Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’ dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 2)

14 menit baca
Anton Solihin
Ditulis oleh Anton Solihin diterbitkan
Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Fotografi dan sejarah memiliki hubungan erat, dari perdebatan penggunaan kamera di Indonesia hingga pemanfaatan foto sebagai sumber untuk memahami masa lalu.

  • Teknologi visual membuka cara baru membaca sejarah, mulai dari pencitraan satelit, pemindaian 3D, hingga teknologi LiDAR yang dapat menemukan dan merekonstruksi situs sejarah yang tersembunyi.

  • Sejarah visual membutuhkan referensi dan kajian yang kuat, bukan sekadar melihat foto sebagai ilustrasi; artikel ini mengkritik minimnya rujukan fotografi dalam buku Meretas Sejarah Visual.

Hubungan Sejarah dan Fotografi

Hubungan sejarah Indonesia dan fotografi tampak dalam banyak aspek, tidak sesederhana ‘paragraf yang seperti pidato tujuh belas agustusan’ sebagaimana dikutipkan pada artikel bagian 1. Barangkali catatan berikut ini akan membuat orang yang hidup di abad ke-21 akan terpana, misalnya Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 1: Batas-Batas Pembaratan, menyoroti perdebatan serta cara pandang organisasi Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam memandang fotografi dan penggunaan kamera, di paruh pertama abad ke-20.

Muhammadiyah memutuskan untuk menenggang atau membolehkan penggunaan kamera dengan syarat tertentu, namun melarang anggotanya memajang foto sang pendiri, K.H. Ahmad Dahlan, sementara Nahdlatul Ulama (NU) mengambil sikap lebih ketat dengan memutuskan bahwa aktivitas memotret, mencetak, dan mencuci negatif film merupakan satu kesatuan proses yang dinilai secara tegas sebagai haram.

Pada masa berikutnya, menyangkut masa pendudukan Jepang, buku Masyarakat & Perang Asia Timur Raya (Sejarah dengan Foto yang Tak Terceritakan) mungkin mewakili hubungan sejarah-fotografi dimaksud. Ditulis dengan riset panjang oleh Aiko Kurosawa, perempuan penulis sejarah, yang kebetulan juga berkunjung di FIB Unpad (2016), atau hasil penelitian inspiratif selama lima tahun, juga oleh orang Jepang bernama Aoki Sumio berjudul Indonesia di Mata Jepang di Hindia Belanda 100 Tahun Yang Lalu Dalam Kartu Pos Bergambar Foto (2017) yang (kembali entah apakah harus disebut kebetulan) bekerjasama dengan Pusat Studi Bahasa Jepang - Universitas Padjadjaran). Di saat buku ini terbit, (anggaplah lagi lagi) suatu kebetulan bahwa seorang tukang buku dari Belanda bernama Olivier Johannes Raap beberapa kali berkunjung dan berbicara di FIB Unpad pada tiga sesi berbeda untuk membahas buku-bukunya Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe (Galang Pustaka, 2013), Kota di Djawa Tempo Doeloe (KPG: 2015) & Sepur Uap di Djawa (KPG: 2017). ‘Kebetulan’ yang absurd, karena bahkan riset sejarah-fotografi yang rata-rata unik itu tidak diketahui si penulis Meretas Sejarah Visual, padahal semuanya berlangsung di kampusnya. Sepertinya tidak ada satu pun riset sejarah-fotografi di atas yang menggunakan “semacam kritik fotografi” ala buku Meretas Sejarah Visual ini. Dan memang tidak perlu!. 

Di jagat global, dulu misalnya kita mengenal banyak buku-buku foto bagus yang ‘merekam sejarah dunia’ dan diterbitkan Majalah Life, atau belakangan oleh Dorling Kindersley (DK). Perkembangan terkait fotografi misalnya juga menyasar aspek lain terkait musik dan sejarah (kalau boleh dikatakan begitu). Tercatat album-album rekaman seperti Music! The Berlin Phonogramm Archiv 1900-2000 (Museum Collection Berlin-Wergo) berisi 4 cd dan 284 halaman foto bersejarah terkait perekaman lapangan dan pertunjukan musik langka di seluruh dunia, atau Parchman Farm – Photographs and Field Recordings 1947-1959 – sebuah kompilasi rekaman berikut foto-foto hasil jepretan terkenal dari folklorist Alan Lomax; atau juga Goodbye Babylon (berisi 135 lagu religius termasuk 25 rekaman khotbah yang dibuat antara tahun 1902 hingga 1960 dipadu dengan 200 foto lama dengan spirit yang sama dengan lagu-lagu dalam album); Termasuk juga album Listen to the Wind That Obliterates My Traces (Music In Vernacular Photographs 1880-1955). Ide unik menggabungkan 51 lagu lawas dari pedalaman AS - ph 78rpm yang diberi esei yang berusaha menciptakan suatu konteks sosial dan puitik, semacam inskripsi dari para penulis sejarah. Kita bisa merasakan bahwa foto dan lagu-lagu itu sekarang tidak lagi sekedar antik! 

Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)

Jauh sebelumnya, sudah sejak tahun 1960-an batas antara fotografi dan film telah kabur. Film-film terutama La Jetee (1962), dan San Soleil (1982) dari Chris Marker contoh konkritnya. Batas-batas apa yang disebut dokumenter yakni semacam esei dari rangkaian foto-foto yang membentuk semacam kisah, montase, campuran beragam pernyataan dengan fiksi plus ungkapan-ungkapan filosofis, menciptakan atmosfir mimpi dan science fiction. Marker juga mengembangkan flm dengan kemajuan teknologi digital, misalnya melalui Level 5 5 (1996) dan Immemory (1998) dengan menggunakan multimedia interaktif CD-Room. Film-film berikut adalah contoh menarik terkait hubungan sejarah dan film: Blow-Up (166), Photo Wallahs (1992), Adventure of Photography-150 Years of Photographic Image (1998), War Photographer (2001), The Genius of Photography (2007), People Love Photos (2009), Serial: Photographers 1-6 (2012), atau 125 Anniversary Photos (National Geographic) (2025). Daftar album rekaman musik dan film lainnya terkait fotografi masih bisa diperpanjang.

Terakhir, judul film di bawah ini adalah contoh kasus terbaru yang juga menarik menyangkut visi, pengembangan gagasan yang berasal dari sejarah dan fotografi. Rua Aperana 52 (Aperana Street 52) adalah film Brazil (Julio Bressane, 2012). Sang sutradara mendokumentasikan lanskap suatu sudut Rio de Janeiro. Film terdiri dari rangkaian foto yang diambil dari foto-foto keluarga dan anggota masyarakat sekitar sejak tahun 1909 hingga 1955, lalu ditambah scenes dari beragam film yang mengambil lanskap tempat tersebut antara tahun 1957-2005. Bressane menekankan editing sebagai sebuah bentuk intristik pemikiran yang membuat penonton menjadi saksi baru lanskap yang bagaikan kisah fiksi. 

Dalam rentang itu, antara tahun 1940an, terutama mulai era 1970an hingga sekarang dunia fotografi begitu masif perkembangannya (lihat referensi) sehingga tidak mungkin dibahas di sini karena hanya akan membuat penuh halaman saja. Si profesor dengan begitu perlu membaca banyak ulasan sejarah fotografi daripada membuat kalimat bahwa (diulang sekali lagi) “dunia fotografi yang semula hanya menjadi milik mereka yang telah berusia dewasa kini menjadi milik segala usia. Tidak hanya dewasa tetapi juga remaja, bahkan anak-anak.”. OK-lah kalimat itu konyol namun ada nuansa lucunya juga sih! 

Belakangan kita menemukan penemuan-penemuan baru terkait fotografi dan sejarah yang juga menarik:

1) Sarah Helen Parcak merupakan  arkeolog Amerika, ahli Mesir Kuno, dan ahli penginderaan jauh, yang telah menggunakan pencitraan satelit yang diambil dari ketinggian 643 km untuk mengidentifikasi situs-situs arkeologi potensial di Mesir, Roma, dan tempat lain di bekas Kekaisaran Romawi. Proses analisa dilakukan dengan menyoroti bagian spektrum elektromagnetik yang tidak bisa dilakukan dengan kasat mata. Hal ini memungkinkannya untuk mencatat anomali yang bisa menunjukkan situs arkeologi tersembunyi di bawah tanah. Dari 2003 hingga 2004 Parcak menggunakan kombinasi analisis pencitraan satelit dan survei permukaan untuk mencari 132 situs potensial yang menarik, beberapa diantaranya berasal dari 3.000 SM.

2) Arsip Digital Sejarah

Para pelestari membuat rekaman digital dari bangunan-bangunan paling rawan di dunia dengan pemindai laser tiga dimensi jinjing termasuk rekonstruksi bangunan warisan dunia di Uganda yang sempat terbakar dan situs-situs warisan dunia lainnya (halaman 21, National Geographic Indonesia, Oktober 2010).

3) Lost Treasures of Maya -  the Series 1-4 (National Geographic, 2019)

Dalam film ini penjelajah Albert Lin meriset menggunakan scanning jarak jauh pada suatu wilayah di Guatemala dengan alat laser berteknologi tinggi yang disebut (Light Detection and Ranging) atau Lidar Map untuk memetakan kembali 60.000 struktur reruntuhan kuno - pertama kalinya setelah 1500 tahun. Pemindaian ini membantu para arkeolog untuk “melihat” menembus pohon-pohon lebat yang menutup rapat hutan rimba laiknya sinar-X untuk menciptakan peta berteknologi tinggi yang baru dan revolusioner. Hasil pekerjaan ini adalah penulisan kembali sejarah Maya - salah satu peradaban kuno paling misterius yang selama ini susah diungkap.

Belum lama saya juga menemukan riset fotografi-sejarah yang menarik dan berlokasi di tanah air, yang dikerjakan seorang teman, Kelana Wisnu terkait Teknik Geolokasi Arsip Visual dengan perangkat Mnemonik untuk lokasi persis kamp tahanan di Pulau Buru dan rekonstruksi 3D Penjara Plantungan, atau foto udara jalan sepanjang 135 km Wanam-Mutung terkait lahan gambut di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, yang disebut Kelana dengan menarik sebagai panjang dan tak berguna.

Berdasar contoh atas kajian-kajian visual baru di atas, apa yang dihasilkan nanti akan mengubah cara kita melihat budaya kuno selamanya, bahkan untuk dijadikan telaahan khususnya dalam meninjau sejarah dari perspektif zaman kita – misalnya kita bisa mereset ulang cara pandang kita untuk menyudahi polemik dibalik riset situs-situs yang sebagian khalayak menjelaskannya berdasar wangsit, dan menganggapnya misterius semacam Trowulan atau Gunung Padang, misalnya dengan berbasis kajian sejarah (visual) melalui teknik pemotretan terbaru nan canggih. 

Setelah semua uraian panjang lebar di atas, catatan luar biasa menarik dan mencengangkan ialah bahwa pada buku Meretas Sejarah Visual itu kita hanya  menemukan satu buku rujukan atau referensi terkait fotografi. 

Di zaman kita sekarang ini sebetulnya banyak perspektif dalam melihat hubungan sejarah dan fotografi. Referensi juga begitu terlihat tanpa batas. Meski begitu, entah mengapa referensi terkait fotografi yang dicantumkan pada buku Meretas Sejarah Visual tampak begitu malang - hanya satu, dan lucu:                                                                                                                                                                         Paulus Edison dan Laely Indah Lestari. 2012. Buku Saku Fotografi. Jakarta: Alex Media Computindo (mungkin maksudnya Elex). Ada juga contoh lain, referensi digital seperti ini: buchyarpelaminanminang.com, purwokertoantik.com, youtube.com 27 Juni 2013, atau google.com, 16 Maret 2015.                                            

Referensi sekedarnya semacam itu jelas tidak mencerminkan ditulis oleh seseorang yang mengaku dirinya sejarawan dengan wawasan visual (boro-boro wawasan fotografi).

Kita tentu akan bertanya-tanya apa sebabnya? Ada banyak kemungkinan untuk menjawab mengapa hal itu terjadi: si penulis meremehkan pembaca buku dimaksud, atau kemungkinan berikutnya (sebagaimana terlihat pada uraian di atas dan referensi yang dipakai) memang hanya mempunyai  wawasan sekedarnya terkait apa yang ditulisnya.

Contoh buku seperti Meretas Sejarah Visual ini merupakan cerminan betapa carut-marut dan buruknya ‘situasi yang tampak dianggap lumrah’ terkait apa itu yang disebut mata kuliah sejarah visual, buku teks ajar, termasuk perilaku para kolega yang bersangkutan - membiarkan keadaan semacam ini berlangsung begitu lama.

Saya, penulis artikel ini mengingatkan pembaca tulisan ini, artikel ini baru menggambarkan satu subyek saja dari kekacauan yang terjadi mengenai apa itu ‘Sejarah Visual’.

Supaya tidak dianggap menulis ‘pidato tujuh belas agustusan’ dan juga tidak sedang mengarang kisah fiksi, di bawah ini penulis urutkan referensi bacaan supaya kita tidak tersesat jalan mempelajari sejarah (visual) fotografi Indonesia. Dalam dunia di zaman kita yang rasanya seperti tanpa batas, referensi seperti yang saya urutkan di bawah dapat dengan mudah diakses, artinya tulisan dan foto-foto itu bukan barang langka dan antik! (*)

DAFTAR PUSTAKA

  • Adam, Asvi Warman. (2009). ‘Foto Pengubah Sejarah’. Dalam Membongkar Manipulasi Sejarah. Penerbit Kompas: 225-228.
  • Ajidarma, Seno Gumira. 2002. Kalacitra. Dalam Bentara 2002. Jakarta: Kompas.
  • Ajidarma, Seno Gumira. 2003. Kisah Mata. Yogyakarta: Galang Press.
  • Amran, Rusli. 1988. Padang, Riwayatmu Dulu. Jakarta: CV Yasaguna.
  • Adams, Ansel. 1948. the-negative-photography-book. The Ansel Adams Publishing Right Trust.
  • Arsip Digital Sejarah. 2010. Majalah National Geographic Indonesia. Oktober: 21.
  • Bansky, Martin Bull. 2009. Locations and Tours A Collection of Graffiti Locations and Photographs in London-England. PM Press.
  • Barthes, Roland. Camera Lucida (photos).
  • Barthes, Roland. 1982. Camera Lucida- Reflections on Photography.
  • Baudrillard, Jean. 1999. Photography, or the Writing of Light. Paris: Galilee.
  • Benjamin, Walter*. Small History of Photography*. 1931.
  • Bijl, Paul. 2015. Emerging Memory Photographs of Colonial Atrocity in Dutch Cultural Remembrance. Amsterdam Univ. Press.
  • Bourdieu, Pierre*. 1990. Photography – A Middle-brow-Art. Cambridge: Polity Press.
  • Danarto. 1988. Perjalanan Fotografi Demmeni (Indonesia: Images from the Past). Dalam Majalah Tempo: 23 Juni.
  • Daston, Lorraine & Galison, Peter. 2007. Objectivity. New York: Zone Books.
  • Dekker, Niels A. Douwes. Banten - Photograph of Death Ritual. 1940-1947.
  • Dekker, Niels A. Douwes. *Borneo - Photograph of Death Ritual. 1940-1947.
  • Dermawan T., Agus. 1995. Menguak Misteri 350 Tahun (Resensi buku Lexicon of Artists Who Visualized Indonesia (1600-1950)). Dalam Majalah Gatra: 11 November.
  • De Tourist - Guide and Garoet - Express* (B - 909) June 15th-1923. Hlm. 22. 1923.
  • De Tourist - Guide and Garoet - Express* (B - 909) Mei 28-1923. Hlm. 13. 1923.
  • Eco, Umberto. 2004. On Beauty. London: Seeker & Warburg.
  • Eco, Umberto. 2007. On Ugliness. London: Harvill Seeker.
  • Faiq, Mohammad Hilmi. 2015. (Pameran) Warna Lain Sejarah Proklamasi. Dalam Harian Kompas: 14 Agustus.
  • Farr, Michael. Tintin (the Complete Companion). Jakarta: Gramedia.
  • Fotografien van Soerabaja (Uitgevers, G.H. Bartman). 1931.
  • Grant, Stephen. 1995. Former Points of View: Postcards of Literary Passages from Pre-Independence Indonesia. Jakarta: Yayasan Lontar.
  • Cartier-Bresson, Henri. 1998. Tete-A-Tete. Portraits by… Bulfinch Press dan National Portrait Gallery.
  • Istiqomati. 2006. Perjalanan Sebuah Kartu Pos. Dalam Koran Tempo: 18 Juni.
  • Hasby, Eddy. 2001. East Timor (the Long and Winding Road). Jakarta: AJI.
  • Hassanbasri, M. Sjafe’i. 2003. Pembodohan dan Pemalsuan Sejarah. Dalam Harian Kompas: 20 November.
  • Heryanto, Ariel. 2015. Identitas Asli adalah Fiksi. Wawancara Dalam Harian Kompas: 2 Agustus
  • Ichsan, Mochammad Firman. Realita Fotografi (Satu Cermin Balik Dunia Fotografi Kita). Dalam ‘Bentara’ 2003. Harian Kompas: 272-286.
  • James Natchwey. Harian Kompas, 10 November 2002.
  • Junaidy, Cahyo & Muhamad Nafy. 2005. Menyelamatkan Jejak Sejarah (Ipphos). Dalam Koran Tempo: 25 September.
  • Kayam, Umar & Harri Peccinoti. 1985. Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya. Jakarta: Gramedia.
  • Khastiti, Yemima Lintang. 2012. Seri Lawasan: Potret. Jakarta: KPG.
  • Kisah IPPHOS, Perekam Sejarah Bangsa yang Terlupakan. Dalam harian Kompas: 12 Agustus 2025.
  • Lapian, A.B. (penyunting). 1985. Semangat ’45 Dalam Rekaman Gambar Ipphos. Jakarta: Sinar Harapan.
  • Lefevre-Guibert-Lemercier.* 2011. Sang Fotografer (Memasuki Kancah Perang Afghanistan Bersama Doctors Without Border). Jakarta: Gramedia.
  • Leufold, Wolfgang. 2013. Memori dari Kalimantan (Memories from Borneo) 1921-1927. Zurich: Museum Etnographic of the University of Zurich.
  • Lombard, Dennys. 1996. Nusa Jawa I: Batas-batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia.
  • Lukisan Revolusi Rakjat Indonesia 1945-1949. 1949.
  • McGlynn, John H., dkk. 2005. Indonesia In the Soeharto Years: Issues, Incidents, and Images. Jakarta: Yayasan Lontar.
  • Mengenal Peninggalan Sejarah dan Purbakala Zaman Indonesia Hindu. Jakarta - PT Priastu: 1984.
  • Mengobati Negara Lewat Sejarah. 2015. Dalam Harian Kompas: 18 Oktober.
  • Merrillees, Scott, 2019. Batavia - Greetings from Jakarta Merrillees (Postcards of A Capital 1900-1950). Hanusz Publishing.
  • Met De Camera Door Nederlansch Indie - E.W. Tt.
  • Monumental Java Photo Book. Tt.
  • Motuloh, Oscar. 2008. Sejarah (Fotografi Indonesia) – Citra Nan Tak Kunjung Padam. Dalam Harian Kompas: 25 Agustus.
  • Pasar Gambir Batavia. Bamboe en Atap verwerkt tot een geheel 1934.
  • Photo Album containing photographs of indigenous people, villages, landscapes, etc.
  • Tt. Picturesque Netherlands East Indies. 1920.
  • Pictorial History of Civilization in Java. 1927. the Java Institute and G. Kolff Co.
  • Prasetyo, Frans Ari. 2017. River In A Visual Short. Bandung: Brick-Center for Research on Infrastructure and Regional ITB-Ultimus.
  • Prasetya, Eric & Ayu Utami. 2015. Estetika Banal & Spiritualisme Kritis (Dialog Fotografi dan sastra dalam 13 Keping). Jakarta: KPG.
  • Protschky, Susie (edited by). 2015. Photography, Modernity and the Governed in Late-colonial Indonesia. Amsterdam: Amsterdam University Press.
  • Raap, Olivier Johannes. 2015. Kota di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: KPG.
  • Raap, Olivier Johannes. 2013. Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe. Yogyakarta: Galang Press.
  • Raap, Olivier Johannes. 2017. Sepur di Djawa. Jakarta: KPG.
  • Raap, Olivier Johannes. 2013. Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: KPG.
  • Rambey, Arbain. 2019. Kisah Foto-foto Jenderal Sudirman. Dalam Harian Kompas: 8 Juni.
  • Rambey, Arbain. 2004*. Kisah Sebuah Kamera Tua yang Bersejarah*. Dalam Harian Kompas: 15 Mei.
  • Rambey, Arbain. 2019. Potret Sebagian Pahlawan Kita. Dalam Harian Kompas: 28 Mei.
  • Rambey, Arbain. 2003. Sejarah Fotografi, Sejarah Teknologi. Dalam Harian Kompas: 20 Juni
  • Romance of the east, the comfort of the west in Java, Sumatra, Bali, the. 1931.
  • Seabad Kearsipan (Menunjang Pembangunan Bangsa Indonesia) (1892-1992). (1992). Katalog Pameran Arsip (Kertas-Foto-Film-Peta-Gambar-Pamflet-Piagam). Arsip Nasional Republik Indonesia.
  • Serangan Umum TNI di Makassar tahun 1950. 1950.
  • Sohn, David A. 1969. Pictures for Writing (A Visual Approach to Composition). New York/Toronto/London: Bantam.
  • Sonesson, Goran. 1989. Semiotics of Photography — On tracing the index. Lund: Lund University
  • Sontag, Susan. 1977. On_Photography. New York: Farrar, Straus & Giroux.
  • Suganda, Her. 2003. “Tanah Air Kita”, Sebuah Warisan Juru Foto Belanda. Dalam Harian Kompas: 8 November.
  • Sugiarto, Atok. 2011. Fotobiografi Kartono Ryadi. Jakarta: Penerbit Kompas.
  • Sumio, Aoki. 2017. Indonesia di Mata Jepang di Hindia Belanda 100 Tahun yang Lalu dalam Kartu Pos Bergambar Foto. Jakarta: the Daily Jakarta Shimbun & Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran.
  • Sunjayadi, Achmad. 2008. Mengabadikan Estetika (Fotografi dalam promosi pariwisata kolonial di Hindia Belanda). Wacana Volume 10 No. 2, Oktober (301-316).
  • Supartono, Alexander. 2008. Fotokopi Asli, Selintas Sejarah Fotografi Indonesia. Dalam Harian Kompas: 5 Januari.
  • Supartono, Alex. 2005. Rekaman Foto tentang Indonesia yang Sedang Menjadi (Catatan Fotografi Carl Oorthuys). Dalam Harian Kompas: 18 Juni.
  • Toekang potret 100 jaar fotografie in Nederlands Indië 1839-1939 = 100 years of photography in the Dutch Indies 1839-1939. 1939.
  • Wisanggeni G., Aryo. 2011. (Pameran) Politik Foto Para Pewarta Revolusi. Dalam Harian Kompas: 4 September.
  • Woodbury and Page. 1880-1885. Vues de Java. Photographiées Or. 27.358.
  • Zoelverdi, Ed. 1990. Ipphos, Riwayatmu Dilelang. Dalam Majalah tempo, 1 Desember.
  • Zoelverdi, Ed & Heddy Loegito. 1995. Pameran Cantik Menggelitik Fotografer Inggris Tentang Indonesia Seabad Silam…. Dalam Majalah Gatra, 13 Mei.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anton Solihin
Tentang Anton Solihin
Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Agu 2026, 21:22

Kedaulatan Komunikasi sebagai Wajah Baru Kemerdekaan

Di usia ke-81 RI, kemerdekaan bukan hanya soal wilayah, tetapi kedaulatan komunikasi: kemampuan berpikir jernih, memverifikasi kebenaran, dan berdialog sehat di tengah gempuran algoritma dan hoaks.

Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 19:20

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’ dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 2)

Menelusuri hubungan sejarah dan fotografi, dari foto sebagai rekaman masa lalu hingga teknologi visual mutakhir yang membuka cara baru dalam membaca sejarah.

Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 16:20

El Bahar dan Sang Merah Putih Menjelang Hari Kemerdekaan

Koran yang usianya kini telah mencapai 57 tahun itu hadir hanya dua hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 15:00

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’, dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 1)

Mengulas sejarah fotografi di Indonesia, perannya sebagai sumber sejarah visual, serta persoalan pelestarian arsip foto dalam merekam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 13:02

Refleksi Indonesia Merdeka

Dalam refleksi Indonesia merdeka adalah Indonesia harus terus belajar menjadi Indonesia yang adil, berdaulat, beradab dan manusiawi, itulah kemerdekaan sesungguhnya.

Acara pengibaran bendera Merah Putih berukuran 10×18 meter di Tebing Hawu, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 11:26

Bendera Berkibar Janji Ditebar

81 tahun kemerdekaan bukan semata-mata untuk kepentingan negara yang punya hajat. Tetapi masyarakat yang memiliki harapan untuk merdeka. Hidup di negeri ini dengan jutaan cita-cita.

Warga membentangkan bendera Merah Putih raksasa berukuran 10x18 meter sebagai persiapan pengibaran pada 17 Agustus 2026 di Tebing Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 10:05

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Taman Bincarung: Trek Pendakian, Lokasi, dan Harga Tiket

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung, informasi trek pendakian, lokasi gunung, dan harga tiket yang perlu diketahui sebelum melakukan pendakian.

Peta Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 09:22

Ketimpangan Terselubung di Balik Pilihan Kos Mahasiswa

Ketimpangan dalam soal pilihan tempat kos mungkin tidak selalu kentara, tetapi dampaknya nyata dan berlapis.

Mahasiswa baru salah satu PTN mengikuti Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 21:58

Dari Kaki Gunung Wayang ke Ruang Sidang Doktoral: Saatnya Pendidikan Belajar Mengenali Keunikan

Jika setiap anak berbeda, mengapa sistem pendidikan kita masih begitu gemar menyeragamkan? Kisah Luthfi dari Kertasari membuka pertanyaan itu.

Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 18:15

Efektivitas Perusahaan Listrik sebagai Perusahaan Monopoli?

Ada berbagai bentuk pasar dalam perekonomian. Apakah perusahaan listrik sebagai perusahaan monopoli efektif?

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 17:06

Urgensi Literasi Pajak pada Generasi Muda Sebelum Terjun ke Dunia Kerja

Kurangnya literasi perpajakan pada generasi muda mengakibatkan terhambatnya kesiapan finansial dan ketidakpatuhan hukum yang pada akhirnya menyebabkan kerugian finansial.

Ilustrasi pajak. (Sumber: ikpi.or.id)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 12:14

Musuh Tersembunyi: Mikroplastik dalam Makanan Dapur

Penjelasan pendek tentang mikroplastik dan bagaimana mikroplastik memengaruhi hidup kita

Ilustrasi sayuran berbungkus plastik. (Sumber: Pexels | Foto: Deon Black)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 10:15

7 Gunung Tertinggi di Bandung: Antara Legenda dan Jalur Pendakian

Tujuh gunung tertinggi di Bandung bukan sekadar destinasi pendakian. Di balik jalur, ketinggian, dan panorama alamnya, tersimpan legenda, sejarah, serta cerita masyarakat.

Foto Pemandangan Gunung Puntang diambil dari Gunung Batu Lemabang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 09:27

Derajat Manusia Sama dan Setara

Perempuan sudah lama dianggap sebagai beban dalam kehidupan rumah tangga jika dilihat dari kacamata budaya patriarki.

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 15 Agu 2026, 13:59

Media Lokal Dorong Ekosistem Berkelanjutan, Google Buka Ruang Kolaborasi

Media lokal dan Google membahas tantangan era AI, strategi keberlanjutan bisnis, pertumbuhan audiens, serta peluang kolaborasi untuk memperkuat ekosistem berita di Indonesia.

Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono mengingatkan bahwa media dan jurnalis yang menolak beradaptasi dengan AI dan menganggapnya sebagai musuh akan tertinggal serta terancam gulung tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 14 Agu 2026, 20:59

Peringati HUT Kemerdekaan, PLN Nusantara Power UP Cirata Kumpulkan 59 Kg Sampah Anorganik

PLN Nusantara Power UP Cirata rayakan HUT RI ke-81 lewat Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperingati HUT ke-81 RI melalui Fun Walk, aksi bersih lingkungan, dan lomba tradisional di Purwakarta.
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 20:29

Kemudahan Transaksi Nontunai Menjadi Ancaman Munculnya Bias Hyperbolic Discounting

Kemudahan transaksi nontunai tanpa disadari menghilangkan rasa sakit saat mengeluarkan uang.

Transaksi Nontunai. (Sumber: Foto oleh cottonbro studio dari Pexels)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 18:01

Lomba Agustusan Bukan Soal Menang-Kalah, tapi tentang Kebersamaan dan Kebahagiaan

Dari balap karung hingga lomba daster, Agustusan selalu menjadi ajang kebersamaan warga. Namun, kemeriahan perayaan kemerdekaan tak lepas dari persoalan klasik soal penggalangan dana.

 Perlombaan Agustusan sangat beragam, bahkan dari tahun terus bertambah dan semakin lucu (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 15:05

Saat Game Masuk Kelas: Benarkah Game Edukasi Bisa Bikin Belajar Lebih Efektif?

Benarkah game edukasi mampu mengubah kelas yang membosankan menjadi pembelajaran interaktif? Simak manfaat, tantangan, dan solusi penerapannya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

Pembelajaran interaktif anak-anak usia dini menggunakan Papan Interaktif Digital melalui platfrom Game Edukasi Paudpedia. (Sumber: Dokumentasi kemdikbud.go.id  | Foto: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 14:46

Aktif Berorganisasi, Benarkah Membantu Mahasiswa Siap Hadapi Dunia Kerja?

Banyak lulusan kesulitan bersaing di dunia kerja. Organisasi mahasiswa ternyata menjadi tempat lahirnya employability skills yang dicari perusahaan. Mengapa bisa demikian?

Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)