Dari Bus DAMRI hingga Angkot Ngetem, Jejak Sejarah Panjang Transportasi Umum Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 25 Sep 2025, 11:12 WIB
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Kota Bandung yang kini dikenal sebagai kota kreatif penuh kafe dan macetnya tak kenal ampun, punya kisah panjang soal transportasi umum. Jauh sebelum warganya berkutat dengan tarif angkot yang suka naik sepihak atau bus DAMRI yang penuh sesak di jam sibuk, Bandung hanya mengenal jalan setapak dan tandu. Di abad ke-18, jalanan di Bandung lebih mirip jalur hiking daripada jalan raya. Orang-orang diangkut dengan tandu, kerbau, kuda, atau pikulan. Menurut Album Bandoeng Tempoe Doeloe karya Sudarsono Katam dan Lulus Abadi, sekitar tahun 1740-an, alat transportasi sehari-hari masih sebatas tenaga hewan dan otot manusia.

Baru pada awal abad ke-19, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels datang dengan ide brilian: membangun Jalan Raya Pos atau Grote Postweg pada 1810. Jalan lurus nan legendaris ini membentang dari Anyer sampai Panarukan, termasuk melintas di Bandung. Daendels mungkin tidak memikirkan macetnya Bandung di masa depan, tapi jalan itu jadi pondasi lahirnya mobilitas modern di tatar Priangan.

Jelang akhir abad ke-19, warga Bandung mulai mengenal sepeda—disebut “kereta angin”. Bayangkan betapa gagahnya orang Belanda bersepeda di tengah perkebunan teh. Namun urusan transportasi umum, pemerintah kolonial lebih serius membangun rel kereta api. Jalur Bandung–Batavia diresmikan 1884, menghubungkan ibu kota dengan Priangan. Kereta api menjadi sarana utama mobilitas antarkota, sementara transportasi dalam kota masih bergantung pada delman dan kereta kuda.

Baca Juga: Sejarah DAMRI, Bus Jagoan Warga Bandung

Setelah Indonesia merdeka, bus mulai masuk panggung utama. Tahun 1946, pemerintah membentuk Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI). Di Bandung, DAMRI jadi andalan transportasi umum sejak 1950-an. Terminal-terminal bus bermunculan, dari Buahbatu dekat Gedung Merdeka hingga Dago. Bus jadi arena sosial mini: pagi-pagi diisi pegawai negeri, tentara, mahasiswa, dan tukang sayur. Tak ada kelas sosial, semua duduk (atau berdiri) berdempetan.

Tahun 1960-an, Bandung sempat jadi panggung eksperimen bus impor. DAMRI mendatangkan bus Ikarus dari Uni Soviet. Busnya gagah, tapi masalahnya sederhana: suku cadangnya tidak sampai. Begitu hubungan diplomatik dengan Uni Soviet macet gegara G30S meletus, bus Ikarus pun ikut mogok. Akhirnya mereka jadi besi tua sebelum waktunya.

Baru pada 1978 pemerintah kota memberi mandat resmi kepada DAMRI sebagai operator bus kota. Lewat SK Walikota Bandung No. 10/85/1978, DAMRI menggantikan moda roda tiga alias bemo. Awalnya armada bus Tata asal India yang diandalkan, tapi tak lama bus-bus itu pensiun dini. Tahun 1980-an, DAMRI mendatangkan Mercy 1113, bus legendaris yang jadi tulang punggung transportasi kota selama satu dekade.

Di masa jayanya, DAMRI Bandung mengoperasikan lebih dari 200 armada dengan 15 trayek. Sopir dan kondektur jadi duet maut: sopir fokus mengemudi, kondektur sibuk merobek karcis. Konon, di jam sibuk pagi dan sore, bus bisa penuh sampai tak ada ruang gerak. Orang Bandung zaman itu harus pandai “ngaplok” alias menyelinap ke sela penumpang agar bisa ikut naik.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Kehadiran Angkot, Sang Raja Jalanan Bandung

Di sela kejayaan bus, muncul moda kecil nan lincah: angkot. Nama resminya “angkutan kota”, tapi semua orang lebih suka menyebutnya angkot. Awalnya, angkot bermula dari oplet dan mikrobus yang dimodifikasi. Fungsi utamanya sederhana: mengantar penumpang ke pelosok yang tak terjangkau bus besar. Angkot jadi primadona sejak 1980-an, terutama karena sifatnya yang fleksibel, atau dalam bahasa sehari-hari: bisa berhenti sesuka hati.

Tak ada halte resmi yang benar-benar ditaati, karena bagi angkot, setiap trotoar adalah terminal. Sopir angkot dikenal jago “ngetem”, menunggu penumpang hingga penuh sambil memandangi jalan dengan tatapan penuh harap. Penumpang pun sudah maklum, toh tarifnya murah dan angkot bisa masuk gang sempit sekalipun.

Baca Juga: Bandung Teknopolis di Gedebage, Proyek Gagal yang Tinggal Sejarah

Sejak 1970-an, wajah transportasi Bandung didominasi angkot. Uniknya, kehadiran angkot bukan hasil kebijakan pemerintah, melainkan inisiatif masyarakat dan dealer mobil. Dealer-dealer inilah yang membaca potensi jalur, lalu mengajukan izin trayek, misalnya Kalapa–Dago atau Kalapa–Ledeng. Akibatnya, sejak awal 1990-an hingga 2000, satu trayek identik dengan warna angkot hijau yang dikendalikan dealer.

Dominasi angkot makin terasa ketika Damri masuk lagi pada 1980-an. Meski Damri melayani jalur utama, angkot justru mengisi sisanya hingga merajai jalan-jalan Bandung. Fenomena ini membentuk sistem transportasi yang unik: angkot menjadi tulang punggung mobilitas warga, sekaligus menandai ketergantungan kota pada moda berbasis kendaraan kecil. Hingga kini, angkot tetap menjadi warna khas lalu lintas Bandung.

Di masa jayanya pada 1970-an hingga awal 2000-an, angkot menjadi tulang punggung mobilitas kota: menjangkau gang-gang sempit, mengisi kekosongan layanan bus, dan dikenal lewat warna-warna serta rute khasnya yang melekat di memori warga. Namun sejak awal abad ke-21 angkot menghadapi tekanan berlapis—ledakan kepemilikan kendaraan pribadi, buruknya kondisi layanan dan peremajaan armada, serta munculnya pesaing baru seperti ojek dan taksi online membuat daya saing angkot menurun dan banyak trayek yang kehilangan penumpang tetap.

Salah satu angkot berwarna hijau melintas di jalanan umum Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Salah satu angkot berwarna hijau melintas di jalanan umum Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Problem klasik angkot juga tak jauh dari tarif. Biaya menaiki angkot terbar seiring inflasi. Kedengarannya kecil, tapi bagi mahasiswa atau pelajar yang naik angkot dua kali sehari, kenaikan itu bikin kantong kering. Lebih parah lagi, ada sopir yang menaikkan tarif seenaknya di luar aturan resmi.

Selain tarif, kenyamanan juga jadi isu uama. Banyak angkot yang sudah uzur, AC hanya ada dalam mimpi, kursi reyot, dan pintu sering macet. Belum lagi aksi ngetem yang bikin macet jalan utama. Dishub Kota Bandung berkali-kali mencoba memaksa angkot masuk terminal, tapi sopir tetap lebih suka berhenti di pinggir jalan strategis.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Ojek Online dan Bus Rapid Transit Bandung

Pada era 2000-an, Bandung makin padat kendaraan pribadi. Motor dan mobil tumpah ruah di jalan. Bus besar makin susah melaju, sementara angkot semakin liar. Untuk menata ulang, pemerintah meluncurkan Trans Metro Bandung (TMB) sebagai versi “Busway ala Bandung”. Bus koridor ini diharapkan jadi solusi, tapi implementasinya sering tersendat.

Di sisi lain, transportasi daring muncul. Ojek online dan taksi online jadi pesaing berat angkot. Banyak warga lebih memilih naik ojol ketimbang berdesakan di angkot yang ngetem lama. Juli 2025, Kepala Dinas Perhubungan Bandung menyatakan sistem trayek angkot akan diubah agar tetap relevan di era digital, meski tidak dihapus total.

Ojek online menjadi salah satu moda transportasi andalan warga Bandung zaman kiwari. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ojek online menjadi salah satu moda transportasi andalan warga Bandung zaman kiwari. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Sejarah sistem bus di Bandung Raya selalu diwarnai tarik ulur antara harapan modernisasi transportasi dan kenyataan di lapangan. Pada awalnya, pemerintah kota mencoba menghadirkan TMB sekitar 2009–2010 sebagai versi lokal bus rapid transit (BRT). TMB diproyeksikan jadi bus rapid transit (BRT) lokal: punya halte khusus, rute tetap, dan tarif standar. Singkat kata, Bandung ingin menyalin Jakarta.

Sayangnya, cita-cita sering kali tumbang di aspal. TMB tak punya jalur khusus, armadanya pun bisa dihitung dengan jari. Warga lebih nyaman naik angkot yang bisa berhenti di mana saja, bahkan di depan pintu rumah kalau sopirnya baik hati. TMB akhirnya tinggal nama: sekadar proyek yang terdengar gagah di awal, tapi meredup tak lama berselang. Sampai kini memang masih ada beberapa bus TMB tersisa, tapi lebih mirip hantu di jalanan—ada, tapi jarang kelihatan.

Pemerintah pusat tampaknya tak rela Bandung gagal begitu saja. Lewat Kementerian Perhubungan, mereka melempar proyek baru bernama Trans Metro Pasundan (TMP) pada 2021–2022. Kali ini bukan hanya Kota Bandung yang kena imbas, melainkan seluruh Bandung Raya, bahkan sampai Sumedang. Busnya lebih modern, halte-haltenya dibangun dengan gaya BRT, dan tarifnya disubsidi. Bedanya dengan TMB: inisiatifnya datang dari Jakarta, bukan dari Balai Kota.

Tapi, TMP pun masih setengah hati. Branding kurang menancap, integrasi dengan angkot nyaris tak ada. Pemerintah daerah tak lebih dari figuran, sementara Kemenhub jadi dalang utama. Meski begitu, TMP semacam pondasi, semacam batu bata pertama, yang kelak disusun ulang oleh pemerintah provinsi.

Baca Juga: Sejarah Hari Jadi Kota Bandung, Kenapa 25 September?

Pada akhir 2024, babak baru dimulai. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memutuskan merombak TMP habis-habisan. Mereka menamainya Metro Jabar Trans (MJT), berlaku per 1 Januari 2025. Kali ini pengelolaan diserahkan ke BUMD PT Jasa Sarana. Operatornya tetap campuran: swasta dan BUMN, termasuk Perum DAMRI.

MJT sejak awal diproyeksikan lebih serius. Enam koridor langsung digas: Leuwipanjang–Soreang, Kota Baru Parahyangan–Alun-alun Bandung, BEC–Baleendah, Leuwipanjang–Dago, Dago–Jatinangor, dan Leuwipanjang–Majalaya. Targetnya: 21 koridor pada 2027. Tarif pun ramah kantong: Rp4.900 untuk umum, Rp2.000 untuk pelajar dan lansia. Seakan Pemprov ingin bilang: ini transportasi untuk rakyat, bukan sekadar proyek.

Di tengah transformasi ini, orang bertanya: ke mana DAMRI? BUMN legendaris ini sejak lama setia wara-wiri di Bandung, dari trayek antarkota hingga dalam kota. DAMRI pula yang pertama menguji coba bus listrik di kota ini. Tapi dalam kerangka MJT, DAMRI bukan lagi penguasa panggung, melainkan salah satu pemain. Ia kini hanya operator, bukan pemilik sistem. Perannya bergeser, meski eksistensinya tetap ada. DAMRI jalan terus di trayek non-BRT, sembari melayani sebagian rute MJT.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)