Dari Bus DAMRI hingga Angkot Ngetem, Jejak Sejarah Panjang Transportasi Umum Bandung

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Sopir angkot trayek Cicaheum-Ciroyom saat menunggu kedatangan penumpang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Kota Bandung yang kini dikenal sebagai kota kreatif penuh kafe dan macetnya tak kenal ampun, punya kisah panjang soal transportasi umum. Jauh sebelum warganya berkutat dengan tarif angkot yang suka naik sepihak atau bus DAMRI yang penuh sesak di jam sibuk, Bandung hanya mengenal jalan setapak dan tandu. Di abad ke-18, jalanan di Bandung lebih mirip jalur hiking daripada jalan raya. Orang-orang diangkut dengan tandu, kerbau, kuda, atau pikulan. Menurut Album Bandoeng Tempoe Doeloe karya Sudarsono Katam dan Lulus Abadi, sekitar tahun 1740-an, alat transportasi sehari-hari masih sebatas tenaga hewan dan otot manusia.

Baru pada awal abad ke-19, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels datang dengan ide brilian: membangun Jalan Raya Pos atau Grote Postweg pada 1810. Jalan lurus nan legendaris ini membentang dari Anyer sampai Panarukan, termasuk melintas di Bandung. Daendels mungkin tidak memikirkan macetnya Bandung di masa depan, tapi jalan itu jadi pondasi lahirnya mobilitas modern di tatar Priangan.

Jelang akhir abad ke-19, warga Bandung mulai mengenal sepeda—disebut “kereta angin”. Bayangkan betapa gagahnya orang Belanda bersepeda di tengah perkebunan teh. Namun urusan transportasi umum, pemerintah kolonial lebih serius membangun rel kereta api. Jalur Bandung–Batavia diresmikan 1884, menghubungkan ibu kota dengan Priangan. Kereta api menjadi sarana utama mobilitas antarkota, sementara transportasi dalam kota masih bergantung pada delman dan kereta kuda.

Baca Juga: Sejarah DAMRI, Bus Jagoan Warga Bandung

Setelah Indonesia merdeka, bus mulai masuk panggung utama. Tahun 1946, pemerintah membentuk Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI). Di Bandung, DAMRI jadi andalan transportasi umum sejak 1950-an. Terminal-terminal bus bermunculan, dari Buahbatu dekat Gedung Merdeka hingga Dago. Bus jadi arena sosial mini: pagi-pagi diisi pegawai negeri, tentara, mahasiswa, dan tukang sayur. Tak ada kelas sosial, semua duduk (atau berdiri) berdempetan.

Tahun 1960-an, Bandung sempat jadi panggung eksperimen bus impor. DAMRI mendatangkan bus Ikarus dari Uni Soviet. Busnya gagah, tapi masalahnya sederhana: suku cadangnya tidak sampai. Begitu hubungan diplomatik dengan Uni Soviet macet gegara G30S meletus, bus Ikarus pun ikut mogok. Akhirnya mereka jadi besi tua sebelum waktunya.

Baru pada 1978 pemerintah kota memberi mandat resmi kepada DAMRI sebagai operator bus kota. Lewat SK Walikota Bandung No. 10/85/1978, DAMRI menggantikan moda roda tiga alias bemo. Awalnya armada bus Tata asal India yang diandalkan, tapi tak lama bus-bus itu pensiun dini. Tahun 1980-an, DAMRI mendatangkan Mercy 1113, bus legendaris yang jadi tulang punggung transportasi kota selama satu dekade.

Di masa jayanya, DAMRI Bandung mengoperasikan lebih dari 200 armada dengan 15 trayek. Sopir dan kondektur jadi duet maut: sopir fokus mengemudi, kondektur sibuk merobek karcis. Konon, di jam sibuk pagi dan sore, bus bisa penuh sampai tak ada ruang gerak. Orang Bandung zaman itu harus pandai “ngaplok” alias menyelinap ke sela penumpang agar bisa ikut naik.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Kehadiran Angkot, Sang Raja Jalanan Bandung

Di sela kejayaan bus, muncul moda kecil nan lincah: angkot. Nama resminya “angkutan kota”, tapi semua orang lebih suka menyebutnya angkot. Awalnya, angkot bermula dari oplet dan mikrobus yang dimodifikasi. Fungsi utamanya sederhana: mengantar penumpang ke pelosok yang tak terjangkau bus besar. Angkot jadi primadona sejak 1980-an, terutama karena sifatnya yang fleksibel, atau dalam bahasa sehari-hari: bisa berhenti sesuka hati.

Tak ada halte resmi yang benar-benar ditaati, karena bagi angkot, setiap trotoar adalah terminal. Sopir angkot dikenal jago “ngetem”, menunggu penumpang hingga penuh sambil memandangi jalan dengan tatapan penuh harap. Penumpang pun sudah maklum, toh tarifnya murah dan angkot bisa masuk gang sempit sekalipun.

Baca Juga: Bandung Teknopolis di Gedebage, Proyek Gagal yang Tinggal Sejarah

Sejak 1970-an, wajah transportasi Bandung didominasi angkot. Uniknya, kehadiran angkot bukan hasil kebijakan pemerintah, melainkan inisiatif masyarakat dan dealer mobil. Dealer-dealer inilah yang membaca potensi jalur, lalu mengajukan izin trayek, misalnya Kalapa–Dago atau Kalapa–Ledeng. Akibatnya, sejak awal 1990-an hingga 2000, satu trayek identik dengan warna angkot hijau yang dikendalikan dealer.

Dominasi angkot makin terasa ketika Damri masuk lagi pada 1980-an. Meski Damri melayani jalur utama, angkot justru mengisi sisanya hingga merajai jalan-jalan Bandung. Fenomena ini membentuk sistem transportasi yang unik: angkot menjadi tulang punggung mobilitas warga, sekaligus menandai ketergantungan kota pada moda berbasis kendaraan kecil. Hingga kini, angkot tetap menjadi warna khas lalu lintas Bandung.

Di masa jayanya pada 1970-an hingga awal 2000-an, angkot menjadi tulang punggung mobilitas kota: menjangkau gang-gang sempit, mengisi kekosongan layanan bus, dan dikenal lewat warna-warna serta rute khasnya yang melekat di memori warga. Namun sejak awal abad ke-21 angkot menghadapi tekanan berlapis—ledakan kepemilikan kendaraan pribadi, buruknya kondisi layanan dan peremajaan armada, serta munculnya pesaing baru seperti ojek dan taksi online membuat daya saing angkot menurun dan banyak trayek yang kehilangan penumpang tetap.

Salah satu angkot berwarna hijau melintas di jalanan umum Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Salah satu angkot berwarna hijau melintas di jalanan umum Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Problem klasik angkot juga tak jauh dari tarif. Biaya menaiki angkot terbar seiring inflasi. Kedengarannya kecil, tapi bagi mahasiswa atau pelajar yang naik angkot dua kali sehari, kenaikan itu bikin kantong kering. Lebih parah lagi, ada sopir yang menaikkan tarif seenaknya di luar aturan resmi.

Selain tarif, kenyamanan juga jadi isu uama. Banyak angkot yang sudah uzur, AC hanya ada dalam mimpi, kursi reyot, dan pintu sering macet. Belum lagi aksi ngetem yang bikin macet jalan utama. Dishub Kota Bandung berkali-kali mencoba memaksa angkot masuk terminal, tapi sopir tetap lebih suka berhenti di pinggir jalan strategis.

Baca Juga: Sejarah Stadion GBLA, Panggung Kontroversi yang Hampir Dinamai Gelora Dada Rosada

Ojek Online dan Bus Rapid Transit Bandung

Pada era 2000-an, Bandung makin padat kendaraan pribadi. Motor dan mobil tumpah ruah di jalan. Bus besar makin susah melaju, sementara angkot semakin liar. Untuk menata ulang, pemerintah meluncurkan Trans Metro Bandung (TMB) sebagai versi “Busway ala Bandung”. Bus koridor ini diharapkan jadi solusi, tapi implementasinya sering tersendat.

Di sisi lain, transportasi daring muncul. Ojek online dan taksi online jadi pesaing berat angkot. Banyak warga lebih memilih naik ojol ketimbang berdesakan di angkot yang ngetem lama. Juli 2025, Kepala Dinas Perhubungan Bandung menyatakan sistem trayek angkot akan diubah agar tetap relevan di era digital, meski tidak dihapus total.

Ojek online menjadi salah satu moda transportasi andalan warga Bandung zaman kiwari. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ojek online menjadi salah satu moda transportasi andalan warga Bandung zaman kiwari. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Sejarah sistem bus di Bandung Raya selalu diwarnai tarik ulur antara harapan modernisasi transportasi dan kenyataan di lapangan. Pada awalnya, pemerintah kota mencoba menghadirkan TMB sekitar 2009–2010 sebagai versi lokal bus rapid transit (BRT). TMB diproyeksikan jadi bus rapid transit (BRT) lokal: punya halte khusus, rute tetap, dan tarif standar. Singkat kata, Bandung ingin menyalin Jakarta.

Sayangnya, cita-cita sering kali tumbang di aspal. TMB tak punya jalur khusus, armadanya pun bisa dihitung dengan jari. Warga lebih nyaman naik angkot yang bisa berhenti di mana saja, bahkan di depan pintu rumah kalau sopirnya baik hati. TMB akhirnya tinggal nama: sekadar proyek yang terdengar gagah di awal, tapi meredup tak lama berselang. Sampai kini memang masih ada beberapa bus TMB tersisa, tapi lebih mirip hantu di jalanan—ada, tapi jarang kelihatan.

Pemerintah pusat tampaknya tak rela Bandung gagal begitu saja. Lewat Kementerian Perhubungan, mereka melempar proyek baru bernama Trans Metro Pasundan (TMP) pada 2021–2022. Kali ini bukan hanya Kota Bandung yang kena imbas, melainkan seluruh Bandung Raya, bahkan sampai Sumedang. Busnya lebih modern, halte-haltenya dibangun dengan gaya BRT, dan tarifnya disubsidi. Bedanya dengan TMB: inisiatifnya datang dari Jakarta, bukan dari Balai Kota.

Tapi, TMP pun masih setengah hati. Branding kurang menancap, integrasi dengan angkot nyaris tak ada. Pemerintah daerah tak lebih dari figuran, sementara Kemenhub jadi dalang utama. Meski begitu, TMP semacam pondasi, semacam batu bata pertama, yang kelak disusun ulang oleh pemerintah provinsi.

Baca Juga: Sejarah Hari Jadi Kota Bandung, Kenapa 25 September?

Pada akhir 2024, babak baru dimulai. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memutuskan merombak TMP habis-habisan. Mereka menamainya Metro Jabar Trans (MJT), berlaku per 1 Januari 2025. Kali ini pengelolaan diserahkan ke BUMD PT Jasa Sarana. Operatornya tetap campuran: swasta dan BUMN, termasuk Perum DAMRI.

MJT sejak awal diproyeksikan lebih serius. Enam koridor langsung digas: Leuwipanjang–Soreang, Kota Baru Parahyangan–Alun-alun Bandung, BEC–Baleendah, Leuwipanjang–Dago, Dago–Jatinangor, dan Leuwipanjang–Majalaya. Targetnya: 21 koridor pada 2027. Tarif pun ramah kantong: Rp4.900 untuk umum, Rp2.000 untuk pelajar dan lansia. Seakan Pemprov ingin bilang: ini transportasi untuk rakyat, bukan sekadar proyek.

Di tengah transformasi ini, orang bertanya: ke mana DAMRI? BUMN legendaris ini sejak lama setia wara-wiri di Bandung, dari trayek antarkota hingga dalam kota. DAMRI pula yang pertama menguji coba bus listrik di kota ini. Tapi dalam kerangka MJT, DAMRI bukan lagi penguasa panggung, melainkan salah satu pemain. Ia kini hanya operator, bukan pemilik sistem. Perannya bergeser, meski eksistensinya tetap ada. DAMRI jalan terus di trayek non-BRT, sembari melayani sebagian rute MJT.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Biz 31 Agu 2026, 19:02

Dua Wajah Paten UMKM Bandung, Dua Jalan Berbeda untuk Naik Kelas di Pasar Digital

Kisah kontras Koku Footwear dan Dimsum Inmons, dua UMKM Bandung yang sama-sama tumbuh lewat Shopee namun dengan tingkat ketergantungan yang jauh berbeda.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin (pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear) dan Ani Andriyani (pemilik Dimsum Inmons). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)