Tragedi Tanjakan Emen Subang 2018, Rem Blong yang Renggut Kehidupan Puluhan Ibu

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi tragedi kecelakaan Tanjakan emen di Subang pada 2018 lalu.
Ilustrasi tragedi kecelakaan Tanjakan emen di Subang pada 2018 lalu.

AYOBANDUNG.ID - Jalanan pegunungan di Jawa Barat selalu punya kisah. Ada yang romantis—penuh kabut tipis dan suara serangga malam—ada pula yang getir, penuh cerita kecelakaan dan derai tangis. Tanjakan Emen di Subang masuk kategori terakhir. Ironisnya, jalur ini sebenarnya bukan tanjakan, melainkan turunan curam di kawasan Cicenang, Ciater, Subang. Tapi orang keburu telanjur menamainya Tanjakan Emen. Nama itu sudah lebih populer daripada sebutan resminya: Turunan Cicenang.

Turunan ini panjangnya sekitar 2–3 kilometer, dengan kemiringan mencapai 15–20 derajat. Jalannya mulus beraspal hotmix, tapi justru itu yang sering menipu. Dari kejauhan tampak indah, dikelilingi hutan pinus, semak liar, dan tebing batu yang menjulang. Udara pegunungan yang sejuk membuat orang merasa santai. Tapi begitu roda kendaraan menggelinding, ketegangan baru terasa. Tikungan-tikungan tajam bisa membuat kendaraan besar seperti bus pariwisata oleng, apalagi kalau remnya rewel.

Sabtu sore, 10 Februari 2018, jalur maut itu kembali menagih korban. Sekitar pukul 17.00 WIB, sebuah bus pariwisata berwarna putih, milik PO Premium Passion, meluncur tak terkendali. Bus ini mengangkut rombongan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Permata Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Mayoritas penumpangnya ibu-ibu dan lansia. Ada juga beberapa anak kecil yang ikut serta. Mereka berangkat sejak dini hari pukul 05.30 WIB, penuh semangat untuk mengikuti Rapat Anggota Tahunan koperasi di Lembang, lalu jalan-jalan ke Gunung Tangkubanparahu.

Baca Juga: Jejak Dukun Cabul dan Jimat Palsu di Bandung, Bikin Resah Sejak Zaman Kolonial

Pagi itu, suasana meriah. Para ibu berangkat dengan jaket tebal, tas berisi camilan, dan obrolan riang tentang rencana wisata. Mereka sempat saling bercanda sambil menatap gunung dari jendela bus. Setelah rapat, mereka sempat berfoto-foto di kawah Tangkubanparahu, lalu makan bersama. Tak ada tanda-tanda buruk. Hingga sore menjelang, rombongan beriringan dengan tiga bus, meninggalkan Lembang menuju Subang. Bus pertama, yang dikemudikan Amirudin (32 tahun), membawa sekitar 35–40 penumpang. Dialah yang apes.

Begitu memasuki Turunan Cicenang, Amirudin sadar ada yang tidak beres. Rem bus terasa blong. Dari kecepatan normal 40 km/jam, laju bus meroket tanpa terkendali. Panik melanda. Penumpang yang tadinya santai mendadak teriak. Ada yang spontan melafalkan doa keras-keras. Ada pula yang berpegangan erat pada sandaran kursi depan. Suara tangis mulai terdengar. Beragam rupa teriakan bergema di dalam kabin.

Turunan di Tanjakan Emen memang tidak main-main. Jalan menurun panjang, dengan kelokan tajam di beberapa titik. Sopir biasanya menurunkan gigi ke rendah, agar mesin menahan laju kendaraan. Tapi sore itu, mesin bus tak lagi mampu. Kecepatan terus bertambah.

Bus semakin tak terkendali. Dalam hitungan detik, bus yang seharusnya menuruni jalur dengan perlahan itu justru melesat bagai anak panah. Di tikungan menurun yang tajam, malapetaka itu terjadi. Bus yang sudah kehilangan kendali menabrak sepeda motor Honda Beat yang dikendarai Agus Waluyo, warga Karawang. Motor ringsek, pengendaranya terlempar.

Suara hantaman keras terdengar. Bus lalu menabrak tebing batu di sisi jalan, memantul, dan terguling dengan posisi roda ke atas. Debu mengepul, jeritan penumpang pecah bersamaan.

Di dalam kabin, suasana kacau balau. Kursi-kursi terlepas dari dudukannya. Barang-barang bawaan berhamburan. Tubuh manusia bertumpuk, sebagian terjepit, sebagian tak lagi bergerak. Darah berceceran di lantai bus.

Beberapa penumpang yang masih sadar berusaha mencari jalan keluar. Ada yang memecahkan kaca jendela dengan benda keras. Suara tangis, rintihan, dan panggilan minta tolong menggema di antara tubuh-tubuh yang bergelimpangan.

Baca Juga: Hikayat Pembunuhan Subang yang Bikin Geger, Baru Terungkap Setelah 2 Tahun

Warga sekitar yang mendengar dentuman keras segera berlarian ke lokasi. Mereka menemukan pemandangan mengerikan: bus pariwisata tergeletak miring di pinggir jalan, dengan penumpang berusaha keluar sambil berlumuran darah. Sebagian korban tergeletak di aspal. Beberapa warga mencoba mengevakuasi dengan alat seadanya, mengangkat tubuh penumpang, sebagian masih bernafas, sebagian sudah tak bergerak.

Petugas kepolisian dan tim medis datang tak lama kemudian. Sirene ambulans meraung-raung memecah kepanikan. Jalan yang tadinya ramai wisatawan mendadak berubah jadi lokasi darurat. Satu per satu korban dibawa ke rumah sakit terdekat.

Kecelakaan itu menelan puluhan korban jiwa. Sebanyak 27 orang meninggal: 26 penumpang bus dan satu pengendara motor. Sebagian meninggal di lokasi, sebagian lain menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Puluhan lainnya luka-luka, mulai dari ringan hingga parah. Dalam sekejap, perjalanan wisata yang semula penuh tawa berubah jadi tragedi paling kelam di Tanjakan Emen.

Tanjakan Emen (Sumber: Google Earth)
Tanjakan Emen (Sumber: Google Earth)

Keluarga korban berdatangan malam itu juga. Suasana rumah sakit penuh tangis dan doa. Di Ciputat, gang-gang kecil segera dipenuhi bendera kuning. Sebanyak 22 korban kecelakaan bus yang terjadi di jalur maut itu akhirnya dimakamkan massal di TPU Legoso, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Keesokan harinya, mereka dibaringkan berdampingan dalam liang kubur yang berderet. Tangis keluarga, kerabat, hingga warga sekitar pecah ketika satu per satu jenazah yang sudah terbungkus kain kafan putih diturunkan dari mobil ambulans. Pemakaman itu terasa bukan sekadar prosesi, melainkan peringatan pahit tentang jalur yang sudah lama terkenal “angker”.

Penyelidikan polisi menyimpulkan penyebab utama adalah rem blong. Jalan curam membuat rem bekerja ekstra, lalu overheat, akhirnya gagal. Kasus klasik, tapi mematikan. Bukan kali itu saja Tanjakan Emen menelan korban. Sejak awal 2000-an, sederet kecelakaan besar pernah terjadi di sana.

Kecelakaan kali ini diduga dipicu rem blong. Sopir bus, Amirudin, selamat. Tak ada unsur human error ditemukan dalam penyelidikan. Polisi dari Polres Subang, dibantu Polda Jabar dan Korlantas Mabes Polri, menggelar olah TKP, memeriksa teknis kendaraan, dan menelisik manajemen PO Premium Passion. Dugaan kelalaian pemeliharaan bus ikut mengemuka.

Baca Juga: Sejarah Pertempuran Perlintasan Ciater Subang, Gerbang Terakhir Pertahanan Sekutu di Bandung

Tanjakan Emen memang bukan jalur biasa. Ia sudah mencatat sejarah panjang kecelakaan. Tahun 2004, bus pariwisata tergelincir dan menelan korban jiwa. Tahun 2011, minibus turis Belanda terguling, tiga tewas. Setahun kemudian, giliran bus turis Taiwan, dengan jumlah korban sama. Tahun 2014, bus siswa SMA Al-Huda terguling dan delapan meninggal. Tahun 2017, sebuah minibus menabrak motor dan merenggut satu nyawa. Bahkan pada Maret 2018, kecelakaan lain kembali terjadi, dengan enam belas orang luka-luka. Semua di lokasi yang sama, seolah jalan itu menyimpan dendam.

Warga lokal menyebutnya jalan angker. Konon, kisah bermula dari seorang sopir oplet bernama Emen yang tewas terbakar setelah kecelakaan pada 1956. Sejak itu, mitos berkembang: pengendara dianjurkan membunyikan klakson dan melempar rokok sebagai tanda hormat kepada roh Emen. Namun para insinyur tentu punya jawaban lebih masuk akal: kontur jalan yang menurun curam, tikungan tajam, dan minimnya rekayasa keselamatan. Tanjakan Emen pada akhirnya bukan sekadar legenda, tapi potret klasik negeri ini: di mana mitos, infrastruktur rapuh, dan kelalaian berkumpul, lalu meminta tumbal nyawa manusia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)