DAMRI Bukan Bus Sultan, tapi Padat Merayap seperti Cintaku Padamu

5 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
DAMRI Bukan Bus Sultan, Tapi Padat Merayap Seperti Cintaku Padamu (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
DAMRI Bukan Bus Sultan, Tapi Padat Merayap Seperti Cintaku Padamu (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Kalau kamu pernah kuliah di UIN Bandung sekitar tahun 2006, pasti nama DAMRI bukan sekadar armada transportasi, tapi bagian dari perjalanan hidup—kadang juga perjalanan batin dan pengalaman. Bayangkan pagi-pagi buta, pukul 06.30, dengan tas punggung berisi diktat fotokopian dan harapan setipis dompet anak kos, kita berdiri di pinggir jalan menunggu bus biru legendaris itu lewat.

DAMRI, dengan tulisan gagahnya Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia, bukan kendaraan sultan. Tapi bagi mahasiswa UIN Bandung zaman itu, DAMRI adalah kendaraan penyambung cita-cita—dan kadang juga penguji kesabaran iman.

Dulu, naik DAMRI itu seperti ikut ujian tanpa kisi-kisi. Tak ada kepastian kapan datang, apakah dapat duduk, atau bahkan apakah kamu bisa masuk ke dalam. Begitu DAMRI muncul dari kejauhan, semua orang otomatis berubah jadi sprinter. Mahasiswa berjilbab, bapak-bapak kantoran, ibu-ibu pasar, semua berlomba menuju pintu bus seperti lomba azan Maghrib saat Ramadan.

“Mang, Bandung Terminal ya!” teriak seorang penumpang yang ngoprot kesang, karena habis berlari kejar kejaran dengan pintu DAMRI sambil menggenggam uang Rp1.500 lusuh. Sopirnya hanya angguk tanpa ekspresi, mungkin karena sudah hafal bahwa penumpangnya akan naik juga meski ia tak menjawab.

Bagi mahasiswa UIN 2006, DAMRI adalah kelas sosial yang merata. Di dalam bus itu, tak ada strata ekonomi, yang ada hanya strata aroma—dan sayangnya, level tertinggi biasanya berasal dari mahasiswa yang baru lari-lari dari kos dan belum sempat pakai deodorant.

Tapi begitulah keindahannya: kita berdempetan, berdiri dengan posisi miring 45 derajat, tapi tetap saling menahan agar yang lain tak jatuh ketika sopir tiba-tiba ngerem mendadak. Persaudaraan dalam sempitnya ruang dan keringat. Berimpitan hingga bikin bus DAMRI yang udah koropok itu miring ke kiri, lho.

Padat Merayap seperti Cintaku Padamu

Damri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Damri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

DAMRI 2006 itu ibarat hubungan cinta masa kuliah: penuh harapan tapi juga penuh cobaan. Kadang bus berhenti terlalu lama, kadang terlalu cepat, kadang juga mogok di tengah jalan. Namun, seberapa menyebalkan pun, tetap saja kita setia menunggu. Karena apa? Karena kita tahu, walau padat merayap, dia akan datang juga.

Seperti cinta yang sabar menunggu balasan pesan dari si dia yang “masih fokus nyusun skripsi”. Padat, tapi tetap bergerak. Lambat, tapi menuju tujuan yang sama. Pokoknya seperti cintaku padamu, semuanya serba telat: eh kena salip orang lain.

Bahkan ada momen romantis terselubung di DAMRI. Di tengah desakan penumpang, tanganmu tak sengaja menyentuh jemari seseorang. Mata saling bertemu, lalu salah satu tersenyum gugup. Tidak ada yang tahu namanya, tapi selama perjalanan, kau pura-pura tak melihat ke arah lain. Begitu turun di halte, kalian berpisah tanpa kata. Cinta sesingkat durasi DAMRI berhenti di lampu merah.

Fast forward ke tahun 2025. DAMRI sudah berubah total. Tak ada lagi drama bus keropok. Bus-nya baru, bersih, ber-AC, dan bahkan punya sistem e-ticketing. Kalau dulu harus berjuang rebutan kursi, sekarang kamu bisa duduk santai, colok charger HP, sambil update story: “Naik DAMRI, vibes-nya healing banget.”

Harga tiket pun tetap terjangkau, tapi fasilitasnya naik kelas. DAMRI kini bukan hanya sarana transportasi, tapi simbol kemajuan layanan publik. Ada Wi-Fi gratis (kadang cuma kuat buat buka Google, tapi tetap lumayan), kursi empuk, dan sopir yang berkemeja rapi, bukan lagi dengan kaus oblong bertuliskan “Metallica” yang sudah pudar.

Namun, di balik kenyamanan itu, ada rasa rindu yang sulit dijelaskan. Rindu pada masa ketika naik DAMRI adalah petualangan, bukan sekadar perjalanan. Ketika setiap desakan menjadi cerita, setiap rem mendadak jadi kenangan.

Dari DAMRI ke Diri Sendiri

Bus DAMRI tahun 1960-an. (Sumber: damri.co.id)
Bus DAMRI tahun 1960-an. (Sumber: damri.co.id)

Kadang, saya berpikir: mungkin hidup ini seperti DAMRI. Ada masa-masa sesak, di mana kita nyaris tak bisa bernapas. Ada pula masa lega, ketika kita bisa duduk dan menikmati pemandangan. Tapi mau sempit atau lapang, yang penting kita tetap bergerak ke arah tujuan.

Mahasiswa 2006 yang dulu berdiri berdesakan di DAMRI kini mungkin sudah jadi dosen, ASN, pebisnis, atau orang tua yang antar anaknya ke sekolah pakai mobil pribadi. Tapi setiap kali melihat DAMRI melintas, ada sensasi hangat di dada—sebuah nostalgia tentang masa ketika hidup sederhana tapi penuh makna. Tak terasa air mata bercucuran karena kenangan si dia yang menggenang.

Mungkin dulu kita tidak sadar, bahwa di dalam bus penuh sesak itu, kita sedang belajar hal-hal penting: kesabaran, empati, dan kemampuan untuk tetap tertawa di tengah tekanan. Hal-hal yang tidak diajarkan di ruang kuliah, tapi justru diajarkan oleh ruang sempit DAMRI.

Kini Bandung sudah berubah. Terminal Cicaheum yang dulu ramai kini lebih tertata. Jalur UIN—Cibiru tak lagi dipenuhi debu dan klakson tiada henti. Semua berubah, hanya satu yang tak berubah: kemacetan.

Tapi DAMRI tetap setia menjadi saksi perubahan zaman. Kalau dulu bus ini identik dengan suara mesin berat dan jendela yang tak bisa ditutup rapat, kini ia meluncur tenang dengan body aerodinamis. Tapi tak peduli se-modern apa pun, DAMRI tetap menyimpan aroma nostalgia yang tak tergantikan.

Sebuah lagu nostalgia mungkin tepat menggambarkannya: “Yang dulu pernah ada, takkan terganti walau berbeda rupa.”

Jadi, jika ada yang bertanya, apakah DAMRI itu kendaraan sultan? Tentu tidak. Tapi bagi kami, anak-anak UIN Bandung 2006, DAMRI adalah kendaraan kenangan. Ia mengajarkan bahwa perjalanan paling bermakna bukan yang paling nyaman, tapi yang paling kita ingat.

Tetiba saja terbayang, kalau hari ini saya naik DAMRI modern dengan AC dingin dan kursi empuk, tetap saja di hati saya terngiang suara kernet zaman dulu: “Ayo cepet naik, belakang masih kosong!” Sebuah kalimat sederhana yang entah kenapa terasa lebih hangat daripada notifikasi saldo e-wallet. Karena, bagi saya DAMRI bukan sekadar bus. Ia adalah pengingat bahwa meski padat merayap, hidup—seperti cintaku padamu—tetap bergerak maju. Semangat kakak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 20:01

Ketika Gelombang Radio Menyatukan Ribuan Fans Iwan Fals

Ganesha Iwan Fals (GIF), program legendaris Radio Ganesha Bandung yang diasuh penyiar karismatik Kang Denny GIF.

Tim pengisi acara Ganesha Iwan Fals berkunjung ke kediaman Iwan Fals di Cipanas, Puncak. Dari kiri ke kanan: Arif (GIF), Denny GIF (penyiar Radio Ganesha Bandung), Iwan Fals, dan Bram (sahabat karib Iwan Fals dari Bandung). (Foto: Kemal Ferdiansyah)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!