Sejarah Soreang dari Tapak Pengelana hingga jadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Menara Sabilulunga, salah satu ikon baru Soreang. (Sumber: Wikimedia)
Menara Sabilulunga, salah satu ikon baru Soreang. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Di antara lipatan pegunungan Bandung bagian selatan terdapat sebuah dataran yang konon katanya sejak lama menjadi tempat singgah para pejalan yang haus, lelah, atau hanya ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk dataran utara. Dataran itu berada pada ketinggian yang cukup untuk membuat orang ingin membuka jaket pada siang hari dan mengenakannya kembali menjelang sore. Dari titik ini mata dapat melayang jauh memandang gunung yang berdiri melingkari kawasan.

Gunung Malabar membentang dengan dada yang seperti sengaja diperluas Tuhan. Gunung Tilu tampak seperti barisan prajurit yang sedang berlatih. Gunung Burangrang dengan lembahnya yang curam diapit oleh bukit yang seolah dirajut dari benang hijau. Di ujung timur tampak Tangkubanparahu dengan bentuk yang mengingatkan orang pada kapal yang telat diselamatkan. Bukit Tunggul menjulang sebagai titik tertinggi di barisan itu. Lamat lamat jauh di timur laut berdiri Manglayang seperti punggung raksasa yang sedang tidur.

Inilah Soreang. Nama yang menurut sejumlah risalah akarnya berasal dari kata nyoreang. Artinya kurang lebih adalah tindakan menoleh ke belakang. Ada banyak cara menjelaskan ini. Cara pertama ialah menyebutnya sebagai bentuk kontemplatif. Cara kedua, yang lebih membumi, adalah menyebutnya sebagai refleks alami para pengelana yang selalu ingin memastikan tidak ada hal mencurigakan mengikuti dari belakang. Manusia pada masa lalu tampaknya lebih waspada daripada kita yang hidup di masa kota besar dengan kamera dan satpam tetapi tetap panik saat ponsel hilang lima menit.

Baca Juga: Sejarah Priangan Sebelum Kompeni Datang, Hidup Bersahaja di Tengah Hutan dan Sawah

Soreang dulu adalah pangauban. Tempat berhenti. Area istirahat sebelum orang naik ke perbukitan atau turun ke dataran yang lebih rendah. Orang melepas lelah sambil melihat sekeliling pada hamparan pegunungan. Ada mata air yang keluar dari tekuk lereng tempat air tanah mengucur dari tubuh gunung yang tinggi. Para pejalan dapat mencuci muka atau pikiran sekalian. Dari sini mereka dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit kecil yang sunyi dan mempesona.

Di punggung Gunung Sadu pada ketinggian sembilan ratus lebih sedikit terdapat jejak megalitik berupa punden berundak. Bentuknya setengah lingkaran menghadap ke arah matahari yang rajin muncul pada pagi hari. Orang orang pada masa dulu tampaknya ingin memastikan bahwa doa pagi mereka tidak lupa diarahkan ke sumber cahaya. Ini menandai bahwa Soreang telah menjadi kawasan penting jauh sebelum penanda sejarah resmi dicatat.

Selain menjadi titik persinggahan yang damai dengan panorama yang memikat, kawasan ini juga pernah menjadi wilayah pertahanan Dipati Ukur. Nama itu selalu muncul dalam kisah perlawanan Sunda terhadap kekuatan kolonial. Jadi Soreang bukan hanya soal pemandangan indah dan mata air yang jernih. Ia juga pernah menjadi panggung perlawanan yang keras kepala.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Jejak Kolonial Kopo Kereta dan Soreang yang Berubah Wajah

Ketika pemerintahan kolonial memasukkan Priangan dalam sistem administrasinya, Soreang memasuki fase baru. Pada masa itu nama yang lebih populer adalah Kopo. Diambil dari nama salah satu kampung yang sekarang termasuk wilayah Kutawaringin. Nama Kopo kemudian merembes menjadi penanda jalan panjang dari Kota Bandung sampai ke arah selatan.

Orang Belanda menyukai segala hal yang berbau keteraturan.

Ketika perkebunan teh dan kina berkembang di Pangalengan dan Ciwidey, Belanda membutuhkan cara yang lebih efisien untuk membawa hasil panen ke Bandung. Gerobak yang ditarik sapi tidak cukup cepat, tidak cukup efisien, dan terlalu mahal. Maka mereka melakukan apa yang biasa dilakukan pemerintah di seluruh dunia ketika dihadapkan pada masalah transportasi. Mereka membangun jalur kereta.

Rute tramway dari Bandung menuju Ciwidey mulai dibahas pada 1918. Surat kabar kolonial mencatat bahwa pembangunan dimulai pada 1919. Desain rute tramway ini membentang dari Karees, menyeberangi Banjaran, lalu masuk Soreang hingga mencapai Ciwidey. Bagian Bandung Kopo, yang melewati Soreang, dibuka pada 1921. Jalur hingga Ciwidey menyusul pada 1924. Biayanya menembus 1,7 juta gulden Hindia Belanda.

Baca Juga: Hikayat Ledeng Bandung, Jejak Keselip Lidah di Kawasan Kota Pipa Kolonial

Jembatan kereta Soreang-Ciwidey. (Sumber: KITLV)
Jembatan kereta Soreang-Ciwidey. (Sumber: KITLV)

Kereta itu menjadi urat nadi ekonomi selatan Bandung. Soreang yang dulu lebih tenang kemudian mulai ramai. Stasiun-stasiun kecil bermunculan. Hasil kebun diangkut. Orang-orang bepergian. Namun teknologi yang dianggap futuristis pada awal abad dua puluh ini perlahan kalah dengan mobil pribadi dan angkutan umum. Pada 1982, kereta Soreang Ciwidey berhenti beroperasi. Relnya kemudian menjadi jalur kenangan yang tak lagi berfungsi selain sebagai latar foto generasi masa kini.

Saat republik berdiri pada 1945, Soreang kembali menjadi titik penting. Ketika Sekutu dan NICA berusaha mengambil kembali kekuasaan, Bandung menjadi kota penuh ketegangan. Ultimatum dikeluarkan, pasukan republik diminta mundur dari Bandung Selatan. Keputusan dramatis diambil pada Maret 1946. Bandung Selatan dibakar agar tidak jatuh sepenuhnya ke tangan musuh. Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling heroik dalam sejarah kota itu.

Ketika api melumat rumah dan bangunan, arus manusia bergerak ke selatan. Soreang menjadi jalur evakuasi besar besaran. Ribuan orang melewatinya untuk mengarah ke pegunungan. Para pejuang kemudian bertahan di wilayah selatan Sungai Citarum, termasuk di sekitar Soreang, dari mana mereka terus melakukan operasi gerilya. Soreang tidak hanya menjadi tempat lewat. Ia menjadi bagian dari medan perlawanan.

Baca Juga: Hikayat Buahbatu, Gerbang Kunci Penghubung Bandung Selatan dan Utara

Dari Drama Pemindahan Ibu Kota sampai Transformasi Kota Baru

Setelah masa bergolak berlalu dan struktur kolonial ditinggalkan, Soreang menjadi kecamatan. Status baru ini menjadi pintu masuk ke fase administratif berikutnya yang lebih dramatis.

Pada dekade 1970-an, pemerintah Kabupaten Bandung mulai kewalahan karena Kota Bandung semakin berkembang sebagai pusat provinsi sekaligus tetap menjadi lokasi kantor pemerintahan kabupaten. Dua fungsi besar itu membuat kota menjadi terlalu padat, baik secara fisik maupun administratif.

Sejak era kolonial hingga pertengahan abad ke-20, ibu kota Kabupaten Bandung berada di wilayah yang kini menjadi Kota Bandung, tepatnya sekitar Alun-Alun dan Jalan Dalem Kaum. Kantor bupati, pendopo, hingga DPRD Kabupaten Bandung masih berkedudukan di pusat kota hingga 1970-an, meski Kota Bandung telah menjadi kotamadya otonom sejak 1906 dan semakin mandiri pasca-kemerdekaan.

Karena itu, pada era Bupati Lily Sumantri , muncul rencana pemindahan ke Baleendah yang dekat Dayeuhkolot dan Bojongsoang. Peletakan batu pertama kompleks pemerintahan baru di Baleendah dilakukan pada 20 April 1974 bertepatan Hari Jadi Kabupaten Bandung ke-333.

Tapi rencana itu lantas kandas. Soalnya, Baleendah terlalu rendah dan rawan banjir besar Sungai Citarum. Banjir besar datang dan menghanyutkan ambisi itu. Baleendah terbukti tidak aman. Program yang sudah berjalan bertahun tahun harus dihentikan. Pemerintah kemudian mencari lokasi lain yang lebih aman, lebih tinggi, dan lebih stabil secara geologi. Soreang muncul sebagai kandidat kuat. Keputusannya diformalkan melalui Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1986.

Pada 1987, pembangunan kompleks perkantoran di Desa Pamekaran dimulai. Lahan seluas dua puluh empat hektare disiapkan. Arsitekturnya dibuat dengan sentuhan gaya Priangan. Dipadukan dengan konsep modern. Pembangunan berlangsung selama beberapa tahun hingga akhirnya rampung pada awal 1990an. Banyak yang menyebut komplek ini sebagai salah satu komplek perkantoran termegah di Jawa Barat pada masanya.

Gedung Bupati Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Gedung Bupati Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Walaupun status ibu kota sudah ditetapkan sejak 1986, aktivitas pemerintahan baru berjalan penuh setelah tahun 2000 ketika bupati terpilih mulai memusatkan seluruh dinas dan lembaga pemerintahan ke Soreang. Secara perlahan Soreang berubah dari wilayah yang terasa semi pedesaan menuju pusat administrasi yang sibuk. Jalan raya Kopo yang menuju Bandung kini tidak lagi dipenuhi sawah dan ladang, tetapi bangunan pemerintahan, ruko, dan permukiman baru.

Transformasi besar terjadi ketika stadion Si Jalak Harupat berdiri pada 2005. Stadion megah itu kemudian menjadi tuan rumah berbagai kejuaraan besar. Kawasan di sekelilingnya ikut tumbuh. Warga yang biasanya melihat pertandingan hanya di televisi kini bisa merasakan gemuruh suporter dari dekat. Pada PON dan Asian Games kepulan festival olahraga mencapai puncaknya. Para pedagang kecil ikut memperoleh rezeki.

Baca Juga: Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

Kemudian, Alun-alun Soreang kemudian dibangun dengan Menara Sabilulungan yang menjulang. Setiap akhir pekan, alun-alun penuh oleh keluarga, pesepeda, pedagang makanan, dan anak anak yang berlarian. Perubahan semakin cepat sejak Jalan Tol Soroja dibuka pada 2017. Waktu tempuh dari Bandung yang dahulu terasa seperti perjalanan mini safari, kini hanya sekitar sepuluh menit. Akses ke Ciwidey, Kawah Putih, dan Rancabali juga lebih mudah. Pariwisata Bandung Selatan langsung mendapat dorongan besar. Investor melirik properti. Lahan lahan yang dulu sawah kini berubah menjadi pusat komersial atau cluster perumahan.

Industri konveksi menjadi sektor yang paling terasa tumbuh. Sadu, Panyirapan, dan Karamatmulya menjelma menjadi sentra produksi pakaian skala rumahan maupun menengah. Ribuan warga menggantungkan hidup pada mesin jahit, benang, dan kain. Mereka memproduksi pakaian yang kemudian tersebar ke berbagai pasar di Jawa dan luar pulau. Ekonomi kreatif versi rumahan ini membuat Soreang punya daya tahan ekonomi yang cukup stabil.

Kendati demikian, pembangunan besar selalu membawa konsekuensi. Lahan pertanian berkurang, lalu lintas semakin padat, dan kebutuhan air meningkat. Soreang yang dulu dikenal sebagai pangauban yang teduh kini menjadi kota kecil yang terus sibuk. Namun semua kota punya perjalanan masing masing. Soreang memilih jalan perubahan yang cepat tetapi tetap berusaha menjaga identitas Priangannya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)