Langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang merubuhkan bangunan fisik Perpustakaan Gasibu demi proyek penataan lanskap terpadu kawasan Gedung Sate kini menuai sorotan tajam dan kekecewaan mendalam dari komunitas pembaca buku di Kota Kembang. Ruang baca publik yang selama ini menjadi ruang literasi gratis di tengah kota bagi warga dan penggemar literasi, kini telah rata dengan tanah.
Kebijakan ini memicu keresahan massal bagi para pembaca setia dan pegiat literasi lokal yang menilai bahwa hilangnya fasilitas fisik tersebut tidak dapat digantikan begitu saja. Hal yang paling disayangkan oleh publik adalah absennya rencana pembangunan kembali gedung perpustakaan kota yang baru untuk merelokasi fasilitas membaca yang telah dihancurkan tersebut.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Sekretaris Daerah Herman Suryatman berdalih bahwa ditiadakannya bangunan fisik tersebut murni untuk kebutuhan perluasan ruang terbuka publik yang membutuhkan mobilitas tinggi, aman, dan lapang. Sebagai gantinya, pemerintah menjanjikan langkah transformasi total menuju ekosistem literasi digital (e-library) serta pengoperasian armada perpustakaan keliling (mobile library) secara berkala di lingkar luar Lapangan Gasibu untuk memfasilitasi warga yang masih berburu buku cetak.

Herman Suryatman juga mengatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk membuat halaman Gedung Sate menjadi lebih fungsional, lebih rapih dan lebih indah.
Namun, janji kompensasi digital dan layanan keliling tersebut justru dinilai sebagai langkah mundur oleh para pegiat buku di Bandung. Banyak pembaca menegaskan bahwa esensi kenyamanan sebuah perpustakaan fisik mulai dari suasana membaca yang tenang, tekstur lembaran kertas, hingga ruang interaksi sosial yang tercipta antar pembaca sama sekali tidak bisa dikonversi secara sepihak ke dalam layar gawai.
Mengubah perpustakaan menjadi sekadar aplikasi digital di tengah indeks pembangunan literasi masyarakat Jawa Barat yang masih berada di bawah rata-rata nasional dianggap sebagai kebijakan yang abai terhadap kebutuhan riil masyarakat bawah. Hilangnya monumen fisik literasi di pusat ikonik Kota Bandung ini dikhawatirkan akan semakin menjauhkan budaya membaca dari ruang keseharian publik. (*)