Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

3 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)

Jawa Barat dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan kuliner tradisional. Di antara sekian banyak makanan khas Sunda, peuyeum atau tape menjadi salah satu sajian yang paling populer.

Namun, tidak semua peuyeum dibuat dari singkong. Di Kabupaten Subang, tepatnya di Kampung Ciruluk, Desa Ciruluk, Kecamatan Kalijati, lahir sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Nama Ciruluk sendiri memiliki sejarah yang menarik. Kata Ci berarti air (cai), sedangkan Caruluk merujuk pada pohon kolang-kaling yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut. Seiring waktu, nama Caruluk berubah menjadi Ciruluk dan kini dikenal luas sebagai sentra penghasil peuyeum ketan khas Subang.

Berbeda dengan peuyeum dari daerah lain yang umumnya berbahan dasar singkong, Peuyeum Ciruluk dibuat dari beras ketan putih pilihan yang difermentasi menggunakan ragi berkualitas. Salah satu keistimewaannya adalah penggunaan pewarna alami dari daun katuk, daun suji, atau daun laja sehingga menghasilkan warna hijau yang cantik tanpa bahan pewarna buatan.

Keunikan lainnya terletak pada pembungkusnya. Jika tape ketan pada umumnya menggunakan daun pisang atau daun jambu air, Peuyeum Ciruluk justru dibungkus dengan daun muncang (daun kemiri) yang lebar. Daun ini memberi aroma khas sekaligus membantu menjaga kelembapan tape selama proses fermentasi.

Peuyeum Ciruluk hadir dalam kemasan yang menarik, praktis, dan higienis, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh maupun buah tangan khas Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Peuyeum Ciruluk hadir dalam kemasan yang menarik, praktis, dan higienis, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh maupun buah tangan khas Subang. (Foto: Kin Sanubary)

Tak heran jika Desa Ciruluk dijuluki sebagai "Kampung Peuyeum", karena sebagian masyarakatnya telah menekuni usaha pembuatan tape ketan secara turun-temurun. Salah satu pengrajin yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah Carta Cahyadi, pemilik industri rumahan Peuyeum Ciruluk "Aki Nini".

Menurut Kang Carta, rahasia menghasilkan peuyeum yang legit dimulai dari pemilihan beras ketan berkualitas. Beras harus dicuci hingga air bilasannya benar-benar bening, kemudian direndam sekitar dua jam sebelum dikukus. Proses pengukusan dilakukan dua tahap selama kurang lebih 45 menit hingga ketan matang sempurna. Proses masak 2 kali, 45 menit pertama setengah matang, 45 menit kedua seperti itu.

Setelah dingin, ketan ditaburi ragi secara merata lalu diberi pewarna alami dari daun katuk, daun suji, atau daun laja. Selanjutnya, ketan dibungkus menggunakan daun muncang dan difermentasi selama sekitar dua hari hingga menghasilkan rasa yang manis, legit, sedikit asam, lembut, serta mengeluarkan aroma harum yang khas.

Salah satu kelebihan Peuyeum Ciruluk adalah daya simpannya yang relatif lama. Jika disimpan dalam lemari pendingin, kualitas rasa dan teksturnya tetap terjaga sehingga sangat cocok dijadikan oleh-oleh khas Kabupaten Subang maupun dinikmati bersama keluarga di rumah.

Saat ini Peuyeum Ciruluk tersedia dalam dua varian, yakni putih dan hijau, bahkan beberapa perajin juga memproduksi varian ketan hitam untuk memenuhi selera konsumen. Selain dibungkus daun muncang, produk ini juga dikemas dalam toples berbagai ukuran sehingga lebih praktis dibawa sebagai buah tangan.

Bagi masyarakat Ciruluk, peuyeum bukan sekadar makanan ringan. Tape ketan ini telah menjadi bagian dari tradisi. Dalam berbagai acara kenduri, hajatan, hingga syukuran, Peuyeum Ciruluk hampir selalu hadir berdampingan dengan aneka jajanan tradisional lainnya. Kehadirannya menjadi simbol kebersamaan sekaligus penghormatan terhadap warisan kuliner leluhur.

Di tengah gempuran makanan modern, Peuyeum Ciruluk tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner Kabupaten Subang. Cita rasanya yang manis legit, sedikit asam, teksturnya yang lembut, aroma khas daun muncang, serta proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional menjadikan kuliner ini sebagai salah satu warisan gastronomi Sunda yang patut dilestarikan.

Mencicipi Peuyeum Ciruluk bukan sekadar menikmati tape ketan, tetapi juga merasakan sepotong sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Kalijati yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)