Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Sejarah Soreang dari Tapak Pengelana hingga jadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 21 Nov 2025, 11:17 WIB
Menara Sabilulunga, salah satu ikon baru Soreang. (Sumber: Wikimedia)

Menara Sabilulunga, salah satu ikon baru Soreang. (Sumber: Wikimedia)

AYOBANDUNG.ID - Di antara lipatan pegunungan Bandung bagian selatan terdapat sebuah dataran yang konon katanya sejak lama menjadi tempat singgah para pejalan yang haus, lelah, atau hanya ingin menenangkan diri dari hiruk pikuk dataran utara. Dataran itu berada pada ketinggian yang cukup untuk membuat orang ingin membuka jaket pada siang hari dan mengenakannya kembali menjelang sore. Dari titik ini mata dapat melayang jauh memandang gunung yang berdiri melingkari kawasan.

Gunung Malabar membentang dengan dada yang seperti sengaja diperluas Tuhan. Gunung Tilu tampak seperti barisan prajurit yang sedang berlatih. Gunung Burangrang dengan lembahnya yang curam diapit oleh bukit yang seolah dirajut dari benang hijau. Di ujung timur tampak Tangkubanparahu dengan bentuk yang mengingatkan orang pada kapal yang telat diselamatkan. Bukit Tunggul menjulang sebagai titik tertinggi di barisan itu. Lamat lamat jauh di timur laut berdiri Manglayang seperti punggung raksasa yang sedang tidur.

Inilah Soreang. Nama yang menurut sejumlah risalah akarnya berasal dari kata nyoreang. Artinya kurang lebih adalah tindakan menoleh ke belakang. Ada banyak cara menjelaskan ini. Cara pertama ialah menyebutnya sebagai bentuk kontemplatif. Cara kedua, yang lebih membumi, adalah menyebutnya sebagai refleks alami para pengelana yang selalu ingin memastikan tidak ada hal mencurigakan mengikuti dari belakang. Manusia pada masa lalu tampaknya lebih waspada daripada kita yang hidup di masa kota besar dengan kamera dan satpam tetapi tetap panik saat ponsel hilang lima menit.

Baca Juga: Sejarah Priangan Sebelum Kompeni Datang, Hidup Bersahaja di Tengah Hutan dan Sawah

Soreang dulu adalah pangauban. Tempat berhenti. Area istirahat sebelum orang naik ke perbukitan atau turun ke dataran yang lebih rendah. Orang melepas lelah sambil melihat sekeliling pada hamparan pegunungan. Ada mata air yang keluar dari tekuk lereng tempat air tanah mengucur dari tubuh gunung yang tinggi. Para pejalan dapat mencuci muka atau pikiran sekalian. Dari sini mereka dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit kecil yang sunyi dan mempesona.

Di punggung Gunung Sadu pada ketinggian sembilan ratus lebih sedikit terdapat jejak megalitik berupa punden berundak. Bentuknya setengah lingkaran menghadap ke arah matahari yang rajin muncul pada pagi hari. Orang orang pada masa dulu tampaknya ingin memastikan bahwa doa pagi mereka tidak lupa diarahkan ke sumber cahaya. Ini menandai bahwa Soreang telah menjadi kawasan penting jauh sebelum penanda sejarah resmi dicatat.

Selain menjadi titik persinggahan yang damai dengan panorama yang memikat, kawasan ini juga pernah menjadi wilayah pertahanan Dipati Ukur. Nama itu selalu muncul dalam kisah perlawanan Sunda terhadap kekuatan kolonial. Jadi Soreang bukan hanya soal pemandangan indah dan mata air yang jernih. Ia juga pernah menjadi panggung perlawanan yang keras kepala.

Baca Juga: Sejarah Kopo Bandung, Berawal dari Hikayat Sesepuh hingga Jadi Distrik Ikon Kemacetan

Jejak Kolonial Kopo Kereta dan Soreang yang Berubah Wajah

Ketika pemerintahan kolonial memasukkan Priangan dalam sistem administrasinya, Soreang memasuki fase baru. Pada masa itu nama yang lebih populer adalah Kopo. Diambil dari nama salah satu kampung yang sekarang termasuk wilayah Kutawaringin. Nama Kopo kemudian merembes menjadi penanda jalan panjang dari Kota Bandung sampai ke arah selatan.

Orang Belanda menyukai segala hal yang berbau keteraturan.

Ketika perkebunan teh dan kina berkembang di Pangalengan dan Ciwidey, Belanda membutuhkan cara yang lebih efisien untuk membawa hasil panen ke Bandung. Gerobak yang ditarik sapi tidak cukup cepat, tidak cukup efisien, dan terlalu mahal. Maka mereka melakukan apa yang biasa dilakukan pemerintah di seluruh dunia ketika dihadapkan pada masalah transportasi. Mereka membangun jalur kereta.

Rute tramway dari Bandung menuju Ciwidey mulai dibahas pada 1918. Surat kabar kolonial mencatat bahwa pembangunan dimulai pada 1919. Desain rute tramway ini membentang dari Karees, menyeberangi Banjaran, lalu masuk Soreang hingga mencapai Ciwidey. Bagian Bandung Kopo, yang melewati Soreang, dibuka pada 1921. Jalur hingga Ciwidey menyusul pada 1924. Biayanya menembus 1,7 juta gulden Hindia Belanda.

Baca Juga: Hikayat Ledeng Bandung, Jejak Keselip Lidah di Kawasan Kota Pipa Kolonial

Jembatan kereta Soreang-Ciwidey. (Sumber: KITLV)
Jembatan kereta Soreang-Ciwidey. (Sumber: KITLV)

Kereta itu menjadi urat nadi ekonomi selatan Bandung. Soreang yang dulu lebih tenang kemudian mulai ramai. Stasiun-stasiun kecil bermunculan. Hasil kebun diangkut. Orang-orang bepergian. Namun teknologi yang dianggap futuristis pada awal abad dua puluh ini perlahan kalah dengan mobil pribadi dan angkutan umum. Pada 1982, kereta Soreang Ciwidey berhenti beroperasi. Relnya kemudian menjadi jalur kenangan yang tak lagi berfungsi selain sebagai latar foto generasi masa kini.

Saat republik berdiri pada 1945, Soreang kembali menjadi titik penting. Ketika Sekutu dan NICA berusaha mengambil kembali kekuasaan, Bandung menjadi kota penuh ketegangan. Ultimatum dikeluarkan, pasukan republik diminta mundur dari Bandung Selatan. Keputusan dramatis diambil pada Maret 1946. Bandung Selatan dibakar agar tidak jatuh sepenuhnya ke tangan musuh. Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling heroik dalam sejarah kota itu.

Ketika api melumat rumah dan bangunan, arus manusia bergerak ke selatan. Soreang menjadi jalur evakuasi besar besaran. Ribuan orang melewatinya untuk mengarah ke pegunungan. Para pejuang kemudian bertahan di wilayah selatan Sungai Citarum, termasuk di sekitar Soreang, dari mana mereka terus melakukan operasi gerilya. Soreang tidak hanya menjadi tempat lewat. Ia menjadi bagian dari medan perlawanan.

Baca Juga: Hikayat Buahbatu, Gerbang Kunci Penghubung Bandung Selatan dan Utara

Dari Drama Pemindahan Ibu Kota sampai Transformasi Kota Baru

Setelah masa bergolak berlalu dan struktur kolonial ditinggalkan, Soreang menjadi kecamatan. Status baru ini menjadi pintu masuk ke fase administratif berikutnya yang lebih dramatis.

Pada dekade 1970-an, pemerintah Kabupaten Bandung mulai kewalahan karena Kota Bandung semakin berkembang sebagai pusat provinsi sekaligus tetap menjadi lokasi kantor pemerintahan kabupaten. Dua fungsi besar itu membuat kota menjadi terlalu padat, baik secara fisik maupun administratif.

Sejak era kolonial hingga pertengahan abad ke-20, ibu kota Kabupaten Bandung berada di wilayah yang kini menjadi Kota Bandung, tepatnya sekitar Alun-Alun dan Jalan Dalem Kaum. Kantor bupati, pendopo, hingga DPRD Kabupaten Bandung masih berkedudukan di pusat kota hingga 1970-an, meski Kota Bandung telah menjadi kotamadya otonom sejak 1906 dan semakin mandiri pasca-kemerdekaan.

Karena itu, pada era Bupati Lily Sumantri , muncul rencana pemindahan ke Baleendah yang dekat Dayeuhkolot dan Bojongsoang. Peletakan batu pertama kompleks pemerintahan baru di Baleendah dilakukan pada 20 April 1974 bertepatan Hari Jadi Kabupaten Bandung ke-333.

Tapi rencana itu lantas kandas. Soalnya, Baleendah terlalu rendah dan rawan banjir besar Sungai Citarum. Banjir besar datang dan menghanyutkan ambisi itu. Baleendah terbukti tidak aman. Program yang sudah berjalan bertahun tahun harus dihentikan. Pemerintah kemudian mencari lokasi lain yang lebih aman, lebih tinggi, dan lebih stabil secara geologi. Soreang muncul sebagai kandidat kuat. Keputusannya diformalkan melalui Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1986.

Pada 1987, pembangunan kompleks perkantoran di Desa Pamekaran dimulai. Lahan seluas dua puluh empat hektare disiapkan. Arsitekturnya dibuat dengan sentuhan gaya Priangan. Dipadukan dengan konsep modern. Pembangunan berlangsung selama beberapa tahun hingga akhirnya rampung pada awal 1990an. Banyak yang menyebut komplek ini sebagai salah satu komplek perkantoran termegah di Jawa Barat pada masanya.

Gedung Bupati Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Gedung Bupati Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Walaupun status ibu kota sudah ditetapkan sejak 1986, aktivitas pemerintahan baru berjalan penuh setelah tahun 2000 ketika bupati terpilih mulai memusatkan seluruh dinas dan lembaga pemerintahan ke Soreang. Secara perlahan Soreang berubah dari wilayah yang terasa semi pedesaan menuju pusat administrasi yang sibuk. Jalan raya Kopo yang menuju Bandung kini tidak lagi dipenuhi sawah dan ladang, tetapi bangunan pemerintahan, ruko, dan permukiman baru.

Transformasi besar terjadi ketika stadion Si Jalak Harupat berdiri pada 2005. Stadion megah itu kemudian menjadi tuan rumah berbagai kejuaraan besar. Kawasan di sekelilingnya ikut tumbuh. Warga yang biasanya melihat pertandingan hanya di televisi kini bisa merasakan gemuruh suporter dari dekat. Pada PON dan Asian Games kepulan festival olahraga mencapai puncaknya. Para pedagang kecil ikut memperoleh rezeki.

Baca Juga: Hikayat Lara di Baleendah, Langganan Banjir yang Gagal Jadi Ibu Kota

Kemudian, Alun-alun Soreang kemudian dibangun dengan Menara Sabilulungan yang menjulang. Setiap akhir pekan, alun-alun penuh oleh keluarga, pesepeda, pedagang makanan, dan anak anak yang berlarian. Perubahan semakin cepat sejak Jalan Tol Soroja dibuka pada 2017. Waktu tempuh dari Bandung yang dahulu terasa seperti perjalanan mini safari, kini hanya sekitar sepuluh menit. Akses ke Ciwidey, Kawah Putih, dan Rancabali juga lebih mudah. Pariwisata Bandung Selatan langsung mendapat dorongan besar. Investor melirik properti. Lahan lahan yang dulu sawah kini berubah menjadi pusat komersial atau cluster perumahan.

Industri konveksi menjadi sektor yang paling terasa tumbuh. Sadu, Panyirapan, dan Karamatmulya menjelma menjadi sentra produksi pakaian skala rumahan maupun menengah. Ribuan warga menggantungkan hidup pada mesin jahit, benang, dan kain. Mereka memproduksi pakaian yang kemudian tersebar ke berbagai pasar di Jawa dan luar pulau. Ekonomi kreatif versi rumahan ini membuat Soreang punya daya tahan ekonomi yang cukup stabil.

Kendati demikian, pembangunan besar selalu membawa konsekuensi. Lahan pertanian berkurang, lalu lintas semakin padat, dan kebutuhan air meningkat. Soreang yang dulu dikenal sebagai pangauban yang teduh kini menjadi kota kecil yang terus sibuk. Namun semua kota punya perjalanan masing masing. Soreang memilih jalan perubahan yang cepat tetapi tetap berusaha menjaga identitas Priangannya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)