Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

3 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.

  • Judul Buku: Telunjuk dan Pelatuk
  • Penulis: Ikrom Rifa'i
  • Penerbit: Omera Pustaka
  • Jenis Karya: Kumpulan Cerpen / Sastra Sejarah

***

Hari terakhir di bulan September 2026 ini, saya tidak nonton film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, tetapi saya hadir dalam bedah buku Telunjuk dan Pelatuk di Fakultas Ilmu Budaya Unsoed. Berselang sehari, tepat sehari setelahnya, di mana jam kerja di semua instansi pemerintah mengawali hari dengan upacara memperingati Kesaktian Pancasila, saya mengkhatam keenam belas cerpen Ikrom dengan mata kuyu karena kantuk. 

Impresi pertama setelah menyelesaikannya adalah saya merasa seperti seorang bocah yang baru turun dari roller coaster, antusias, tapi juga agak mabuk. Ya, Ikrom membuat saya mabuk sejarah. Yang saya duga selanjutnya, Ikrom dalam menulis cerpen-cerpennya juga dalam keadaan mabuk. Lebih jauh, saya harus menaruh curiga, Ikrom ingin membuat pembaca mabuk bersamanya. Mabuknya saya bisakah disebut sebagai keberhasilan bertungkus lumus Ikrom dalam menulis atau malah sebaliknya? 

Umberto Eco pernah mengemukakan pendapatnya dalam melihat fiksi sejarah. Ia membagi cerita berlatar sejarah menjadi tiga jenis. Pertama, historical romance yang menjadikan masa lalu hanya dijadikan dekorasi atau latar belakang visual. Karakter dan jalannya cerita adalah rekaan murni yang bisa dipindahkan ke zaman apa saja tanpa mengubah inti cerita. Kedua, mantled novel yang menggunakan nama tokoh sejarah nyata dan peristiwa nyata, tetapi tindakan tokoh-tokoh tersebut “sering kali” didramatisasi secara berlebihan demi plot petualangan atau fantasi. Terakhir, historical novel yang memosisikan tokoh rekaan pada alur sejarah nyata, di mana seluruh tindakan, pola pikir, dan percakapan mereka terikat secara ketat oleh hukum sosial, budaya, dan intelektual zaman tersebut.

Telunjuk dan Pelatuk, untuk menyebut sebagian besar, dapat disebut sebagai cerpen dalam kategori ketiga yang sebut Eco. Ikrom menghadirkan tokoh fiktif yang ia pinjam dari latar belakangnya yang berdarah Jawa  dengan kultur agraris yang lekat dan reputasi akademik sebagai sarjana pendidikan untuk memotret dan memberikan perspektif lain dari narasi sejarah resmi Indonesia yang berkisar dari awal pendudukan Jepang hingga Orde Baru. 

Ikrom tampak bekerja sampai pada apa yang disebut Eco sebagai Gaps in History. JIka sejarawan mencatat apa yang terjadi. Ikrom mengisi celah yang tidak dapat dijelaskan data-data sehingga plotnya utuh dan logis, tentu secara imajinatif dan barang tentu indah dengan metafora halus. Bukankah, tugas penulis fiksi sejarah, sebagaimana  Ikrom, bukan mengubah fakta yang sudah terbukti, melainkan mengisi ruang kosong tersebut dengan imajinasi fiktif yang mungkin dan logis terjadi (?)

Bagi Eco, kesalahan terbesar seorang penulis novel sejarah adalah memasukkan cara pikir manusia “hari ini” (anachronism) ke dalam tubuh tokoh masa lalu. Ikrom tampak cukup pandai memahami persoalan ini.

Sedikitnya, pada cerpen “Bengkel Terakhir untuk Mir”, Puisitropika, dan “Di Kabupaten Tamala, Semua Orang telah Menjadi Gila”, Ikrom tergoda untuk keluar tadi lanskap sejarah yang menjadi landmark dalam Telunjuk dan Pelatuk. Ikrom sepertinya sadar, ia ingin keluar dari bayang-bayang lokalitas yang telanjur dipersonifikasi pada sosok Ahmad Tohari. Kebetulan, keduanya memiliki darah yang identik, darah Banyumas yang tanahnya subur karena memiliki Gunung Slamet dan merupakan bagian dari Lembah Serayu. 

Pada mulanya saya memaklumi bahwa Ikrom memang harus menggunakan logika patriarkhi untuk mebangun logika narator pada setiap cerpen dalam Telunjuk dan Pelatuk, kecuali untuk “Bengkel Terakhir untuk Mir”. Akan tetapi, tampaknya saya keliru. Ikrom hanya meminjam tokoh Mir sebagai narator tanpa memberi daya dan ruang perlawanan. Dan memang, Ikrom tidak sekalipun membuat tokoh-tokoh utama dalam ceritanya menjadi pemenang. Jangan-jangan Ikrom memang sedang merayakan kekalahan dan kepedihan mereka yang kalah dalam sejarah? Ikrom memang mabuk. Karena mabuk ia jadi gila. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

mufti wibowo
Tentang mufti wibowo
Menulis Prosa

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)