Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’, dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 1)

13 menit baca
Anton Solihin
Ditulis oleh Anton Solihin diterbitkan
Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Fotografi di Indonesia sudah hadir sejak abad ke-19, jauh sebelum awal abad ke-20, dengan tokoh seperti Kassian Cephas serta studio Woodbury & Page yang mendokumentasikan berbagai sisi kehidupan di Nusantara.

  • Foto menjadi sumber penting dalam merekam sejarah Indonesia, termasuk dokumentasi proklamasi kemerdekaan oleh Alex dan Frans Mendur melalui Ipphos, kantor berita foto pertama di Indonesia.

  • Pelestarian arsip fotografi sejarah masih menghadapi persoalan serius, mulai dari keterbatasan dana dan perawatan hingga hilangnya negatif foto penting, termasuk dokumentasi Proklamasi 17 Agustus 1945.

‘Tujuh Belas Agustusan’ datang lagi tahun ini. ‘Tujuh belas agustusan’ atau ‘agustusan’ adalah perayaan tahunan rakyat Indonesia untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Tahun ini merupakan perayaan ke-81 kemerdekaan RI.

Selain ‘tujuh belas agustusan’, zaman baru pun datang pada kehidupan kita. Klik! Wabah fotografi! Saat ini tampaknya semua orang sibuk dan dengan mudahnya jepret sana jepret sini, seolah tiada waktu tanpa memfoto, difoto, atau berselfie-ria.

Pada tahun 2018 penulis menulis kritik mengenai kekacauan akut yang diakibatkan (semacam) buku metode sejarah yang diberi judul oleh penulisnya, Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra sebagai ‘Meretas Sejarah Visual’. Kala itu dan hingga hari ini ulasan ringkas artikel tersebut bisa dibaca pada Alinea.id. dan lengkapnya pada Scribd.

Pada laman Unpad, tercantum bahwa Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra adalah seorang guru besar ilmu sejarah yang dianggap pelopor dan pengembang metode sejarah visual (visual history) di Indonesia. Konon beliau aktif menulis karya dan mengkaji rekonstruksi masa lampau melalui sumber-sumber visual seperti foto, film, dan media elektronik serta mengembangkan metode rekonstruksi sejarah berbasis sumber visual. Dikatakan karya-karya itu tercatat dalam SINTA Science and Technology Index untuk subjek sejarah visual, termasuk menulis karya terkait topik tersebut, yakni buku Meretas Sejarah Visual.

Kritik atau resensi terhadap (semacam) buku metodologi sejarah yang tidak jelas juntrungannya itu, tidak pernah ditanggapi, namun sejak munculnya kritik itu, 2019 - buku dimaksud tidak pernah dipergunakan lagi. 

Masalahnya, buku Meretas Sejarah Visual sudah tersebar luas dan dijual bebas, kritik saya sudah dibaca publik, mata kuliah Sejarah Visual hingga kini masih berlangsung dan kandungan isi buku itu masih dipakai sebagai bahan ajar. Itu sebab, tidak bisa tidak, seharusnya ada pertanggungjawaban akademis terhadap masalah ini.

Masalah berikutnya, yang bersangkutan, Jurusan Sejarah Unpad, Fakultas Ilmu Budaya Unpad, dan Dewan Guru Besar Unpad, sebagai institusi ilmiah – mingkem hingga hari ini.

Sebagaimana saya ungkap pada artikel ‘Meretas Sejarah Visual: Tidak Enak Dibaca dan Tidak Perlu’, nyaris semua subyek yang ditulis pada buku itu ‘kusut’ dan bermasalah. 

Pada artikel ini, saya ingin memfokuskan pada satu subyek saja, wabah itu tadi – fotografi!

Delapan tahun berlalu, sejauh yang saya tahu, tidak ada hal baru menyangkut subyek fotografi yang disampaikan dalam kuliah dimaksud kecuali tambahan penyebutan ELA. Keruan untuk istilah yang ujug-ujug muncul itu saya malah jadi teringat penjelasan Roy Suryo– terkait ‘kasus ijazah palsu Jokowi’. 

Apa itu ELA?

Error Living Analysis (ELA) adalah metode analisis kesalahan yang fokus pada identifikasi penyebab kesalahan dalam sistem dinamis atau lingkungan yang terus berkembang. Metode ini banyak digunakan di bidang rekayasa dalam sistem, manajemen proyek, dan keamanan siber. 

ELA umum dipakai sebagai pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan memitigasi kesalahan dalam sistem yang kompleks dan dinamis, seperti jaringan komputer, proses manufaktur, atau bahkan ekosistem bisnis. ELA tidak hanya mencari akar masalah (root cause), tetapi juga memantau dampak kesalahan yang “hidup” (living) dan berevolusi seiring waktu.

Ela diterapkan pada prinsip biologi (seperti adaptasi organisme) ke dalam analisis rekayasa. ELA juga digunakan untuk memantau kesalahan dalam jaringan listrik cerdas (smart grid) yang rentan terhadap fluktuasi beban dan serangan siber.

Dengan begitu untuk apa ELA?

Lewat uraian di atas, pembaca tulisan ini silakan memaknai sendiri apa sebenarnya urusan ‘makhluk’ bernama ELA itu dengan metodologi sejarah!

Dalam laman Unpad, dikatakan bahwa saat ini Prof. Reiza D. Dienaputra sedang mengembangkan metode sejarah visual (visual history), yaitu metode merekonstruksi sejarah berdasarkan sumber visual, salah satunya foto. Dikatakan: “Mengingat perkembangan teknologi informasi, saat ini kita kaya akan sumber visual, terutama sumber sejarah, yang tersedia dan dapat dibaca di media elektronik. Tentu saja, ini juga perlu menjadi perhatian para sejarawan,” katanya. Meneliti sejarah visual, kata Prof. Reiza, tidak hanya bergantung pada pengetahuan sejarah, tetapi harus dilengkapi atau didukung oleh pengetahuan sosial dan humaniora lainnya, seperti ilmu komunikasi untuk membedakan antara sumber asli dan palsu, dan ilmu seni rupa dan desain, yang teori elemen visualnya dapat digunakan sebagai dasar untuk menganalisis sumber fotografi atau lukisan.” (Laman web Unpad). 

Pernyataan semacam itu perlu diuji karena misalnya, sebagai contoh, uraian menyangkut fotografi yang beliau tulis, begitu irit data dan sekaligus ngawur.

Dikatakan, “Bila itu berupa foto, kritik diantaranya dapat dilakukan dengan melihat keakuratan peristiwa, kejadian dan obyek manusia yang ada dalam foto tersebut. Apakah peristiwa atau kejadian yang ada di foto tersebut merupakan peristiwa atau kejadian sesungguhnya atau bukan? Kalau merupakan peristiwa atau kejadian sesungguhnya, apakah terdapat rekayasa visual dalam foto tersebut? Apakah obyek manusia yang ada dalam foto tersebut merupakan tokoh asli atau bukan? Bila tokoh asli, apakah terdapat rekayasa visual dalam foto tersebut.” (Dienaputra, 2015: 55). Pabila pernyataan di atas dikaitkan dengan ELA – barangkali “masuklah itu barang!”

Pertanyaannya sekarang jadi menarik, apakah uraian di atas itu yang dimaksud sejarah visual terkait fotografi? Untuk contoh kasus seperti apa? Sebagai bandingan, baca artikel Asvi Warman Adam: ‘Foto Pengubah Sejarah’ mengenai rekayasa foto terkait peristiwa sejarah tertentu, atau beragam kemungkinan terkait fotografi pada artikel-artikel Seno Gumira Ajidarma dalam buku Kalacitra (2022). Bagaimana menjelaskan kalimat ‘peristiwa atau kejadian sesungguhnya atau bukan’, ‘apakah terdapat rekayasa visual dalam foto tersebut’ atau soal ‘tokoh asli atau bukan’ pada foto-foto bersejarah Peristiwa Malari yang dipunyai Majalah Tempo - yang seabreg itu, foto-foto Kartono Ryadi yang merekam begitu banyak peristiwa bersejarah pada lingkup Indonesia modern (1980-1990an), atau foto-foto ikonik Peristiwa 1998-nya James Nachtwey - melalui uraian beliau di atas? 

Uraian Prof. Reiza D. Dienaputra mengenai apa itu ‘fotografi’ dan hubungannya dengan sejarah Indonesia (sengaja dikutipkan secara lengkap), memang kebetulan mirip ‘pidato tujuh belas agustusan’, sebagaimana berikut ini:

“Foto sebagai kekayaan sumber visual sejarah Indonesia telah banyak mewarnai sejarah Indonesia sejak awal abad ke-20. Banyak foto-foto yang dibuat orang Belanda mengenai Indonesia. Obyek yang terdapat dalam foto pun tampak beraneka ragam, mulai pemandangan, prasarana dan sarana jalan, moda transportasi, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Memasuki kemerdekaan, sumber visual berupa foto lebih mudah lagi untuk ditemukan. Foto-foto yang merekam tentang Indonesia pun kemudian banyak dihasilkan oleh orang Indonesia. Obyek foto pun semakin meluas, tidak hanya sekedar obyek-obyek pemandangan tetapi juga melebar kepada obyek-obyek yang berada pada berbagai ranah kehidupan masyarakat Indonesia, baik sosial, ekonomi, budaya maupun politik. Kemudahan teknologi di bidang fotografi menjadikan sumber visual berupa foto hampir menjadi kekayaan tak terhingga sebagai media rekonstruksi sejarah. Bahkan, dunia fotografi yang semula hanya menjadi milik mereka yang telah berusia dewasa kini menjadi milik segala usia. Tidak hanya dewasa tetapi juga remaja, bahkan anak-anak.” (Dienaputra, 2015: 28, 30).

Pada bagian lain dikatakan dengan tidak konsisten apa yang mau diutarakan, misalnya terkait istilah ‘foto’. Si penulis menyarankan untuk mencari sumber visual tidak bergerak, yang dapat berbentuk foto, poster dan peta (Dienaputra, 2015: 27). Persis di halaman berikutnya, dikatakan, gambar tidak bergerak sebagai salah satu bentuk sumber visual, (bisa) berupa foto, lukisan atau peta” (Dienaputra, 2015: 28), dan sumber visual berupa gambar tidak bergerak yakni berupa koleksi kartografik, arsitektural, gambar, poster dan sejenisnya (Lohanda, 2011 dalam Dienaputra (2015: 45)). Dengan pernyataan-pernyataan di atas, sebenarnya yang dimaksud sumber visual tidak bergerak itu yang mana?

Hanya dua hingga tiga paragraf  ‘menyangkut fotografi’ pada buku itu dan nyaris semua pernyataan menimbulkan masalah.

Betulkah foto atau fotografi telah banyak mewarnai sejarah Indonesia sejak awal abad ke-20?

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)

Fotografi lahir di awal abad ke-19, tepatnya tahun 1835, saat kamera pertama kali diperkenalkan oleh Niepce dan Daguerre (Ichsan, 2003: 272). Keberadaan fotografi di Indonesia sendiri muncul beberapa tahun kemudian sebagaimana (misalnya) catatan Groeneveld (dalam Alex Supartono, 2008) sebagai berikut: “Tahun 1841, seorang pegawai kesehatan Belanda, atas perintah Kementerian Kolonial, mendarat di Batavia dengan membawa dauguerreotype. Juriaan Munich, nama ambtenaar itu, diberi tugas “to collect photographic representations of principal views and also of plants and other natural objects”. Catatan berikutnya ini semakin menegaskan pernyataan di atas, pernyataan senada, kita temukan pada tulisan Lombard terkait dinamika fotografi Hindia Belanda abad ke-19 (1996: 233-234), menyangkut nama-nama seperti Munnich, Van Kisbergen, Juhnghuhn, Groneman, hingga Cephas.

Para petualang visual fotografi yang tidak disebutkan nama mereka dalam bukunya (atau memang tidak pernah beliau ketahui, atau anonim) yang dikatakannya - memotret “pemandangan, prasarana dan sarana jalan, moda transportasi, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia” di atas, Kassian Cephas, Jean Demmeni, Herman Salzwedel, Ohannen Kurkdjian atau Christiaan Benjamin Nieuwenhuis misalnya – tokoh-tokoh itu berikut rujukan awal kemunculan fotografi di Nusantara ini selalu tercatat dimulai pertengahan abad-19. 

Foto-foto yang diambil pada abad ke-19 bahkan sudah memuat gambar penderitaan masa tanam paksa dan kerja rodi, juga foto-foto telanjang perempuan pribumi. Lihat foto-foto yang termuat pada  100 years of photography in the Dutch Indies 1839-1939. 

Salah satu potret yang dibikin Woodbury & Page tahun 1874 di Garut merekam para buruh perkebunan saat istirahat dan memanfaatkan waktu untuk membatik, dengan latar belakang hamparan perkebunan (Zoelverdi, 1995).

Kita ambil dua contoh yang lebih rinci, Kassian Cephas dan Woodbury & Page sebagai berikut.

Kassian Cephas

Kassian Cephas (15 Januari 1845 – 16 November 1912) merupakan fotografer pribumi Jawa yang berasal dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ia merupakan fotografer profesional Jawa pertama di bawah bimbingan Hamengkubuwana VI (bertakhta 1855–1877). Ia menjadi ‘juru potret resmi’ (hof-fotograaf) pada 1891, dan didokumentasikan oleh Persatuan Arkeologi Hindia Belanda (Archaeologische Vereeniging). Selain potret, Cephas juga memotret bangunan dan struktur yang berdiri saat itu, termasuk Taman Sari (1884) untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. 

Pada tahun 1889, oleh Archaeologische Vereeniging Cephas ditunjuk sebagai fotografer pemotret situs bersejarah Candi Prambanan. Groneman menyerahkan foto dan deskripsi yang dibuat oleh Cephas ke KITLV tahun 1891, tetapi tidak dipublikasikan hingga 1893 karena mahalnya biaya cetak ulang. Publikasi terakhir memuat 62 karya cetak collotype Candi Prambanan dan sekitarnya. 

Cephas juga dipercaya dengan karya potretnya di kompleks Candi Borobudur setelah bagian Relief Karmawibhangga yang tersembunyi ditemukan tahun 1885 oleh ketua persatuan tersebut dibuka tahun 1890 untuk dipotret, kemudian ditutup lagi tahun 1891. 

Berikut adalah contoh sengkarut mengenai riset (apa yang disebut) sejarah visual & kajian fotografi. Seorang mahasiswa Jurusan Sejarah FIB Unpad Angkatan 2015, pada 2019 - menulis skripsi tentang Kassian Cephas, fotografer yang diuraikan di atas. Si mahasiswa menulis skripsi tentang forografer abad 19 dan dibimbing oleh dosennya, orang yang percaya bahwa fotografi Indonesia muncul awal abad 20!

Woodbury & Page

Woodbury & Page adalah studio foto komersial legendaris di Hindia Belanda yang didirikan di Weltevreden-Batavia pada 5 Juni 1857 oleh dua fotografer asal Inggris, Walter Bentley Woodbury dan James Page. 

Walter Bentley Woodbury (1834–1885) merupakan fotografer terawal di Australia dan Hindia Belanda. Ia juga mempatenkan sejumlah penemuan yang berkaitan dengan berbagai aspek dari fotografi, penemuan terkenalnya adalah proses fotomekanik woodburytype.

James Page (1835–1865): rekan bisnis Woodbury sesama fotografer asal Inggris yang menemani perintisan awal studio di Jawa sebelum kembali ke Inggris pada tahun 1860. Koleksi foto klasik karya mereka kini menjadi rujukan penting era kolonial abad ke-19 dan disimpan di berbagai museum internasional.

Pada 1858, Woodbury & Page datang ke Batavia, mereka juga melakukan pemotretan di Jawa Tengah dan Timur, menghasilkan pemandangan-pemandangan besar dari reruntuhan candi. Mereka juga aktif memotret pemandangan alam, arsitektur, para tokoh penting atau bangsawan, hingga masyarakat lokal di berbagai wilayah Nusantara, dari Aceh hingga Banda. Lihat foto-foto buku Vues de Java. Photographiées 1880-1885 misalnya. 

Woodbury kembali ke Jawa pada 1860 dan pada tahun tersebut bersama dengan Page mengunjungi Jawa Tengah dan Jawa Barat bersama dengan Walter bersaudara, Henry James Woodbury (lahir 1836 – meninggal 1873), yang datang ke Batavia pada April 1859. 

Pada 18 Maret 1861 Woodbury & Page berpindah ke tempat baru, yang juga berada di Batavia, dan studio tersebut berganti nama menjadi Photographisch Atelier van Walter Woodbury, juga juga dikenal sebagai Atelier Woodbury. Firma tersebut menjual potret-potret, pemandangan Jawa, stereografi, kamera, lensa, bahan-bahan kimia untuk fotografi dan bahan-bahan fotografi lainnya. Tempat tersebut digunakan sampai 1908, ketika firma tersebut dibubarkan. Rusli Amran (1988: 380) dalam karyanya bertajuk Padang Riwayatmu Dulu menulis seperti ini, “Kita masih beruntung bahwa firma Woodbury & Page, sebuah usaha fotografi terkenal di Batavia paruh kedua abad yang lalu, sudah pada tahun 1868 pernah mengirim ahli fotonya (A. Woodbury) ke Sumatera Barat dan bulan Juli 1876 membuka sebuah studio darurat di Padang.

Dalam kariernya, Woodbury menghasilkan topografi, etnografi dan khususnya fotografi potret. Meskipun fotografer-fotografer individual umumnya teridentifikasi pada foto-foto Woodbury & Page, antara 1861 dan 1862 Walter B. Woodbury secara khusus menandai foto-fotonya: "Photographed by Walter Woodbury, Java". Seratus foto karya mereka, pernah dipamerkan di Gedung Bentara Budaya Yogyakarta pada 2-8 Mei 1995.

Lalu, sekali lagi,  apa arti kalimat “Foto sebagai kekayaan sumber visual sejarah Indonesia telah banyak mewarnai sejarah Indonesia sejak awal abad ke-20”?

Bisa dikatakan kekacauan yang diakibatkan buku Meretas Sejarah Visual terkait fotografi begitu fatal dan konyol.

Terkait ‘tujuh belas agustusan’, kita tentu kembali teringat foto-foto lawas Alex Mendur yang mendokumentasikan saat-saat Bung Karno membaca teks proklamasi, pengibaran bendera Merah Putih, dan suasana khidmat upacara di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta yang terkenal itu.

Dahulu, repro foto-foto mereka umum kita lihat pada banyak buku-buku proyek pemerintah untuk sekolah atau koleksi perpustakaan. Namun kini kita dengan mudah bisa menemukannya dalam bentuk digital secara acak  saja di internet. Sebetulnya cerita sesungguhnya tidak sesederhana itu.

Mendur bersaudara, Alex Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur adalah pendiri Ipphos (Indonesian Press Photo Service) pada 2 Oktober 1946, kantor berita foto pertama di Indonesia

Pada masa awal, dokumentasi Ipphos pada Clash II di Yogyakarta nyaris musnah. Koleksi sekitar 500 ribu master foto (film negatif) kemudian disimpan di Jalan Hayam Wuruk No. 30 Jakarta (Majalah Tempo, 1 Desember 1990).

Lembaga resmi yang mengabadikan perjalanan sejarah bangsa sebetulnya ada tiga, selain Ipphos, ada Kantor Berita Antara dan Berita Film Indonesia (BFI).

Ipphos kata Yudhi Soerjoatmodjo, adalah satu-satunya kantor berita Indonesia yang berhasil menyelamatkan hampir seluruh koleksinya. Tidak ada satupun lembaga di Indonesia yang bisa mendekati keunikan, kekayaan, dan orisinalitas foto-foto Alex Mendur dan kawan-kawan. “Koleksi Ipphos merupakan satu-satunya karya visual yang paling penting  yang kita miliki di Indonesia sekarang (Koran Tempo, 25 September 2005). Seperti dikatakan oleh Oscar Motuloh, pemberangusan terhadap Antara, setelah peristiwa 1965 begitu meluas dan tidak terkendali, “Seluruh koleksi bersejarah dari 1937 diberangus begitu saja,” kata Oscar. Atas pemberangusan foto itu, saat ini Galeri Antara hanya menyisakan sebagian kecil foto sejarah. Jumlahnya hanya beberapa ribu.

Dengan begitu, sebenarnya Ipphos punya posisi istimewa dalam wacana riwayat sejarah fotografi negeri ini. Namun ceritanya tidak semanis yang dibayangkan. Dalam rentang yang panjang sejauh yang bisa saya temukan datanya (1990-2025) isi berita atau artikel mengenai eksistensi Ipphos melulu keluhan: kurangnya dana pengelolaan, perawatan dokumen dan foto-foto bersejarah yang seadanya, ruang atau gedung yang dipakai kemungkinan diokupasi, hingga ancaman bangkrut.

Sejarawan Asvi Warman Adam bahkan mengatakan begini, “Coba bayangkan seandainya tidak ada Frans Mendur di Pegangsaan Timur 56 pada 17 Agustus 1945? Apakah proklamasi kemerdekaan Indonesia itu dapat diyakini benar-benar terjadi? Ironisnya belakangan diketahui bahwa negatif film foto proklamasi itu tidak ditemukan lagi.” (Harian Kompas, 25 Agustus 2008). Ini sih paket komplit, karena gedung tempat proklamasi kemerdekaan itu dibacakan pun sudah lama lenyap!

(bersambung ke bagian 2 ...)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anton Solihin
Tentang Anton Solihin
Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)