  • Divisi Siliwangi di Purwakarta dikomandani oleh (Panglima) Jend. May. Didi Kartasasmita dengan Kepala Staf Kolonel Abdul Haris Nasution dengan para ajudan: Kolonel Abdul Kadir (kemudian menjadi Panglima Divisi Sunan Gunung Jati), Letkol Hidayat (kemudian menjadi Komandan Resimen Bogor), Letkol Rchmat Kartakusuma, Mayor Ahmad Sukrama Wijaya dan Mayor Alexander Evert Kawlarang.

  • Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta dahulu menempati rumah dinas kolonial.

  • Jend. May. Didi Kartasasmita menempati rumah dinas kolonial.

  • Kolonel Abdul Kadir menempati bekas rumah dinas kolonial.

  • Kolonel Abdul Haris Nasution (yang kemudian digantikan oleh Kolonel Hidayat) menempati rumah dinas kolonial, sekarang rumah keluarga Ir. Tukul Santoso (Perum Jasa Tirta II).

  • Markas Resimen VI Divisi Siliwangi di Purwakarta menempati Kantor Karesidenan Purwakarta.

  • Kolonel Sumarna menempati bekas rumah dinas kepala NV. Gemeentelijke Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO).

Brigade  III Kiansantang Divisi Siliwangi dikomandani oleh Letikol Sdik Brotoatmodjo dengan Kepala Staf Mayor Ahmad Yunus Mokoginta. Resimen VII Purwakarta Brigade III Kiansantang Divisi Siliwangi dikomandani oleh Letkol Sumarna (kemudian digantikan oleh Letkol Umar Bachsan) dengan Kepala Staf Mayor Bajuri (kemudian digantikan oleh Mayor Cecep Prawiraatmaja). Para Komandan Batalyonnya: Komandan Batalyon I Mayor Umar Bahsan, Komandan Batalyon II Mayor Mustafa Kamal (kemudian digantikan oleh Mayor Umar Naseri), Komandan Batalyon III Mayor Marwoto (kemudian digantikan oleh Mayor Sunarya) dengan para komandan batalyon yang lain: Mayor Achmad Sachdi (kemudian menjadi pengkhianat rakyat, bangsa dan negara), Mayor Cecep Prawiraatmaja (digantikan oleh Mayor Hamdi) dan Mayor Dachyar.

Keberadaan markas Divisi Siliwangi di Purwakarta bukan sekadar catatan usang dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa. Tempat ini adalah saksi bisu kegigihan para prajurit Siliwangi dalam mempertahankan kedaulatan tanah pasundan dari cengkeraman penjajah. Menjaga dan merawat ingatan kolektif akan situs bersejarah ini merupakan tanggung jawab bersama agar nilai-nilai patriotisme tersebut tidak pudar ditelan zaman. Pada akhirnya, jejak langkah perjuangan di Purwakarta ini akan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tetap teguh menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menelusuri kembali rekam jejak markas Divisi Siliwangi di Purwakarta membawa kita pada pemahaman mendalam tentang arti sebuah pengorbanan. Kehadiran situs ini menjadi pengingat penting bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini ditebus dengan keringat dan tumpahan darah para pahlawan. Oleh karena itu, mari kita jaga kelestarian warisan sejarah ini dan menjadikannya sebagai sarana edukasi yang hidup. Dengan menghargai tempat bersejarah ini, kita turut merawat api semangat perjuangan Siliwangi agar tetap menyala di hati sanubari masyarakat Purwakarta khususnya dan Jawa Barat umumnya.

Sebagai penutup, markas Divisi Siliwangi di Purwakarta telah mengukir tinta emas dalam panggung sejarah militer Indonesia. Lokasi ini tidak hanya menjadi simbol pertahanan yang kokoh di masa lalu, tetapi juga cerminan identitas dan kebanggaan bagi masyarakat Jawa Barat hingga kini. Semoga ulasan mengenai peninggalan bersejarah ini dapat mempertebal rasa nasionalisme kita semua. Mari bersama-sama menghormati jasa para pahlawan dengan terus mengobarkan semangat "Esa Hilang, Dua Terbilang" demi masa depan bangsa yang lebih gemilang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

R.M.A. Ahmad Said Widodo
Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta, Subang dan Karawang (2001-sekarang) Penemu Besluit Hari Jadi Purwakarta, 20 Juli 1831. Penulis 26 judul buku.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)